Simpan baju dinas itu rapi-rapi, Bapak

simpan baju dinas itu rapi-rapi, Bapak. lalu sembunyikan di suatu tempat yang membuatmu tak bisa mengingatnya lagi, segala jerih telah usai, Bapak. kini engkau harus sendiri bersama kami. masa depan tak berhenti di hari ini, Bapak. selamat menikmati kebebasan, selamat ulang tahun, Bapak.

tapi bagi bapak, ucapan selamat ulang tahun, tidak berarti apa-apa. tidak mengubah apapun kecuali, umurnya yang semakin tinggi dan ubannya yang semakin menyebar atau rambutnya yang semakin tipis. namun kupikir, bapak belum terlalu tua untuk berhenti berjuang. aku tahu bapak sedang mencari sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berguna daripada baju dinas itu.

bukittinggi, 260112

 

 

nb:

maaf, saya belum bisa melakukan hal yang bermanfaat sampai hari ini. dan saya belum bisa memberikan sesuatu yang membanggakan untuk Bapak.

 

 

dan aku tak akan menanyai lagi, siapa namamu.

engkau tak pernah memberiku apa-apa, termasuk kekosongan. dan aku tak pernah menyimpan apapun, apalagi hatimu. serapuhrapuhnya tulang rusukku, takkan kuberi pada engkau yang tak bernama. aku pun tak akan menunggu hingga kau tiada hanya untuk menebus lukamu, lukaku, luka kita yang entah oleh apa. tidak juga cinta. tidak mungkin.

 

[kepada seseorang yang mengirimuku sms puisi, tanpa nama]

 

dan aku tak akan menanyai lagi, siapa namamu.

Diri yang meragukan

kata Soe Tjen Marching, dalam cuplik   isi novelnya “Mati, bertahun yang lalu”;

ketika aku masih hidup, ada dua keadaan yang begitu kubenci. yang pertama adalah kesadaran yang tak bisa dilupakan. dan yang kedua adalah ketidaksadaran yang memerangkap.

sekarang aku merasa berada di dalam keduanya.

ya, sekarang aku merasa memang sedang berada di keduanya. saat sadar bahwa segala yang tak baik haruslah dilupakan, tapi tak bisa mengalihkannya untuk lupa. dan pada saat sering kali begitu terlena dalam suatu hal yang sia-sia tapi tak bisa lari untuk membebaskan diri.

wahai nona pelukis kata, mulailah mencampurkan warnanya dan mainkan kuasmu.

Akulah kata! yang hidup dari huruf ke huruf. beranak pinak menjadi kalimat. kau bisa  jadikan aku apa saja. puisi atau cuma tulisan sampah. cerita pendek atau cuma ocehan. kau bisa menemukanku di mana saja. di perpustakaan atau di gang sempit. aku bisa sopan juga bisa kurang ajar. aku bisa mendamaikan atau membuat pemberontakan. ya, akulah kata. yang menunggu untuk berkembang biak. menjadi apa saja yang kau pikirkan.

kata perkata tercerai, aku tertinggal entah di mana…

 

hujan mengukir senja (saat wajah kita kering air mata)

jingga larut dan hanyut dalam pelukan kelabu
di beranda
ada yang basah selain pekarangan dan dedaunan
wajahwajah dalam koran

sapu bersih saja mimpi mimpi yangg membusuk
yang serupa lumpur
memenuhi rongga mata dan telinga
mengubur kita hiduphidup dalam anganangan
sementara mereka bergelaktawa sambil memanggang daging diatas uang yang terbakar

ada yang mengering di beranda, bekas air mata bunuh diri. engkau dan aku saling menghanyutkan puisi dalam kolam yang bocor di samping beranda yang kotor. hujan tak lagi menjadi tukang bersihbersih luka. duka yang mengering di beranda kita. kolam kita bocor, puisi kita lepas, kita tak mendapatkan apa-apa. ada yang basah selain pekarangan dan dedaunan. air mata bunuh diri, di wajah kita.

 

 

bersama ekohm, di beranda maya 231211

Aku cukup membatin saja, sendiri.

Aku baru saja menyeduh teh saat kau mengatakan,  “Sudah, cukup!” lalu engkau mematikan pembicaraan yang terasa semakin basi ini. Asap masih menguar di atas cangkir teh. Perlahan aku menyesapi rasanya lalu menelannya secepat mungkin. Rasanya sedang menelan air mataku sendiri. Teh ini terasa getir. Tidak semanis biasanya. Hanya getir seperti air mata. Air mataku yang jatuh ke dalam dada.

Kuperhatikan telepon genggam yang sudah terdiam dan dingin tak jauh dari cangkir teh. Tidak lagi bergetar dan berbunyi. Engkau telah menyepi sendiri entah di mana.

Sebenarnya, aku ingin bercerita lebih lama denganmu. Lebih panjang dan lama. Aku ingin engkau menanggapi ceritaku sebagai sesama teman. Tak terkait dengan teori-teori psikologi. Tak terkait dengan sastra. Tak terkait dengan berbagai macam paham-paham idealisme yang kau anut. aku hanya merindukan percakapan mendalam sebagai sesama teman. Sebagai sahabat biasa. Bukan sebagai mahasiswa psikologi.

Kepalaku sudah cukup padu, terus dipadatkan oleh segala kode etik dan teori beserta prinsip-prinsipnya. Aku bisa menerima jika engkau berbicara tentang agama tapi membawa-bawa prinsip dan displin sebagai seorang calon psikolog, bagiku itu sudah membuatku eneq. Lama-lama terasa, seolah itu semua menjadi sangat klise.

Aku hanya ingin curhat padamu sebagai seorang teman yang sedang rapuh. Dan masih labil seperti yang engkau vonis itu. Tapi kau hanya memberi jawaban teoristis dan begitu ilmiah. Memberi jawaban yang tak ada kaitannya dengan apa yang aku rasakan. Justru jawaban itu menimbulkan beban.

Sampai sekarang, jawaban itu sangatlah membeban dan membatin.

Cangkir tehku, telah kosong. Air mataku terasa telah mengering, di dada. Selain engkau, aku tak ingin berbagi cerita dengan yang lain. Jadi kali ini aku yang akan berkata, “Cukup, sudah.” Pada percakapan kita berikutnya. Yang semakin berteori, semakin berprinsip, semakin padat dan sesak.

Aku cukup membatin saja, sendiri. seperti tak punya teman. selain Tuhan.

Wewarna Sunyi

.

Ekohm,

kini yang kutahu, kesunyian itu lebih nyata ketimbang kematian. mencekam dan berjelaga. seolah sebuah titik yang menyendiri di akhir ending cerita kosong yang teramat panjang, teramat melelahkan sekaligus melenakan. kesunyian itu, sebenar-benar lebih nyata ketimbang kematian, tak ada malaikat yang akan datang meminta rohnya. hanya detak detik pada jam dinding, dan gigil yang melambangkan kepiluan seperti tak berkesudahan. tapi apakah kesunyian itu bagian dari kepiluan? yang kutahu, hari ini, bertambahlah kesunyian yang kau punyai. yang kupeliharai. yang kita raba bersama.