Pukul 05.00, suatu tempat di lorong – lorong pasar.
Pemuda itu berjalan terhuyung – huyung dari arah terminal. Tas ransel yang tersangkut di punggung kekarnya pelan – pelan mulai menjatuhkan beberapa dari isinya, tas itu robek. Tanpa mempedulikan barang – barangnya yang berjatuhan, pemuda itu berhenti di depan flat kumuh dengan tulisan terima kost pria di depan pintunya.
Ia termangu sambil mengatur nafas panjang – panjang. Sambil tersenyum, ia menatap pintu flat kumuh itu. Akhirnya sampai juga, cetusnya dalam hati. Dengan semangat ia menguatkan genggaman tangan kanannya pada ransel bututnya. Bruk, buku – buku kecil serta barangnya yang masih tersisa di dalam tas itu berjatuhan. Pemuda itu menganga kaget.
“Astaga… barang – barang gue !” ujarnya setelah melihat di sepanjang jalan ada barang – barangnya yang tercecer.
‘Lo, bego atau apa ??? barang segede gaban gitu jatuh, g kerasa ??? bodoh lo ! ‘
Sejenak pemuda itu terdiam. Tas ransel bututnya ia biarkan terjatuh. Suara itu selalu mengikutinya, selalu berusaha menjatuhkannya. Suara itu…
“Loh, Nak… ngapain toh di sana ??? Pagi – pagi buta begini ???” teriak seorang wanita tua di atas flat kumuh murahan itu hingga tiba – tiba seperti menampar pemuda itu dari renungannya.
“Eh, pagi buk,” sapanya.
“Pagi, nak. Ada perlu apa ya ??? Pagi – pagi begini sudah jalan – jalan di pasar pelabuhan ? toh nih pasar kalau pagi gini baunya busuk,” tanya wanita tua itu sambil merapikan letak pot tanamannya yang ada di tepi jendela.
“Oh, hehehe saya bukannya mau jalan – jalan tapi mau tinggal di flat ini. Disini ada flat yang kosong buk ?” jelas pemuda itu sambil balik bertanya.
“Flat kosong ? iya ada. Jadi adek ini mau tinggal di sini ? o… “cetus wanita tua itu mengangguk – angguk sambil mengalihkan pandangannya dari pemuda itu kepada barang – barang berceceran di jalan.
Seolah mengetahui apa yang akan di tanyakan oleh wanita tua itu, pemuda itu cepat – cepat melontarkan penjelasan, ” Itu barang – barang saya buk, tas saya robek. Saya tidak tau kalau dari tadi barang – barang saya berjatuhan.”
“Oh, jadi itu barang – barang kamu ? kenapa tidak di ambil ? cepat ambil, nanti tukang sampah akan membawanya kalau kamu tidak cepat mengemasnya. Setelah itu, cepat masuk ke flat, saya akan pamerkan beberapa kamar kosong untukmu” ajak wanita tua itu.
“Baik buk,” ujar pemuda 19 tahun itu sambil melihat wanita tua itu pergi dari balik jendelanya.
‘Lihat, wanita tua peyok itu seperti mengejek lo, dasar bodoh !’
Pemuda itu menarik nafasnya dalam – dalam, mencoba menenangkan hatinya sendiri. Suara itu cukup mengganggu pikirannya. Pelan – pelan tangan kanannya mengepal dan berusaha memukul pelan – pelan kepalanya sendiri.
“Diam !” cetusnya menggertak.
‘Bisa lo apa heh, nyuruh – nyuruh gue diam ??? emang lo sapa ? lo adalah gue. Nggak nyadar lo ? dasar bodoh !’
“Gue bilang DIAM !”
‘Wakakakaaka, apa ? diam ? d – i – a – m, diiiiaaammm ! hihihiihi, lo lucu ! dasar bodoh !’
“Fuih… bedebah ! sekarang, terserah lo mau ngomong apa TERSERAH !” gertak pemuda itu sambil berjalan memungut barang – barangnya yang berceceran di jalan.
‘Hohohohoo, itu – itu nah yang lo pegang itu, itu dari Firman kan ? yang katanya itu sobat sejati lo ? sekarang kemana tuh anak ? kemana ?? wakakakaka, ninggalin lo kan ? ya, kan ? dasar bego !’
Pemuda itu menggenggam erat sebuah pemantik rokok berbentuk kotak warna indigo.
“Diam,” cetusnya sekali lagi.
‘Hihihihihi…’
Setelah sedikit tenang, ia kembali memungut sisa barang – barangnya yang tercecer. Ada banyak buku – buku dan beberapa helai baju serta beberapa peralatan belajar. Dari sana tercermin kemungkinan pemuda ini adalah seorang pelajar atau mahasiswa. Jaket kaos warna hitam dengan celana jeans membuat penampilannya lebih gagah di dukung oleh wajah yang tampan. Ia pemuda berumur 19 tahun. Datang entah dari kota mana dan tiba – tiba telah menyatu dengan pagi di pasar pelabuhan ini. Jujur, ia seperti manusia yang lagi tersesat daripada manusia yang lagi mencari kost – kostan. Ia begitu unik. Sangat unik.
‘Satu lagi… yak….. lagi……. nah yang itu tuh, itu kan buku dari Laras, mantan lo yang selingkuh ama teman lo kan ? wakakaakaka, dasar bodoh !’
“Huh !” respon pemuda itu gerah.
Dengan cepat tangannya kembali mengambil buku – buku yang masih berceceran di jalan. Ia mencoba mengacuhkan suara itu. Ia mencoba untuk pura – pura tidak mendengar apa – apa.
‘Ow…… hahahaa eh, lo ingat nggak ? barang yang lo pegang itu ? itu kan buku yang isinya tulisan – tulisan busuk lo di masa lalu ! Hahakakakakakaka , begoooo…… begoooooooo !!!’
“Untuk yang terakhir kalinya, gue minta lo diam !” gertak pemuda itu tapi kali ini lebih keras dan lebih tegas.
‘Ow… takuuuuuut… hakakkaakakak takuuuuuuuut……..’
“Diam !”
‘Hihihiihi, takuuuuuuuut takuuuuuuuut gw takuuuuuuuuuut… begoooooo wakakakak’
“Diam !”
“Wakakkakaakkaak……..”
“ANJRIT GUE BILANG DIAM !!!”
Bruk
“Hoi !!! gila lo ngomong sendiri ? lagi nyimeng disana ?? bagi dong !” teriak seorang pemuda telanjang dada dengan rambut pendeknya yang kusut dari atas flat di lantai 3.
Fuih…
“Gue nggak lagi nyimeng atau lagi sakaw, gue lagi gila…” jawabnya sambil memegang sehelai baju kaos merah busuk yang di lempar oleh pemuda di lantai 3 flat kumuh itu.
“Hahaha… bisa aja lo becanda !”
“Mau ngekost disini ?” tanya pemuda aneh itu.
“Rencananya sih iya, tapi liat kondisinya dulu.”
“Gue Herman, lo ?”
“Karas.”
“Hah ? Karas ? hahaha,” ejek Herman.
“Kenapa ? lucu ya kayak nama cewek ?” tanya Karas si pemuda nyasar tadi.
*belum tamat*