belum ada judul :P

Maret 29, 2008

Pukul 05.00, suatu tempat di lorong – lorong pasar.
Pemuda itu berjalan terhuyung – huyung dari arah terminal. Tas ransel yang tersangkut di punggung kekarnya pelan – pelan mulai menjatuhkan beberapa dari isinya, tas itu robek. Tanpa mempedulikan barang – barangnya yang berjatuhan, pemuda itu berhenti di depan flat kumuh dengan tulisan terima kost pria di depan pintunya.
Ia termangu sambil mengatur nafas panjang – panjang. Sambil tersenyum, ia menatap pintu flat kumuh itu. Akhirnya sampai juga, cetusnya dalam hati. Dengan semangat ia menguatkan genggaman tangan kanannya pada ransel bututnya. Bruk, buku – buku kecil serta barangnya yang masih tersisa di dalam tas itu berjatuhan. Pemuda itu menganga kaget.
“Astaga… barang – barang gue !” ujarnya setelah melihat di sepanjang jalan ada barang – barangnya yang tercecer.

‘Lo, bego atau apa ??? barang segede gaban gitu jatuh, g kerasa ??? bodoh lo !
Sejenak pemuda itu terdiam. Tas ransel bututnya ia biarkan terjatuh. Suara itu selalu mengikutinya, selalu berusaha menjatuhkannya. Suara itu…
“Loh, Nak… ngapain toh di sana ??? Pagi – pagi buta begini ???” teriak seorang wanita tua di atas flat kumuh murahan itu hingga tiba – tiba seperti menampar pemuda itu dari renungannya.
“Eh, pagi buk,” sapanya.
“Pagi, nak. Ada perlu apa ya ??? Pagi – pagi begini sudah jalan – jalan di pasar pelabuhan ? toh nih pasar kalau pagi gini baunya busuk,” tanya wanita tua itu sambil merapikan letak pot tanamannya yang ada di tepi jendela.
“Oh, hehehe saya bukannya mau jalan – jalan tapi mau tinggal di flat ini. Disini ada flat yang kosong buk ?” jelas pemuda itu sambil balik bertanya.
“Flat kosong ? iya ada. Jadi adek ini mau tinggal di sini ? o… “cetus wanita tua itu mengangguk – angguk sambil mengalihkan pandangannya dari pemuda itu kepada barang – barang berceceran di jalan.
Seolah mengetahui apa yang akan di tanyakan oleh wanita tua itu, pemuda itu cepat – cepat melontarkan penjelasan, ” Itu barang – barang saya buk, tas saya robek. Saya tidak tau kalau dari tadi barang – barang saya berjatuhan.”
“Oh, jadi itu barang – barang kamu ? kenapa tidak di ambil ? cepat ambil, nanti tukang sampah akan membawanya kalau kamu tidak cepat mengemasnya. Setelah itu, cepat masuk ke flat, saya akan pamerkan beberapa kamar kosong untukmu” ajak wanita tua itu.
“Baik buk,” ujar pemuda 19 tahun itu sambil melihat wanita tua itu pergi dari balik jendelanya.
‘Lihat, wanita tua peyok itu seperti mengejek lo, dasar bodoh !’
Pemuda itu menarik nafasnya dalam – dalam, mencoba menenangkan hatinya sendiri. Suara itu cukup mengganggu pikirannya. Pelan – pelan tangan kanannya mengepal dan berusaha memukul pelan – pelan kepalanya sendiri.
“Diam !” cetusnya menggertak.
‘Bisa lo apa heh, nyuruh – nyuruh gue diam ??? emang lo sapa ? lo adalah gue. Nggak nyadar lo ? dasar bodoh !’
“Gue bilang DIAM !”
‘Wakakakaaka, apa ? diam ? d – i – a – m, diiiiaaammm ! hihihiihi, lo lucu ! dasar bodoh !’
“Fuih… bedebah ! sekarang, terserah lo mau ngomong apa TERSERAH !” gertak pemuda itu sambil berjalan memungut barang – barangnya yang berceceran di jalan.
‘Hohohohoo, itu – itu nah yang lo pegang itu, itu dari Firman kan ? yang katanya itu sobat sejati lo ? sekarang kemana tuh anak ? kemana ?? wakakakaka, ninggalin lo kan ? ya, kan ? dasar bego !’
Pemuda itu menggenggam erat sebuah pemantik rokok berbentuk kotak warna indigo.
“Diam,” cetusnya sekali lagi.
‘Hihihihihi…’
Setelah sedikit tenang, ia kembali memungut sisa barang – barangnya yang tercecer. Ada banyak buku – buku dan beberapa helai baju serta beberapa peralatan belajar. Dari sana tercermin kemungkinan pemuda ini adalah seorang pelajar atau mahasiswa. Jaket kaos warna hitam dengan celana jeans membuat penampilannya lebih gagah di dukung oleh wajah yang tampan. Ia pemuda berumur 19 tahun. Datang entah dari kota mana dan tiba – tiba telah menyatu dengan pagi di pasar pelabuhan ini. Jujur, ia seperti manusia yang lagi tersesat daripada manusia yang lagi mencari kost – kostan. Ia begitu unik. Sangat unik.
‘Satu lagi… yak….. lagi……. nah yang itu tuh, itu kan buku dari Laras, mantan lo yang selingkuh ama teman lo kan ? wakakaakaka, dasar bodoh !’
“Huh !” respon pemuda itu gerah.
Dengan cepat tangannya kembali mengambil buku – buku yang masih berceceran di jalan. Ia mencoba mengacuhkan suara itu. Ia mencoba untuk pura – pura tidak mendengar apa – apa.
‘Ow…… hahahaa eh, lo ingat nggak ? barang yang lo pegang itu ? itu kan buku yang isinya tulisan – tulisan busuk lo di masa lalu ! Hahakakakakakaka , begoooo…… begoooooooo !!!’
“Untuk yang terakhir kalinya, gue minta lo diam !” gertak pemuda itu tapi kali ini lebih keras dan lebih tegas.
‘Ow… takuuuuuut… hakakkaakakak takuuuuuuuut……..’
“Diam !”
‘Hihihiihi, takuuuuuuuut takuuuuuuuut gw takuuuuuuuuuut… begoooooo wakakakak’
“Diam !”
“Wakakkakaakkaak……..”
“ANJRIT GUE BILANG DIAM !!!”
Bruk
“Hoi !!! gila lo ngomong sendiri ? lagi nyimeng disana ?? bagi dong !” teriak seorang pemuda telanjang dada dengan rambut pendeknya yang kusut dari atas flat di lantai 3.
Fuih…
“Gue nggak lagi nyimeng atau lagi sakaw, gue lagi gila…” jawabnya sambil memegang sehelai baju kaos merah busuk yang di lempar oleh pemuda di lantai 3 flat kumuh itu.
“Hahaha… bisa aja lo becanda !”
“Mau ngekost disini ?” tanya pemuda aneh itu.
“Rencananya sih iya, tapi liat kondisinya dulu.”
“Gue Herman, lo ?”
“Karas.”
“Hah ? Karas ? hahaha,” ejek Herman.
“Kenapa ? lucu ya kayak nama cewek ?” tanya Karas si pemuda nyasar tadi.

*belum tamat*

kami adalah manusia tanpa nyawa

yang terpaksa berjalan pada langkah salah

kami adalah manusia dengan mata kosong

diramai, hening pekat tercipta

diam, peka dan tangis tak berbunyi

kami adalah manusia dengan nafas penyesalan

terpaksa menggigit lidah sendiri

kami adalah balatentara dari garis akhir titik perjuangan

terpaksa menghirup harum bangkai dan pekatnya darah

kami adalah pasukan mumi dari barat

menang dalam kalah

memakan sisa dari orang – orang nista

MENTAH !!!

ketika aku tidak berbicara pada siapa – siapa

dalam hatiku berkecamuk

dalam benakku mengamuk

masih butuh kah aku pada sebuah pengakuan ?

seakan – akan semua orang hanya berjalan dan pergi

seakan – akan mereka seperti jarum jam

seakan – akan akulah patungnya

masih butuh kah aku pada sebuah pengakuan ?
aku benci harus diam, membungkam

aku benci harus melihat tanpa menyentuh

aku benci hanya tertawa tapi tak mengerti

lalu aku harus bagaimana ???

masih butuh kah aku pada sebuah pengakuan ???

dunia… aku ada disini !!!

lihat aku…

dengar aku…

inilah aku apa adanya

masih butuh kah aku pada sebuah pengakuan ???

harus kah aku memasang topeng di wajah hanya demi sebuah pengakuan ???

aku tak butuh topeng hanya demi sebuah pengakuan !

perempuan dan zaman

Maret 28, 2008

*** puisi Rangga di Ada apa dengan Cinta ?

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta

Tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya..

Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja.

****************

imagesk.jpg

perempuan datang atas nama cinta,,,

perempuan pun pergi karena cinta…

wahai perempuan, tiada tara nilai apa pun yang dapat menawar keanggunan solekmu.

wahai perempuan, kerlingan matamu merata – hijaukan jagad nan gersang

perempuan, budimu penggerak zaman nan gelap

yup, itu sebagian puisi g nyambung aku. mengapa perempuan ?

akhir2 ini sepertinya tabiat perempuan kini di pertanyakan.

banyak kasus dan masalah yang di timbulkan oleh perempuan.

seperti pornografi, pembunuhan oleh seorang ibu kepada anak2nya dan berbagai macam masalah lainnya.

perempuan seperti di pojokkan.

namun ini tak lepas dari tingkah dan budi perempuan2 indonesia.

seiring perkembangan zaman, perempuan meminta kesetaraan kedudukan dengan kaum adam yang katanya disebut dengan emansipasi perempuan

namun bukan berarti perempuan bisa leluasa mengekploitasi kelebihannya sendiri untuk popularitas dan kepuasan semata. dengan dalih pekerjaan dan profesionalitas, perempuan tak menyadari bahwa dengan tidak langsung harga dirinya pun telah di injak2.

perempuan bodoh sudah lekang oleh waktu pada saat ibu kartini menggebrak dunia berpendidikan. pada saat itu citra perempuan2 indonesia sudah lebih bermatabat dan berharga. namun saat melihat keadaan perempuan pada zaman sekarang, jiwa kartini itu seperti hilang perlahan2.

kasian. sayangnya aku bukan siapa2 dan aku juga perempuan. ada slogan, perempuan ingin di mengerti. tapi bagi zaman sekarang, sepertinya slogan itu akan berubah menjadi “perempuan harus mengerti”

perempuan harus mengerti apa yang dia perbuat.

perempuan harus mengerti dampak yang dia buat.

dengan sekali ucap dan tingkah, maka perempuan dapat menjadi senjata pemusnah yang dahsyat.

jadi perempuan bukannya harus di mengerti, perempuan harus mengerti dengan keadaan.

jadilah perempuan yang tetap pada kodratnya.

tidak berkurang, mau pun tidak berlebihan.

novel tanpa ampun…

Maret 28, 2008

danhujanpunberhenti.jpg

Judul : Dan hujan pun berhenti…

Editor: Ariobimo & Mira R,
Spec: 14x 20 cm, xii + 324 hal.
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
Harga 38.000

Sebuah Novel, Pemenang Khatulistiwa Literary Award (Penulis Muda Berbakat)

“Cerita
yang intens dan tanpa ampun. Kita dibawa bertubi-tubi menyelami jurang
terdalam si tokoh dengan gaya menulis dan ilustrasi kata yang spontan
dan liar”
- Sitta Karina, cerpenis dan novelis Lukisan Hujan dan Pesan dari Bintang

“Ceritanya
menarik dan bikin penasaran. Belum ketauan ending-nya gimana sampai
kita baca halaman terakhir. Cerita yang berganti-ganti antara kejadian
sekarang dan masa lalu terjalin dengan rapi dan berkesinambungan.
Temanya juga rada2 “dark”, agak berbeda dengan teenlit-teenlit lain
pada umumnya.”
- Luna Torashyungu, novelis Victory, trilogi Sweet Angel, dan Beauty and The Best

“It’s
so dark, morbid ta pi dengan sentuhan intelektualitas. Cynism with a
class. People deserve to get a good read and this novel is just
something AND different.
- Angling, mahasiswa UGM

wayang dan dalangnya

Maret 26, 2008

wayang01.jpg

dunia itu begitu semu

ada wayang – wayang sebagai pemainnya

banyak karakter dan watak di sana

meski hanya sebuah permainan tapi dunia itu tampak bukan hanya sekedar permainan

semua memainkan lakonnya masing – masing

dan semua sibuk dengan urusannya masing – masing

walau bagaimana pun dunia itu pasti dikendalikan oleh dalangnya

dalang menciptakan rasa pada setiap wayang – wayangnya

dimana rasa itu bisa mengubah karakter dan watak dari wayangnya

bilamana dalang mengatakan bersedih, maka wayangnya pun menangis

bilamana dalang mengatakan bahagia, maka tertawalah wayangnya

begitu juga bila dalang menginginkan wayangnya di ganti dan mengucapkan berhenti melakon, maka sampai disitu lah nasib wayang – wayangnya.

di tengah bising aku tercenung merenung.

penyendiri… apa yang kau pikirkan ???

tentang hal2 yang melantun2 di otakmu ?

atau tentang bagaimana caranya kau bertahan ?

aku menghela nafas, jengah.

kupandangi wajah orang2 di sekitar.

mereka tertawa.

mereka meledak2.

manusia seperti apa mereka ???

mereka memakai warna merah berpadu kuning.

lalu hijau berpasang merah muda.

kemana mata meraka ???

ah, masa bodoh dengan mereka.

aku ini sendiri tak mengerti dengan diriku.

aku seperti tercengkang terkungkung

terbatas dengan ekspresi yang datar.

mereka bilang aku kaku.

aku bilang mereka norak.

aku bukan mereka dan mereka bukan aku.

ah……. hidupku sendiri sudah cukup hancur untuk dipikirkan

untuk apa aku peduli dengan mereka yang entah memikirkan hidupnya sendiri.

persetan lah.

kalau saja aku gila….

pasti aku sudah berteriak pekik

naik ke atas kursi kayu butut

dengan suara lantang melonglong.

DIAM !!!!!!!!

aku menyapu embun yang melekat di kaca jendala.
walau diluar sana begitu ramai dengan rintik – rintiknya.
namun disini begitu sunyi.
aku memandang sungai bisu yang dipenuhi ikan2 tidur.
permukaan airnya seakan2 menari dijatuhi gerimis.
daun2 di atas pepohonan pun demikian ributnya.
dan aku memandang mereka dari balik jendela dengan jeruji antik.
puitiskah bila sang pemimpi menggoreskan tintanya pada sehelai daun kering yang dipungut di tepi jalan ?
dramatiskah cerita seorang gadis buta yang lagi menderita karena melaratnya hidup?
atau…
romantiskah romeo dan juliet mati karena cinta ?
hujan memang tak dapat menjawab apa2 kecuali dingin.
kecuali gadis kecil dengan kaleng kosong menggigil di atas tangga penyeberangan.
kecuali tikus2 yang lari menyelamatkan diri karena air mulai masuk kesarangnya.
kecuali burung2 yang keberatan karena sayap2nya basah.
satu lagi, kecuali ibu2 yang menampung hujan untuk dimasak.
sapa bilang hidup sebuah realita ?
lama2 hidup makin konyol.
kata realita menjadi beda2 tipis dari sebuah khayalan.
zaman kini manusia banyak berkhayal.
berkhayal menjadi seorang konglongmerat.
berkhayal menjadi seorang presiden.
berkhayal menjadi seorang polisi.
berkhayal menjadi seorang mentri.
hei, lihat baik2 mereka hanya orang2 yang berkumpul untuk mendengar khotbah dari pita suara seekor katak dalam tempurung.
sepertinya aku ngelantur.
maaf, pikiranku… ah kenapa sih ini ?
bingung…
tapi aku melihat diluar jendela sana,
hujan pun berhenti…

Friday, 21 March 2008 in Weblogs |

dari mulut bisa keluar bahasa ibu
sebuah bahasa yang syarat dengan kelembutan.
dari mulut bisa keluar seekor anak harimau,
yang nanti setelah dewasa bisa menerkam.
ada orang yang juga mencari nafkah dari
mulut, seperti dokter gigi dan pengacara
atau penjual obat ?.
dari mulut semua kehidupan berlanjut.
dari mulut bisa menghasilkan ketenangan
batin.
dari mulut juga bisa menghancurkah hati.

jadi jangan main2 dengan mulutmu.
dari mulut lah semua dapat diperhitungkan.
apakah itu benar dan salah.
atau apakah itu baik dan buruk.

kau tau pastikan…
dari mulut turun ke hati ???

nahaaaa…. ini blog ke 3 dari yang ada di fs ama blogspot..

cuma sekedar uji coba aja sama cari2 yang mana yang ampuh dan enjoy.

key, cuma itu doang.

kalo disini keukeh, gw bakal migrasi kemari.

cau……