Akhir dari sebuah perjalanan
Mendarat di sudut pertokoan
Buang kepenatan

Awal dari sebuah kepuasan
Kadang menghadirkan kebanggaan
Raih keangkuhan

Tapi tapi
Itu hanya kiasan
Juga juga suatu pembenaran
Atas bujukan setan,
Hasrat yang dijebak jaman
Kita belanja terus sampai mati

Duhai korban keganasan peliknya kehidupan urban (2x)

Bukan Tuhan

Juli 19, 2008

sudah sekian lama aku melompat dan menggantung di atas awan.
saking lamanya, aku jadi lupa bagaimana cara kembali ke kulit bumi.
dari kejauhan, aku memandangi kerak – kerak yang menempel di permukaan bumi.
begitu hitam, begitu kotor.
sesekali aku meludah berusaha menahan muntah saat aku melihat ada sekelompok belatung terkatung – katung di laut lepas.
mereka saling berteriak, saling menjambak dan saling menggigit.
mereka kelihatan kelaparan.
di tempat yang berbeda, aku malah melihat sekelompok ayam serama jantan yang selalu membusungkan dadanya meski ia kesakitan.
mereka berjalan menuju kutub mencari wilayah tertinggi di bumi untuk menghancurkan matahari dengan suara kokokannya.
aku penat harus terus menggantung di awan dan terkatung – katung di langit hampa udara.
aku bukan burung, aku bukan hujan, aku bukan bulan, aku juga bukan bintang dan aku juga bukan Tuhan.
eh, siapa bilang tidak ada Tuhan di langit ?
tapi aku memang bukan Tuhan !
lalu bagaimana hujan bisa turun dari langit ?
apa karena Tuhan menangis ?
benar kan, Tuhan ada di langit.

tidak, Tuhan ada dimana2.
sedekat hatimu…. sedekat hatimu.

di jalan itu…

Juli 19, 2008

di jalan itu si bapak termangu di sebuah halte.
di  jalan itu mobil – mobil melaju tanpa ampun.
di jalan itu debu – debu berterbangan.
di jalan itu nyawa – nyawa berkelana.
di jalan itu tujuan – tujuan berakhir.
di jalan itu suara – suara lenyap dan hilang.
di jalan itu pekik – luka terpaku dingin.
di jalan itu banyak mata mengiba menghamba.
di jalan itu roda – roda tak kenal lelah.
di jalan itu mereka kulupakan.

Aku robot

Juli 16, 2008

Saklar listrik, ada. Kabel, juga ada. Beberapa obeng dan berbagai macam besi, juga sudah ada. Semua kuletakan ke dalam satu wajan yang berbeda – beda. Sekarang aku tinggal menyayat pergelangan tangan dan memasangkan saklar listrik ke dalamnya. Setelah itu listrik akan mengalir dari saklar ke dalam tubuhku. Aku kembali hidup.

Semua tahap – tahap itu sudah kulakukan. Aku sudah memotong pergelangan tangan dengan sebilah pisau kecil. Aku melihat banyak darah segar mencuat dari balik dagingnya. Tapi aku sama sekali tidak merasakan sakit.

Setelah melakukan semua itu, aku tinggal menunggu beberapa menit untuk merasakan kuatnya aliran listrik masuk ke dalam tubuhku. Sehingga aku kembali hidup. Sambil menunggu aliran listrik itu bergerak di dalam tubuhku, aku dengan nikmat menjilat obeng – obeng serta paku dan besi yang sudah tertata lezat di wajan – wajan kesayanganku.

Beberapa pun menit berlalu, aku berhenti menjilat dan mengunyah obeng – obeng, besi dan juga paku. aku melihat banyak bayangan hitam menari – menari di depan mataku. Mereka bergerak ke kanan lalu ke kiri. Ke depan dan ke belakang. Mereka membuat aku pusing. Apa sih maunya mereka ???

***

Aku melihat, melihat orang – orang memakai baju putih – putih. Ada yang memasang penutup mulut di wajahnya. Ada yang memakai stetoskop. Aku tau, aku berada di rumah sakit. Dan aku harap bukan rumah sakit jiwa.

“Sekarang bagaimana rasanya ?” tanya si dokter kepada aku.

“Bagaimana rasanya ??? apanya ???” aku balik tanya.

“Tangan nona. Apa tangan nona masih sakit ?” jawab si dokter dengan kembali bertanya.

“Tangan ??? kenapa dengan tangan saya ?” aku kembali bertanya.

“Apa tangan nona masih sakit ?” si dokter bertanya lagi.

“Sakit ??? apanya yang sakit ?” tanyaku kembali.

Si dokter tiba – tiba diam dan tak bertanya lagi. Dia menelengkan kepalanya ke kanan, bingung.

Aku pun tersenyum. Lucu. Si dokter kelihatan sangat lucu. Sekarang dia mau tanya apalagi ??? hehehe….

“Baiklah, mungkin nona tidak merasa sakit lagi. Bila ada sesuatu, nona tinggal memanggil suster yang berjaga. Kalau begitu saya sudahi pemerikasaannya. Permisi,” ujar si dokter yang langsung melangkah keluar.

Setelah si dokter keluar aku langsung bangkit dari tempat tidur.

“Aku akan pergi !!!” seruku dengan semangat.

Dengan langkah pasti, aku pun membuka pintu kamar rumah sakit dan berjalan keluar menelusuri setiap sela ruangan dan melewati kamar – kamar pasien. Aliran listrik yang masuk ke dalam darahku membuat tubuhku lebih kuat dan bersemangat. Energinya sangat aku rasakan.

Aku tak butuh seorang dokter. Aku tak butuh minum obat. Aku tak butuh makan. Aku juga tak butuh minum air. Yang aku butuhkan adalah listrik, besi – besi kecil yang nikmat serta obeng – obeng yang lezat.

Kalau ada musuh yang mendekat, aku tinggal membuka tutup senjata di ujung jari – jari tanganku dan mengeluarkan berpuluh – puluh amunisi yang kutembakkan kepada orang – orang yang mengganguku. Dor, dor, dor !!! hahaha… tuntas… !!!

Tidak. Di ujung koridor sana aku melihat ibuku dan ayahku datang. Di belakang mereka juga ada adik dan kakak laki – lakiku. Mereka datang !!! oh, tidak !!! mereka datang !!! mereka datang menjemputku !!!

Lari !!! aku harus lari !!!

Aku pun berbalik arah. Dengan secepat kilat aku melewati bilik – bilik dari ruangan kelas ekonomi. Rumah sakit ini ternyata sangat luas, sampai – sampai beberapa kali aku nyasar ke tempat yang sudah aku lewati.

Ya, akhirnya aku tiba di luar rumah sakit. Aku tinggal menyetop taksi dan pergi dari tempat terkutuk ini. Aku lapar, aku ingin paku – paku, obeng dan besi – besi kecilku yang lezat. Aku ingin bermain – main dengan listrik.

“Reta… mau kemana kamu nak ???”

Oh, tidak !!! itu suara ibuku. Ibuku memanggilku. Aku harus lari, lari lebih kencang.

“Reta, pulang !!!”

Tidak, tidak, tidak !!! itu suara ayahku. Ayahku yang menakutkan. Ayah selalu menginginkan aku menjadi seperti yang dia mau. Ayahku menyebalkan. Aku harus cepat – cepat pergi dari sini sebelum mereka semua kembali mengurungku di rumah itu. Di rumah neraka itu.

Ayahku, ayahku dan ibuku membuat aku menyukai listrik, obeng – obeng dan besi – besi kecil kesukaanku. Mereka dari jarak dekat mau pun jauh bisa mengendalikanku dengan remote yang khusus mereka buat. Kalau mereka menginginkan aku menjadi Luna maya, maka aku akan menjadi seperti Luna maya dengan sekali menekan tombol di remote yang mereka punya. Bila mereka menginginkan aku menjadi kak Mirna, tetanggaku yang mendapat gelar mahasiswa terbaik, maka secara otomatis aku menjadi seperti kak Mirna dengan sekali menekan tombol pada remote yang mereka punya.

Aku robot. Robot yang mereka kendalikan. Aku mencoba menjadi apa yang mereka mau. Sehingga aku kehilangan semua yang ada di dalam hatiku. Harapan yang waktu kecil kugantung rapi di langit – langit kamar. Cita – cita yang kusimpan di dalam laci meja belajarku. Tapi semua tidak berarti bagi mereka.

Namun aku memang tidak bisa lari lagi saat mereka memanggil namaku. Mereka sudah mengendalikanku dengan remotenya. Aku kembali menjadi robot kesayangan mereka. Kembali secantik Luna maya yang mereka mau. Kembali menjadi sepintar Kak Mirna yang mereka mau. Dan kembali kehilangan semua hal yang aku mau.

Aku membalikkan badan kebelakang, ke arah mereka. Ibuku langsung menyambutku. Memelukku. Ayahku langsung menceramahiku tentang perbuatan yang aku buat. Kakak dan adikku hanya berdiri di belakang mereka, sambil diam melihatku kaku.

Aku robot. Aku tidak butuh makanan, minuman dan kasih sayang. Aku sudah mati rasa. Aku juga tidak punya air mata. Sesampai di rumah aku akan kembali mengalirkan listrik ke dalam darahku dari pergelangan tanganku yang terlebih dahulu harus kusayat – sayat.

Semua kulakukan karena aku memang robot. Robot punya ayahku. Robot punya ibuku. Dan aku tak memiliki apa – apa untuk diriku sendiri. Karena aku adalah robot.

lebur

Juli 15, 2008

setelah kau persilahkan aku mencicipi manis surga, hari ini.
setelah itu pula kau hempaskan aku ke dalam lembah neraka.
bertubi – tubi.
dan aku kembali hancur.
kehilangan waktu yang tak sengaja menjadi ceritaku, indahku.
kehilangan berjuta2 nafas yang kuhela lalu kuhembuskan.
kehilangan akal sehat yang kau ganti seketika dengan potret – potret kejammu.
melucuti setiap jengkal lelah langkah pada bayanganku.
menginjak – injak kota kecil yang telah kubangun rapi.
menghapus senyum pada wajahku.
melukai batinku…
dan seenaknya kau mencuri rahasiaku.

Larasatiku

Juli 15, 2008

Arak – arakan para demonstran itu terus maju ke arah kantor DPRD. Siang ini siang yang sangat terik. Sengatan matahari seperti mampu menembus ubun – ubun kepala. Bukan lah perkara yang mudah berdiri sambil menenteng spanduk yang bertuliskan “Turunkan harga BBM” di tengah massa yang bergulat dengan panas aspal dan hawa menyengat dari matahari.

Aku masuk pada barisan mahasiswa dengan jaket kebangsaannya yang berwarna hijau. Aku berdiri di barisan paling depan yang di hadapanku ada sebuah pagar betis tertata tegang di depan kantor DPRD.

Adalah hari Senin dimana mahasiswa di kampusku memblokade jalur bus kampus dan tidak memperbolehkan mahasiswanya belajar tapi harus ikut berdemo untuk menolak kenaikan BBM. Semua adalah keputusan para petinggi mahasiswa.

Dan adalah hari senin di mana aku berdiri memegang spanduk bisu dengan keringat tajam nyaris membasahi semua permukaan kulitku. Di sampingku Syahrul teman sefakultasku berdiri dengan sebuah toa di tangannya. Sedari tadi ia tak henti – hentinya mengeluarkan kata – kata “Turunkan harga BBM atau tolak kenaikan BBM” sambil berteriak lantang ke arah pagar betis kaku itu.

Aku hanya diam dan hanya menjawab dengan tulisan spanduk yang aku pegang. Aku merasa, mau aku bunuh diri di hadapan presiden pun BBM tidak akan turun. Jadi lebih baik aku diam, menghemat tenaga agar kelak setelah orang – orang tua itu tumbang dan habis, aku atau para generasi muda yang kritis bisa langsung menggantikan mereka untuk mengubah jalan kehidupan bangsa dan memperbarui segala sesuatu yang melenceng dari dasar – dasar hukum.

Setidaknya itu adalah tujuanku. Walau mungkin apalah artinya seorang mahasiswa kecil dari kalangan yang bukan siapa – siapa. Semua memang terlihat miris.

“Iman !”

Detak jantungku menjadi lebih cepat saat suara dan sentuhan sebuah tangan di pundakku itu menghentakkan lamunanku di tengah hiruk – pikuk para demonstran. Aku menoleh ke belakang. Aku melihat sosok ayu nan manis tersenyum padaku. Wajah putih halusnya terpajang indah. Rambut hitam legam panjangnya berkilau gemerlap di bias sang raja siang. Dia Larasati. Gadis yang sudah dua tahun terpenjara di dalam hatiku. Gadis yang sudah membunuh rasa kesepianku setelah di tinggal mati cinta monyetku sewaktu SMA. Gadis yang mampu melekukkan sebuah senyuman tulus di wajahku. Larasati.

“Eh, Laras ? Ngapain kamu disini ? Bukannya udah aku minta jangan ikutan ?” tanyaku heran mengapa hawa cantik ini ada di kerumunan yang mayoritas di penuhi oleh kaum adam.

“Aku cemas ama kamu, Iman,” jawab Larasati.

“Iya aku tau, tapi kamu kan nggak harus datang terus nyari aku. Bahaya !” teriakku karena suara beratku tak mampu terbang dan menggema di telinga gadis itu.

“Apa ?” tanya Larasati mendekatkan telinganya ke dekat mulutku.

“Udah – udah, kamu pulang sana. Atau duduk – duduk di bawah pohon aja liatin orang demo. Ya ?” ujarku.

“Iya. Aku tunggu kamu di bawah pohon sana,” jawab Larasati sambil menunjuk pohon yang dia maksud.

“Oke !” cetusku lalu melihat punggung gadis itu berjalan menuju pohon yang ia tunjuk dan hilang di kerumunan para demonstran.

Namun dalam hitungan detik, suasana demonstrasi berubah total. Syahrul yang berdiri di sampingku maju tanpa ragu ke arah pagar betis tuli itu. Semua demonstran mengikutinya dari belakang dan saling berpacu menembus pertahanan aparat. Aku yang hanya terpana diam tak bergeming mau tak mau harus mengikuti arus pergerakan massa bila aku tau mau menjadi seperti keset kaki di depan toilet yang di injak – injak dengan biadab.

Aku berlari mengikuti arus kaki – kaki penuh semangat yang berkobar – kobar pada idealisme. Aku mengikuti mereka dengan pandangan kosong karena kakiku hanya berjalan tanpa tujuan. Spanduk yang kugenggam erat tadi lepas entah kemana. Badan – badan yang di selimuti jubah hijau itu berhamburan brutal seperti gelombang tinggi yang meluluh – lantakan. Aku merasa sendirian.

Larasati. Dimana Larasatiku ? Apakah ia masih menungguku dengan setia di bawah pohon yang ia tunjuk tadi ? Larasatiku, apa kabarmu kini ?

Prang !!!

Sebuah bunyi yang cukup dahsyat di telinga pecah di tengah kerumunan mahasiswa berjubah hijau. Kaki – kaki itu berlari kacau ke semua arah. Kaki – kaki tanpa mata itu berlari tanpa memperdulikan apa yang mereka injak.

Asap mengepul di tengah kerumunan yang sudah kacau balau. Asap dari sesuatu yang dilemparkan para aparat untuk mengamankan massa. Semua menjadi lebih kacau. Para demonstran memanas. Spanduk – spanduk yang mereka angkat – angkat kini mereka banting ke atas aspal hitam yang tak bersalah. Seperti lamanya waktu mengedipkan mata, mereka bergerak dengan berlari ke arah para aparat yang membuat pertahanan pengganti pagar betis yang sudah rusak.

Aku terbawa arus massa yang kesurupan arwah pahlawan – pahlawan. Massa yang membanting spanduk – spanduk bisu. Massa yang bersorak kesetanan dengan teriakan “Turunkan harga BBM”. Massa yang berani melibas apa saja atau siapa saja yang menentangnya. Massa yang menyemangati keinginan rakyatnya.

Aku tak bergeming. Aku hanya menantap ke semua arah. Melihat Syahrul mendorong – dorong aparat. Melihat semua orang berorasi bebas dengan membakar ban, berteriak – teriak dan memaki – mencela janji – janji pemimpin bangsa yang malang ini.

Larasati. Lagi – lagi aku teringat akan Larasati. Gadis yang lebih tinggi nilainya dari berlian murni. Dari mana pun. Larasatiku, apakah dia baik – baik saja ?

Seketika aku membuat sebuah keputusan akhir. Aku mundur dari perhelatan hebat ini. Mundur dari demonstrasi ini. Kalau saja aku tidak melihat Larasati ada di sini tadi, mungkin aku sudah ikut Syahrul berteriak – teriak di telinga para aparat seperti yang sedang ia lakukan sekarang.

Aku berjalan ke arah yang berlawanan dengan massa yang bertumpah – ruah mencoba merapikan barisannya kembali. Aku berjalan ke arah pohon sakral yang Larasati tunjuk.

Manusia demi manusia sudah aku lewati. Perjalanan menemukan Larasati membuatku sesak napas. Kerumunan massa itu terlalu sempit dan pengap. Padahal langit tinggi sedang bebas menaungi mereka.

Tak kutemukan Larasati di bawah pohon Beringin yang ia tunjuk itu. Tak ada siapa – siapa disana. Di sana hanya seorang penjual batagor yang duduk bengong memperhatikan para mahasiswa beraksi membela kepentingan kaumnya. Tidak ada Larasati di bawah pohon itu.

Dalam hitungan detik, firasat burukku menyeruak dari dalam sanubariku. Larasatiku, kemana dia ?

Aku bingung dan panik. Kumpulan massa yang kacau di belakangku bertambah garang. Mereka mulai saling lempar batu ke aparat. Mereka melempar apa saja yang mereka dapat. Penjul batagor di bawah pohon itu pun berlari panik membawa semua dagangannya. Sedang kan aku hanya berdiri panik tak tentu arah. Aku kehilangan Larasati.

Tanpa pikir panjang aku mengaruk sebuah handphone tanpa kamera dari dalam kantong celanaku. Nomor Larasati yang kupajang di deretan nomor dua setelah nomor ibuku di daftar telpon, kuhubungi.

Tak ada jawaban. Dan tak di angkat.

Untuk kedua kalinya aku kembali menghunginya.

Sama. Tak ada jawaban dan tak di angkat.

Aduh, Larasatiku…. Kemana kamu ?

Dan untuk ketiga kalinya aku kembali menghubunginya.

“Iman, Iman… tolongin aku,” ujar suara dari balik handphone.

“Ras ? Ras dimana kamu Ras ?” tanyaku panik.

“Iman, Iman… tolongin aku. Aku nggak dengar suara kamu. Tolong aku Iman,” ujar suara itu separuh merintih seperti kesakitan.

Aku semakin panik. Mataku liar meneliti setiap jengkal sudut yang kutemukan. Deru napasku memacu kencang. Aku panik wahai Larasatiku. Aku takut kehilanganmu wahai Larasatiku.

“Ras, kamu di tengah orang demo ?” tanyaku dengan volume suara yang lebih kuat dari yang tadi.

“Iman, kamu kemari cep….. tut… tut… tut..” Larasatiku hilang dimakan massa.

Tubuhku gemetaran mendengar pembicaraan itu putus begitu saja. Apa yang terjadi dengan Larasatiku ? Dengan cepat aku kembali menembus kerumunan pasukan hijau itu. Menelaah setiap bilik – bilik manusia berharap aku menemukan sesosok bidadariku di antara para pasukan yang kesurupan arwah pahlawan – pahlawan.

Sungguh, aku tak mau apa yang terjadi dengan Pelita cinta monyetku di waktu SMA terjadi juga dengan Larasati. Hanya bedanya, nyawa Pelita direnggut oleh malaikat maut pada sebuah kecelakaan bus yang kami tumpangi sewaktu merayakan perpisahan sekolah. Saat yang sangat berat dalam hidupku ketika aku harus melihat tubuh mungil yang sudah kaku berlumuran darah itu di angkat dari balik bus yang sama – sama kami tumpangi. Pelitaku sudah tiada. Dan aku tidak mau tiba – tiba harus melihat tubuh Larasati kaku berselimuti merah di angkat di antara tubuh – tubuh yang tumbang karena buah dari perjuangan mereka.

Bisa gila bila aku melihat Larasatiku terbujur kaku bersimbah darah. Bisa gila !

Aku berlari sambil mengedarkan padanganku keseluruh arah. Mengincar sebuah wajah yang selalu aku puja – puji. Tapi yang aku temukan hanya suara – suara lantang dari darah muda yang sedang panas mengalir ke ubun – ubun. Mereka membakar segala peraturan yang bernama hukum dan norma. Merobohkan pagar betis yang tersisa. Menempeleng helm dingin milik kepala batu aparat. Berusaha meretakkan tameng yang di genggam aparat. Bersikeras menolak kenaikan BBM. Hanya saja mereka tanpa Larasatiku.

Kerumunan itu semakin berubah menjadi seperti neraka. Tak terlihat mana yang teman atau lawan. Aparat yang sedari tadi memegang tamengnya, kini bangkit dan berlari mengejar para mahasiswa. Aparat sepertinya ingin mencari provokator di antara mahasiswa.

Syahrul teman sefakultasku tertangkap di sudut kerumunan sana. Aku melihat ia di gelandang, di seret dan di paksa berjalan beriringan dengan sekelompok aparat yang menangkapnya. Syahrul sang provokator telah di tangkap. Jelas ini bukan akhir dari perjuangan talak tiga para mahasiswa. Seperti hakim mengetuk palunya, seperti itu juga massa yang terdiri dari mahasiswa berjubah hijau kembali berhamburan ke satu arah. Membawa segala macam benda yang mereka temukan. Melemparkannya. Menghunuskannya. Dan membantingkannya. Tanpa ampun. Tanpa rasa dosa.

Dengar Tuhan, aku sudah hampir gila. Mana Larasatiku Tuhan ? mana gadis itu ? datangkan dia untuk ketenangan batinku Tuhan. Selamatkan dia. Mengapa kau mengajak dia kemari Tuhan ? mengapa ?

Aku hampir putus asa saat sebuah benda tumpul itu bergenderang di balik telingaku. Menyentuh dengan kasar ubun – ubun kepalaku. Merobek paksa kulit dan daging di tengkorakku. Mengusir darah merah keluar dari pembuluhnya. Menggelapkan pandanganku untuk melihat Larasatiku nanti. Memukul jasadku bertubi – tubi kejamnya.

Aku hilang. Larasatiku hilang. Napasku lemah. Jantungku putus asa. Otakku diam. Mataku seperti buta. Tuhan, sebenarnya apa rencanamu ?

***

Pagi ini aku melihat burung – burung gereja itu bertengger di balik jendela kamar rumah sakit. Ketika aku mendapati seorang bidadari di hadapanku sedang memaksaku untuk mencicipi buah jeruk manis yang di bawanya untukku, aku sudah kembali tenang.

Larasati selamat dalam demonstrasi berdarah itu. Luka – luka yang ia dapati tak separah luka yang aku alami. Aku mengalami geger otak ringan. Pukulan benda tumpul yang entah dari siapa itu membuat batinku beristirahat sementara waktu. Sampai akhirnya aku kembali melihat senyum indah itu menari – manari di hadapanku kini.

Aku mengecap manis jeruk yang ia kupaskan untukku. Pandanganku menerawang ke luar jendela, ke angkasa biru dengan awan – awan putihnya. Andai saja aku benar – benar kehilangan Larasati, pikirku tanpa ada yang menjawab.

“Iman, jangan ikut – ikutan yang kayak gitu lagi ya ?”

Suara Larasati membuyarkan lamunanku. Aku melihat tangan kanannya memegang kepingan jeruk yang ingin ia suapkan ke dalam mulutku yang di tepinya tergores luka.

“Kamu yang jangan ikut – ikutan aku demo lagi. Aku cemas tau !” ujarku geram.

“Iya – iya. Aku nggak mau lagi deh ikut – ikutan demo. Ngeri,” jawab Larasati dengan ekspresi ketakutan yang di buat – buatnya.

Aku tertawa saat melihat sederetan gigi – gigi kecilnya yang rapat itu ia pamerkan supaya kata – kata yang ia keluarkan terkesan mengerikan. Ia gadis yang nyaris sempurna dengan dianugrahi mata sebening air telaga. Benar, bisa mati gila bila aku kehilangan bidadari ini di tengah manusia – manusia yang tanpa norma.

Pagi ini begitu sejuk. Pancaran matahari seperti tak langsung jatuh ke bumi. Ke aspal – aspal jalanan yang perih. Pagi ini seperti pagi yang habis di guyur hujan. Begitu harum. Begitu tenang. Pagi ini adalah pagi ketika wajah manis itu kutatap lekat – lekat.

“Ras, kamu tau apa yang aku pikirin waktu nyari kamu di sana waktu itu ?” tanyaku sambil menggenggam tangan halusnya.

“Hmm, coba aku tebak. Mungkin kamu kira aku di apa – apain orang. Iya kan ?” jawab Larasati sambil mempersembahkan senyum syahdunya untukku. Ya, hanya untukku.

“Waktu itu aku pikir, lebih baik aku buta bila harus ngeliat kamu tidur bersimbah darah di antara yang lain. Lebih baik aku tuli, dengar kamu hilang. Lebih baik aku… tidak bernapas lagi daripada harus kehilangan napas kamu. Larasati,” ungkapku sambil mencium tangannya penuh rasa syukur. Syukur karena aku masih bisa menyentuh tangan ini. Syukur karena aku masih memilikinya. Larasatiku.

Bidadariku.

***

Senja

Juli 14, 2008

bunyi suara mobil – mobil bergetar kencang mamacung telingaku. Sontak aku kaget bukan kepalang, saat aku mendengar ada salah satu bunyi seperti memanggilku.
senja… senja… senja…
aku menoleh ke samping. tak ada satu pun penumpang angkutan kota yang kukenal.
senja… senja… senja…
kembali aku pun menoleh ke samping. sama, tak ada seorang pun yang kukenal.
aku melihat semua penumpang angkot sibuk dengan renungan mereka masing – masing, apalagi dengan ibu – ibu yang duduk tepat di depanku. beliau sedari tadi hampir tiap detik mengintip jarum – jarum yang bergerak di balik kain pada kemeja lengan panjangnya.
lalu siapa yang memanggilku ??? ah sudah lah, mungkin hanya perasaanku saja. mungkin aku sedang lelah.
panas di kota bengkuang mungkin sudah membuatku berhalusinasi. apalagi dari pagi hingga sore ini aku berkutat di luar rumah. sibuk bertemu dengan teman – teman lama dan teman – teman di kampus.
barangkali aku memang lelah.
senja… senja…. senja…
baik lah, sekarang aku benar – benar cemas. kendaraan yang aku tumpangi sedang melaju cepat. semua penumpang masih sibuk dengan rencana – rencana yang mereka bangun di dalam pikiran mereka. semua tetap diam. bahkan tidak ada yang mengenaliku.
lalu, bagaimana ada seseorang yang memanggilku senja ???
namaku senja. putri senja sari. dan aku di panggil senja. ayo siapa yang memanggilku mengaku lah. aku tak akan marah. ayo mengaku lah.
aku mulai gelisah sendiri. tapi aku harus bagaimana ???
akhirnya aku keluar dari angkot aneh itu. tempat yang kutuju sudah menanti di depan mata.
sore mulai terlihat merah – merah. aku mendengar teriakan burung – burung di langit yang sedang saling berlomba – lomba menuju laut.
di depan ada rumahku. rumah sederhana dengan taman kecil yang di penuhi dengan bunga asoka. di tengah taman ada ayunan kecil sedang bergoyang – goyang di tiup angin. aku melewati pagar putih dari besi yang di atasnya sengaja di buat runcing – runcing. kata ayahku agar tidak ada orang yang bisa melompati pagar.
ketika aku membuka pintu, wajah ayah yang sudah tua renta dengan kerut – kerut abstraknya langsung menyambutku. ayah tidak memajang senyumnya, tidak seperti biasanya. “ibumu sakit, tengok lah di kamarnya” kata ayah mencoba tabah.
aku ternganga. menyadari apa yang telah aku lakukan seharian. aku melupakan keluargaku. melupakan ibu.
aku masuk kekamarnya. kulihat ibu di balik selimut tebalnya merengut terisak – isak menghela napasnya yang sulit. ibuku sakit. aku duduk di samping tempat tidurnya yang bau kayu cendana. aku sentuh keningnya. panas. perlahan – lahan aku belai rambut yang  ikal hitam namun sebagian terlihat memutih. ibuku sudah tua.
aku menunduk sambil menahan air mata.
“senja… senja… senja….” ujar ibuku lirih.
ibuku memanggilku. ibuku memanggilku. aku mendengar itu ibuku memanggilku. ibu aku memanggilku. ibuku, itu ibuku, ibuku yang memanggilku. aku mendengar itu ibuku, ibuku… ibuuuu…kuuu.. ibuku… aduh senja…… ibumu memanggilmu tadi…
itu ibuku. ibuku yang memanggilku tadi. tadi ibuku memanggil – manggilku. ibuku memanggilku senja….
ibuku memanggilku senja….

hujan…

Juli 14, 2008

jelang, pelan, lembut dan jatuh…
peluk dingin dengan rasa…
basuh hati dengan cita…
pilu membisu membuncah dan ledak..
padam dengan dingin
hujan datang hapus, bilas, gilas…
lalu lenyap…
cahaya pekat benderang
makin terang makin tajam..
lalu pejam….
tenang….
berbisik, sayup – sayup, kelabu…
bening, jernih…
rintik – rintik…
harum…
bau pasir kering kerontang…
serpih – serpih…
debu dibasahi hujan..
kemarau..
keras.. menghantam
menghilang…

pengaburan

Juli 14, 2008

aku tak mau semua seperti pengaburan.
seperti ngidam buah manggis emas.
seperti ingin mencapai ujung monas.
seperti makan gula rasa pedas.
tak kunjung temui tunas
atau mendaki gunung batu tanpa kaki beralas.

aku hanya ingin mendapat penjelasan.
seperti ibu yang melahirkan anaknya.
seperti malam dengan bulannya.
seperti burung terbang di angkasa.
menanam biji mangga yang menjadi mangga.
atau menerima uang dengan hati bahagia.

namun semua tetap seperti adanya…

kabur
terang
kabur
terang
kabur
terang

pergi ke surga tiba di neraka…
kabur dan terang.

Udin

Juli 14, 2008

Udin menelan air liurnya di depan lapak sate  yang terletak di pinggir jalan Patimura. Karung lusuh berisi botol – botol plastik di tangannya sudah penuh. Hari ini Udin sedang beruntung karena telah mendapatkan banyak botol – botol plastik yang ia kumpulkan dari banyak tempat.

Udin pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah. dari sini ia cukup berjalan kaki menyeberangi Ratulagi menuju Padang pasir. Di sepanjang perjalanan, mata Udin di suguhi dengan orang – orang yang sedang menikmati sate. Harum sate begitu menggoda hidung udin hingga sepanjang jalan ia tak henti – hentinya menelan air liurnya.

Malam pukul delapan, Udin pun tiba di sebuah gubuk reyot yang hampir ambruk. Lantainya beralas tanah basah dan diperindah dengan sedikit sentuhan bebatuan. Bebatuan tajam yang sepertinya ditebarkan untuk mengikis kotoran yang menempel di kaki – kaki udin dan keluarganya. Rumah yang bagi udin sudah mewah itu adalah rumahnya. Rumah yang sekian tahun semenjak ia lahir telah menjadi bagian dari sejarah hidupnya.

Udin menapaki pekarangan sempit gubuk itu. Bukan, bukan sempit tetapi pekarangan yang hanya dihiasi dengan selokan kecil yang sudah memakan banyak tempat penting di rumah mewahnya. Selokan yang bisa menjadi kali besar bila hujan turun deras di kota Padang. Bagi keluarga Udin, selokan kecil itu sangat menakutkan.

Udin meletakkan karung ajaibnya di samping pintu masuk rumahnya yang sudah tidak bisa di kunci lagi. Setelah melewati pintu sakralnya, Udin langsung berlari ke dapur yang menyatu dengan kamar juga ruang berkumpul. Di sana ada ibunya yang sedang menggoreng tempe.

“Aku ingin makan sate, mak,” ucap Udin manja.

Ibu Udin hanya diam menanggapi. Wanita setengah baya itu tetap meneruskan pekerjaannya menggoreng tempe. Sarung jawa yang sudah robek dengan mantap mengikat pinggang dan menutupi bagian bawah badannya. Sedangkan bagian atas badannya dilindungi  baju kaos pudar  berwarna kuning dengan lambang sebuah partai melekat dengan nyaman.

“Mak, Udin ingin makan sate. sate yang di Pattimura,” pinta Udin.

Ibunya hanya menjawab dengan seutas senyum padu. Sedari pagi wanita lima anak itu berjualan sayur keliling dengan memakai kedua kakinya yang sudah mulai rematik. Sedangkan suaminya hingga malam ini belum juga pulang dari pekerjaannya sebagai sopir angkot.

Dari ruang berkumpul rumah yang nyaris seperti kandang kerbau itu terdengar rintihan serta tangis dari saudara – saudara Udin yang masih bayi dan balita. Mereka mulai tidak bisa menahan rasa laparnya.

Mendengar raungan kelaparan dari ke empat adiknya, udin berhenti merajut. Ia memandangi saudara – saudaranya yang berguling – guling dan meronta – ronta menghentakkan ubin semen sebagai demontrasi kepada ibu mereka bahwa mereka sangat lapar.

Udin dengan pelan menundukkan kepalanya, menahan gempa yang menghantam di dalam hatinya. Raungan anak miskin, cetusnya dalam hati. Dengan sejuta rasa kesal ia mengeraskan kepalan kedua tangannya. Ini roman picisan, gerutunya. Gempita sinar lampu kota saja tidak sampai kemari, ujarnya. Tak ada yang terang disini dan tak ada yang indah disini. Di sini hanya ada photographi kasat mata yang terpancang miris dari sayap kota yang penuh rumah makan. Padang.

‘Padang kota tercinta, kujaga dan kubela’, tulisan dari spanduk lusuh itu terpajang bebas di sepanjang ruangan rumah Udin. Spanduk itu dijadikan pembatas ruangan oleh bapak Udin. Semua begitu klise.

Malam ini Udin dan keluarganya harus pasrah memakan nasi putih dengan lauk tempe goreng. Dengan penuh hikmat mereka duduk di lantai yang di alas tikar keriput dan compang – camping. Sambil membentuk lingkaran, keluarga besar itu duduk saling berhadapan.

Ibu Udin bertugas membagikan tempe yang hanya ada 3 potong untuk tujuh orang anggota keluarga. Setelah setiap anggota kerluarga mendapatkan bagiannya, mereka pun langsung menyantapnya dengan penuh rasa syukur. Syukur mereka masih bisa menikmati lezatnya nasi putih dan gurihnya goreng tempe karena kesempatan ini kadang sama sekali tak bisa mereka rasakan.

Ayah Udin hanya narik angkot bila hari tidak hujan karena ia menderita rabun jauh. Sulit baginya melihat kejauhan pada saat hujan lebat tiba. Jadi pada bulan ini ayahnya kadang narik kadang tidak karena bulan ini salah bulan yang masuk daftar musim hujan di kota Padang.

Malam tanpa disadari semakin larut. Keluarga besar itu pelan – pelan bersiap – siap untuk pesta piama mereka. Mereka berkumpul di satu ruangan dan tidur tanpa ada pembatas antar orang tua dan anak – anak. Tidur di atas lantai semen yang dinginnya nyaris menusuk – nusuk tulang. Dengan bantal tangan mereka pun terlelap pada malam yang menghamba bulan.

***

Udin mengais – ngais sebuah tong sampah yang ada di depan Plaza Andalas, sebuah Plaza terbesar di kota Padang. Tak jauh dari tempat ia mencari nafkah, segerombolan muda – mudi sibuk tertawa riang gembira di depan mobil Avanza bercat hitam metalik.

Udin termangu melihat orang – orang seumuran dengannya sedang asyik menikmati hidup mereka. Hidup yang penuh dengan topeng – topeng kacanya.

Kembali Udin tersadar ke alam nyatanya, ia melanjutkan pekerjaannya mencari botol – botol plastik yang akan di jualnya ke pengumpul barang bekas. Hasilnya lumayan cukup untuk mengisi perut keluarganya malam ini.

Habis memungut botol – botol plastik dari Plaza Andalas, Udin bergerak mencari botol – botol ajaibnya ke jalan Pattimura, jalan di mana surganya orang – orang yang kelaparan duduk mengisi perut dan dahaga mereka.

Disana, di depan lapak sate  idaman Udin, pemuda berumur lima belas tahun itu berdiri di samping keranjang sampah si tukang sate yang penuh dengan daun – daun alas sate. Ia mengais – ngais sampah itu sambil berharap mendapatkan banyak botol – botol plastik disana. Sambil mengais – ngais sampah, mata Udin mencuri – curi pandang kepada beberapa orang pengunjung lapak sate yang sedang asyik menikmati hidangan sate Padang.

Mata Udin semakin terpaku pada salah seorang pengunjung yang duduk di depan satu porsi sate Padang dengan beberapa tusuk daging sapi yang lezat. Lelaki setengah baya itu sedang bersiap – siap memanjakan mulutnya dengan keempukan rasa daging sate. Sate yang tadinya bertengger tiga tusuk daging kini hanya tinggal lidi basah bekas jilatan lelaki itu. Tusukan sate itu habis tanpa bekas. Udin pun menelan ludahnya menahan rasa laparnya.

Diam – diam ia meronggoh saku celana kotornya, berharap ketika ia mengambil receh, uangnya tiba – tiba bertambah berkali – kali lipat dari yang dapatkan. Tapi kenyataannya, ketika Udin melebarkan telapak tangannya yang sudah berisi uang, yang ia dapatkan hanya beberapa receh uang lima ratus rupiah dan beberapa lembar uang seribu. Sungguh malang.

Ia mengurungkan niatnya untuk bisa menikmati lezatnya daging – daging dari sate Padang itu. Ia tau, untuk setengah porsi sate saja Udin harus membayar delapan ribu rupiah. Uang delapan ribu itu lebih baik ia belikan bahan makanan yang nanti bisa di masak ibunya dan dimakan bersama keluarganya. Sekali lagi, Udin berusaha melupakan keinginannya untuk menikmati sate yang terkenal paling lezat di kota Padang.

Gema adzan magrib menggaung di langit kota Bengkuang itu. Langit kota itu merah kekuningan. Guratan – guratan yang tercipta di atas sana begitu sempurna dan mempesona. Bila di lihat dari pantai, guratan – guran senja itu seperti mengajak berkhayal pada setiap mata yang melihatnya. Guratan – guratan senja itu begitu sempurna, begitu mempesona.

Disana, di pinggir pantai Padang di pantai Purus, Udin sejenak duduk melepas lelahnya. Pekerjaannya cukup dapat menguras keringatnya. Di samping ia duduk, karung goni kotor bersandar di dinding pembatas pantai dengan botol – botol plastik bekas yang memenuhinya. Hari ini cukup melelahkan baginya. Dan sebelum ia pulang ke rumah, ia harus singgah di rumah teman hidupnya, teman hidupnya yang paling setia mendampinginya pada setiap langkahnya. Pada setiap langkahnya baik yang benar maupun yang salah. Teman yang selalu melindunginya kemana angin penyakit membawanya. Teman yang selalu ada dimana saja. Ia harus singgah di sebuah masjid dekat pantai. Ia harus singgah ke rumah temannya. Untuk mengetuk pintu rumahNYA, untuk melihat secerca senyumanNYA, untuk bersedagurang denganNYA, untuk berkeluh – kesah denganNYA. Dengan dia, sang pencipta segala – galanya.

***

Malam makin larut. Di rumah peyot itu ada keluarga besar yang sedang saling termenung, saling tercenung. Adik Udin yang kedua, Reza menagih uang sekolahnya yang sudah satu semester tak pernah di bayar kepada ayahnya yang masih lelah seharian berputar – putar mengendarai mobil yang bukan miliknya.

“Dengan apa bapak bisa bayar uang sekolah sebanya ini nak ?” tanya bapak Udin dengan sangat lirih.

Kening yang mulai keriput milik lelaki kekar itu menyerngit hebat sambil memandangi secarik kertas peringatan yang di keluarkan sekolah Reza anak laki – laki keduanya. Pandangan lelaki tigapuluhan itu kosong saat melihat besarnya angka – angka yang tertera di sana sebagai total yang harus ia bayar untuk mempersilahkan anaknya mengikuti ujian semester yang akan berlangsung diwaktu dekat ini. Baginya angka dua ratus lima puluh ribu itu sangat fantastis. Ia sendiri hampir tidak pernah mendapatkan uang sebanyak itu dari hasil pencarian nafkahnya. Kini ia harus berusaha banting tulang dalam waktu yang sangat singkat agar anaknya bisa mengikuti ujian.

Tapi kata – kata yang ingin di lontarkannya kepada anaknya Reza berbeda dengan apa yang di pikirkannya.

“Reza, kamu berhenti sekolah dulu untuk sementara waktu.”

Lelaki itu sudah putus asa terlebih dahulu. Ia merasa tak mungkin mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dua minggu. Itu mustahil baginya.

Dengan mata nanar, Reza berdiri lalu pergi keluar rumah meninggalkan semua anggota keluarganya yang duduk membisu di atas lantai semen dingin. Terpaku memikirkan nasib dari bawah atap seng yang bolong – bolong.

“Jangan hancurkan masa depanku, ayah !” seru Reza dari balik pintu rumah berkarat.

Ayah Udin yang tadinya berusaha untuk tidak melunturkan kharismanya sedikit pun sebagai kepala keluarga kini luluh dengan serta merta menundukkan kepalanya menyesali nasib keluarga yang ia kepalai. Ayah macam apa saya ?, tanya lelaki itu kesal.

Di sampingnya wanita berparas lembut itu duduk membisu dengan wajah berhias air mata. Setelah Udin, sekarang giliran Reza, katanya dalam hati. Mau jadi apa anak – anakku nanti ?, tanyanya mengiris kalbu pada sanubarinya yang telah berulang kali terluka akibat himpitan dan kecaman hidup.

Udin hanya terdiam sambil mengenang pada masa dimana ia mengalami hal yang sama dengan Reza, di paksa untuk berhenti sekolah karena tidak bisa membayar uang sekolah dan uang ujian. Pada detik di masa itu, adalah penentuan jalan hidupnya yang langsung berubah total. Masa depan yang waktu kecil sangat ia impi – impikan. Udin ingin menjadi dokter. Itulah masa depan yang ia idam – idamkan. Tapi kini, Udin malah bekerja mengais – ngais sampah berharap mendapat barang – barang yang dapat bermanfaat dan menghasilkan uang.

Udin tau, apa yang di rasakan Reza adiknya pasti sangat pilu sekaligus kejam. Bukan perkara mudah untuk bisa merelakan masa depannya hanya kerena ia tak bisa melunasi hutang – hutangnya pada sekolah. Tak bisa kah sekolah memaklumi kehidupan anak itu yang sulit ? pada zaman yang makin canggih ini, orang – orang pun bekerja seperti robot tanpa hati nurani. Begitu picisan dan begitu kejam.

Beberapa saat kemudian, Reza kembali masuk rumah dengan memajang wajah ingusannya yang basah akibat air matanya. Reza berdiri di hadapan semua anggota keluarganya yang duduk di atas semen dingin. Berdiri di hadapan bapaknya. Lelaki tiga puluh tahunan yang menunggu reaksi Reza selanjutnya.

“Aku…. Aku….” Ucap Reza terbata – bata.

“Aku mau berhenti.. saja sekolah pak,” ungkap Reza melanjutkan kata – kata yang sangat berat ia ucapkan, ia keluarkan.

Isak tangis pun tak bisa lagi di bendung oleh wanita setengah baya yang duduk di samping lelaki yang menjadi kepala keluarga di sana. Laki – laki itu menghela napas, perih dengan kehidupan yang dijalani keluarganya. Semua hal begitu menghimpit dan mengecamnya. Semua hal yang ia yakini selalu bergantung pada uang.

Malam ini, mereka tidur dengan sejuta rasa pasrah pada nasib yang mereka terima. Hingga pagi menjelang, mereka pun kembali mencari sesuap nasi yang bisa menyambung hidup mereka.

***

Jilatan matahari dengan biadab menggosongkan kepala dua orang pemuda yang berdiri di sebelah bak sampah di jalan Ujung Gurun. Udin dan Reza mengais – ngais sampah mencari botol – botol plastik atau benda – benda berharga yang bermanfaat bagi mereka.

Dengan tekad membara mereka kembali berjalan menuju Pattimura melewati rumah peyot mereka di jalan Padang pasir. Udin membawa Reza mengais – ngais sampah di depan lapak sate  tempat favorit Udin.

Disana ia bisa mencium bau sate yang lezat, sambil berkhayal bisa menikmatinya. Perjalanan waktu membuat Udin paham betul siapa dirinya. Satu hal yang ia tanamkan di dalam hatinya, yaitu selalu sabar dan menerima apa adanya. Menerima apa adanya kehidupan yang telah dianugerahi Tuhan kepadanya. Sebisa dan semampu mungkin ia akan berusaha menikmati susah senang, perih dan indahnya.

Dan yang Udin tau, ia memiliki satu hal kekayaan yang tak ternilai di muka bumi ini. Satu hal yang membuat bocah lima belas tahun itu memiliki tekad baja untuk bangkit dari kehidupan yang tidak layak ini. Satu hal yang sangat indah, yaitu keluarga.

Ada ayah, ibu dan adik – adiknya.

***