Insomnia

Agustus 15, 2008

Habis terkuras kelenjar air mataku
Habis, hingga otak dan jantungku sesak.
Aliran darahku menyempit.
Hatiku  galau.
Insomnia keparat.
Merongrong di antara gelap dan sunyi.
Menggerogoti sela – sela mimpi.
Hingga semua urat saraf terjaga dan terpaku
Dalam kegelapan.
Dalam kesunyian.
Suara pekik jerit orang – orang kehilangan harta terdengar.
Suara teriak perempuan takut malam.
Sampai suara detak jantungku.
Telingaku tak bisa tuli.
Mataku tak bisa buta.
Mulutku pun haus mimpi.
Darahku memacu lebih cepat.
Hingga menggalaukan hatiku.
Sedang jantung berdetak lamban.
Otakku mulai berhalusinasi.
Dada ku pun sesak.
Berharap hujan datang
Menghalau insomnia busuk.
Tapi tak kunjung turun.
Hanya angin ribut.
Jelajahi sunyi.
Memporak – porandakan malam.
Sampai insomniaku menari – nari merdeka.
Dan di malam berikutnya lagi
Aku pun tetap tak bisa menaklukkannya.

Insomnia.

Hitam

Agustus 13, 2008

Jelaga air mataku

Memakan sepi sampai habis tak bersisa

Rasanya nikmat seperti kopi tanpa gula

Kucingku mencakar jaring laba – laba

Jaring – jaring penyekat mimpi

Penyekat yang mengurung hingga hitam

Gelap mencekam setiap malam – malam

Seperti insomnia yang menghukum mata

Menghukum ku dari kewarasan

Dari kewarasan  yang membuat ku gila

Sampai dimana entah akan kemana.

ranting – ranting kering

Agustus 3, 2008

haruskah kukemasi ranting – ranting kering itu satu persatu.
sambil menangis aku tetap menapaki belantara gersang.
tanpa kaki beralas tanpa kepala berpayung.
mencari telaga yang sedari dulu ku idam – idamkan.
namun tak kunjung kutemui.
ketika aku menyadari ketersesatan ini.
haruskah kukemasi ranting – ranting kering di tengah jalan itu.
memungut satu persatu serpihannya sambil meringis terisak.
sambil menelan mentah mentah air mataku.
ketika yang kutemui hanyalah telaga mengering.
aku tak sudi berteriak.
aku tak sudi berlari.
aku tak sudi melihat.
aku tak sudi mendengar.
dan aku hanya dapat menangisi.
menangisi sisa – sisa dari harapanku.
menangisi ranting – ranting kering yang kupungut.
menangisi telagaku yang mengering.
menangisi diriku yang sudah sangat lelah hati.
dan menyadari semua bukan lagi masalah waktu.