ratapan itu pun kau curi

Oktober 31, 2008

Ada yang merampok rasa senang dari jiwaku
Ia menggeliat lalu berjalan berjinjit kaki dan mengendap – ngendap di antara redup sinar – sinar kehidupan
Ia menikam dengan perlahan – lahan dari belakang punggungku
Lalu……
Dengan lamban dan sangat pelan
Ia merayap mengambil rasa itu dari balik ragaku yang tak berdaya lagi
Kemudian ia hempaskan kuat – kuat rasa itu ke atas jalanan berbeton duri
Dan ia pun tertawa terbahak – bahak di depan mataku yang tak bisa nanar
Yang tak bisa tajam menusuk jantung hitamnya
Dan mulutku bungkam menelan mentah – mentah berjuta makian
Dan kedua  tanganku mendadak mati rasa tak bisa meraih sisa dari rasa yang telah menjadi sampah busuk itu
Dan ia pun kembali menikamku dari belakang punggungku
Kembali untuk mengambil sisa rasa itu yang masih menyelip secuil di antara tulang – tulangku.

The Butterfly Effect

Oktober 30, 2008

ReviewReviewReviewReviewReview

Category: Movies
Genre: Mystery & Suspense

Evan, sejak kecil terkadang terserang penyakit hilang ingatan. Dia terkadang tidak ingat apa yang terjadi. Ibunya yang khawatir, karena Evan menunjukkan perilaku yang tidak normal di sekolah, membawanya ke psikiater. Ia khawatir Evan ‘mewarisi’ kegilaan ayahnya (yang dirawat di rumah sakit jiwa). Ternyata tidak ditemukan hal yang aneh pada fisik Evan. Oleh psikiaternya, Evan disuruh menulis buku harian supaya dia tidak melupakan hal-hal yang terjadi. Maka sejak itu Evan mulai menulis buku hariannya. Enam tahun berlalu, Evan yang menginjak remaja bersahabat karib dengan Tommy, Kayleigh (adik Tommy) dan Lenny. Suatu hari mereka bermaksud membuat ‘ledakan’ yang ternyata berakibat fatal bagi persahabatan mereka.

Tujuh tahun kemudian, Evan yang sudah memasuki bangku kuliah, membaca lagi buku harian yang pernah ditulisnya dulu. Selama 7 tahun belakangan ini, ia sudah tidak lagi mengalami hilang ingatan seperti dulu. Kemudian dia melihat masih banyak halaman-halaman kosong di buku hariannya, yang tidak bisa diingat. Maka ia kembali ke kampung halamannya untuk bertanya kepada sahabatnya dulu. Tapi ternyata tidak ada yang mau mengungkit hal tersebut, bahkan Kayleigh lantas bunuh diri setelah bertemu dengannya.

Kemudian Evan pun menyadari bahwa lewat buku hariannya, ia bisa kembali menjadi Evan muda dan mengubah apa yang ia rasa perlu diubah. Hasilnya, ia tidak hanya mengubah hidupnya, tapi juga hidup ketiga sahabatnya, dan ibunya sendiri. Namun apapun yang ia ubah, ternyata bukan kebahagiaan yang diperolehnya. Justru ia semakin frustasi dengan keadaan. Sampai pada puncaknya, ia harus mengambil keputusan, manakah yang benar-benar akan ia ubah, untuk mengembalikan kehidupannya, kekasih, sahabat dan keluarganya.
ia mengubah dunianya dengan cara membaca kembali buku diarinya yang tiba2 menghubungkannya kepada masalalu dan seperti dunia yang paralel.

The Butterfly Effect adalah sebuah film fiksi ilmiah Amerika Serikat pada 2004 yang dibintangi oleh Ashton Kutcher, Amy Smart, Eric Stoltz dan lain-lain. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Eric Bress dan J. Mackye Gruber.

Film ini menggambarkan teori chaos, terutama yang menyangkut cuaca, yang mengusulkan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di Brasil dapat secara teoritis menyebabkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian; lihat efek kupu-kupu. Judul ini juga bersifat metaforis untuk penampilan pemeriksaan otak yang menyerupai kupu-kupu.

Semboyan: “Ubah satu hal, ubah semuanya” (“Change one thing, change everything”).

Kepakan Sayap Kupu-kupu Di Suatu Tempat

Akan Menyebabkan Taifun Di Belahan Bumi Lain

bersumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/The_Butterfly_Effect

sudah lama aku menyadari,

mereka ada di dunia yang lain.

dunia yang sama sekali tidak bisa menarik minatku untuk menjamahnya. karena kupikir, aku tak butuh dunia itu. dunia mereka.

setiap kata yang mereka jabarkan, setiap suara yang mereka hasilkan, setiap gerak – gerik yang mereka lakukan, setiap itulah semuanya berjalan begitu lamban di otak ku. saat mereka tertawa, pekikkan mereka terdengar sayup2 di telingaku, pelan dan pelan dan menggaung perlahan – lahan. setiap mereka menari, tarian mereka bergerak lamban di mataku, pelan – pelan dan perlahan – lahan.

kurasa ada yang salah denganku. aku bermasalah ? apa aku salah ? salah apa aku ? apa salahku ? salahku apa ?

pertanyaan itu selalu aku lontarkan, selalu setiap saat setiap aku menulisi jawaban – jawaban pada kertas soal ujian UTS ku. pertanyaan itu selalu aku tulisi di awan – awan saat aku melihat langit, saat aku berjalan dengan mereka, saat aku berjalan sendiri. pertanyaan itu selalu terpancang kuat di ubun – ubunku. pertanyaan itu membuatku selalu merasa bersalah. entah salah apa. tapi aku ini memang hina.

saat malam tiba, saat aku hendak menutupi mataku dengan pertanyaan2 itu dunia mendadak bising.

saat itu aku mendengar suara hentakan musik disco yang mengguncang separuh dari malam. suara dari langit.

saat itu aku mendengar suara pekikkan tawa yang menggeser malam ke ujung ketidakwarasan. suara dari langit.

saat itu aku mendengar hempasan keping – keping domino yang dimainkan malaikat2. suara dari langit.

dan dunia penuh bising tapi aku penuh diam.

bila ditanganku ada senjata api, maka kutembaki dunia – dunia bising itu. kutembaki satu persatu biar mereka bisa diam. biar mereka tau aku marah.

ah, jengah.

nanti malam, akan kutampar penghuni dunia2 bising itu satu persatu biar mereka tau aku juga punya dunia sendiri.

belatiku tumpul

Oktober 28, 2008

Ti…….. kam….

Ti…. kam….

T……. i………. k……..a………….m

Ti…kam….

tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam hitam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam tikam

seharusnya tak usah lagi kau lanjutkan opera murahan dan menjijikkan itu hei !

aku sudah menemukan topeng yang kau buang di tong sampah rumahmu saat aku melewatinya.

kita tak jauh beda dari orang – orang yang menyedihkan. tapi aku rasa kau lah yang paling menyedihkan hei.

sedari awal aku tau bagaimana rupa samar – samar bayangmu. sedari awal aku menginjak bayanganmu agar tidak lari. tapi kau masih saja mementaskan opera dan menyanyikan lagu sinden ketidakwarasanmu terhadap kelamin. aku bersuka dan berduka atas kepergian rasamu yang peka terhadap isyarat – isyarat yang aku tenggerkan sebesar raksasa di kedua nanar matamu. dan kau tetap bersemangat untuk mementaskan opera murahanmu dihadapanku.

berhenti hei. lama – kelamaan aku jadi kasian padamu. lama – kelamaan aku juga jadi merasa menipumu. menipumu dengan berpura – pura bodoh dihadapanmu. berpura – pura tuli. berpura – pura buta. berpura – pura idiot. berpura – pura tidak tau menahu bahwa kau sedang bermain opera dan menyanyikan sinden ketidakwarasanmu atas kelaminmu.

dan aku menyadari. kita sama – sama berpura – pura. saling menipu satu sama lain. dan kita sama – sama berpura – pura idiot. tapi tidak, aku rasa kau lah yang idiot. karena kau tidak tau, aku juga berpura – pura padamu.

maafkan aku.

*kepada seseorang yang menipu kelaminnya, kepadanya aku minta maaf juga sudah menipunya. maaf, dan kita tetap berteman kan ?

ketika.

Oktober 26, 2008

ketika jantung kita hilang detak.

ketika  mata dan napas kita tetap nanar dan tercekat.

ketika otak tak berpikir karena oksigen tak bisa menyertai darah – darah yang mengalir.

ketika kita pelan – pelan mulai lunglai dan jatuh.

ketika kita akan mati.

ketika tatapan kita mulai buram.

ketika napas kita benar – benar tercekat dan habis.

ketika jantung tak kunjung menggertak nadi.

ketika kita kaku dalam kepulangan menuju dunia abadi.

ketika kita tiada.

ketika kita bertanya – tanya, siapa yang akan menangisi kita ?

Malam ini, aku seperti berjalan dengan bola besi terikat di sebelah kaki. Berat. Tak kuasa memejamkan mata. Tak kuasa mendiamkan pikiran. Semua guratan – guratan tentang masalalu dan tentang hari ini seperti film di bioskop, ditayangkan satu persatu tanpa henti hingga fajar tak bisa menunggu aku memejamkan mata barang sedetik pun. Entah mengapa perasaan itu datang lagi. Perasaan ingin mati tetapi takut mati.
Aku menggigil di sudut ranjang, menggeliat di dalam selimut panas. Mataku mungkin terlihat berbeda. Aku merasakan pupil mataku melebar. Seakan – akan, sedang menunggu malaikat pencabutnya nyawa datang padaku. Aku gemetar tak habis – habis. Hingga kupendam kepalaku dalam – dalam ke balik selimut panas. Ayah, ibu, aku akan mati.Tapi aku belum mau mati malam ini. Dosaku masih segunung, dan aku belum memberikan apa – apa kepada kalian. Pikiranku mulai bertambah kacau. Dan sunyi semakin menggembor – gemborkan ketakutanku. Ketakutanku akan kematian.
Sampai pagi, aku tak menemukan hujan turun di luar sana.

[...]

Oktober 23, 2008

aku akan memilih patah hati ketimbang mati dalam kesepian.

membutakan kepekaan hatiku yang tak punya cinta.

yang tak bisa membiaskan suatu objek untuk meredam angkara rasa.

aku akan memilih tak punya kasih daripada tak punya dunia yang kuinginkan.

karena dengan dunia itu aku punya sejuta kasih untuk berbagi.

kesialan bagiku ditinggal teman daripada ditinggal tambatan hati.

sebuah modal kehidupan tak seharusnya hilang sia – sia.

tapi pada dasarnya cinta memang bisa membutakan segalanya.

dan aku mati disitu.

mati sambil merajut neraka.

sebuah titik mati.

Oktober 21, 2008

imaji merata,

.

.

.

mendata,

.

.

.

memaku,

.

.

.

memungut,

.

.

.

mengaruk,

.

.

.

meludahi,

.

.

.

menginjaki,

.

.

.

mati.

malam ini kukecup mimpi
mimpi bertemu terang tak bertepi
aku keliru menyangka surga ternyata neraka
dan memudarlah warna – warna
dan menarilah lika – liku waktu
yang berdansa dengan air mata
yang bersenandung dengan jeritan
tak disangka malam akan melenyap
diusik bintang fajar nan kelabu hari ini
kemilau apakah yang turun dan jatuh ?
menghujam dan meribut di antara sunyi, sepi dan lengang
menghentikan dansa ku dengan airmata ku
mengalahkan senandung ku dengan jeritan ku
dan…
dan aku lari menampar setiap butir kemilau yang jatuh
meneriakkan luka pada darei – derai tuli
lalu aku peluk desir – desir yang mengalir
hujan itu tajam
hujan itu dingin.