sudah lama aku menyadari,
mereka ada di dunia yang lain.
dunia yang sama sekali tidak bisa menarik minatku untuk menjamahnya. karena kupikir, aku tak butuh dunia itu. dunia mereka.
setiap kata yang mereka jabarkan, setiap suara yang mereka hasilkan, setiap gerak – gerik yang mereka lakukan, setiap itulah semuanya berjalan begitu lamban di otak ku. saat mereka tertawa, pekikkan mereka terdengar sayup2 di telingaku, pelan dan pelan dan menggaung perlahan – lahan. setiap mereka menari, tarian mereka bergerak lamban di mataku, pelan – pelan dan perlahan – lahan.
kurasa ada yang salah denganku. aku bermasalah ? apa aku salah ? salah apa aku ? apa salahku ? salahku apa ?
pertanyaan itu selalu aku lontarkan, selalu setiap saat setiap aku menulisi jawaban – jawaban pada kertas soal ujian UTS ku. pertanyaan itu selalu aku tulisi di awan – awan saat aku melihat langit, saat aku berjalan dengan mereka, saat aku berjalan sendiri. pertanyaan itu selalu terpancang kuat di ubun – ubunku. pertanyaan itu membuatku selalu merasa bersalah. entah salah apa. tapi aku ini memang hina.
saat malam tiba, saat aku hendak menutupi mataku dengan pertanyaan2 itu dunia mendadak bising.
saat itu aku mendengar suara hentakan musik disco yang mengguncang separuh dari malam. suara dari langit.
saat itu aku mendengar suara pekikkan tawa yang menggeser malam ke ujung ketidakwarasan. suara dari langit.
saat itu aku mendengar hempasan keping – keping domino yang dimainkan malaikat2. suara dari langit.
dan dunia penuh bising tapi aku penuh diam.
bila ditanganku ada senjata api, maka kutembaki dunia – dunia bising itu. kutembaki satu persatu biar mereka bisa diam. biar mereka tau aku marah.
ah, jengah.
nanti malam, akan kutampar penghuni dunia2 bising itu satu persatu biar mereka tau aku juga punya dunia sendiri.











