hai matahari !
November 29, 2008
matahari kini menjadi raja
setelah ia mengusir bulan
embun mengiringi kepergian purnama
dan lengang masih melekat di semua celah dunia
apa matahari mampu menampar sang mendung jauh – jauh ke ujung bumi sana hari ini ?
apa si raja ini bisa membuat dirinya tak sepanas neraka hari ini ?
perlukah aku melenggang – lenggok berpayung hitam di atas jalanan berkabut debu
lalu setelah itu menari di atas genangan air ?
aduh, mengapa aku masih bingung !
otak manusia
November 26, 2008
Apa isi otak manusia ?
Isi otak manusia apa ?
Otak manusia isinya apa ?
Tau ? Apa isi otak manusia ?
Apa sih isi otak manusia ?
Isi otak manusia…
Apa ?
Apa ?
Apa ?
Hayo !
Apa ?!
dia di matahatiku
November 25, 2008
Dia pergi lalu menghilang
Dia datang lalu bersemayam.
Entah akan menjejakkan kakinya disela hari – hari.
Entah akan mengisi sebuah ruang kosong yang hampa rasa.
Entah akan menjadi bunga karena masih kuncup.
Dia diam – diam menata istana kecil untukku.
Dia perlahan – lahan menyirami bunga yang masih kuncup itu.
Ada kah aku berdiri dan menjabat tangannya ?
Atau kah aku berdiri lalu berlari darinya ?
Sepatah kata, dua patah kata tiada pernah terucap.
Lirik mata, jeda di pikiran tak pernah terlintas.
Mungkin dia cuma datang lalu bersemayam setelah itu pergi
lalu menghilang…
apah ? jadi sekarang tuh hari minggu ?
November 23, 2008
aku bangun pukul enam pagi. langsung ambil handphone buat sms teman dan nanyain jam berapa ntar siang kuliah.
“Wen, ntar jam brp kliah h. agraria ?”
pesan terkirim…
aku beranjak dari tempat tidur, meninggalkan handphone dan berjalan menuju kamar mandi, ambil whudu.
treng… treng… *bunyi petikan gitar, pesan baru.
selesai ambil whudu, aku langsung meraih handphone.
“Wot ??! hoy jee !!! sdr2x !!! skrng tuh hri minggu jenk !!! MINGGU ! pas mang jdwlnya g kliah lo mlh krjinan, DSR !”
okeh, sekarang aku coba buat nenangin diri. hari minggu ? ah, masa ? tapi kok di luar sepi banget kayak hari senin ? aku juga dengar suara sepatu hak tingginya emak klengkong2 berisik kayak mau pergi ngajar. ah, ngaco nih si wening. pasti dia ngerjain !
“Ngaco ah ! hri snin !!! jls2 hri snin ! udh dri smlm j ancang2 rncna buat hri snin. hri snin hey !”
pesan terkirim…
hmm, aku yang pikun atau wening yang ngaco ? bingung. perasaan hari ini hari senin. sumpah ! bukannya kemaren udah libur ?? apa gara2 disuruh istirahat karena amandelan biadab ini ? atau karena emang istirahatku berlebihan kali ya sampai lupa hari ? aduh !
treng… treng… treng…
pesan baru.
“ya udh klo g prcya lo kliah aja ndri. bwa ktab2 undng2 psal2 yang tbel. trs klo lo udh tba di sna g ada org, jgn slhkan gw!”
ah ngaco !! masa sekarang bukan hari senin ? ah, g mungkin.
errrrrrrrrrrrggggggggrrrrr AKU NEH KENAPA ??!!!
pas udah sholat subuh, terus keluar kamar. ternyata anggota keluarga lengkap semua. mereka lagi pada malas2an. emak lagi sama bapak duduk2 g jelas ngapain. adek2 yang perempuan lagi pada mendekam di kamarnya nonton sinetron. adek yang cowok lagi main bola ama sepupu di dalam kamarnya. pantasan sepi rasanya.
dan ini memang hari minggu. minggu yang amat sangat cerah. anginnya sepoy – sepoy aduhai. minggu yang tenang. biar panas tapi santai. ini hari minggu bukan hari senin. waktunya nyuci baju sendiri yang udah numpuk satu minggu, dasar pemalas ! ya, hehehe ternyata hari ini memang hari minggu.
haduh haduh… ada apa dengan saiah ??? sebegitu cintanya ama hari senin.
ya ya ya
November 22, 2008
mengabut but but but
merusak sak sak sak
aduh duh duh duh
rupa rupanya nya nya nya
bukan emas mas mas mas
kudapati ti ti ti
tetapi pi pi pi
bara api pi pi pi
panas nas nas nas
menggelegar gar gar gar
pedih dih dih dih
kini ni ni ni
mengabur lah lah lah
potret tret tret tret
surga ga ga ga
ah !
berharap hujan
November 19, 2008
gerimis sore,
aku gusar
memudar di antara putar – putar roda kehidupan
perlahan – lahan meringkuk dengan picingan mata kuat
gerimis sore,
mengapa kau tak mengundang hujan ?
mengapa kau yang bermain – main di tengah jalanan sepi ?
mengapa aku mempertanyakan mu ?
mempertanyakan hujan.
aku gusar
memudar di antara hingar bingar kehidupan
perlahan – lahan merangkak ke ujung jendela lalu mengharapkan purnama
gerimis sore,
mengapa hujan tak membuntutimu ?
mengapa kau yang mememuluk bumiku sore ini ?
mengapa aku mempertanyakan mu ?
mempertanyakan hujan.
aku gusar
memudar di antara irama – irama gamelan kehidupan
perlahan – lahan menari mengitari ruang – ruang hatiku, seperti kesurupan.
gerimis sore,
.
gerimis sore,
.
gerimis sore,
gerimis sore, aku memudar.
badut
November 11, 2008
tak ada air mata dalam parodi sirkus.
*jangan menangis di tengah kebahagiaan orang2 yang menyakiti kita walau itu terasa miris. harus hadapi dengan senyuman dan tetap tegar ! biar mereka tau siapa kita !
ayo semangat !!!
GEMPA LAGI !
November 10, 2008
beberapa detik lalu Padang kembali diguncang GEMPA.
kenapa selalu ada gempa di kota ini ?
apakah dosa yang tersembunyi di balik sorak – sorai asmaul husna penyebab KAU sentil tanah di ujung kotaku ya ALLAH ?
aku dan ibuku
November 10, 2008
Namaku Wulandary. Ayah suka memanggilku dengan sebutan Wulan. Sedangkan ibuku lebih suka memanggilku Ulan. Tapi aku lebih menyukai semua orang memanggilku Wulandary. Umurku 17 tahun. Bulan depan aku genap 18 tahun.
Ibuku bilang, ia akan memberiku anting – anting emas yang cantik beserta gelang – gelang permata. Aku sangat menunggu hari itu tiba. Kalau ayahku, katanya dia akan menghadiahkanku sebuah tas merek ternama dan beberapa potong pakaian cantik yang mahal untukku. aku sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.
Setiap ibuku pulang dari pekerjaannya seharian, dia duduk di bibir tempat tidur dan memukul – mukul bahunya, pegal. aku selalu datang dan memijitnya sampai dia merasa baikan. aku sayang ibuku.
Dan kalau ayahku pulang dari pekerjaannya, dia langsung duduk di kursi ruang tamu sambil mengibas – ngibaskan lehernya dengan segulung kertas koran. Aku tau apa yang ia mau, langsung saja setiap kali dia pulang aku membuatkan secangkir kopi manis untuknya. Aku sangat menyayangi ayahku.
Sekarang adalah hari ulang tahunku. Di depanku tersaji kue tart besar dengan taburan cokelat, keju dan cerry serta stoberi. Di atasnya bertengger dua buah lilin. Satu lilin angka satu dan yang satu laginya lilin angka delapan. Ada api kecil yang sengaja menyala di setiap dua ujung sumbunya.
Ibu bilang “ayo tiup !!! tiup sambil berdoa !”. Lalu aku pun melirik ibuku yang berdiri di sebelah kiriku. Ayah bilang “ayo cepat tiup lilinmu nak ! tiup sambil berdoa !”. Lalu aku juga melirik ayah yang berdiri di sebelah kananku. Aku tersenyum sambil memejamkan mata dan berdoa.
“Ya Tuhan, angkat lah kami dari hidup yang serba berkekurangan. Kuatkan ayahku agar dia selalu sabar dan tabah menghadapi cobaan. Tegarkan ibuku agar dia bisa menerima semuanya dengan lapang dada. berilah ketabahan dan kesabaran pada keluargaku. Ya, Tuhan… semoga besok kami bisa makan lagi. Amien !”
“Ulan !!! Jangan main – main dengan api nak !” kata ibu menghampiriku.
“Aku ulang tahun bu !” ucapku separuh berteriak.
“Ulang tahun ? Ulang tahun kamu masih dua bulan lagi nak !” kata ibu sambil mengambil lilin – lilin putih batanganku.
“Ah, ibu ! Apa salahnya aku meniup lilin ulang tahunku ?” tanyaku lalu beranjak dari meja lusuh beralas goni busuk.
“Lilin ulang tahun apa ? Ini kan lilin buat penerangan mati lampu nanti. Ayahmu kan belum juga bisa menebus bayaran listrik rumah kita. Jadi kita harus hemat !” kata ibu sambil menepuk – nepuk pantatku yang penuh dengan jerami – jerami juga debu goni yang melengket pada celana rombengku.
“Jadi kapan ayah menebus uang bayar listrik bu ?” tanyaku sambil mengambil sebuah kotak dan menghitung beberapa lembar uang di dalamnya.
“Nggak tau, kalau nanti ayahmu pulang dan dapat ikan banyak, mungkin besok dia bisa bayar listrik. Berapa semua uang yang kamu hitung ?” kata ibu lalu bertanya padaku.
“Tiga puluh ribu, bu.”
“Lumayan buat makan malam nanti,” kata ibu sambil mengemas – ngemas barang – barangnya.
“Apa ikan kita tidak laku bu ?” tanyaku tidak terima dengan uang yang didapat hari ini.
“Ya, itu lah yang kamu dapat nak. Kita syukuri saja,” jawab ibu lalu bergegas mengangkat ember yang masih berisi ikan laut.
“Tiga puluh ribu ?” tanyaku tidak percaya.
“Memangnya sejak kapan kamu dapat uang lebih dari itu nak ?” ibu tertawa.
“Tapi bu…”
“Sudah lah, kamu jangan bikin ibu mati gara – gara tertawa. Kamu itu lucu nak. Sekarang tolong ibu angkat ember merah itu. Ikannya juga masih banyak,” kata ibu lalu berjalan pergi mendahuluiku.
“Kita apakan ikan – ikan yang tersisa ini bu ?” tanyaku sambil mengangkat seember ikan laut.
“Kamu kok kayak lupa ingatan gitu sih nak, kita jual ke restoran – restoran dengan harga murah. Kalau dibawa pulang akan busuk. Kita kan tidak punya lemari es,” jawab ibu sembari terus berjalan menyusup di sela – sela ramai pasar.
“Jadi kita harus mengunjungi satu persatu restoran bu ?” tanyaku sambil terengah – engah mengangkat seember ikan laut yang lumayan berat.
“Lalu mau kamu bagaimana nak ?” tanya ibu.
“Mauku kita hidup tenang bu. Tanpa pekerjaan busuk ini,” jawabku tertunduk.
“…” ibu tak merespon kata – kataku.
Aku pun ikut terdiam di sela – sela keributan pasar. Terdiam berdua bersama ibuku yang terus berjalan menyusup masuk ke dalam kerumunan manusia – manusia. Kadang – kadang aku melihat punggung ibu dan kadang – kadang aku kehilangan punggung ibu. Lalu setelah itu aku kembali melihat punggung ibu dan kembali kehilangan punggung ibu. Begitu seterusnya sampai pada sebuah ruang luas yang dipenuhi mobil – mobil mewah terbaru pada jaman kini.
Aku dan ibu berdiri di depan sebuah restoran mewah yang dibangun di samping pasar. Ibu memamerkan bawaannya kepada koki – koki restoran tersebut. Ada beberapa ikan laut yang masih segar dan udang – udang yang masih merah. Aku terdiam, menyaksikan si koki berkerut dahi melihat dan meneliti ikan – ikan juga udang – udang punya ibu.
Lalu si koki melirik isi ember yang sedang kupegang. Ada beberapa Kakap merah dan beberapa Cumi – cumi. Aku juga masih terdiam menunggu si koki berpikir dengan kerutan di keningnya dan jemarinya yang terpekur menyentuh bibir.
“Gimana mas ?” tanya ibuku yang sudah tak sabar lagi.
“Ah, kayaknya untuk hari ini sudah cukup. Jadi saya tidak membeli ikan mbok hari ini. Maaf,” jawab si koki dengan sopan dan hati – hati.
“Oh, ya nggak apa – apa. Kalau gitu kami pamit dulu ya,” kata ibuku lalu mengemas – ngemas lagi barang dagangannya.
“Baik lah. Lain kali mungkin saya akan membelinya,” seru si koki lalu kembali masuk ke dalam dapurnya.
“Nggak dibeli nak. Hehehe.”
“Loh, kok ibu ketawa ?” tanyaku heran.
“Lah, buat apa kita susah ? Mending kita ketawa. Ya toh ?” jawab ibu sambil menenteng lagi dua ember berisi ikan – ikannya.
“Iya ya. hehehe.”
“Hadiah ulang tahun kamu mau apa nak ? Biar ibu belikan !” kata ibu sembari menarik kuat ember di tangan kirinya yang merosot dari pegangannya.
“Mau apa ?” tanya ibu sekali lagi.
“Aku…”
“Ah, aku cuma mau ibu masakin bubur ikan buatku. Bubur ikan ibu paling enak sedunia,” kataku lalu sedikit berlari menghampiri ibu.
“Kenapa nggak bubur ayam aja ? Kamu kan suka !”
“Aku kurang suka bubur ayam bu. Enakan bubur ikan buatan ibu,” jawabku sambil dalam hati berkata “Aku suka sekali bubur ayam bu. Tapi aku tau ibu tak punya uang untuk membeli seekor ayam, bahkan beberapa potongnya”.
“Ya sudah. Nanti ibu buat kan bubur ikan spesial untuk kamu. Nggak pengen yang lain ?” tanya ibu.
“Pengen sekolah bu, hehehe” jawabku sumringah.
“Halah, kamu mengada – ngada aja. Dari awal udah nggak pernah sekolah sekarang malah pengen sekolah. Jangan bikin ibumu ini pusing ndok !” kata ibu sambil tersenyum dan terus berjalan lebih cepat dariku.
“Hehehe, cuma lelucon kok bu,” kataku cengengesan.
“Ayo pulang ! Ibu mau masak dulu buat bapakmu kalau pulang dari melaut nanti,” ucap ibu.
“Iya, tunggu aku bu !” seruku lalu berlari mengiringi jalannya yang secepat Cheetah.
Semangat ibu memang berlebihan dan itu yang membuat aku tidak berlarut – larut dalam mimpi. Mimpi untuk hidup enak dan serba berkecukupan.
Ayah, ibu besok aku akan jadi apa ?
sebuah rasa tak tercerna tapi ada
November 9, 2008
teori ? ah, musnah musnah musnah !
logika ? hmm, hilang kontrol
baik lah, semua yang ku raba, ku dengar, dan ku lihat
semua guratan – guratan, tangga nada dan warna – warna
semua, memudarlah !
segera !
sekarang juga !
enyah lah !










