album kamar gelap, efek rumah kaca
Januari 15, 2009

| Category: | Music |
| Genre: | Indie Music |
| Artist: | Efek Rumah Kaca |
Cholil Mahmud (gitar,vocal),Adrian Yunan Faisal (bass,suara latar) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum,suara latar) hadir lagi. Kali ini, album kedua mereka, Kamar Gelap, dirilis oleh Aksara Record. ERK tetap dengan posisinya sebagai pemotret realitas yang merekam kegelisahan mereka. Tapi kali ini lebih terasa keras, cadas. Mereka menyatakan manifesto bertajuk Mosi Tidak Percaya yang mengkritik banyak hal: mulai dari kekerasan hingga pemerintahan. Dan untuk menyempurnakannya, ERK mengajak bersama Angki Purbandono (seorang seniman berbasis fotografi dari Ruang MES 56, Yogyakarta) untuk membuat foto-foto hasil tafsiran lagu-lagunya. Sempurnalah karya musik diracik fotografi memperkuat posisi oposisioanal mereka.
Konsistensi sikap mereka paling tidak terbaca dari tiga revolusi yang mereka gaungkan sejak album pertama tahun lalu. Pertama adalah revolusi tema yang tetap setia pada kritik sosial bahkan politik. Misalnya Jangan Bakar Buku, yang dibantu oleh Ade Firza Paloh (Sore, vocal) dan Iman Fattah (Zeke And The Popo, gitar). “Awalnya, kami tak mau dengan judul itu, karena terlalu keras,” ungkap Cholil, vokalis dan gitarisnya. “Tapi saat mendengar lagi ada kasus yang sama, kami yang orang perumahan geram dan sekalian saja dibuat judul yang keras,” imbuhnya.
Topik lainnya adalah lingkungan khususnya banjir (Hujan Jangan Marah), pemerataan ekonomi dan urbanisasi (Banyak Asap Disana), fenomena video seks pribadi (Kenakalan Remaja di Era Informatika), pencucian otak era Orde Baru (Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa) dan puncaknya adalah Mosi Tidak Percaya yang menyentil pemerintah, MPR, dan partai-partai politik. Bahkan, lagu yang bagi banyak orang dianggap romantis pun bisa ditafsirkan politis. Tengok saja Lagu Kesepian.
Ku tak melihat kau membawa tenang yang kau janjikan
Kau bawa debu bertebar di beranda
Berair mata
Dengan begitu, ERK adalah penyambung tradisi musisi Rock Indonesia yang mengangkat isu sosial dan politik–Harry Roesli, Iwan Fals, God Bless, hingga Slank–yang hingga kini makin langka. Bahkan, ia bisa dibilang salah satu pewaris dari seniman, mengutip Rendra saat diskusi film Kantata Takwa, gerakan budaya perlawanan.
Kedua, revolusi lirik. Membaca syair-syair mereka seperti membaca puisi model Sapardi Djoko Damono atau Emha Ainun Nadjib. Lagi-lagi hal ini sudah jarang ada pada band-band masa kini yang lebih memilih ringan . simak Kamar Gelap yang juga menjadi judul album ini
Yang kau jerat adalah riwayat
Tidak punah menjadi sejarah
Yang bicara adalah cahaya
Dikonstruksi dikomposisi
Atau Laki-Laki Pemalu:
Senja akan segera berlalu
Seorang lelaki melintas menyimpan malu
Menyusul langkah sang gadis yang mungil
Tapak kakinya yang lelah menyisakan perih
Lirik yang puitis ini meracik tema yang keras dan kadang frontal. Hasilnya adalah lagu-lagu yang punya kekuatan untuk menggerakkan dan mencerahkan. Ali Syariati pernah menyatakan bahwa kitab suci menjadi abadi karena metafora dan kalimat-kalimatnya yang puitis. Tentu saja kitab suci tak bisa dibandingkan dengan ERK, namun upaya serupa agaknya dilakukan juga oleh mereka.
Hasilnya, misalnya, Menjadi Indonesia (judulnya terinspirasi oleh buku karya Parakitri T. Simbolon) sebuah lagu tentang nasionalisme yang tidak terjebak cengeng, klise, atau sok patriotis, dan dalam helaian nafas yang sama juga mengkritik negeri ini. Senada dengan Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi dari Iwan Fals, namun lebih mengiris hati.
ada yang runtuh, tamah ramahmu
beda teraniaya
ada yang tumbuh, iri dengimu
cinta pergi ke mana?
Dalam Balerina, mereka berhasil menangkap irama kehidupan dalam gerakan tari balet. Semangat pencapaian lirik ini tak aneh, mengingat ERK mengaku juga terpengaruh oleh Iwan Fals, Eros Djarot, dan Guruh Sukarno Putra.
Ketiga, revolusi musikalitas. Ini adalah upaya kongkret menjawab kritikannya sendiri terhadap industri musik yang semakin parah. Hasilnya adalah eksplorasi musik dari pop-progresif (Lagu Kesepian) hingga Waltz (Laki-Laki Pemalu). Banyak yang menyebutkan bahwa warna musik Efek Rumah Kaca tergolong dalam post-rock, bahkan shoegaze Tetapi, ERK dengan mantap menyebutkan bahwa warna musik mereka adalah pop, dan tidak begitu peduli dengan label. Karena bagi mereka, yang terpenting adalah tersampaikannya pesan-pesan, yang diistilahkan Cholil dengan doktrinasi. Mereka sangat sadar bahwa mereka sedang berjuang menyebarkan hasil jepretan mereka dalam memandang realitas ke dalam ruang yang lebih luas. Dan mereka dengan senang hati akan menyambut kelompok yang satu gelombang dengan mereka. Karena itu, mereka didapuk Kontras menjadi salah satu ikon Human Loves Human.
Selamat berjuang ERK!
Janjimu, pelan-pelan akan menelanmu
Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
Ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya
sumber: http://www.indonesiantunes.com/reviews/detail/2009/01/05/kamar-gelap.html
![]()










Januari 19, 2009 at 4:24 am
well, tandatangan itu minta sama om Yurie, manajer nya mereka, pesan langsung sama dia, atau bisa hubungin ACho, tu juga gara-gara di Pontianak albumnya telat nyampai
sebenarnya sih ttd itu bukanlah suatu hal yg terlalu penting, bagi saya kalau mengagumi sesuatu itu mending hanya karyanya saja, jangan dibawa sampai ke personalnya (walaupun kayaknya sulit untuk melakukan hal tersebut)
mantap nih tulisannya, saya jadi malu dengan review saya, gagagak
Januari 19, 2009 at 1:43 pm
@jaka septiadi : hueheuehu iya memang, aku juga suka ama erk kan gara2 lagunya bukan gara2 kegentengan atau apalah dari orang2nya. lagian informasi ttg mereka tuh irit banget disini. malah g ada. dulu juga nyaris g tau tampang orang2nya hehe. tapi seenggaknya punya sesuatu yang dibanggain kan keren wakakakaka.
iya reviewnya aku dapat di blog multiply erk. review kamu juga bagus hehe
salam kenal ^^
Januari 24, 2009 at 6:01 am
lho, kok jakar septiadi, kenapa tidak sekalian zakar septiadi, hahaha..
salam kenal juga, jee.
udah pernah liat ERK konser secara langsung blum? saya belum! dan sebenarnya sangat ingin sekali!!
sebenarnya kekaguman saya pada mereka juga tidak lepas dari rekomendasi teman-teman, trus ditambah kenyataan mtv indonesia udah menjadi smakin ngampung (dulu saya suka dengar lagu barat, tapi karna udah jarang dgar lagu barat lagi) jadi tidak suka lagu apapun sama sekali, pas dengar lagu Cinta Melulu, wah Indondesia sekali lagu ini. trus dengar lagi Di Udara, gila, mereka ini band yg peduli dan ngerti masalah bangsa.
Sejak itulah sampai sekarang saya menjadi pengagum karya-karya mulia mereka
*kok malah kayak curhat y?! gagagagk
Februari 16, 2009 at 4:07 am
trims ya sudah upload review saya.
salam.
ekkyij.multiply.com
http://www.rumahfilm.org
Februari 16, 2009 at 2:36 pm
@Ekky : wahhh ini Ekky Imanjaya ? yang buat review di atas ? waw. kok bisa sampai nyasar kemari ? hehehe. makasih ya udah nyungsep kemari. review yang anda buat sangat bagus ^^.
Maret 24, 2009 at 6:10 pm
haLo,akhir’a saya terdampar juga di bLog kk,,
Hua,,bahagia’a mendapatkan teman sesama ERK Eleniak :]
Tulisan kk bagus2 dan membiarkan senyuman ini berkembang setiap kali membaca’a..
Setelah menjeLajahi saya kagum juga liat hasil jepretan kk ttg panorama matahari tenggelam di ujung Padang. keren.
Hajimemashite..
saia simak ERK,
devi anna