inge, kapan kita menjadi fakta ?
Maret 27, 2009
inge, betapa letih aku terdampar dalam pusaran yang ribut. segalanya bergerak. segalanya bersuara. lantang dan keras. keras menyeruak. keras deras. tanpa kau, inge.
inge, ingat tidak waktu kita berjalan berdua menuju suatu tempat yang bahkan kita tak pernah tau apa itu. kau tau, aku tak pernah memikirkan tujuan jika aku sedang berjalan denganmu. yang kupikirkan adalah dirimu. keberadaanmu. yang kupikirkan adalah hatimu. perasaanmu. aku takut saat kita sedang berjalan berdua, kau sedang dilanda kesedihan mendalam. aku takut saat kita berjalan berdua, kau sedang tak memikirkan aku. tak memikirkan kita. aku takut kau takut padaku.
inge, kuharap jalan yang kita tempuh adalah jalan yang panjang. hingga kita sama – sama letih. bila kau sudah tak bisa berjalan lagi, akan kugendong dirimu. kita harus sama – sama sampai di tujuan itu. kita harus sampai. kita.
inge, saat kita sudah sampai di tujuan, kuharap kau masih mengingatku. aku pun tak akan pernah melupakanmu. senyummu selalu kupetik untuk kusimpan. air matamu selalu kutampung untuk kusimpan. marahmu selalu kuraih untuk kusimpan. dan bayangmu selalu kutangkap untuk kusimpan. kau inge, temanku. sejati. itulah. inge. temanku.
inge, kapan aku menjadi nyata. kapan aku menjadi teman baikmu ? kapan kita menjadi fakta ? kapan kita keluar dari persembunyian maya ? kapan kita lepas dari topeng durja ? kapan kita lari dari realita ? kapan kita terhempas dari sandirwara ? kapan kita hilang dari mustahil ? kapan kita menjadi ada ? kapan kita menjadi ada ? kapan kita menjadi ada ?
kapan kita menjadi fakta ?
kapan ?
inge ?
*inge, sebuah nama dlm khayalan.

memancing senja

di pulau itu...

lembayung senja

matahari terbenam di balik pulau

senja mencakar langit

ibu dan adikku di dermaga kota tua

di dermaga kota tua

bangunan kota tua

humaira

kapal - kapal di dermaga kota tua

kapal merapat

nadya namanya

lampu - lampu jalanan di jembatan sitinurbaya

tiga perempuan

senja mengantar malam
lah, kamu dimana jee ??? kok g ada di foto ? hehehe itulah resiko jadi tukang fotonya. g kebagian narsis. hihihihi
silam
Maret 19, 2009
di sunyi yang menyelimuti malam malam
di derai derai gerimis jatuh ke atas lautan
di sela sela pori kulit kayu lapuk
kucari dirimu pada:
linangan air mata
langkah langkah sendu
sisa sisa asa
kucari lagi dirimu pada :
kobaran api
bekunya hati
daun daun kering
kutemukan dirimu pada :
potret tua
di sana ada aku dan kau berdiri dengan tangan saling memegang pada :
satu tangkai bunga
adalah akhir
Maret 16, 2009
petir melintang di angkasa. teman hujan juga angin ribut bermain sambil rapikan bumi kerontang. masih terpajang sisa rusuh mengakar di bentang tanah retak. kotor berdebu bekas tulang – tulang sejarah. menjadi keras kerak bumi. lapisan berisi mayat – mayat terkapar bersama nisan – nisan tua. meliputi segala penjuru mata angin, dingin menyelinap pori – pori kemudian bersembunyi di balik tulang putih kemerahan. guncang mengguncang mengguncang cita. membolak balik tiada menjadi ada. pekik hening, merintih sesal, tenggelam dosa.
denyut dan detak menjadi doa. ketika langit mulai runtuh.
Lara
Maret 13, 2009
ada endapan lara di balik telingaku yang menjerit minta tolong tetapi terdengar begitu jauh bersebrangan.
lara itu mencair mengalir jatuh dari leher. kugenggam dia. hilang. lenyap. tapi jeritnya menyatu dengan angin.
tolong katanya.
lapar
Maret 12, 2009
lambungku menganga
bergemuruh hebat
telan angin tenggorokku
kubuka lumbung
kosong tersingkap
malam jadi murung
lapar berdecak
aduh sial !
tiada makan
senandung hujan
Maret 12, 2009
kau panggil aku Nilam.
setiap hari kau tebar kelopak – kelopak mawar. ke atas langit, ke bawah kaki, ke bahuku. lalu kau menari. memanggil hujan.
“Nilam, rentangkan tanganmu. lihat ke langit. pejamkan matamu,” katamu.
kemudian kita menari dengan mata terpejam. di tengah padang ilalang. tanpa nyanyian. hanya hatimu yang bergumam sendu. hanya hatiku yang tak mengerti pilu.
lalu setelah letih menari, kita terdiam. kau menatapku. aku menatapmu. tanda tanya mengerubungi kita. menggigit baju lusuhku. mencakar pipimu. meludahi kita.
“apakah kita menanti hujan ?”tanda tanya itu mengalir keluar dari mulutku.
kau diam menggenggam kelopak – kelopak mawar. satu jam lagi. satu jam lagi. satu jam lagi. katamu tak henti – hentinya.
kudengar tanda tanya menertawakan kita. lalu menampar wajahku. menghempaskan tubuhmu mencium tanah kerontang. kita tak berdaya lagi. hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap diharap. tiada daya.
kau jatuh tersungkur. ada sungai mengalir dari dua bola matamu bola mataku. tanda tanya melenggang pergi. mencampakkan kalimat yang tak pernah di akhiri titik atau koma.
hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap diharap. tiada daya.
“Nilam, hatiku kering. kupanggil hujan agar bunga – bunga yang kutanam di dalamnya subur. tapi Nilam, sudah berbulan – bulan hujan tak pernah datang lagi. bunga – bunga yang kutanam layu dan mati. aku rapuh Nilam,” tanda tanya itu mulai terdiam.
hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap diharap. tiada daya. tapi upaya usahakan. kupungut kelopak – kelopak mawar yang kau sebar. kumulai tarian itu lagi. ritual bangkit. gemuruh tertawa geli.
hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap tapi diharap. tiada daya tapi diupaya. gerimis jatuh di bahumu. jatuh di kelopak matamu. kau bangkit dan menari. kita cipta senandung berdua. bianglala menyapa.
hujan yang kau harap sudah tiba. ayo bersuka cita. kita kemasi rintiknya bersama. sebelum ia kembali kelana, kita ikat dia dalam hati. biar terasa teduh nurani.
kau dan aku menari dalam hujan. tanpa nyanyian. hanya senandung di hati kita. menyatu pada bau tanah kering dicumbu hujan. menyeruak tajam dalam otak. mengakhiri tarian dari senandung kita.
disini. kita.
w – u – l – a – n – d – a – r – y
Maret 5, 2009
kau hisap letih yang pecah berderai jatuh hancur di bebatuan. pelan – pelan jamah daun – daun gugur retak menguning, sampah. diam tersenyum pada tanah. akar bisu.
aku menatapmu dari ujung kaki sampai ubun – ubun. meretas kepastian siapa gerangan yang lagi berkhayal menjadi dalang. air mata mata air mencuat di bawah kaki. kau tertawa terpingkal. seolah itu nyanyian dari hujan – hujan turun. batang menangis.
kau menyapaku. mengayunkan sebelah tangan mengajakku mendekat pada tubuh ringkihmu. kemana benak ? kemana hati ? kemana matamu ? daun malu malu.
batu penuhi isi dadamu. senyum seperti sembilu. tak kau hiraukan cahaya bintang menggilas wajahmu. tak pula pernah pandangi kerut di matabacaku. di mana kau ? tok tok tok, ada orang ?. putik tertawa.
kau tulis di atas tanah merah huruf berderet w – u – l – a – n – d – a – r – y. lalu tertawa – menangis – terdiam – tertawa. cintamu kah ? rentang waktu tayangkan jeda dulu. bunga lelah.
aku menatapmu dari ujung kaki sampai ubun – ubun. menerjemahkan bahasa tubuh. menelaah ruang di matamu. maaf, terlambat mengantarkan rasa ini untukmu. wulandary telah mencuri hatimu lalu ia simpan dalam ruang hampa. kini aku dan kamu bumi dan langit. buah cemberut.
rentang waktu menjawab setelah jeda tadi. wulandary tiba di langit ke tujuh. kau gila. aku kembali kelana. tanah lapar.
yang memudar…
Maret 5, 2009
akan kubuat apa hingga dirimu kembali bersinar ?
jangan seperti eskalator yang panjang dan datar. berjalan ditempat. sungguh membosankan !
perlu kucubit pipimu kah ?
atau kuinjak jari di kaki kananmu kah ?
hey, lihat orang – orang ramai menuju timur. ikuti mereka. lihatlah matahari itu terbit dari sana. semoga sinarnya terpercik menyentuh ubun – ubunmu.
*untuk ef essssss hahahaha yang penghuninya pada pindah ke fesbuk. kasian kau nak
02.42
Maret 4, 2009
malam ini Kau bisikkan aku makna – makna sejati.
mataku enggan terpejam. mulutku urung niat menguap.
mungkin aku tak akan terbangun pagi ini. biar ketika subuh kudengar adzan menggema. ke seluruh pelataran jagad raya. keseluruh hati yang terjaga suci.
lalu kunikmati nikmatMu saat matahari berjaya di ufuk timur. pagi ini pun Kau tak pernah lupa padaku. pada kami.









