senandung hujan
Maret 12, 2009
kau panggil aku Nilam.
setiap hari kau tebar kelopak – kelopak mawar. ke atas langit, ke bawah kaki, ke bahuku. lalu kau menari. memanggil hujan.
“Nilam, rentangkan tanganmu. lihat ke langit. pejamkan matamu,” katamu.
kemudian kita menari dengan mata terpejam. di tengah padang ilalang. tanpa nyanyian. hanya hatimu yang bergumam sendu. hanya hatiku yang tak mengerti pilu.
lalu setelah letih menari, kita terdiam. kau menatapku. aku menatapmu. tanda tanya mengerubungi kita. menggigit baju lusuhku. mencakar pipimu. meludahi kita.
“apakah kita menanti hujan ?”tanda tanya itu mengalir keluar dari mulutku.
kau diam menggenggam kelopak – kelopak mawar. satu jam lagi. satu jam lagi. satu jam lagi. katamu tak henti – hentinya.
kudengar tanda tanya menertawakan kita. lalu menampar wajahku. menghempaskan tubuhmu mencium tanah kerontang. kita tak berdaya lagi. hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap diharap. tiada daya.
kau jatuh tersungkur. ada sungai mengalir dari dua bola matamu bola mataku. tanda tanya melenggang pergi. mencampakkan kalimat yang tak pernah di akhiri titik atau koma.
hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap diharap. tiada daya.
“Nilam, hatiku kering. kupanggil hujan agar bunga – bunga yang kutanam di dalamnya subur. tapi Nilam, sudah berbulan – bulan hujan tak pernah datang lagi. bunga – bunga yang kutanam layu dan mati. aku rapuh Nilam,” tanda tanya itu mulai terdiam.
hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap diharap. tiada daya. tapi upaya usahakan. kupungut kelopak – kelopak mawar yang kau sebar. kumulai tarian itu lagi. ritual bangkit. gemuruh tertawa geli.
hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap tapi diharap. tiada daya tapi diupaya. gerimis jatuh di bahumu. jatuh di kelopak matamu. kau bangkit dan menari. kita cipta senandung berdua. bianglala menyapa.
hujan yang kau harap sudah tiba. ayo bersuka cita. kita kemasi rintiknya bersama. sebelum ia kembali kelana, kita ikat dia dalam hati. biar terasa teduh nurani.
kau dan aku menari dalam hujan. tanpa nyanyian. hanya senandung di hati kita. menyatu pada bau tanah kering dicumbu hujan. menyeruak tajam dalam otak. mengakhiri tarian dari senandung kita.
disini. kita.










Maret 12, 2009 at 1:22 pm
Ah Jee, aku terpukau…
Maret 12, 2009 at 2:00 pm
ekstase menyengat
ritual yang pepat
dengan metafor hebat
@hujan tak bernyawa lagi
bagiku ini penemuan metafor Anda yang tak klise
semangat Jee!
salam
Maret 16, 2009 at 2:40 pm
@japs : waduh silauuu
@madagumilang : salam kenal pak. makasih sudah berkunjung kemari. aku suka sekali dengan kalimat : hujan tak bernyawa. tapi tak menyangkang banyak yang respon kyk bapak hehe. sepertinya aku menemukan tempat belajar yg baru. yaitu di blog madagumilang.
Maret 18, 2009 at 5:52 pm
keren bangeeettt…
ya ampun… saya bisa jadi penggemar jee nih…