ketika aku merasa mati*
April 28, 2009
desember, 2008
ketika aku merasa mati. aku memandangi jejak – jejak letih yang merata di jalan – jalan ramai. lalu sambil berjalan pelan aku melihat ke atas langit. awan mengepul begitu indahnya. putih dan bersih. biru langit seakan memintaku untuk memeluk angkasa. dan aku kembali tertunduk merasa mati. karena aku tau tak mungkin aku bisa memeluk angkasa. jam tanganku terus berdetak, tik tik tik hanya akan berhenti ketika mati. ketika aku merasa mati.
lamunanku setiap saat sudah seperti angin yang selalu mengisi setiap ruang yang berpeluang memberi ruang pada angin atau udara. kepada lelana dan terlena aku mengupas kuat2 kulit pada masalah – masalah yang menjadi duri dalam daging pada ujung jari kaki – kakiku. aku sudah cukup berkecimpung dalam lahat pekat yang menoreh ketidakseimbangan hidup dan menjadikanku pribadi yang rusak. lalu berteman dengan para penghuni neraka. sudah cukup lelah dan ya sudah cukup untuk semua itu. lalu kukatakan terima kasih. tapi apa yang inginku capai adalah sebuah ketetapan yang tidak mudah. memang akan menjejaki jalan yang satu dan sama, tapi jalan itu penuh dengan paku – paku payung dan kaca beling yang bertebaran disana – sini serta bisikan – bisikan dimana – mana.
ada yang bilang pikiranku adalah pikiran yang kolot untuk remaja seusiaku. ya sembilan belas tahun. waktu yang pas buat hura2 dan bersenang2. tapi mungkin saja aku kolot atau apalah. yang jelas. hidup itu simpel jika kita tetap berjalan pada jalan dan porosnya. tak perlu melenceng atau mencoba untuk tersesat. karena sekecil apapun ketersesatan yang di sengaja atau tanpa disengaja akan memiliki efek sebesar – besarnya dalam pembentukan kepribadian manusia. dan itu terjadi tanpa pernah kita sadari.
ketika aku merasa mati. aku memandangi jejak – jejak lelah yang merata di jalan – jalan ramai. ada beribu kaki bergerak ke segala penjuru arah. mengikuti perintah dari otak dan hatinya. atau beberapa dari jejak – jejak itu lagi bingung tak tau arah dan tujuan hendak kemana. sama seperti aku. yang masih mencari tujuan dalam perjalanan ini. karena hidup bukan untuk menunggu mati. lalu mau apa dan akan kemana ?
*dicomot dari blog fs yang selalu aktif dan diposting disini gara2 ada seorang sahabat yang meminjam judulnya buat shout out fsnya hehehe
hai jee, apa kabar ?
April 22, 2009
aku ingin menulis apa yang sedang aku pikirkan. tapi tulisan itu tertahan di ruang hampa. mengendap menjadi air mata yang menggumpal dalam dada. (?).
hai jee, apa kabar ?
konyol
April 19, 2009
hidup semakin konyol. atau kekonyolan menyelimuti hidup. atau hidup itu memang dari dulu sudah konyol. atau hidup itu adalah kekonyolan. atau hidup sama dengan kekonyolan. atau kekonyolan adalah hidup. atau kita semua sebenarnya adalah pelawak yang diciptakan untuk menghibur Tuhan.
sabtu, 18 april 09.
- bapakku lucu sekali-
balada ujian semester
April 16, 2009

mencontek adalah kebiasaan anak - anak
aku sibuk melamun
sambil mengunyah pasrah untuk kutelan
sedang yang lain memikirkan keberuntungan
mencari jawaban di antara celah ketiak teman
-catatan di balik kertas soal ujian H. Penitensir-
sumber gambar : google.com
ini mosi tidak percaya – efek rumah kaca
April 9, 2009
ini masalah kuasa, alibimu berharga
kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?
kamu tak berubah, selalu mencari celah
lalu smakin parah, tak ada jalan tengah
jelas kalau kami marah, sebab dipercaya susah
pantas kalau kami resah, sebab argumenmu payah
kamu ciderai janji, luka belum terobati
kami tak mau dibeli, kami tak bisa dibeli
janjimu pelan pelan akan menelanmu
ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya
cerpen : MENJADI GILA
April 7, 2009
Oh, ternyata malam kembali lagi. Aku harus menyiapkan api unggun dan beberapa makanan kecil untuk kita cicipi bersama. Sinar rembulan yang berpendar terang kita biarkan saja berusaha menembus pori kulit. Malam ini kita berpesta. Pesta sampai pagi.
Kusiapkan berbotol – botol tequila untuk kita teguk bersama dan tak lupa kupersembahkan lagu – lagu terbaik biar kita bisa menyanyi bersama dan menari bersama.
Ya, kunanti kalian pukul sepuluh malam ini. Datanglah dengan memakai pakaian terbaik kalian. Persembahkanlah senyuman termanis kalian untukku. Kutunggu disini. Di bui. Penjara. Atau tepatnya kamar isolasi. Heh… hehehheehehe.
Apa kau kaget ? Sebenarnya tak ada perayaan yang ingin aku rayakan. Yang jelas saja, aku kan sedang diisolasi. Dijauhi. Diasingkan. Coba tebak kalau aku mengadakan perayaan siapa yang mau datang ? Mbahmu saja ogah datang. Tak ada yang mau datang ke perayaan yang diadakan oleh orang gila seperti aku. Si gila dari kamar isolasi. Gilaku gila berbahaya. Kau mendekat akan kugigit.
Grrrrrr….
*
Apakah kau pernah memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang yang gila ? Apa yang kau pikirkan ketika kau melihat di pinggir jalan ada orang gila sedang berbicara pada tong sampah ? Apakah yang kau pikirkan pada saat kau melihat orang gila menari telanjang di dalam keramaian ? Apakah yang kau pikirkan pada saat kau melihat orang gila jatuh dari atap sebuah gedung ? Ya, apakah yang kau pikirkan saat melihat itu semua. Saat kau melihat orang – orang yang gila ?
Tunggu, jangan tanya apa yang kupikirkan saat aku melihat orang – orang yang gila. Kau tak lupa kan, kalau aku juga salah satu dari mereka. Orang – orang yang gila. Aku tak mau menyebutkan aku gila apa. Kenapa dan bagaimana. Hahahahahaahahahah. Kau tak boleh lupa aku ini gila !!! Wek !
Lalu apakah yang kau pikirkan saat kau melihat orang gila sedang beraksi dengan kegilaannya ? Coba kutebak ! Hehehehehehe. Kau pasti tertawa melihat tingkah mereka ? Iya kan ? Kau suka sekali menertawakan pakaian mereka. Kau suka sekali menunjuk – nunjuk mereka dan mengatakan kepada orang – orang yang belum melihat mereka bahwa ada orang gila di…. disanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Cukup !
Nah, jadi benarkan kau suka menertawakan orang gila yang sedang beraksi. Kau suka sekali sembunyi – sembunyi mengamati mereka. Kadang kau mendekat sekedar ingin tau, mereka gila apa.
Hmm, atau kau takut dengan orang gila ? Ya, pasti kau juga takut orang gila. Saat kau tiba – tiba akan berpapasan dengan mereka di trotoar sepi, kau akan memilih untuk menyembrang jalan dan menjauhi mereka. Menjauh sejauh – jauhnya. Lalu ketika kau sudah berada di suatu tempat yang kau pikir aman, kau melihat kembali ke arah trotoar yang dijejaki orang gila itu. Kau perhatikan dia beraksi. Tangannya menghitung sesuatu di udara. Gerakannya cepat. Mulutnya kocar – kacir mengeja apa yang ia tuliskan di udara. Kau pun berpikir, apakah yang ia tulis ? Kau tak akan menemukan jawabannya jika kau tak bertanya kepadanya. Kau berani bertanya padanya ?
Kurasa kau tak akan pernah berani untuk bertanya kepadanya tentang apa yang ia tulis. Bahkan untuk sekadar menyapanya saja kau ketakutan. Sudah. Aku tak akan menyuruhmu mencari orang gila dan bertanya apa yang sedang mereka pikirkan. Yang kutahu sekarang aku yang sedang bertanya, apakah yang kau pikirkan saat kau melihat orang gila beraksi ?
Fuihhh…. aku capek selalu bertanya – tanya. Jangan – jangan ini yang membuatku gila. Aku gila karena selalu bertanya – tanya. Dan pertanyaan itu tak pernah ada yang menjawabnya. Ah, yang benar saja aku gila karena kebanyakan bertanya. Ah, gila ! Eh ? Memang aku gila kaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii !!! Huahahhahahaaha… ops, maaf saudara – saudara.
Eh, eh, eh…. aku lupa hehehhehee… namaku. Ah, maksudku aku lupa menyebutkan namaku. Begitu loh. Hehehe. Namaku…. namaku…. ya namaku adalah namaku. Eh, bukan bukan ! Namaku bukan namaku. Hahaha. Namaku ya… namaku. Loh ? Arrrrrggghhhh !!! Namaku namaku namaku. Fuihhh… tunggu, namaku…. namaku…. namaku adalah… Ah ! Namaku namaku ! Loh ?!! Kok namaku namaku ? Begini, sebenarnya namaku adalah…. namaku. Hehehe iya namaku adalah namaku. Wek.
Namaku, Utami. Ya, Utami. Apa namamu juga Utami ? Oh, tidak ? Ya sudah tidak apa – apa, jangan kecewa. Hehehe. Tunggu, aku tak bermaksud menyudahi begitu saja pertanyaanku untukmu. Apakah yang kau pikirkan saat kau melihat orang gila sedang beraksi ? Aku tak akan melupakan pertanyaan wajib itu. Pertanyaan yang paling aku bisa buat. Pertanyaan yang selalu kutanyakan pada orang – orang yang mengaku tidak gila. Pada orang – orang yang mengaku waras.
Hmm, tadi aku berbicara pada dinding. Dia bilang dia bosan dengan pertanyaan – pertanyaanku. Maka ia menyuruhku mengganti topik. Kau tau, sekarang aku sedang memikirkan apa yang akan aku pikirkan. Hmm, ya…. aku sedang memikirkan apa yang sedang aku pikirkan. Loh ? Sejak kapan aku bisa mikir ? Wakakakakakakak. Sejak kapan ? Hahahaaha hebat !!! Hebat !!! Teman – teman, aku sudah bisa mikir. Ini berita terdahsyat. Harus aku beritahu orang sejurusan. Hehehehe aku harus beritahu orang yang sama – sama gila. Yang sama – sama lupa mikir. Yang tak pernah jenuh berkencan dengan kegilaannya. Aku harus beritahu mereka kalau aku sudah bisa mikir. Aku sudah bisa memikirkan apa yang akan aku pikirkan.
Haduh… dokter !!! Lepasin dong straight jacketku. Sesak tau ! Udah nggak bisa bergerak, cuma bisa guling – guling doang eh… pintunya pake ditutup segala. Dikasih gembok lima biji lagi. Hahahahaha mereka takut aku ngamuk hehehehhee asyik…. hehehhehehe…. wek ! Wek ! Wek !
Eh, si dokter benar – benar datang !!! Dia bawa dua orang suruhannya. Satu orang suruhannya membawa suntikan. Aha, aku tidak suka disuntik. Aku tidak mau disuntuk. Aku tak pernah tau apa yang terjadi setelah aku disuntik. Aku tak pernah tau itu.
”Diam ya….” ujar si dokter pelan – pelan melepaskan pakaian aneh ini.
Ah… leganya, tanganku bisa kembali kurentangkan. Aku bisa melompat – lompat bebas. Aku bisa kejar – kejaran bebas dengan mereka hehehehehe. Kejar daku kau kugigit ! Aku ingin mengejar suruhan si dokter yang membawa suntikan. Kukejar lalu kugigit sampai suntikannya lepas.
Aku ditangkap si dokter. Dihempaskannya badanku ke lantai. Suruhannya yang tidak memegang suntikan mengunci tubuhku hingga tak bisa bergerak. Pelan – pelan wajah – wajah mereka menjadi mengerikan di mataku. Aku berteriak sekuat – kuatnya ”Ouuuuuuuuuuuaaaaaaaaa….” si dokter membekap mulutku dengan tangan kirinya. Dengan cepat suruhannya yang membawa suntikan menancapkan benda itu ke lengan kiriku. Ahhh……..
Senyawa – senyawa yang berhamburan masuk ke dalam pembuluh darahku mengoyak – ngoyak saraf – sarafku. Halusinasi – halusinasi itu semakin ramai memadati otakku.
Kulihat aku menjadi presiden. Kulihat aku menjadi artis. Kulihat aku menjadi guru. Kulihat aku menjadi mahasiswa. Kulihat aku menjadi kerbau. Kulihat aku menjadi orang kaya. Kulihat aku menjadi ulama. Kulihat aku menjadi pegawai. Kulihat aku menjadi preman. Kulihat aku menjadi bayi. Kulihat aku menjadi…
Aku.
*
Oh, ternyata malam kembali lagi. Aku harus menyiapkan api unggun dan beberapa makanan kecil untuk kita cicipi bersama. Sinar rembulan yang berpendar terang kita biarkan saja berusaha menembus pori kulit. Malam ini kita berpesta. Pesta sampai pagi.
Kujamu kalian dengan kambing guling. Dan kopi luwak sudah kusiapkan dari kemaren untuk kalian. Datang lah dengan memakai pakaian terbaik kalian. Dan persembahkanlah senyuman termanis kalian untukku. Selamat datang.
Eh, tunggu. Siapa yang mengadakan pesta ? Siapa yang mengadakan perayaan ? Apa aku ? Ah, ngaco ! Aku kan orang yang gila. Hidup dalam bui. Penjara. Kamar isolasi. Tanganku tak pernah bisa menggaruk kepalaku yang gatal karena baju pengaman ini cukup kuat untuk menempelkan tubuhku di dalamnya. Sesak.
Hmm, apakah kau pernah melihat orang yang gila ? Apa yang kau pikirkan saat kau melihat orang yang gila ? Apakah kau tertawa ? Apakah kau ketakutan ? Dulu sebelum aku menjadi gila, aku pernah bertemu dengan orang yang gila. Dia memanjati tiang listrik. Padahal dia tidak akan pernah bisa sampai menuju puncaknya karena tiang listrik itu sangat licin, seperti panjat pinang saja. ”Dasar orang gila !” cetusku waktu itu. Lalu dia melihatku, menatapku panjang tanpa jeda. Aku tersentak kaget. Sepertinya orang yang gila itu marah padaku. Apa dia mengerti kata – kataku tadi ? Apa dia tau arti kata gila ? Atau….
Ah, setelah ia menatapku tanpa jeda dia tertawa terpingkal – pingkal sambil menujuk ke arahku. Menertawakan aku. Dia menertawakan aku sejadi – jadinya. Sampai ia rela melepas tiang listrik kesayangannya. Dan berguling – guling di jalanan dengan suara tawa yang berderai terlalu deras dan kuat. Ah, aku jadi malu. Orang yang gila itu menertawakanku. Aku yang dulu masih belum disebut orang yang gila.
Apa dia tau aku juga akan menjadi gila ? Makanya ia menertawakanku sejadi – jadinya. Sampai ia lupa bernafas dan nyaris mati ketawa. Ah, gila ! Memang dia orang yang gila. Heheheeheehehe.
Beberapa tahun setelah kejadian itu, aku masuk tempat ini. Bergabung dengan orang – orang yang gila. Tertawa dengan mereka. Melompat – lompat dengan mereka. Dan aku menemukan orang yang gila dulu. Yang suka memanjat tiang listrik. Aku berpapasan dengannya waktu aku baru masuk tempat ini. Dia memakai baju yang rapi. Wajahnya bersih tak seperti yang dulu pernah kutemui. Dia memakai sepatu baru, tak seperti dulu, dia tak memakai apa pun di kakinya. Rambutnya hitam mengkilap tak seperti dulu, yang gimbal dan penuh sampah serta kutu. Ah, dia sangat berbeda dari yang kulihat dulu.
”Dasar orang gila !” cetusnya padaku sewaktu kami berpapasan.
Aku melengong ke kanan, ke arah suaranya berasal. Dia hanya berjalan santai setelah mencetuskan kata – kata itu padaku. Kata – kata yang pernah aku lontarkan padanya. Oh, ya Tuhan apa ini karma ?
Kulihat dia bersalaman dengan dokter – dokter di gerbang tempat ini. Mereka saling berpelukan. Lalu orang yang gila itu melambaikan tangan kepada dokter – dokter itu dan pergi melewati pintu gerbang tempat ini.
Jangan – jangan dia sudah bukan menjadi orang yang gila lagi. Jangan – jangan dia sudah menjadi orang yang waras. Aduh, petaka. Ini karma ! Karma !
Eh, aku lupa namaku. Bukan, maksudku aku lupa memberitahu siapa namaku. Namaku adalah namaku. Aduh, bukan. Namaku bukan namaku. Tapi namaku namaku. Weleh, ah aku ingat ! Nama Sri Rejeki. Haaahaha iya iya. Loh ? Perasaan namaku Wahyu. Hmm, bukannya Beni ? Tadi ada yang manggil aku Gila. Berarti namaku Gila. Ah, itu bukan namaku. Aduh…. boleh kupinjam saja namamu ? Ah, kau pasti marah. Hmm, kalau begitu anggap saja namaku, Ridho. Hah, nama yang bagus. Hahahaha. Jadi namaku Bagus. Loh ? Kok jadi Bagus ? Ah, tak apa lah. Sekali – sekali namaku Bagus. Hehehehee ini baru Bagus. Tunggu bukannya namaku Utami ? Ah, sekali – sekali menjadi Bagus kan nggak apa – apa. Iya, bagus.
Oya, mengapa aku menjadi gila ? Aku tidak tau mengapa. Mungkin sudah takdir ? Tentu saja takdir. Memangnya ada yang lain selain kata takdir ? Hehehehehehe. Pokoknya waktu itu aku sering sekali menyebut, lama – lama aku bisa jadi gila. Mungkin karena keseringan menyebutkannya ya, jadilah gila. Hahahahaha begitu saja.
Kau pasti tau, kata bisa menjadi doa. Mungkin Tuhan mengira karena aku sering sekali menyebutkan kata – kata itu maka ia kabulkan. Tuhan mengira itu adalah doa. Mungkin terjadi salah paham antara aku dan Tuhan. Inginku menjelaskan maksud dari kata – kata yang aku ucapkan terus menerus itu kepada Tuhan, tapi telat. Aku sudah menjadi gila. Dalam duniaku tak ada apa – apa. Tak ada siapa – siapa. Tak ada yang menciptakan apa – apa. Karena Tuhan dalam duniaku adalah aku. Aku yang menguasai segala – galanya.
Tok… tok… tok…. kau pasti tau itu bunyi ketukan pintu. Dalam hitungan detik pintu yang diberi lima gembok itu terbuka. Kulihat ada seorang dokter dengan membawa dua orang suruhannya. Satu orang suruhannya membawa suntikan. Aku benci dengan suntikan. Karena setelah disuntik aku tak pernah tau apa yang akan terjadi denganku. Aku merasa disimpan. Disimpan dan tak hidup lagi.
Si dokter membuka straight jacketku. Aku langsung berlari sekencang – kencangnya. Aku berlari sambil berusaha menggigit suruhan si dokter yang membawa suntikan itu. Biar dia tidak bisa menyuntikku. Tapi sial, aku tertangkap. Si dokter membekap mulutku sampai jeritanku hanya menggetarkan dinding – dinding tubuhku. Suruhannya yang satu lagi mengunci tubuhku sampai aku tak bisa bergerak. Dan suruhannya yang membawa suntikan, sudah menancapkan benda itu ke lengan kiriku.
Senyawa – senyawa itu berebut masuk ke dalam pembuluh darahku. Menari – nari di dalam saraf – sarafku. Sampai aku melihat wajah si dokter dan dua orang suruhannya menjadi serigala yang sama – sama tersenyum.
Kulihat aku menjadi sopir. Kulihat aku menjadi penyanyi. Kulihat aku menjadi tukang togel. Kulihat aku menjadi anggota dewan perwakilan rakyat. Kulihat aku menjadi penyair. Kulihat aku menjadi koki. Kulihat aku menjadi pengemis. Kulihat aku menjadi pengunjung mall. Kulihat aku menjadi…
Aku.
*
Oh, ternyata malam kembali lagi. Aku harus menyiapkan api unggun dan beberapa makanan kecil untuk kita cicipi bersama. Sinar rembulan yang berpendar terang kita biarkan saja berusaha menembus pori kulit. Malam ini kita berpesta. Pesta sampai pagi.
Aku ingin menyajikan ayam bakar untuk kalian. Minumannya silahkan kalian pilih. Aku punya segala macam minuman. Datanglah dengan pakaian terbaik kalian. Dan persembahkanlah senyuman termanis kalian untukku. Mari kita berpesta. Berpesta sampai pagi. Berpesta sampai mati.
Tapi siapa yang mau datang ke pesta yang aku adakan ? Aku ini orang yang gila. Tinggal di bui. Penjara. Kamar isolasi. Aku suka memakai baju pengaman. Yang tangannya harus memeluk diriku sendiri tak bisa menggapai – gapai. Hanya diam terkunci pengikat tali.
Tapi apakah kau tau ? Orang gila itu dijanjikan masuk surga. Asyik kan ? Bisa langsung masuk surga. Hehehehehe. Siapa yang mau masuk surga tanpa usaha, maka jadilah gila. Mau ? Mau ? Mau ?
Hey, apakah yang kau pikirkan saat kau melihat orang yang gila ? Kagumkah pada kegilaan mereka ? Atau kau akan menjauh dan iba pada mereka ?
Tau tidak ? Dari hasil percakapanku dengan orang – orang yang gila aku menyimpulkan. Sesungguhnya mereka hanya pura – pura gila untuk menjadi gila. Mereka bilang mereka ingin langsung masuk surga tanpa usaha. Jadi mereka mencoba menjadi gila. Ya, mereka orang – orang yang waras yang berpura – pura menjadi gila.
Aduh, bagaimana denganku ? Apa aku orang yang juga berpura – pura gila ? Entahlah. Yang kutau setiap hari aku seperti lahir kembali. Lalu mati lagi. Lahir lagi. Lalu mati lagi. Lahir lagi. Lalu mati lagi. Lahir laaagi. Cukup. Fuihhh…
Wek ! Aku ini orang yang benar – benar gila. Gila asli bukan buatan. Asli loh. Hehehehehe.
Eh, stttttt….. aku mendengar ada yang berjalan mendekati kamarku. Tiga orang. Ah, itu mereka. Keluar dari balik pintu yang diberi gembok lima buah. Aku melihat satu orang dokter dan dua orang suruhannya. Satu orang suruhannya membawa suntikan. Aku benci suntikan. Aku tak suka disuntik. Karena aku tak pernah tau setelah disuntik apa yang terjadi denganku. Aku tak pernah tau episode selanjutnya. Tapi aku tau, setiap hari aku lahir, mati lagi. Lahir, mati lagi. Lahir, mati lagi. Dan seterusnya, lanjutkan saja. Hahahahaha.
Tapi kali ini aku ingin mati saja. Sudah kubilang, di duniaku akulah Tuhan. Kalau aku mau mati, maka matilah aku. Kalau aku mau hidup, maka lahirlah aku. Jadi sekarang aku ingin mati.
Arrrrgggggg….. suntikkan itu menancap di lengan kiriku. Senyawa – senyawanya menyeruak membaur dengan darah dalam pembuluh darahku. Menggoncang saraf – sarafku. Kali ini aku pasti mati.
Kulihat dokter dan dua pesuruhnya menjadi babi. Diawali dari perubahan pada hidung mereka. Lalu sampai ke ekor. Hahahahahaaha menjijikkan.
Hey, kenapa aku belum mati juga ? Ah, jangan – jangan bukan aku yang menjadi Tuhan di dalam duniaku. Aduh, celaka. Hahahahahahaha.
Waw… aku mulai melihat sesuatu. Aku melihat aku menjadi ratu sejagad. Aku melihat aku menjadi petinju. Aku melihat aku menjadi nenek – nenek. Aku melihat aku menjadi banci. Aku melihat aku menjadi badut. Aku melihat aku menjadi motivator. Aku melihat aku menjadi tukang becak. Aku melihat aku menjadi dosen. Aku melihat aku menjadi barista. Aku melihat aku menjadi penulis. Aku melihat aku menjadi peramal. Aku melihat aku menjadi guru ngaji. Aku melihat aku menjadi pemulung. Aku melihat aku menjadi kelinci. Aku melihat, ah cukup !!! Aku melihat aku menjadi, kubilang cukup !!! Aku melihat aku menjadi… CUKUP KATAKU !!! Tapi aku melihat aku menjadi aku ! Hahahahahahaha.
Aku melihat aku menjadi aku. Aku melihat aku menjadi gila. GILA. Dasar gila !
Memang, hehehehe !
*
Oh, ternyata malam kembali lagi. Aku harus menyiapkan api unggun dan beberapa makanan kecil untuk kita cicipi bersama. Sinar rembulan yang berpendar terang kita biarkan saja berusaha menembus pori kulit. Malam ini kita berpesta. Pesta sampai pagi.
Aku ingin menyiapkan berbagai makanan untuk kalian. Minumannya silahkan kalian pilih. Aku punya segala macam minuman. Datanglah dengan pakaian terbaik kalian. Dan persembahkanlah senyuman termanis kalian untukku. Mari kita berpesta. Berpesta sampai pagi. Berpesta sampai mati.
Siapa yang ingin masuk surga tanpa usaha ? Kalau begitu jadilah gila.
Mari kita berpesta. Berpesta sampai pagi. Berpesta sampai mati.
Wek !
*
cerita orang yang tidak bisa melihat
April 1, 2009
Hitam. Satu kata yang selalu setia menerawang di dalam mataku. Aku buta wahai teman. Aku tak mampu melihat satu titik warna selain hitam. Yang kubaca dan yang kutonton adalah hitam. Senyum dan air matamu terpancar selalu hitam. Saat kau berteriak padaku; ada pelangi di langit, aku menengadah ke atas dan kulihat hitam. Pun saat aku harus membuat KTP dan melengkapi syaratnya dengan satu pas foto berisi sebagian tubuhku, aku pegang pas foto itu lalu kutatap, hitam.
Tapi tidak pada hatiku. Aku bisa melihat dengan jelas temaram lampu taman di malam hari. Senyummu yang merekah dan tangismu yang membisu. Aku bisa melihat dengan jelas, pelangi yang kau tunjuk dan aku juga bisa melihat dengan jelas aku dalam diriku.
Jemarimu mengetuk benda yang terbuat dari kayu dan kurasa benda itu adalah meja. Kau menciptakan bunyi yang berulang – ulang dan membosankan. Apa kau sedang menunggu ?
“Sedang apa ?” tanyaku padamu.
“…….” Untuk beberapa saat kau tidak mau menjawab pertanyaanku.
“Sedang menunggu ? menunggu apa ?” tanyaku.
“Iya, aku menunggu acara selanjutnya di televisi,” jawabmu.
“Oya ? memangnya kau sedang menonton apa saat ini ?” tanyaku lagi.
“Tidak jelas, mungkin sebuah acara komedi. Tapi menurutku mereka tidak lucu,” jawabmu kemudian.
“Tidak lucu ? mengapa ?” sial mulut ceriwisku selalu mendesak untuk menciptakan pertanyaan – pertanyaan baru.
“Iya tidak lucu, mungkin karena mereka bukan badut. Hahaha…” kau menjawab pertanyaanku dengan dibumbui tawamu yang renyah.
“Kau lucu !” cetusku spontan.
“Yang benar ? kalau begitu mungkin suatu saat aku bisa menggeser kedudukan mereka di acara itu, hahaha…” katamu sambil tertawa lagi.
Ini memang cukup lucu teman dan aku suka sekali mendengar engkau tertawa. Mungkin karena aku tak bisa melihat acara komedi yang kau tonton itu.
Iya, mungkin saja.
*
Kau bilang pagi ini matahari tidak seterik biasanya. Mendung. Aku pun percaya karena aku merasakan hawa yang dingin merinding. Kau buatkan aku secangkir kopi. Panas.
“Hati – hati, jangan diminum sekaligus. Bisa – bisa tenggorokanmu terbakar,” katamu berulang – ulang.
“Iya, tapi sampai kapan aku menunggu cangkir kopi ini dingin ?” tanyaku tak sabaran.
“Sampai asapnya tidak lagi mengepul,” jawabmu singkat.
“Asap ? kau pikir aku bisa melihatnya ?” tanyaku sedikit emosi.
“Tidak, aku tidak bilang kau yang melihatnya,” jawabmu sabar.
“Lalu ?” tanyaku sekali lagi.
“Aku yang akan melihatnya. Aku akan memperhatikan cangkirmu sampai asapnya sudah tidak melayang ke atas lagi,” jelasmu.
“Benarkah ? terimakasih !” ucapku bahagia.
“Ya, aku selalu ingin melindungimu. Jadi tenang saja !” kata – katamu pun membuatku tenang.
Kau pasti tau, mataku tidak bisa melihat dirimu. Tapi apa kau tau, aku mencitrakan dirimu di pikiranku. Imajiku. Kau adalah sosok yang sempurna. Memiliki senyum setulus malaikat. Memiliki mata sebening embun. Jemarimu lentik dan berkuku lancip, aku tau saat setiap kali mendengar kau mengetuk meja itu berulang – ulang kali. Kau adalah wujud manusia yang dermawan. Aku menyukai setiap tutur katamu. Menenangkan.
Tapi aku juga tau kau menyimpan rahasia. Rahasia yang kau tutup – tutupi dariku. Entah apa dan bagaimana. Aku yakin suatu saat aku akan tau apa itu. Semoga kau bahagia dengan rahasiamu.
“Asapnya sudah hilang, kau boleh meminumnya sekarang juga !” katamu meyakinkanku.
“Baiklah, terimakasih !”
*
Kau bilang malam ini bulan bulat penuh. Terang benderang. Aku pun menengadahkan kepalaku ke langit. Aku melihat bulan itu. Melihatnya di dalam hatiku. Bulat penuh. Terang benderang. Oh, purnama.
Malam ini, aku dan kau duduk di teras rumah. Kau menceritakan sebuah cerita yang sangat menarik. Aku tak hentinya tersenyum mendengarkannya. Suaramu terdengar nyaring dan bersemangat. Apakah kau sedang bahagia ? Tentunya aku tak akan bertanya langsung seperti itu padamu. Karena aku tak mau pertanyaanku membuat pikiranmu berubah. Berubah menjadi muram.
Aku tau, diam – diam kau menata hatimu sedemikian rupa agar kau terlihat bahagia. Tapi jika itu kau lakukan untukku, percuma. Aku memang buta tetapi hatiku tidak. Tak perlu kujabarkan bagaimana aku bisa melihatnya. Kau dan aku berbeda. Jika kau ingin tau, kau harus mencoba menjadi aku. Manusia yang tidak bisa melihat.
Malam ini kau tutup ceritamu dengan tawamu. Aku tau kau sengaja tertawa untuk mengajakku tertawa juga. Benar kan ? Tapi aku merasa tidak adil. Karena kau tukang kibul !
*
Aku sedang melahap sepotong cokelat saat kau datang dari pintu dan menutupnya dengan kasar. Aku mendengar kau duduk dengan cepat di depanku sambil merapikan gerak nafasmu yang kacau. Mungkin juga kau sedang berselimut peluh. Apa kau sedang panik ? mengapa ?
“Dikejar apa ?” tanyaku tanpa basa basi.
“…” kau diam tak menjawab.
“Kau ketakutan ? Di kejar siapa ?” tanyaku lagi.
“Aku tidak dikejar,” jawabmu singkat.
“Lalu mengapa ?” tanyaku lagi.
“Kau tidak akan tau !” cetusmu tegas.
“Aku tau !” kataku tak mau kalah.
“Tau apa ? Kau tak pernah tau apa – apa. Lebih baik kau diam dan nikmati saja cokelat di tanganmu itu !” perintahmu marah.
“Apa kau marah padaku ?” tanyaku sekali lagi.
“Aku mohon jangan pernah bertanya lagi padaku. Aku lelah !” jelasmu memelas.
“Mengapa baru sekarang kau menyerah ? Setelah sekian lama, kau dari mana saja hey !” ungkapku jengah.
“Tau apa kau !”
“Aku tau segalanya. Kau tak perlu lagi menutup – nutupinya dariku. Aku memang buta tapi aku bisa melihatmu. Kau cukup menderita !” teriakku.
“Melihatku ? Melihatku dari mana ? Hahahaha…” kau pun tertawa seperti kesetanan.
“Melihat…” terimakasih, kau sudah menyadarkanku bahwa aku seorang yang tidak bisa melihat.
Untuk beberapa saat kau dan aku sama – sama terdiam. Cokelat di tanganku tak sanggup kumakan sehingga kubiarkan meleleh ditanganku. Kau, aku tidak tau sedang apa kau sekarang. Kau masih duduk membungkam di hadapanku. Apa kau lelah ?
“Hidupku… sudah hancur sejak… aku mengenal… orang itu…”ungkapmu sambil separuh berbisik. Juga meringis.
“…” aku diam menunggu kata – kata selanjutnya darimu.
“Dia… mengajakku ke tempat – tempat yang belum pernah aku jelajahi. Dia… memberitahuku bagaimana cara bertahan hidup. Mengajariku menikmati hidup. Dia selalu menghiburku bila sedang gundah dan kalut,” kau pun berhenti pada bait ini.
Aku masih diam menunggu kata – kata selanjutnya keluar dari mulutmu.
“Tapi dia… kini menjauh pada saat aku kesakitan karena… aku sangat membutuhkan… dia … untuk…. menambal rasa sakitku,” kau pun menghela nafas.
“Jadi, kau menjadi ketergantungan dengan dia ? Apa yang terjadi padanya ?” tanyaku penasaran.
“Entah lah, aku tidak mau tau lagi dengan apa yang terjadi padanya. Semuanya terlihat kacau di otakku. Pengap !” jawabmu sambil menghela nafas lagi kemudian menghembuskannya lagi.
Aku terdiam. Kau pun bangkit dari tempat dudukmu. Aku merasakan hembusan angin yang menuai bau keringatmu di hadapanku. Kau bergerak menuju kamarmu. Lalu menuntup pintunya dengan sangat pelan seolah semua tenagamu habis terkuras.
Kau lelah ?
*
Hari ini kau bangun pagi – pagi sekali. Kau menarik tanganku dan mengajakku berkeliling kota dengan motor bututmu. Aku tau motormu sudah tidak layak pakai setiap kali besi tua itu meraung – raung saat kau menghidupkannya serta pada saat ia berlari bersama kau dan aku, mengelilingi kota. Entah tempat apa. Bagiku semua sama saja. Sama – sama hitam.
Hanya kepada hembusan angin yang menderu dan mendesah setiap kali mengibas – ngibas helai rambutku. Hanya kepada mereka aku dapat merasakan ke mana arah perjalananmu. Kau akan membawaku ke tempat yang akan menampung beban dan lelahmu. Ke tempat di mana kau akan berhenti di sana selamanya.
Perlahan – lahan bunyi mesin motormu terdengar pelan. Motor itu pun berhenti.
“Sudah sampai,” cetusmu sambil turun dari motor.
“Sampai di mana ?” tanyaku.
“Turun lah, apa kau tidak bisa turun sendiri dari sana ?” kau menyentuh lenganku membantuku turun dari motor bututmu.
“Aku siap !” teriakku saat kau berhasil menurunkanku dari besi tua itu.
“Aku akan pergi menemui Tuhan. Kau tunggulah disini. Kutitipkan sepucuk surat ini untuk kau baca nanti. Ingat, aku tidak ingin kau meminta seseorang untuk membantumu membacanya. Jangan tanya bagaimana caranya kau membacanya. Setelah hari ini kau pasti segera bisa membacanya,” kau berkata sambil memegang pundakku dan pada kalimat akhirnya, kau tepuk pundakku itu berkali – kali.
“Kau hendak kemana ? Mau meninggalkanku di sini ? Tempat apa ini ?” tanyaku bertubi – tubi.
“Aku tau, bertanya adalah hobimu. Aku tak bisa menjelaskan banyak hal tentang ini kepadamu. Kau tak akan mengerti. Mungkin setelah kau membaca suratku nanti kau baru akan mengerti. Aku hanya ingin pindah tempat. Dan mencoba hidup di dunia yang kau selami selama hidupmu. Hitam.”
Tanganmu beranjak menjauh dari pundakku. Aku mendengar gerak langkahmu yang menginjak daun – daun kering mulai menjauh selangkah demi selangkah. Kini aku menggenggam suratmu dengan penuh rasa takut. Kau mau kemana ? Mengapa ?
Aku semakin bingung saat yang kudengar bukan lagi langkah – langkah kakimu tetapi langkah – langkah kaki orang lain. Berjalan bersamaan menuju berbagai arah. Bunyi klason mobil, roda – roda yang berputar cepat. Denting bel dan detak pada tugu jam. Aku pun mendengar sayap – sayap burung berpacu dari permukaan tanah menuju langit. Aku mendengar gelak tawa anak – anak dan obrolan sekumpulan perempuan. Aku mendengar percakapan seorang pria yang berbicara sendiri sambil berjalan. Aku mendengar letusan balon dan tangisan bayi. Aku mendengar orang – orang di sekitarku berteriak, “lihat ke atas gedung itu !!!”. Kemudian aku mendengar bunyi “BUM !!!” dengan sangat kuat jatuh di hadapanku.
Aku mencium bau amis sesudah bunyi itu jatuh menghantam tanah di hadapanku. Aku mencoba meraba tanah tempat bunyi itu jatuh. Basah tergenang air. Entah air apa. Bau air itu amis seperti darah. Ya, bau darah segar.
Gempar. Aku mendengar orang – orang berteriak histeris di sekitarku. Mereka bergerak kacau dan bahkan hampir menginjak – injak tubuhku. Banyak yang berteriak, “panggil ambulans ! panggil ambulans !”. Sepertinya mereka sedang panik.
Angin pun mengabariku kabar terbaru. Mereka membisikkan padaku pesan terakhir itu. Katanya kau sudah pergi dan menemukan dunia barumu. Kedua kakiku langsung melemah tak kuat menompang tubuhku. Aku terduduk di atas permukaan tanah. Wajahku memandang sumber bunyi di hadapanku. Hitam pekat.
Aku memang tak melihat apa – apa di sana. Tapi hatiku melihat kau sedang terbujur kaku bergelimang darah dengan luka – lukamu yang menganga, yang seolah – olah menyapaku.
Apakah aku harus memompa air di kepalaku agar keluar dari dua bola mataku ? Atau kah aku harus menjerit kencang memanggil namamu ? Yang benar saja, kau masih ada bersamaku kan ? Masih ada banyak buku yang belum kau ceritakan padaku isinya. Kau juga harus selalu memperhatikan asap yang mengepul di cangkir kopiku sampai asap itu kandas di langit – langit. Kau juga masih harus melanjutkan menghitung bintang – bintang untukku. Kau… tak mungkin tiada !
Lalu kepada siapa lagi aku harus bertanya ? kepada mayatmu yang tak berpenghuni lagi ? Mengapa kau bunuh diri ?! Apa sabu – sabu, ganja, ekstasi, opium, morfin dan heroin mengajakmu untuk pindah dari dunia ini ? Mengapa ? Mengapa kau harus berteman dengan mereka !!!
Aku minta kau kembali padaku setelah kau berhasil bertemu dengan Tuhan. Katakan padaku, apa yang Tuhan katakan padamu. Kau pasti dia beri hukuman karena sudah nakal ! Rasakan !
Lalu untuk apa kau menyuruhku membaca surat ini ? Kau pasti tau aku buta !
Aku pun termenung di samping jasadmu yang tertidur pulas. *Perihmu yang menganga tak hentinya bertanya . Kau memecatku dari jabatanku sebagai seorang yang suka bertanya. Karena kini aku tak tau lagi kepada siapa aku harus bertanya, kemana kau pergi ?
**Kulihat engkau terkulai, tubuhmu membiru tragis . Aku berharap gerimis segera datang untuk menyapu darahmu. Untuk menyapu deritamu. Tapi gerimis enggan turun menyentuh tubuhmu yang lebam. Kau sudah mati.
*
Pagi ini kau membuktikan padaku bahwa kau berhasil memindahkan duniamu ke duniaku. Dunia kita. Mulai di pagi ini, aku bisa melihat bunga – bunga mekar di taman depan jendela rumah sakit. Di depan kamar rawat inapku. Mulai pagi ini aku melihat diriku di cermin. Berdiri di hadapanku. Terbentuk sempurna. Aku melihat mataku, aku melihat hidungku, aku melihat telingaku dan aku juga melihat mulutku.
Aku menatap jemariku lama – lama. Aku memperhatikan kakiku setiap kali melangkah. Dan aku melihat aku tersenyum di cermin itu.
Inikah rasanya menjadi seperti dirimu ? Aku bahkan bisa melihat binatang kecil berwarna hitam berjalan beriringan di dinding. Inikah dunia yang selama ini kau lihat ? aku tak menyangka bisa seindah ini.
Mulai di pagi ini, untuk pertama kalinya aku belajar membaca huruf yang selama ini kau baca. Aku ingin segera bisa membaca isi suratmu dengan benar. Apa yang kau tulis di sana teman ?
Hari ini telah terlewatkan dengan nikmat. Aku bisa melihat dunia yang selama ini aku impikan. Aku tidak buta lagi teman !
Tapi pada saat aku sudah bisa membaca isi suratmu, kau mengajakku meneteskan air mata sambil tersenyum berhari – hari bahkan mungkin untuk seumur hidupku.
Kau menceritakan setiap langkah yang kau tata bersamaku. Kau juga menceritakan bagaimana dirimu di luar tanpa aku. Dan pada bait isi suratmu yang terakhir kau pun bercerita ; “kini aku lelah dan jengah. Aku sudah tidak bisa lagi menikmati dunia ini karena dunia ini sudah tidak menginginkanku lagi. Aku salah arah. Terpasung dengan segala neraka. Yang memintaku untuk pergi ke tempat mereka di sana. Kau memang tau segalanya. Tentang aku di balik senyumku. Maaf sudah menipumu. Aku memang tukang kibul. Tapi alasan dari semuanya, aku hanya ingin engkau bahagia saja. Namun ternyata kau tak bisa dikibuli. Ini lucu.
Sekarang aku sedang merasakan bagaimana rasanya melihat hitam. Hitam di segala penjuru arah. Apa aku berhasil memindahkan duniaku ke duniamu ? Tolong kabari aku tentang keadaanmu disana lewat doa. Semoga malaikat tidak enggan menyampaikan doa – doamu kepada Tuhan.
Jangan berhenti bertanya teman. Jika kau berhenti bertanya, kau bisa saja akan menjadi seperti aku. Bagaimana rasanya bisa melihat dunia yang kulihat ?”
Kau hadiahkan aku sepasang bola mata yang sudah lama kau miliki. Sepasang bola mata yang melihat hura – hara dunia. Sepasang bola mata yang melihat kandasnya kedamaian. Sepasang bola mata yang melihat dosa.
Apakah permintaan terakhirmu adalah menginginkan mantan matamu ini melihat segala hal yang jauh dari dosa ? Kalau itu permintaanmu, aku akan berusaha untuk mengabulkannya.
Teman, tunggu aku disana. Jikaku tiba, akan kubawakan segunung pahala untukmu.
Tenanglah !
***
*Perihmu yang menganga, tak hentinya bertanya (lirik tubuhmu membiru, tragis by efek rumah kaca)
**Kulihat engkau terkulai, tubuhmu membiru tragis (lirik tubuhmu membiru, tragis by efek rumah kaca)









