cerpen : MENJADI GILA
April 7, 2009
Oh, ternyata malam kembali lagi. Aku harus menyiapkan api unggun dan beberapa makanan kecil untuk kita cicipi bersama. Sinar rembulan yang berpendar terang kita biarkan saja berusaha menembus pori kulit. Malam ini kita berpesta. Pesta sampai pagi.
Kusiapkan berbotol – botol tequila untuk kita teguk bersama dan tak lupa kupersembahkan lagu – lagu terbaik biar kita bisa menyanyi bersama dan menari bersama.
Ya, kunanti kalian pukul sepuluh malam ini. Datanglah dengan memakai pakaian terbaik kalian. Persembahkanlah senyuman termanis kalian untukku. Kutunggu disini. Di bui. Penjara. Atau tepatnya kamar isolasi. Heh… hehehheehehe.
Apa kau kaget ? Sebenarnya tak ada perayaan yang ingin aku rayakan. Yang jelas saja, aku kan sedang diisolasi. Dijauhi. Diasingkan. Coba tebak kalau aku mengadakan perayaan siapa yang mau datang ? Mbahmu saja ogah datang. Tak ada yang mau datang ke perayaan yang diadakan oleh orang gila seperti aku. Si gila dari kamar isolasi. Gilaku gila berbahaya. Kau mendekat akan kugigit.
Grrrrrr….
*
Apakah kau pernah memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang yang gila ? Apa yang kau pikirkan ketika kau melihat di pinggir jalan ada orang gila sedang berbicara pada tong sampah ? Apakah yang kau pikirkan pada saat kau melihat orang gila menari telanjang di dalam keramaian ? Apakah yang kau pikirkan pada saat kau melihat orang gila jatuh dari atap sebuah gedung ? Ya, apakah yang kau pikirkan saat melihat itu semua. Saat kau melihat orang – orang yang gila ?
Tunggu, jangan tanya apa yang kupikirkan saat aku melihat orang – orang yang gila. Kau tak lupa kan, kalau aku juga salah satu dari mereka. Orang – orang yang gila. Aku tak mau menyebutkan aku gila apa. Kenapa dan bagaimana. Hahahahahaahahahah. Kau tak boleh lupa aku ini gila !!! Wek !
Lalu apakah yang kau pikirkan saat kau melihat orang gila sedang beraksi dengan kegilaannya ? Coba kutebak ! Hehehehehehe. Kau pasti tertawa melihat tingkah mereka ? Iya kan ? Kau suka sekali menertawakan pakaian mereka. Kau suka sekali menunjuk – nunjuk mereka dan mengatakan kepada orang – orang yang belum melihat mereka bahwa ada orang gila di…. disanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Cukup !
Nah, jadi benarkan kau suka menertawakan orang gila yang sedang beraksi. Kau suka sekali sembunyi – sembunyi mengamati mereka. Kadang kau mendekat sekedar ingin tau, mereka gila apa.
Hmm, atau kau takut dengan orang gila ? Ya, pasti kau juga takut orang gila. Saat kau tiba – tiba akan berpapasan dengan mereka di trotoar sepi, kau akan memilih untuk menyembrang jalan dan menjauhi mereka. Menjauh sejauh – jauhnya. Lalu ketika kau sudah berada di suatu tempat yang kau pikir aman, kau melihat kembali ke arah trotoar yang dijejaki orang gila itu. Kau perhatikan dia beraksi. Tangannya menghitung sesuatu di udara. Gerakannya cepat. Mulutnya kocar – kacir mengeja apa yang ia tuliskan di udara. Kau pun berpikir, apakah yang ia tulis ? Kau tak akan menemukan jawabannya jika kau tak bertanya kepadanya. Kau berani bertanya padanya ?
Kurasa kau tak akan pernah berani untuk bertanya kepadanya tentang apa yang ia tulis. Bahkan untuk sekadar menyapanya saja kau ketakutan. Sudah. Aku tak akan menyuruhmu mencari orang gila dan bertanya apa yang sedang mereka pikirkan. Yang kutahu sekarang aku yang sedang bertanya, apakah yang kau pikirkan saat kau melihat orang gila beraksi ?
Fuihhh…. aku capek selalu bertanya – tanya. Jangan – jangan ini yang membuatku gila. Aku gila karena selalu bertanya – tanya. Dan pertanyaan itu tak pernah ada yang menjawabnya. Ah, yang benar saja aku gila karena kebanyakan bertanya. Ah, gila ! Eh ? Memang aku gila kaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii !!! Huahahhahahaaha… ops, maaf saudara – saudara.
Eh, eh, eh…. aku lupa hehehhehee… namaku. Ah, maksudku aku lupa menyebutkan namaku. Begitu loh. Hehehe. Namaku…. namaku…. ya namaku adalah namaku. Eh, bukan bukan ! Namaku bukan namaku. Hahaha. Namaku ya… namaku. Loh ? Arrrrrggghhhh !!! Namaku namaku namaku. Fuihhh… tunggu, namaku…. namaku…. namaku adalah… Ah ! Namaku namaku ! Loh ?!! Kok namaku namaku ? Begini, sebenarnya namaku adalah…. namaku. Hehehe iya namaku adalah namaku. Wek.
Namaku, Utami. Ya, Utami. Apa namamu juga Utami ? Oh, tidak ? Ya sudah tidak apa – apa, jangan kecewa. Hehehe. Tunggu, aku tak bermaksud menyudahi begitu saja pertanyaanku untukmu. Apakah yang kau pikirkan saat kau melihat orang gila sedang beraksi ? Aku tak akan melupakan pertanyaan wajib itu. Pertanyaan yang paling aku bisa buat. Pertanyaan yang selalu kutanyakan pada orang – orang yang mengaku tidak gila. Pada orang – orang yang mengaku waras.
Hmm, tadi aku berbicara pada dinding. Dia bilang dia bosan dengan pertanyaan – pertanyaanku. Maka ia menyuruhku mengganti topik. Kau tau, sekarang aku sedang memikirkan apa yang akan aku pikirkan. Hmm, ya…. aku sedang memikirkan apa yang sedang aku pikirkan. Loh ? Sejak kapan aku bisa mikir ? Wakakakakakakak. Sejak kapan ? Hahahaaha hebat !!! Hebat !!! Teman – teman, aku sudah bisa mikir. Ini berita terdahsyat. Harus aku beritahu orang sejurusan. Hehehehe aku harus beritahu orang yang sama – sama gila. Yang sama – sama lupa mikir. Yang tak pernah jenuh berkencan dengan kegilaannya. Aku harus beritahu mereka kalau aku sudah bisa mikir. Aku sudah bisa memikirkan apa yang akan aku pikirkan.
Haduh… dokter !!! Lepasin dong straight jacketku. Sesak tau ! Udah nggak bisa bergerak, cuma bisa guling – guling doang eh… pintunya pake ditutup segala. Dikasih gembok lima biji lagi. Hahahahaha mereka takut aku ngamuk hehehehhee asyik…. hehehhehehe…. wek ! Wek ! Wek !
Eh, si dokter benar – benar datang !!! Dia bawa dua orang suruhannya. Satu orang suruhannya membawa suntikan. Aha, aku tidak suka disuntik. Aku tidak mau disuntuk. Aku tak pernah tau apa yang terjadi setelah aku disuntik. Aku tak pernah tau itu.
”Diam ya….” ujar si dokter pelan – pelan melepaskan pakaian aneh ini.
Ah… leganya, tanganku bisa kembali kurentangkan. Aku bisa melompat – lompat bebas. Aku bisa kejar – kejaran bebas dengan mereka hehehehehe. Kejar daku kau kugigit ! Aku ingin mengejar suruhan si dokter yang membawa suntikan. Kukejar lalu kugigit sampai suntikannya lepas.
Aku ditangkap si dokter. Dihempaskannya badanku ke lantai. Suruhannya yang tidak memegang suntikan mengunci tubuhku hingga tak bisa bergerak. Pelan – pelan wajah – wajah mereka menjadi mengerikan di mataku. Aku berteriak sekuat – kuatnya ”Ouuuuuuuuuuuaaaaaaaaa….” si dokter membekap mulutku dengan tangan kirinya. Dengan cepat suruhannya yang membawa suntikan menancapkan benda itu ke lengan kiriku. Ahhh……..
Senyawa – senyawa yang berhamburan masuk ke dalam pembuluh darahku mengoyak – ngoyak saraf – sarafku. Halusinasi – halusinasi itu semakin ramai memadati otakku.
Kulihat aku menjadi presiden. Kulihat aku menjadi artis. Kulihat aku menjadi guru. Kulihat aku menjadi mahasiswa. Kulihat aku menjadi kerbau. Kulihat aku menjadi orang kaya. Kulihat aku menjadi ulama. Kulihat aku menjadi pegawai. Kulihat aku menjadi preman. Kulihat aku menjadi bayi. Kulihat aku menjadi…
Aku.
*
Oh, ternyata malam kembali lagi. Aku harus menyiapkan api unggun dan beberapa makanan kecil untuk kita cicipi bersama. Sinar rembulan yang berpendar terang kita biarkan saja berusaha menembus pori kulit. Malam ini kita berpesta. Pesta sampai pagi.
Kujamu kalian dengan kambing guling. Dan kopi luwak sudah kusiapkan dari kemaren untuk kalian. Datang lah dengan memakai pakaian terbaik kalian. Dan persembahkanlah senyuman termanis kalian untukku. Selamat datang.
Eh, tunggu. Siapa yang mengadakan pesta ? Siapa yang mengadakan perayaan ? Apa aku ? Ah, ngaco ! Aku kan orang yang gila. Hidup dalam bui. Penjara. Kamar isolasi. Tanganku tak pernah bisa menggaruk kepalaku yang gatal karena baju pengaman ini cukup kuat untuk menempelkan tubuhku di dalamnya. Sesak.
Hmm, apakah kau pernah melihat orang yang gila ? Apa yang kau pikirkan saat kau melihat orang yang gila ? Apakah kau tertawa ? Apakah kau ketakutan ? Dulu sebelum aku menjadi gila, aku pernah bertemu dengan orang yang gila. Dia memanjati tiang listrik. Padahal dia tidak akan pernah bisa sampai menuju puncaknya karena tiang listrik itu sangat licin, seperti panjat pinang saja. ”Dasar orang gila !” cetusku waktu itu. Lalu dia melihatku, menatapku panjang tanpa jeda. Aku tersentak kaget. Sepertinya orang yang gila itu marah padaku. Apa dia mengerti kata – kataku tadi ? Apa dia tau arti kata gila ? Atau….
Ah, setelah ia menatapku tanpa jeda dia tertawa terpingkal – pingkal sambil menujuk ke arahku. Menertawakan aku. Dia menertawakan aku sejadi – jadinya. Sampai ia rela melepas tiang listrik kesayangannya. Dan berguling – guling di jalanan dengan suara tawa yang berderai terlalu deras dan kuat. Ah, aku jadi malu. Orang yang gila itu menertawakanku. Aku yang dulu masih belum disebut orang yang gila.
Apa dia tau aku juga akan menjadi gila ? Makanya ia menertawakanku sejadi – jadinya. Sampai ia lupa bernafas dan nyaris mati ketawa. Ah, gila ! Memang dia orang yang gila. Heheheeheehehe.
Beberapa tahun setelah kejadian itu, aku masuk tempat ini. Bergabung dengan orang – orang yang gila. Tertawa dengan mereka. Melompat – lompat dengan mereka. Dan aku menemukan orang yang gila dulu. Yang suka memanjat tiang listrik. Aku berpapasan dengannya waktu aku baru masuk tempat ini. Dia memakai baju yang rapi. Wajahnya bersih tak seperti yang dulu pernah kutemui. Dia memakai sepatu baru, tak seperti dulu, dia tak memakai apa pun di kakinya. Rambutnya hitam mengkilap tak seperti dulu, yang gimbal dan penuh sampah serta kutu. Ah, dia sangat berbeda dari yang kulihat dulu.
”Dasar orang gila !” cetusnya padaku sewaktu kami berpapasan.
Aku melengong ke kanan, ke arah suaranya berasal. Dia hanya berjalan santai setelah mencetuskan kata – kata itu padaku. Kata – kata yang pernah aku lontarkan padanya. Oh, ya Tuhan apa ini karma ?
Kulihat dia bersalaman dengan dokter – dokter di gerbang tempat ini. Mereka saling berpelukan. Lalu orang yang gila itu melambaikan tangan kepada dokter – dokter itu dan pergi melewati pintu gerbang tempat ini.
Jangan – jangan dia sudah bukan menjadi orang yang gila lagi. Jangan – jangan dia sudah menjadi orang yang waras. Aduh, petaka. Ini karma ! Karma !
Eh, aku lupa namaku. Bukan, maksudku aku lupa memberitahu siapa namaku. Namaku adalah namaku. Aduh, bukan. Namaku bukan namaku. Tapi namaku namaku. Weleh, ah aku ingat ! Nama Sri Rejeki. Haaahaha iya iya. Loh ? Perasaan namaku Wahyu. Hmm, bukannya Beni ? Tadi ada yang manggil aku Gila. Berarti namaku Gila. Ah, itu bukan namaku. Aduh…. boleh kupinjam saja namamu ? Ah, kau pasti marah. Hmm, kalau begitu anggap saja namaku, Ridho. Hah, nama yang bagus. Hahahaha. Jadi namaku Bagus. Loh ? Kok jadi Bagus ? Ah, tak apa lah. Sekali – sekali namaku Bagus. Hehehehee ini baru Bagus. Tunggu bukannya namaku Utami ? Ah, sekali – sekali menjadi Bagus kan nggak apa – apa. Iya, bagus.
Oya, mengapa aku menjadi gila ? Aku tidak tau mengapa. Mungkin sudah takdir ? Tentu saja takdir. Memangnya ada yang lain selain kata takdir ? Hehehehehehe. Pokoknya waktu itu aku sering sekali menyebut, lama – lama aku bisa jadi gila. Mungkin karena keseringan menyebutkannya ya, jadilah gila. Hahahahaha begitu saja.
Kau pasti tau, kata bisa menjadi doa. Mungkin Tuhan mengira karena aku sering sekali menyebutkan kata – kata itu maka ia kabulkan. Tuhan mengira itu adalah doa. Mungkin terjadi salah paham antara aku dan Tuhan. Inginku menjelaskan maksud dari kata – kata yang aku ucapkan terus menerus itu kepada Tuhan, tapi telat. Aku sudah menjadi gila. Dalam duniaku tak ada apa – apa. Tak ada siapa – siapa. Tak ada yang menciptakan apa – apa. Karena Tuhan dalam duniaku adalah aku. Aku yang menguasai segala – galanya.
Tok… tok… tok…. kau pasti tau itu bunyi ketukan pintu. Dalam hitungan detik pintu yang diberi lima gembok itu terbuka. Kulihat ada seorang dokter dengan membawa dua orang suruhannya. Satu orang suruhannya membawa suntikan. Aku benci dengan suntikan. Karena setelah disuntik aku tak pernah tau apa yang akan terjadi denganku. Aku merasa disimpan. Disimpan dan tak hidup lagi.
Si dokter membuka straight jacketku. Aku langsung berlari sekencang – kencangnya. Aku berlari sambil berusaha menggigit suruhan si dokter yang membawa suntikan itu. Biar dia tidak bisa menyuntikku. Tapi sial, aku tertangkap. Si dokter membekap mulutku sampai jeritanku hanya menggetarkan dinding – dinding tubuhku. Suruhannya yang satu lagi mengunci tubuhku sampai aku tak bisa bergerak. Dan suruhannya yang membawa suntikan, sudah menancapkan benda itu ke lengan kiriku.
Senyawa – senyawa itu berebut masuk ke dalam pembuluh darahku. Menari – nari di dalam saraf – sarafku. Sampai aku melihat wajah si dokter dan dua orang suruhannya menjadi serigala yang sama – sama tersenyum.
Kulihat aku menjadi sopir. Kulihat aku menjadi penyanyi. Kulihat aku menjadi tukang togel. Kulihat aku menjadi anggota dewan perwakilan rakyat. Kulihat aku menjadi penyair. Kulihat aku menjadi koki. Kulihat aku menjadi pengemis. Kulihat aku menjadi pengunjung mall. Kulihat aku menjadi…
Aku.
*
Oh, ternyata malam kembali lagi. Aku harus menyiapkan api unggun dan beberapa makanan kecil untuk kita cicipi bersama. Sinar rembulan yang berpendar terang kita biarkan saja berusaha menembus pori kulit. Malam ini kita berpesta. Pesta sampai pagi.
Aku ingin menyajikan ayam bakar untuk kalian. Minumannya silahkan kalian pilih. Aku punya segala macam minuman. Datanglah dengan pakaian terbaik kalian. Dan persembahkanlah senyuman termanis kalian untukku. Mari kita berpesta. Berpesta sampai pagi. Berpesta sampai mati.
Tapi siapa yang mau datang ke pesta yang aku adakan ? Aku ini orang yang gila. Tinggal di bui. Penjara. Kamar isolasi. Aku suka memakai baju pengaman. Yang tangannya harus memeluk diriku sendiri tak bisa menggapai – gapai. Hanya diam terkunci pengikat tali.
Tapi apakah kau tau ? Orang gila itu dijanjikan masuk surga. Asyik kan ? Bisa langsung masuk surga. Hehehehehe. Siapa yang mau masuk surga tanpa usaha, maka jadilah gila. Mau ? Mau ? Mau ?
Hey, apakah yang kau pikirkan saat kau melihat orang yang gila ? Kagumkah pada kegilaan mereka ? Atau kau akan menjauh dan iba pada mereka ?
Tau tidak ? Dari hasil percakapanku dengan orang – orang yang gila aku menyimpulkan. Sesungguhnya mereka hanya pura – pura gila untuk menjadi gila. Mereka bilang mereka ingin langsung masuk surga tanpa usaha. Jadi mereka mencoba menjadi gila. Ya, mereka orang – orang yang waras yang berpura – pura menjadi gila.
Aduh, bagaimana denganku ? Apa aku orang yang juga berpura – pura gila ? Entahlah. Yang kutau setiap hari aku seperti lahir kembali. Lalu mati lagi. Lahir lagi. Lalu mati lagi. Lahir lagi. Lalu mati lagi. Lahir laaagi. Cukup. Fuihhh…
Wek ! Aku ini orang yang benar – benar gila. Gila asli bukan buatan. Asli loh. Hehehehehe.
Eh, stttttt….. aku mendengar ada yang berjalan mendekati kamarku. Tiga orang. Ah, itu mereka. Keluar dari balik pintu yang diberi gembok lima buah. Aku melihat satu orang dokter dan dua orang suruhannya. Satu orang suruhannya membawa suntikan. Aku benci suntikan. Aku tak suka disuntik. Karena aku tak pernah tau setelah disuntik apa yang terjadi denganku. Aku tak pernah tau episode selanjutnya. Tapi aku tau, setiap hari aku lahir, mati lagi. Lahir, mati lagi. Lahir, mati lagi. Dan seterusnya, lanjutkan saja. Hahahahaha.
Tapi kali ini aku ingin mati saja. Sudah kubilang, di duniaku akulah Tuhan. Kalau aku mau mati, maka matilah aku. Kalau aku mau hidup, maka lahirlah aku. Jadi sekarang aku ingin mati.
Arrrrgggggg….. suntikkan itu menancap di lengan kiriku. Senyawa – senyawanya menyeruak membaur dengan darah dalam pembuluh darahku. Menggoncang saraf – sarafku. Kali ini aku pasti mati.
Kulihat dokter dan dua pesuruhnya menjadi babi. Diawali dari perubahan pada hidung mereka. Lalu sampai ke ekor. Hahahahahaaha menjijikkan.
Hey, kenapa aku belum mati juga ? Ah, jangan – jangan bukan aku yang menjadi Tuhan di dalam duniaku. Aduh, celaka. Hahahahahahaha.
Waw… aku mulai melihat sesuatu. Aku melihat aku menjadi ratu sejagad. Aku melihat aku menjadi petinju. Aku melihat aku menjadi nenek – nenek. Aku melihat aku menjadi banci. Aku melihat aku menjadi badut. Aku melihat aku menjadi motivator. Aku melihat aku menjadi tukang becak. Aku melihat aku menjadi dosen. Aku melihat aku menjadi barista. Aku melihat aku menjadi penulis. Aku melihat aku menjadi peramal. Aku melihat aku menjadi guru ngaji. Aku melihat aku menjadi pemulung. Aku melihat aku menjadi kelinci. Aku melihat, ah cukup !!! Aku melihat aku menjadi, kubilang cukup !!! Aku melihat aku menjadi… CUKUP KATAKU !!! Tapi aku melihat aku menjadi aku ! Hahahahahahaha.
Aku melihat aku menjadi aku. Aku melihat aku menjadi gila. GILA. Dasar gila !
Memang, hehehehe !
*
Oh, ternyata malam kembali lagi. Aku harus menyiapkan api unggun dan beberapa makanan kecil untuk kita cicipi bersama. Sinar rembulan yang berpendar terang kita biarkan saja berusaha menembus pori kulit. Malam ini kita berpesta. Pesta sampai pagi.
Aku ingin menyiapkan berbagai makanan untuk kalian. Minumannya silahkan kalian pilih. Aku punya segala macam minuman. Datanglah dengan pakaian terbaik kalian. Dan persembahkanlah senyuman termanis kalian untukku. Mari kita berpesta. Berpesta sampai pagi. Berpesta sampai mati.
Siapa yang ingin masuk surga tanpa usaha ? Kalau begitu jadilah gila.
Mari kita berpesta. Berpesta sampai pagi. Berpesta sampai mati.
Wek !
*









