ketika aku merasa mati*

April 28, 2009

desember, 2008

ketika aku merasa mati. aku memandangi jejak – jejak letih yang merata di jalan – jalan ramai. lalu sambil berjalan pelan aku melihat ke atas langit. awan mengepul begitu indahnya. putih dan bersih. biru langit seakan memintaku untuk memeluk angkasa. dan aku kembali tertunduk merasa mati. karena aku tau tak mungkin aku bisa memeluk angkasa. jam tanganku terus berdetak, tik tik tik hanya akan berhenti ketika mati. ketika aku merasa mati.

lamunanku setiap saat sudah seperti angin yang selalu mengisi setiap ruang yang berpeluang memberi ruang pada angin atau udara. kepada lelana dan terlena aku mengupas kuat2 kulit pada masalah – masalah yang menjadi duri dalam daging pada ujung jari kaki – kakiku. aku sudah cukup berkecimpung dalam lahat pekat yang menoreh ketidakseimbangan hidup dan menjadikanku pribadi yang rusak. lalu berteman dengan para penghuni neraka. sudah cukup lelah dan ya sudah cukup untuk semua itu. lalu kukatakan terima kasih. tapi apa yang inginku capai adalah sebuah ketetapan yang tidak mudah. memang akan menjejaki jalan yang satu dan sama, tapi jalan itu penuh dengan paku – paku payung dan kaca beling yang bertebaran disana – sini serta bisikan – bisikan dimana – mana.

ada yang bilang pikiranku adalah pikiran yang kolot untuk remaja seusiaku. ya sembilan belas tahun. waktu yang pas buat hura2 dan bersenang2. tapi mungkin saja aku kolot atau apalah. yang jelas. hidup itu simpel jika kita tetap berjalan pada jalan dan porosnya. tak perlu melenceng atau mencoba untuk tersesat. karena sekecil apapun ketersesatan yang di sengaja atau tanpa disengaja akan memiliki efek sebesar – besarnya dalam pembentukan kepribadian manusia. dan itu  terjadi  tanpa pernah kita sadari.

ketika aku merasa mati. aku memandangi jejak – jejak lelah yang merata di jalan – jalan ramai. ada beribu kaki bergerak ke segala penjuru arah. mengikuti perintah dari otak dan hatinya. atau beberapa dari jejak – jejak itu lagi bingung tak tau arah dan tujuan hendak kemana. sama seperti aku. yang masih mencari tujuan dalam perjalanan ini. karena hidup bukan untuk menunggu mati. lalu mau apa dan akan kemana ?

*dicomot dari blog fs yang selalu aktif dan diposting disini gara2 ada seorang sahabat yang meminjam judulnya buat shout out fsnya hehehe

5 Responses to “ketika aku merasa mati*”

  1. yoan Says:

    sstt… jee… jangan bilang siapa2 kalau aku mampir ke sini ya…

    hihihi…
    langsung gatel pengen liat blog jee waktu tau jee punya postingan baru… ttg mati lagi…

    aku… ’suka’ nyasar dan ‘tersesat’…
    karena setelah itu aku jadi benar-benar tau setapak jalan yang harus kulalui kalau aku tak lagi ingin tersesat…
    tapi aku mungkin punya kecenderungan untuk menyesatkan dan menyasarkan diri…
    untuk kemudian terbingung-bingung dan menikmati proses pencarianku ituh… :mrgreen:


  2. ketika aku merasa mati, ialah momen ketika aku merasa terjebak dalam waktu yang bergulir cepat, meniadakan apa-apa yang sebelumnya ada, dan menyisakanku untuk berfikir bahwa semuanya bakal menuju yang namanya akhir…

    ketika aku merasa mati, ialah momen ketika aku mempertanyakan pada diriku sendiri, masihkah aku punya hati?

    ketika aku merasa mati, ialah momen ketika aku kehabisan kata, tak mampu bicara, tak sanggup mengeja. lalu musti apakah yang kusampaikan selain bisikan tertahan, bahwa itulah saat aku merasa mati, jauh dari Illahi Rabbi…

  3. onlyoneearth Says:

    hai Jee,
    tulisan yang menyentuh….
    saya selalu bertanya ..apa yang terjadi saat tubuh berselimut mati..
    mungkinkah saat mati barulah dapat jelas terlihat napas yang ditarik dan dikeluarkan demikian enteng, saking ringannya, kita bahkan tak menyadari (keberadaannya-baca ‘hidup’)
    hingga hidup dijalani seolah tak ada ’sesuatu’ yang berharga di dalamnya…atau karena kta kurang berusaha untuk ngeh? kurang tergelitik rasa ingin tau membedah hidup, kurang berani melampaui batas ‘tau’ atau kita merasa aman dengan batas tau tsb hingga nyaman dengan mandulnya rasa ingin lebih tau..tentang hidup..tentang mati
    malah dadie ngelantur, hehe….

    ps. tks ud mampir ya…

  4. nakjaDimande Says:

    aku sudah kembali dari merasa mati..
    sekarang hidup menjelma, karena bertemu jee :D

  5. jee Says:

    @yoan : hahaha thanks mbak, bisa menyempatkan diri berkunjung kemari hehehehe. iya mbak, kadang kita memerlukan stimulus dlm bentuk hal yang lain. seperti berjalan pada jalan yang sedikit berbeda agar kita mengetahui dan mengerti bagaimana susah dan bagaimana nikmatnya hidup dalam berbagai versi. dan kita bisa belajar memilih mana yang baik dan mana yang buruk. ^^

    @Infinite Justice : hmm iya aku setuju. ketika aku merasa mati aku sering kali bertanya apakah aku masih mempunyai hati ? aku juga sering memikirkan jalan menuju akhir itu begitu mudah. tapi bertahan mengapa begitu susah ? sebuah kehampaan menyeruak dan sangat bau jika tiba2 lupa dan juah dari sang Pencipta yang maha kuasa.

    @onlyoneearth : ada yang bilang, hidup itu hanya ilusi semata dan kita sebenarnya tak pernah ada. dulu waktu kecil aku punya kebiasaan tiap kali bangun tidur aku masih beranggapan bahwa aku blm benar2 bangun dari tidur. karena aku merasa aneh melihat aku bisa memegang satu benda dgn tanganku dan melihat kucing bergerak manusia bergerak. dan aku merasa aku yang sebenarnya sedang koma disebuah rumah sakit. hahaha saraplah. dan apakah setelah mati kita bisa menemukan jawaban ‘apa rasanya mati ?’. hmm saat mempertanyakan itu timbul lagi satu pertanyaan ‘Apakah kita masih bisa berpikir setelah kita mati ?’. ya, mungkin kita tak bisa melihat napas kita direnggut secara perlahan2. karena menurut versi dari penglihatan kita yang berbeda dengan penglihatan malaikat. proses diambilnya jiwa itu sangat cepat bahkan sangat sangat lebih cepat. menurutku.

    makasih ya info ttg film anak indigonya ^^. salam kenal.

    @nakjaDimande : aduh bundo. kita bertemu dalam sebuah kebetulan hehe tapi kata orang tak ada yang namanya kebetulan dimuka bumi ini. aku senang bisa mengenal bundo ^^


Leave a Reply