url

Sore itu cuaca mendung menyelimuti kota, khususnya di sekitar daerah perkampungan miskin yang berada di sepanjang lintasan rel kerata api. Aku, Salwa gadis belia berumur 17 tahun seperti biasa sedang asyik menikmati senja di atas rel kereta api bersama teman – temanku. Kami suka sekali berkumpul sambil duduk – duduk di atas bantalan rel kereta sembari bercerita mengenai kegiatan masing – masing setiap hari.

Temanku Ruminah yang berprofesi sebagai pengamen jalanan bercerita kalau dia mendapatkan banyak uang hari ini dari satu mobil mewah yang di dalamnya duduk seorang pejabat tinggi negara. Katanya ia sempat berjabatan tangan dengan bapak pejabat tersebut. Dia diberi uang seratus ribu rupiah.

Ruminah sumringah saat ia mengakhiri ceritanya. Karena teman – teman yang lain termasuk aku sulit mempercayai cerita Ruminah maka Ruminah langsung mengaruk uang seratus ribu yang masih mengkilap itu dari dalam saku celana bututnya. Mata kami langsung berbinar – binar melihat selembar uang seratus ribu yang masih sangat mengkilap dan bau duit itu.

Lain dengan Ruminah, Heru bocah berumur 12 tahun malah harus mendapat kerugian karena uang hasil semir sepatunya direbut oleh preman pasar dengan alasan uang keamanan. Wajah Heru terlihat lelah dan mulutnya cemberut karena kesal dengan ulah preman – preman pasar yang suka sekali mengganggunya. Heru mengaku hampir setiap hari preman – preman itu meminta uang padanya. Yang rtambah parahnya lagi, jika kebetulan Heru tidak mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya sebagai tukang semir sepatu, para preman itu kerap suka menyakiti dirinya. Aku sering sekali memergoki Heru pulang dengan babak belur sampai – sampai cara berjalanannya menjadi aneh. Heru bilang kalau bokongnya sakit karena para preman itu suka sekali menyakiti bokongnya. Kupikir Heru tidak tau bahwa preman – preman pasar itu telah melakukan pelecehan seksual padanya. Heru disodomi.

Matahari terus berangsur – angsur meredup tapi kami masih asyik berkumpul menikmati senja di atas bantalan rel kereta api. Fauziah gadis berumur 14 tahun yang sudah terlihat lebih dewasa dari umurnya itu menuturkan kalau tadi malam ia mendapatkan uang lima ratus ribu dari seorang om – om yang mengajaknya berjalan – jalan keliling kota berdua. Kata Fauziah, ia pergi jalan – jalan dengan menaiki mobil sedan mahal dan mewah yang di dalamnya sangat dingin. Fauziah sangat senang karena ia bisa duduk di atas bangku empuk mobil mewah itu. Ia juga bisa mendengarkan musik – musik kesukaannya dari banyak penyanyi pujaannya.

Kata Fauziah, setelah ia diajak jalan – jalan keliling kota dia diajak beristirahat di sebuah hotel bintang lima. Di sana ia dan si om itu tidur di atas satu ranjang. Tapi sayangnya Fauziah tidak ingin menceritakan kelanjutannya. Ya, itu memang kebiasaan Fauziah tiap kali ia bercerita. Jika ceritanya sudah sampai ke hal – hal mengenai hotel dan tidur bersama pasti Fauziah langsung mengalihkannya ke cerita yang lain. Ke cerita yang sama sekali tidak penting.

Ah, hari sudah mulai gelap. Banyak sekali burung – burung berkeliaran di langit. Kami langsung masuk ke dalam rumah masing – masing. Rumah kami ada yang terbuat dari kardus ada juga yang terbuat dari bekas atap seng. Kalau hujan rumah – rumah di sini sering bocor bahkan ada yang hancur karena tidak mampu menahan debit air yang menghujam dari langit.

Aku tinggal dengan ibu dan adikku yang masih bayi. Ayahku sudah tiga tahun meninggal dunia. Orang – orang sering bertanya padaku, bayi siapa yang ibu besarkan ? Aku hanya bisa menjawab tidak tahu karena setiap kali aku tanya bayi siapa itu, ibu selalu bilang tidak tau. Tapi aku yakin itu bayi yang dilahirkan ibu empat bulan yang lalu. Aku ingat sekali, demi kelahiran bayi itu ibu rela mencuri di pasar. Ibu juga memaksaku lebih giat mengamen dan menjual koran di jalanan. Semua itu ibu lakukan untuk menebus biaya persalinan di rumah sakit.

Orang – orang bilang bayi yang ibu kandung adalah anak haram. Mereka memberi pengertian padaku bahwa yang disebut anak haram itu adalah anak yang tidak sah. Hmm… tetap saja aku tak mengerti apa maksud mereka tapi yang jelas aku senang akhirnya aku punya seorang adik. Jadi aku tidak kesepian lagi. Ibu juga senang karena dengan begitu uang yang akan di dapat akan semakin banyak. Ibu suka sekali membawa adik sambil digendong ke lampu merah yang ada di bawah jembatan layang. Ibu menggendongnya sambil mendatangi satu persatu mobil. Ada yang dengan suka rela memberinya uang dan ada juga yang dengan kejam mengusirnya.

Malam ini kami tidak makan karena kami tidak mencari uang hari ini. Ibu bilang dia kurang sehat karena selalu memikirkanku. Jadi ia tidak sanggup mencari uang. Adik bayi ia biarkan merangkak kesana kemari sedang ibu duduk di sudut ruangan yang sangat kecil ini. Aku hanya diam menikmati kepiluan ini.
Malam pun menjemput pagi. Ibu dan adik bayi sudah pergi mencari uang. Aku pun tidak ingin tinggal diam dan bermalas – malasan. Tapi saat aku tiba di luar aku tak mendapati satu orang pun di wilayah ini. Daerah sepanjang rel sepi dan sunyi sampai – sampai aku bisa mendengar desau angin yang mengendus daun telingaku.

Gerimis mulai turun satu persatu. Dari kejauhan aku melihat orang – orang berjalan beriringan menuju tempatku. Sangat ramai. Mereka seperti mengarak sesuatu. Lambat laun suara berisik berjalan merayap mendekatiku. Aku mulai ketakutan. Mereka ada yang merintih. Mereka ada yang menangis. Mereka ada yang berteriak. Mereka ada yang bungkam.

Aku melihat ibu berjalan dengan tenang dan diam. Ia menggendong adik bayi. Tatapannya kosong. Wajahnya pucat. Apa yang mereka arak itu ? apa yang mereka bawa ?

Arak – arakan itu semakin mendekat hingga aku bisa melihat dengan jelas apa yang mereka bawa. Mereka membawa tubuh seorang gadis. Merah menyelimut wajahnya. Rambutnya lusuh dan kotor. Kulihat tubuh itu sama sekali tak bergerak. Mungkin dia sedang tidur.

Akhirnya arak – arakan itu berhenti di depan rumahku yang terbuat dari bekas atap seng. Gerimis mulai mengamuk. Ia hembuskan angin sekencang – kencangnya hingga daun – daun kering serta sampah – sampah plastik dan kertas berterbangan di mana – mana. Dari kejauhan aku melihat kereta listrik akan melaju lewat di depan rumahku. Bunyinya sangat bising. Sudah membuat gaduh juga membuat porak – poranda rumah – rumah karena getarannya yang cukup kuat. Aku sering melihat orang mati karena ditabrak oleh benda panjang yang terbuat dari besi dan baja itu. Teman – temanku jadi memiliki banyak cerita tentang hantu rel kereta api. Cukup menyeramkan.

Kurasa gadis yang dibawa orang – orang itu adalah korban tabrakan kereta api tadi malam atau tadi pagi. Sayang, aku melewatkan kejadian itu.

Letih berdiri aku pun duduk di atas rel kereta api. Walau angin cukup kencang menerpa dan gerimis terasa seperti menyayat – nyayat kulitku aku tidak peduli.

Kerumunan orang – orang itu mulai berkurang satu persatu hingga tinggal ibu dan para tetangga beserta teman – temanku. Aku berjalan menghampiri mereka. Namun tiba – tiba aku kaget karena ibu tiba – tiba jatuh terduduk sambil menangis meratapi tubuh gadis itu.

Dengan suara serak ibu seketika berteriak memanggil namaku.

“Salwaaaa…. !!!”

Lalu ibu menjerit histeris sambil memukul – mukul dada gadis yang sedang terkulai beku itu.
Aku tersentak sekaligus terhenyak dan heran. Ada apa dengan ibu ? Lalu pelan – pelan aku mencoba melihat wajah gadis yang ibu ratapi itu. Merah darah menutupi wajahnya hingga seperti bertopeng. Tapi pelan – pelan juga aku mulai merasakan kalau raut wajah gadis itu mirip sekali denganku. Hidungnya, mulutnya, lekuk matanya, bentuk mukanya serta panjang rambutnya sangat mirip denganku. Lalu, baju yang ia kenakan sama dengan baju yang sedang aku pakai.

“Salwaaaaa…. jangan tinggalkan ibu nak !!!” jerit ibu sekali lagi.

Aku bingung. Aku tidak mengerti dengan keadaanku. Apa yang terjadi dengan ibu ? apa yang sedang terjadi ? Terus terang, aku merasa baik – baik saja. Bahkan perasaanku lebih tenang dari sebelum – sebelumnya.

Gerimis yang mengamuk itu tiba – tiba menjadi tenang namun ia mengundang hujan turun dengan cepat menyergap dari ujung jalan sana hingga kemari. Teman – temanku yang sedang berdiri di depan rumahku tadi langsung berlari melewatiku.

Sambil berlari Fauziah berkata, “makanya, kalau jalan di atas rel itu harus hati – hati kalau nggak, bisa mati kayak Salwa itu.”

Hujan yang turun deras dengan cepat mulai menenggelamkan wilayah di sepanjang rel kereta api. Ibu berjalan dengan gontai meninggalkan gubuk tempat kami biasa berlindung dan tidur sambil menggendong adik bayi yang terus – terusan menangis. Sedang di belakangnya ada beberapa laki – laki yang membawa tandu dari bambu dan karung goni yang di atasnya ada gadis yang ibu tangisi tadi.

Aku tak tau mereka akan kemana tapi yang jelas, hujan hari ini terasa begitu ngilu.

***

sumber gambar : www.google.com

sedikit ocehan

September 29, 2009

ada yang datang dan ada yang pergi. ada yang melengkapi dan ada yang hilang. semuanya datang silih berganti. karena perputaran kehidupan. ada yang dibawah dan ada yang di atas. ada yang sedang merasakan diatas awang2 dan ada yang lagi terjatuh.

jauh dari itu semua, tergantung bagaimana cara kita menyikapi. bagaimana pemikiran dan iman kita. buka mata, buka telinga dan buka hati. semua hal akan sangat menyenangkan sekalipun itu menyakitkan.

semoga kita bisa menjadi seseorang yang kokoh dan menyabar.

Kopi ini sudah dingin

September 3, 2009

Kau sudah meneguk belasan minuman keras cap kera di kedai bang Mi’un tadi malam. Kini kau duduk diam termenung di bibir ranjang sambil merobek – robek kertas yang kau terima tadi siang. Jika kudekati dirimu, kau malah berteriak – teriak tidak jelas. Jadilah kuperhatikan saja polamu. Tingkah lakumu yang semakin hari semakin aneh.

Tetangga sebelah yang bernama Rohimin bilang, kalau kau sedang depresi. Katanya semua tanda – tanda depresi itu ada padamu. Dia bilang kalau kau terus berlarut – larut seperti itu nanti kau bisa menjadi gila.

Aku terus memperhatikanmu dari balik pintu sampai kakiku terasa mati rasa. Aku duduk di depan televisi yang tidak pernah menyala itu. Kugenggam secangkir kopi yang sudah dingin. Kuteguk perlahan – lahan. Kopi yang kubuat tadi pagi sudah terasa asam karena kubiarkan penuh terisi sampai berjam – jam lamanya.

Malam ini kau tak pergi keluar duduk – duduk di kedai bang Mi’un. Terasa aneh bagiku karena duduk – duduk di kedai bang Mi’un sudah menjadi rutinitasmu setiap hari. Adalah jadwal yang wajib kau lakukan. Seperti jadwal minum obat, tiga kali sehari. Tapi malam ini kau tak datang ke kedai bang Mi’un, kau malah asyik duduk – duduk di  bibir ranjang, diam termenung sambil merobek – robek kertas yang kau terima tadi siang dari seorang yang berpakaian rapi.

Huf… kopi ini terlalu asam dan kecut di mulutku.

***

Pagi – pagi sekali kau sudah hilang dari pandanganku. Kau tak ada di bibir ranjang. Kau pun tak nampak di kedai bang Mi’un. Para tetangga bilang, pukul 5 subuh kau sudah keluar dari rumah dengan pakaian rapi sambil membawa sebuah map berwarna merah muda.

Keningku langsung mengerut mendengar cerita mereka. Ada yang bilang, kau akan mencari kerja ke kota. Ada juga yang bilang, aku mau jual rumah ini. Oh…. ya ampun…. aku hanya berharap semoga kau baik – baik saja dan pulang dengan selamat.

Kubuka pintu kamar. Kulihat serpihan – serpihan kertas yang kau robek – robek kemaren.  Kuambil satu serpihannya. Ada potongan beberapa huruf berjejer di dalam satu serpihan bertuliskan P H K. Aku menyerngit. PHK. Bapak diPHK ? Oh… Ya ampun…

***

Dulu kami punya tiga orang anak. Ketiga – tiganya laki – laki. Tapi empat tahun yang lalu ketiga – tiganya meninggal dalam kecelakaan kapal laut saat mereka hendak mengunjungi kami berdua. Saat mereka memang hendak pulang ke rumah. Rumah selama – lamanya.

Sejak hari itu suamiku jadi sering murung. Tidak bergairah. Semangat hidupnya seakan ikut mati dengan ketiga anak kesayangannya. Ketiga harapan hidupnya. Aku yang lebih parah. Orang – orang bilang aku ini tidak waras setelah ketiga kesatriaku mati. Tapi aku tidak percaya dengan apa yang mereka bilang. Aku yakin, aku masih waras. Aku tidak semudah itu menjadi gila karena kehilangan semua buah hatiku. Aku yakin aku tidak gila.

Tapi bapak sepertinya termakan omongan orang – orang yang bilang aku tidak waras. Sejak kematian ketiga putraku sikapnya terhadapku berubah. Tidak selembut dulu. Dia lebih tidak mau tau denganku. Seakan – akan aku hanya orang – orangan sawah saja.

Hmm…. selagi kau pergi, aku akan membuat kopi. Dan menunggumu pulang.

***

Kau pulang pada malam pukul delapan dengan baju lusuh yang sangat bau. Bau keringat.  Para tetangga pasti berbohong lagi padaku saat mereka mengatakan kalau kau pergi dengan memakai baju yang rapi lalu membawa satu buah map berwarna merah jambu. Tapi aku tak melihat kau membawa map itu. Kemana kau buang map itu ?

Kulihat kau langsung berjalan tergopoh – gopoh dari pintu rumah menuju kamar tidur. Lalu aku dengan cepat mengintipmu dari balik celah pintu kamar. Kulihat kau duduk – duduk lagi di bibir ranjang. Diam termenung. Tapi kau tak lagi merobek – robek kertas. Yang kau lakukan hanyalah diam.

Satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam… aduh… kakiku mulai kaku terus – terusan berdiri membungkuk mengintipmu dari celah pintu kamar. Aku berdiri tegap lalu berjalan menuju meja makan. Lalu aku duduk di salah satu kursinya sambil memperhatikan televisi di depannya yang tak pernah menyala. Kemudian kugenggam secangkir kopi yang sudah dingin karena aku membuatnya tadi pagi. Lalu kuteguk perlahan – lahan.

Huf… kopi ini terlalu asam dan kecut di mulutku.

***

Pagi ini aku duduk di depan televisi yang tak pernah menyala itu. Di atas meja ada asap mengepul dari dalam cangkir berisi kopi. Ada dua buah cangkir kopi di atas meja. Satu untukku dan satunya lagi untukmu.

Kuteguk larutan kopi yang ada di dalam cangkirku. Kali ini terasa manis dan pahit sedikit karena baru beberapa menit kubuat. Sungguh hangatnya.

Beberapa menit kemudian aku mendengar suara gaduh dari dalam kamar anak keduaku. Kupikir kau sedang membereskan pakaian – pakaiannya untuk kau jual ke pasar loak. Pikiranku itu mengajakku untuk tetap diam memperhatikan televisi yang tak pernah menyala itu.

Kutatap cangkir kopimu yang masih mengepulkan asapnya. Kapan akan kau minum ?

Tiba – tiba televisi menyala. Anak bungsuku langsung duduk di karpet yang ada di depan televisi. Aku tersenyum memperhatikannya. Di dalam benda kotak bermuatan listrik itu keluar warna – warni ceria. Mengeluarkan suara – suara jenaka. Anak bungsuku sedang menonton film kartun kesayangannya.

Aku mengalihkan pandangan ke atas meja. Ke cangkirmu yang masih penuh berisi larutan kopi. Asap yang mengepul tadi perlahan – lahan semakin halus dan tipis. Perlahan – lahan semakin melenyap. Kapan akan kau minum ?

Prak !!!

Suara benda jatuh itu menarik perhatianku untuk melihatnya. Ternyata sebuah remote yang dapat menukar acara – acara yang ditayangkan oleh si kotak bermuatan listrik itu. Aku melihat anakku yang kedua duduk di samping anak bungsuku. Mereka berebut remote televisi. Mereka saling tidak mau kalah.

Lalu aku tersenyum menyaksikan tingkah kedua anakku itu. Mereka sangat akrab. Kemudian aku mengalihkan perhatian menuju atas meja makan. Menuju cangkir kopimu yang belum juga kau minum. Asap yang mengepul tadi sudah hilang dihisap oleh angin. Kopimu sudah dingin. Kapan akan kau minum ?

Tapi tiba – tiba perhatianku tertuju pada luar jendela rumah. Kulihat anakku yang pertama sedang asyik mencabuti rumput – rumput liar yang suka sekali tumbuh di halaman rumah. Aku berdiri dan berjalan menuju jendela. Kuperhatikan setiap gerak – gerik anak pertamaku. Aku tersenyum dibuatnya. Sungguh anugerah yang tak ternilai yang telah diberikan Tuhan untukku dan kau. Kita diberikan  tiga orang anak laki – laki yang gagah dan santun. Kita berdua adalah pasangan suami istri yang paling beruntung di dunia.

Namun sekejap kemudian kulihat kau datang entah darimana berjalan tergesa – gesa masuk menuju pintu rumah. Aku langsung   bergegas masuk ke dalam kamar. Lalu aku mengintipmu dari balik celah pintu masuk kamar. Kulihat kau duduk – duduk di bibir ranjang. Kau diam merenung. Tapi ada yang beda dengan pola sikapmu. Kali ini kau memiliki gaya baru. Kau diam sambil manggut – manggut seperti orang yang tiba – tiba paham dengan sesuatu. Seperti orang pintar menemukan sebuah jawaban.

Satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam… ah… kakiku sudah terasa ngilu. Aku berhenti mengintipimu. Lalu aku berjalan menuju meja makan dan duduk di kursinya yang tepat berada di depan televisi yang tak pernah menyala lagi. Kuperhatikan sebuah cangkir berisi larutan kopi yang sudah tidak mengepulkan asap lagi. Cangkir berisi kopi yang kubuatkan untukmu tadi pagi. Cangkir yang sudah terasa dingin.

Kugenggam telinga cangkir itu. Lalu kudekatkan bibir cangkir itu ke bibirku. Larutan kopi yang sudah dingin itu mengalir masuk ke dalam mulutku. Kulumat sampai habis bersama ampas – ampasnya.

Cihhhh !!! terasa kecut sekali. Terasa asam sekali.

***

Entah mengapa pagi ini aku ingin sekali menyalakan televisi yang sudah tidak pernah menyala lagi. Kuletakkan dua buah cangkir berisi larutan kopi panas di atas meja makan yang ada di depan televisi. Kuambil remote lalu kutekan tombol on. Kotak bermuatan listrik itu menyala dan mengeluarkan suara serta gambar.

Dunia dalam berita acara yang kutonton pagi ini. Aku duduk di kursi meja makan sambil pelan – pelan meneguk kopi yang baru saja kubuat. Isi berita pagi ini kebanyakan dipenuhi dengan deretan berita kriminal. Tapi diakhir berita tiba – tiba sipembaca berita baru saja mendapatkan sebuah informasi penting katanya. Dia bilang, kapal  yang biasanya membawa penumpang untuk menyeberangi Selat Sunda terbakar di tengah di tengah laut. Lalu diakhir acara mereka menayangkan nama – nama korban meninggal dunia dalam kecelakaan itu.

Kubaca satu – persatu nama – nama malang itu. Cangkir kopi yang kugenggam terlepas ketika aku mengeja tiga nama yang sama persis dengan nama ketiga anak laki – lakiku tercinta. Bibirku langsung bergetar hebat. Telingaku langsung merah padam dan panas. Tapi aku masih mencoba mengeja kembali ketiga nama – nama itu. Mengejanya perlahan – lahan. Satu demi satu nama hingga televisi itu beralih acara.

Dari acara dunia dalam berita ke acara hiburan. Suara bising dari lagu – lagu dangdut mengalun. Di dalam kotak bermuatan listrik itu ada seorang perempuan yang sedang bergoyang riang gembira seakan – akan mengajakku untuk ikut bergoyang dengannya. Tapi tubuhku kaku. Air mataku mengalir tak dapat dibendung. Perlahan – lahan aku berusaha menggerakkan kedua tanganku yang kaku menuju wajahku.

B – a – m –b – a – n – g, A – n – d – i – k – a, R – a – m – l – i …

“Huaaaa………….. !!!” teriakku histeris.

***

Rumahku tiba – tiba ramai sekali. Aku melihat para tetangga berkumpul mengerumuni rumahku. Aduh…. apa – apaan ini ?

Kulihat kau sudah pulang. Pulang lebih awal dari biasanya. Tapi kali ini kau pulang membawa teman – temanmu. Mereka berpakaian putih – putih. Seperti pakaian seorang perawat pria di rumah sakit. Apakah kau sudah mendapatkan pekerjaan menjadi seorang dokter ?

Tapi tiba – tiba aku sadar, kedua tanganku diborgol. Aku diam terhenyak. Apa yang kalian lakukan padaku ? Dengan pelan kau berjalan mendekatiku. Lalu kau berbisik padaku.

“Aku akan cari istri yang lain. Semoga kau cepat sembuh,” katamu kemudian kau sempatkan menjilat daun telingaku. Menjijikkan !!!

Kulihat sorot matamu. Aduh…. mengapa aku tidak pernah sadar bahwa kau sekarang sudah berubah. Kau berubah sejak tiga bulan setelah kematian ketiga anak kita. Kau menjadi gila !!!

“Bawa dia !!!” perintahmu kepada tiga orang laki – laki yang memakai baju putih – putih.

Sialan !!! kau pikir aku gila ? Kau tidak sadar kalau sebenarnya kau juga gila !!! Jangan bawa aku ke rumah sakit jiwa. Aku tidak gila !!!

“Lekas bawa dia !!!”

Ouuuuughhh !!!               Kau bukan suamiku !!! kau penjahat yang suka menipu orang – orang. Kau menipu para tetangga dan para perawat ini. Kau menipuku. Kau menculik suamiku. Dimana suamiku yang penyayang ? dimana suamiku tercinta ?

Mulutku… mulutku… tidak bisa bersuara. Tidak bisa mengeja kata – kata. Aku ini kenapa ??? Apa yang kau lakukan padaku selama ini ? Kau yang gila !!!

Aduh…. mereka menyeretku hingga aku masuk ke dalam sebuah mobil. Lalu mereka menutup pintunya rapat – rapat. Kulihat dari jendela yang berjeruji, para tetangga terpana. Senyap di luar sana tercipta. Lalu tiba – tiba kesenyapan itu dihempaskan oleh bunyi cempreng suara mobil yang kutumpangi. Lalu mobil ini bergerak pergi menjauhi rumah dan para tetangga. Lama kelamaan mereka mengecil dari pandanganku. Lama kelamaan mereka lenyap dari pandanganku. Lalu mereka hilang begitu saja…

***

Pagi ini aku bangun dalam keadaan linglung pengaruh obat – obatan yang mereka suntikkan ke dalam tubuhku. Aku tak melihat ada kotak hitam bermuatan listrik di hadapanku. Aku juga tak lagi melihat dua buah cangkir berisi larutan kopi dingin. Aku juga tak melihat kau duduk – duduk di bibir ranjang sambil terdiam merenung.

Hmm…. seharusnya kau ada di sini bersamaku. Menikmati hari – hari berdua dengan anak – anak kita. Kau pasti akan menyesal karena mencampakkanku. Kau pasti akan menyesal seumur hidupmu.

Bukankah kita berdua sama – sama gila  setelah kematian ketiga anak kita ? tapi kau tak mau mengakui bahwa kau juga gila. Kau memang penipu. Jika kutau dari dulu sebenarnya kau penipu, mungkin aku tidak akan mau kau sunting.

Huh… tapi mungkin kau tidak tau kalau anak – anak kita sudah tiada. Aku membaca nama mereka tertera di acara televisi yang bernama dunia dalam berita. Aku terus mengeja nama mereka satu persatu.

B – a – m –b – a – n – g, A – n – d – i – k – a, R – a – m – l – i…

***

Padang, Juli 2009