seandainya…

Oktober 31, 2009

kenapa manusia mesti tidur di waktu malam ?

apa jadinya jika waktu tidur manusia, normalnya itu di siang hari ? sampai ke waktu2 sholat pun di malam hari.

ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, manusia mulai menguap. lalu perlahan2 mereka menuju tempat tidur dan tidur. kemudian pada pukul 5 sore, mereka terjaga lagi. bangun untuk memulai aktivitas.

siang jadi malam. malam jadi siang.

apa jadinya ya ???

bagaimana dengan perkembangan kriminalnya ? pendidikan ? budaya ? macam2nya ? hehehe

seandainya manusia beraktifitas di malam hari dan tidur di siang hari.

kehilangan

Oktober 28, 2009

hari ini, hari kehilangan.

dompet, flash disk, mp4ku hilang. ditambah dua buah hape punya sepupu.

simaling bekerja tadi malam dengan mencongkel jendela kamar yang sudah berteralis.

entah mengapa tadi malam aku g minat tidur di kamarnya (sepupu) dan memilih tidur di kamar anak kostnya. padahal seperti hari2 biasa aku selalu tidur dikamarnya. pas pagi waktu aku mau ambil flash disk di tempat nyimpan pena, tas ku udah tergantung di dekat jendela dengan isi acak2an. sedang sang sepupu masih tidur pulas di tempat tidurnya.

ternyata isi tasku semuanya ilang, dan hp sepupu yg letaknya dibawah bantal juga ikut hilang. gila tuh maling, tasku juga jauh dari jendela bisa dia embat, hp dibawah bantal juga. pake ajian apa sih dia. sepertinya punya ilmu hipnotis.

 

tapi dari kesemua yang hilang yang paling berat itu hilangnya memori, kenangan, bukti2 jejak kita pada benda2 yang mungkin tak berharga itu. dimana disana, ada jerih, sedih, senang, puas, dan macam2 kenangan yang menempel disana. yang tidak bisa digantikan dengan apa pun. yang hilang adalah waktu dari kebersamaan benda2 itu.

 

 

 

kita jelang dunia baru

Oktober 26, 2009

bumi ini sudah tua.

sudah mulai meringis kesakitan.

persiapkan diri untuk satu masa.

jika tak sanggup, akan musnah.

kita jelang dunia baru.

jalan

Oktober 24, 2009

jalan ini ternyata begitu panjang. seperti tanpa ujung. hingga telapak kakiku mati rasa. namun jengah tak jua meraja. sungguh suatu perasaan yang aneh. aku lelah namun aku ingin. hingga kukejar pintu yang telah tampak di depan mata. namun jarak yang semu membuat semuanya  menjadi sia – sia.

dan nafasku mulai tersengal – sengal…

ML alias Mati Lampu

Oktober 23, 2009

lilin

ternyata warga pekanbaru memang  warga yang sabar (bukan karena aku mang tinggal di gang sabar), kenapa nggak ? tiap hari harus menderita (halah) mati lampu secara menahun. persis seperti jadwal minum obat. 3 kali sehari. kalo cuma 2 kali sehari, nggak asyik cuy !

jadi mengingat kondisi alam pekanbaru yang gersang, panas, gerah, berkeringat dan banyak nyamuk (ugh !!!), agar hidup lebih enjoy di alam pekanbaru nan berbahaya ini (halah mak) maka aku buka  sebuah kelompok, dimana kelompok tersebut adalah orang – orang yang cinta akan mati lampu. peduli akan mati lampu. gembira bisa hidup dalam kegelapan mati lampu. dan merasa selalu ingin mati lampu. hidup mati lampu !!!!

jadi sapa yang mau mendaftar menjadi anggota parlemen (halah) anggota genk pecinta mati lampu ? pendaftar pertama akan mendapatkan jatah mati lampu dari pln lebih dari satu abad seumur hidup. asyik kan.

untuk info lebih lanjut, hubungi : sukampret 09876543xx (bebas pulsa)

asin

Oktober 22, 2009

hujan yang dituangkan langit tadi malam,  kucoba menampungnya dengan harapan dapat membasuh jiwaku. sayangnya tak mampu memenuhi kosong dihati dan pikiran. seakan hanya mengalir lalu menyatu saja dengan bumi. dan aku mengganti derainya dengan air mataku. kemudian setiap tetesnya kukecup. asin ini adalah perasaanku. gambaran waktuku. yang akan menjadi nikmat jika kutuangkan sebelanga air embun pagi.

teman

Oktober 21, 2009

“ditengah keramaian… suara riuh rendahnya dunia…

dan kurasa sangat sepi…

hanya suaramu inginku dengar dikesunyian ini dan memecah keheningannya

kemana pun aku pergi tiada tempat bisa menghiburku…

aku pun semakin sepi…

hangat pelukmu ingin kurasa dimalam yang dingin ini

dan memecah kebekuannya… ” B.I.P  – struggle (tak kan pernah)

rindu seorang teman seperti ibuku… yang mau mendengar keluh kesah… yang mau menyertai tawa… yang mau mengajak bernyanyi bersama… yang membuat mengerti arti hitam dan putih… yang mengajak mencicipi rasa pahit dan manisnya hidup. yang membuat aku mendengar suara hatinya… menyentuh dingin hatinya… memungut derai tawanya…

saat gempa Sumbar terjadi, aku sedang berada di dalam rumah, pekanbaru. waktu itu pekanbaru sedang melakukan pemadaman listrik. gempa dari Pariaman itu terasa cukup kuat. seperti berayun – ayun layaknya sedang berada di dalam kapal. setelah gempa dipastikan berhenti, aku langsung menghubungi keluarga di padang. ayah, ibu dan ketiga adik – adikku.

telponku tak tersambung. setiap ditelpon selalu terdengar nada sibuk. perasaanku mulai kacau. biasanya sinyal hanya beberapa menit tak berfungsi jika siap gempa (berdasarkan pengalaman gempaku dipadang) tapi kali ini beberapa jam. aku bertambah cemas. pikiranku mulai berkecamuk. aku jadi mikiran yang nggak2. jadi mikir, jangan2 kota padang tenggelam karena ada tsunami, jangan2 kota udah rata dengan tanah, keluargaku… ?

pas lewat tengah malam, aku coba untuk menelpon ke telpon rumah. tersambung ! tapi tak ada yang mengangkat. 1 kali… 2 kali sampai berkali2 tetap tak ada yang mengangkat. aku sudah bertambah cemas dan kacau.

aku mulai menangis sendirian di dalam kamar. membayangkan nasib keluarga dan saudara2ku di padang.

besok paginya aku pergi kuliah. nah disana baru bisa aku nelpon dan tersambung dengan keluarga dipadang. ternyata mereka tidur di mesjid tak jauh dari rumah tadi malam. tapi ibuku bilang sepupuku yang memiliki toko di Sentral Pasar Raya masih terjebak dalam gedung bertingkat itu dan kabarnya belum diketahui. aku langsung menutup telpon dengan segera. tiba2 badanku menggigil, tanganku gemetaran. aku kesulitan mengatur napas. mataku terasa panas. air mata pun mengalir. aku berdiri tertunduk ditopang tiang beranda di depan kelas. disampingku, teman2 laki2 sedang asyik bersenda gurau begitu juga dengan teman2 perempuan yang asyik tertawa dan berkelakar di dalam kelas.

dosen pun masuk. aku mencoba untuk tenang dan duduk di dalam kelas. entah trauma akan gempa entah karena shock mendengar kabar mengenai sepupuku yang pasti susah payah aku mencoba untuk tenang.

pelajar kali itu psikologi umum. aku sama sekali tidak membuka buku. satu pun. di atas mejaku hanya ada tas sandang warna hitam dari kulit yang kupeluk erat. mungkin pandanganku kosong. aku sedang memikirkan nasib orang2 dipadang dengan begitu seriusnya. sempat terpikir untuk permisi pulang saja tapi tak kunjung kulakukan karena aku tak sanggup berdiri bahkan berbicara. anehnya dosen psikologiku tak menyadari kondiri psikologiku saat itu, apalagi aku duduk di bangku depan. tapi syukurlah tak ada yang memperhatikanku. karena mereka semua tidak punya ayah, ibu dan adik2 yang berada dipadang. wong orang padang cuma aku seorang.

tiga hari setelah gempa aku sudah bisa berkomunikasi dengan lancar dengan keluargaku di padang. aku mendapatkan banyak informasi dari mereka. ibuku bilang sepupuku sudah pulang dalam keadaan hidup, sehat wal’afiat. dia ternyata hanya terperangkap 5 menit di Sentral Pasar Raya (SPR) yang kini telah rata dengan tanah. syukurlah. dan aku juga sudah bisa menghubungi semua teman2 dekatku di padang. alhamdulilah mereka masih hidup dan sedang dalam keadaan yang baik2 saja.

sempat ibuku bercerita lewat telpon, orang2 di padang sedang kesulitan air bersih. banyak yang melakukan aktivitas bersih2 di bandar kali yaitu  sebuah sungai besar tak jauh dari rumah dan juga tak jauh dari kantor gubernur padang. ada juga yang ngebocorin pipa air buat nampung air. bapakku sampai bersedia boker di kali hahaha. ya mau tak mau harus mau. persediaan air di bak penampungan di rumahku sudah tinggal sedikit. tapi setelah itu ibuku bilang, “Ingat tidak ? rumah kecil yang kita bangun di sekitar jalan bay pass ? rumah yang dibelakangnya dipenuhi hamparan sawah nan hijau. rumah itu ndak rusak sama sekali jee. rumahnya dikontrak ama orang. pagar rumahnya dari kayu yang dijalari tumbuhan, hijau. dihalamannya tumbuh pohon mangga dan alpukat. semua warga di sekitar situ ngambil air bersih dirumah kita itu. soalnya cuma sumur dirumah kita yang masih berfungsi. airnya sangat jernih. ibu bersyukur sekali Allah s.w.t masih memberikan nikmat yang tak terhingga pada keluarga kita dalam keadaan sulit seperti ini. apalagi nikmat itu bisa dinikmati oleh orang2 banyak yang membutuhkan.”

pipiku langsung basah dengan air mata mendengar ibuku menceritakan mengenai hal tersebut. aku benar2 bersyukur semua anggota keluarga berserta orang2 terdekatku sekarang dalam keadaan yang aman. Tuhan melindungi mereka. ingin sekali aku pulang ke padang. jika kupulang, ingin kupeluk satu – persatu semuanya.

ingin sekali kupeluk mereka.

sampai saat ini aku tak bisa menahan air mata dalam sholat. Allahu akbar ! Allahu akbar ! Allahu akbar !