saat gempa Sumbar terjadi, aku sedang berada di dalam rumah, pekanbaru. waktu itu pekanbaru sedang melakukan pemadaman listrik. gempa dari Pariaman itu terasa cukup kuat. seperti berayun – ayun layaknya sedang berada di dalam kapal. setelah gempa dipastikan berhenti, aku langsung menghubungi keluarga di padang. ayah, ibu dan ketiga adik – adikku.
telponku tak tersambung. setiap ditelpon selalu terdengar nada sibuk. perasaanku mulai kacau. biasanya sinyal hanya beberapa menit tak berfungsi jika siap gempa (berdasarkan pengalaman gempaku dipadang) tapi kali ini beberapa jam. aku bertambah cemas. pikiranku mulai berkecamuk. aku jadi mikiran yang nggak2. jadi mikir, jangan2 kota padang tenggelam karena ada tsunami, jangan2 kota udah rata dengan tanah, keluargaku… ?
pas lewat tengah malam, aku coba untuk menelpon ke telpon rumah. tersambung ! tapi tak ada yang mengangkat. 1 kali… 2 kali sampai berkali2 tetap tak ada yang mengangkat. aku sudah bertambah cemas dan kacau.
aku mulai menangis sendirian di dalam kamar. membayangkan nasib keluarga dan saudara2ku di padang.
besok paginya aku pergi kuliah. nah disana baru bisa aku nelpon dan tersambung dengan keluarga dipadang. ternyata mereka tidur di mesjid tak jauh dari rumah tadi malam. tapi ibuku bilang sepupuku yang memiliki toko di Sentral Pasar Raya masih terjebak dalam gedung bertingkat itu dan kabarnya belum diketahui. aku langsung menutup telpon dengan segera. tiba2 badanku menggigil, tanganku gemetaran. aku kesulitan mengatur napas. mataku terasa panas. air mata pun mengalir. aku berdiri tertunduk ditopang tiang beranda di depan kelas. disampingku, teman2 laki2 sedang asyik bersenda gurau begitu juga dengan teman2 perempuan yang asyik tertawa dan berkelakar di dalam kelas.
dosen pun masuk. aku mencoba untuk tenang dan duduk di dalam kelas. entah trauma akan gempa entah karena shock mendengar kabar mengenai sepupuku yang pasti susah payah aku mencoba untuk tenang.
pelajar kali itu psikologi umum. aku sama sekali tidak membuka buku. satu pun. di atas mejaku hanya ada tas sandang warna hitam dari kulit yang kupeluk erat. mungkin pandanganku kosong. aku sedang memikirkan nasib orang2 dipadang dengan begitu seriusnya. sempat terpikir untuk permisi pulang saja tapi tak kunjung kulakukan karena aku tak sanggup berdiri bahkan berbicara. anehnya dosen psikologiku tak menyadari kondiri psikologiku saat itu, apalagi aku duduk di bangku depan. tapi syukurlah tak ada yang memperhatikanku. karena mereka semua tidak punya ayah, ibu dan adik2 yang berada dipadang. wong orang padang cuma aku seorang.
tiga hari setelah gempa aku sudah bisa berkomunikasi dengan lancar dengan keluargaku di padang. aku mendapatkan banyak informasi dari mereka. ibuku bilang sepupuku sudah pulang dalam keadaan hidup, sehat wal’afiat. dia ternyata hanya terperangkap 5 menit di Sentral Pasar Raya (SPR) yang kini telah rata dengan tanah. syukurlah. dan aku juga sudah bisa menghubungi semua teman2 dekatku di padang. alhamdulilah mereka masih hidup dan sedang dalam keadaan yang baik2 saja.
sempat ibuku bercerita lewat telpon, orang2 di padang sedang kesulitan air bersih. banyak yang melakukan aktivitas bersih2 di bandar kali yaitu sebuah sungai besar tak jauh dari rumah dan juga tak jauh dari kantor gubernur padang. ada juga yang ngebocorin pipa air buat nampung air. bapakku sampai bersedia boker di kali hahaha. ya mau tak mau harus mau. persediaan air di bak penampungan di rumahku sudah tinggal sedikit. tapi setelah itu ibuku bilang, “Ingat tidak ? rumah kecil yang kita bangun di sekitar jalan bay pass ? rumah yang dibelakangnya dipenuhi hamparan sawah nan hijau. rumah itu ndak rusak sama sekali jee. rumahnya dikontrak ama orang. pagar rumahnya dari kayu yang dijalari tumbuhan, hijau. dihalamannya tumbuh pohon mangga dan alpukat. semua warga di sekitar situ ngambil air bersih dirumah kita itu. soalnya cuma sumur dirumah kita yang masih berfungsi. airnya sangat jernih. ibu bersyukur sekali Allah s.w.t masih memberikan nikmat yang tak terhingga pada keluarga kita dalam keadaan sulit seperti ini. apalagi nikmat itu bisa dinikmati oleh orang2 banyak yang membutuhkan.”
pipiku langsung basah dengan air mata mendengar ibuku menceritakan mengenai hal tersebut. aku benar2 bersyukur semua anggota keluarga berserta orang2 terdekatku sekarang dalam keadaan yang aman. Tuhan melindungi mereka. ingin sekali aku pulang ke padang. jika kupulang, ingin kupeluk satu – persatu semuanya.
ingin sekali kupeluk mereka.
sampai saat ini aku tak bisa menahan air mata dalam sholat. Allahu akbar ! Allahu akbar ! Allahu akbar !










Oktober 5, 2009 at 4:42 am
sabar ya jee.. nanti ada waktunya untuk pulang
sekarang titipkan ayah, ibu dan semuanya pada ALlah Yang Maha Menjaga..
Oktober 5, 2009 at 10:00 pm
di Padang AMAN…..
do’akan saja sekeluarga sehat selalu
dan dilindungi ALLAH swt
Oktober 6, 2009 at 5:00 am
semoga ketabahan tertancap didada
Oktober 6, 2009 at 7:26 pm
sama dengan yang bundo bilang, jee. tetap sabar dan ikhlas atas semuanya. ada DIA yg selalu Menjaga…
Oktober 15, 2009 at 7:48 pm
sllu tetep sbar,,mnghdapi smua cbaan,,mnkn diblik smua ini ad hikma,,,
smoga orng yg ad dipdang sllu tetep disisi N dilindungi oleh ALLAH,SWT..
AMIENN….