hujan mengukir senja (saat wajah kita kering air mata)

jingga larut dan hanyut dalam pelukan kelabu
di beranda
ada yang basah selain pekarangan dan dedaunan
wajahwajah dalam koran

sapu bersih saja mimpi mimpi yangg membusuk
yang serupa lumpur
memenuhi rongga mata dan telinga
mengubur kita hiduphidup dalam anganangan
sementara mereka bergelaktawa sambil memanggang daging diatas uang yang terbakar

ada yang mengering di beranda, bekas air mata bunuh diri. engkau dan aku saling menghanyutkan puisi dalam kolam yang bocor di samping beranda yang kotor. hujan tak lagi menjadi tukang bersihbersih luka. duka yang mengering di beranda kita. kolam kita bocor, puisi kita lepas, kita tak mendapatkan apa-apa. ada yang basah selain pekarangan dan dedaunan. air mata bunuh diri, di wajah kita.

 

 

bersama ekohm, di beranda maya 231211

Protected: the stranger

This post is password protected. To view it please enter your password below:

Aku cukup membatin saja, sendiri.

Aku baru saja menyeduh teh saat kau mengatakan,  “Sudah, cukup!” lalu engkau mematikan pembicaraan yang terasa semakin basi ini. Asap masih menguar di atas cangkir teh. Perlahan aku menyesapi rasanya lalu menelannya secepat mungkin. Rasanya sedang menelan air mataku sendiri. Teh ini terasa getir. Tidak semanis biasanya. Hanya getir seperti air mata. Air mataku yang jatuh ke dalam dada.

Kuperhatikan telepon genggam yang sudah terdiam dan dingin tak jauh dari cangkir teh. Tidak lagi bergetar dan berbunyi. Engkau telah menyepi sendiri entah di mana.

Sebenarnya, aku ingin bercerita lebih lama denganmu. Lebih panjang dan lama. Aku ingin engkau menanggapi ceritaku sebagai sesama teman. Tak terkait dengan teori-teori psikologi. Tak terkait dengan sastra. Tak terkait dengan berbagai macam paham-paham idealisme yang kau anut. aku hanya merindukan percakapan mendalam sebagai sesama teman. Sebagai sahabat biasa. Bukan sebagai mahasiswa psikologi.

Kepalaku sudah cukup padu, terus dipadatkan oleh segala kode etik dan teori beserta prinsip-prinsipnya. Aku bisa menerima jika engkau berbicara tentang agama tapi membawa-bawa prinsip dan displin sebagai seorang calon psikolog, bagiku itu sudah membuatku eneq. Lama-lama terasa, seolah itu semua menjadi sangat klise.

Aku hanya ingin curhat padamu sebagai seorang teman yang sedang rapuh. Dan masih labil seperti yang engkau vonis itu. Tapi kau hanya memberi jawaban teoristis dan begitu ilmiah. Memberi jawaban yang tak ada kaitannya dengan apa yang aku rasakan. Justru jawaban itu menimbulkan beban.

Sampai sekarang, jawaban itu sangatlah membeban dan membatin.

Cangkir tehku, telah kosong. Air mataku terasa telah mengering, di dada. Selain engkau, aku tak ingin berbagi cerita dengan yang lain. Jadi kali ini aku yang akan berkata, “Cukup, sudah.” Pada percakapan kita berikutnya. Yang semakin berteori, semakin berprinsip, semakin padat dan sesak.

Aku cukup membatin saja, sendiri. seperti tak punya teman. selain Tuhan.

Wewarna Sunyi

.

Ekohm,

kini yang kutahu, kesunyian itu lebih nyata ketimbang kematian. mencekam dan berjelaga. seolah sebuah titik yang menyendiri di akhir ending cerita kosong yang teramat panjang, teramat melelahkan sekaligus melenakan. kesunyian itu, sebenar-benar lebih nyata ketimbang kematian, tak ada malaikat yang akan datang meminta rohnya. hanya detak detik pada jam dinding, dan gigil yang melambangkan kepiluan seperti tak berkesudahan. tapi apakah kesunyian itu bagian dari kepiluan? yang kutahu, hari ini, bertambahlah kesunyian yang kau punyai. yang kupeliharai. yang kita raba bersama.

Janganlah takut

Engkau yang sedang ditakutkan oleh kemungkinan buruk, dengarlah ini …
Sesungguhnya rasa takutmu itu adalah sisa-sisa sistem perlindungan masa bayimu, agar engkau tak menyentuh yang akan membakar dan melukaimu, tak memakan yang tajam dan meracunimu, dan agar engkau tak merangkak terlalu jauh dari perlindungan ibumu.
Engkau telah cukup belajar dari rasa takutmu, maka janganlah kau teruskan ketakut…anmu untuk mengerdilkan pertumbuhanmu.
Coba kau jawab tanyaku ini …
Apakah ada dari yang kau takuti itu, yang benar-benar terjadi?
Kira-kira apakah yang sudah kau capai hari ini, jika engkau dulu lebih berani?
Dan satu lagi,
Apakah engkau bangga hidup sebagai penakut, dalam iman kepada Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Melindungi?
Sesungguhnya,
Jika engkau beriman, engkau akan berani.
Tuhan adalah sebaik-baiknya backing bagimu.

[Mario Teguh]