Aku baru saja menyeduh teh saat kau mengatakan, “Sudah, cukup!” lalu engkau mematikan pembicaraan yang terasa semakin basi ini. Asap masih menguar di atas cangkir teh. Perlahan aku menyesapi rasanya lalu menelannya secepat mungkin. Rasanya sedang menelan air mataku sendiri. Teh ini terasa getir. Tidak semanis biasanya. Hanya getir seperti air mata. Air mataku yang jatuh ke dalam dada.
Kuperhatikan telepon genggam yang sudah terdiam dan dingin tak jauh dari cangkir teh. Tidak lagi bergetar dan berbunyi. Engkau telah menyepi sendiri entah di mana.
Sebenarnya, aku ingin bercerita lebih lama denganmu. Lebih panjang dan lama. Aku ingin engkau menanggapi ceritaku sebagai sesama teman. Tak terkait dengan teori-teori psikologi. Tak terkait dengan sastra. Tak terkait dengan berbagai macam paham-paham idealisme yang kau anut. aku hanya merindukan percakapan mendalam sebagai sesama teman. Sebagai sahabat biasa. Bukan sebagai mahasiswa psikologi.
Kepalaku sudah cukup padu, terus dipadatkan oleh segala kode etik dan teori beserta prinsip-prinsipnya. Aku bisa menerima jika engkau berbicara tentang agama tapi membawa-bawa prinsip dan displin sebagai seorang calon psikolog, bagiku itu sudah membuatku eneq. Lama-lama terasa, seolah itu semua menjadi sangat klise.
Aku hanya ingin curhat padamu sebagai seorang teman yang sedang rapuh. Dan masih labil seperti yang engkau vonis itu. Tapi kau hanya memberi jawaban teoristis dan begitu ilmiah. Memberi jawaban yang tak ada kaitannya dengan apa yang aku rasakan. Justru jawaban itu menimbulkan beban.
Sampai sekarang, jawaban itu sangatlah membeban dan membatin.
Cangkir tehku, telah kosong. Air mataku terasa telah mengering, di dada. Selain engkau, aku tak ingin berbagi cerita dengan yang lain. Jadi kali ini aku yang akan berkata, “Cukup, sudah.” Pada percakapan kita berikutnya. Yang semakin berteori, semakin berprinsip, semakin padat dan sesak.
Aku cukup membatin saja, sendiri. seperti tak punya teman. selain Tuhan.