Matamu adalah jembatan menuju kedalaman mataku

jendela yang begitu banyak bercerita, jendela yang begitu banyak mengetahui rahasia

matamu adalah kedalaman semesta, menyimpan luka dan tawa dalam bersamaan. diam-diam penuh pukau, berkilau dalam kegelapan. matamu adalah pelabuhan tempat segala rupa singgah bertenang, tempat masa bergulir mengalir dengan riang.

Yang menikam adalah rindu setajam hujan

Engkau tak juga tiba, pikirku. Kita selesai. Kebun mawar yang belum kita siangi, sudah kerontang sama dengan dadaku. Rindu yang sempat menari-nari layaknya derai hujan di atas tanah, kini terasa tajam menelusup ke rongga-rongga jantungku.

Menikam. SAKIT!

Cerpen: Seseorang yang keluar dari perutnya

dari google dan sudah di edit kembali, julie estel

Oleh Jeni Fitriasha

“Bagaimana cara menghapusnya?”

Aku menoleh ke kanan. Seorang wanita setengah baya berdiri sambil menunjuk keningnya sendiri kemudian pelan-pelan ia duduk di sampingku.

“Orang-orang selalu menertawakanku setiap kali mereka membaca tulisan di keningku.”

Aku menengadahkan kepala. Mencoba membaca tulisan apa yang terukir di keningnya.

“Kau bisa membacanya?”

Keningku mengernyit. Tak ada tulisan apa pun di keningnya.

“Bagaimana cara menghapusnya?” kata wanita itu sekali lagi.

“Menghapus apa?”

“Tulisan ini?”

“…”

“Apa kau tidak lihat mereka menertawakanku karena membaca tulisan di keningku?” Wanita itu  menunjuk orang-orang yang ada di sekitarnya.

“Mengapa mereka harus tertawa setelah membaca tulisan di keningmu?” tanyaku sembari memperhatikan seorang bapak sedang berjalan mundur lewat di depan kami.

“Karena tulisan di keningku sangat konyol katanya.”

“Katanya? Kata siapa?”

“Kata mereka!”

“Oh…”

“Bagaimana cara menghapusnya?”

“Menghapusnya?”

“Ya! Menghapus tulisan ini!”

“Siapa yang menuliskannya?”

“Hmm, aku.”

“Kau? Tidak mungkin!” ungkapku tidak percaya.

“Ya, aku yang menulisnya sendiri. Kutulis saat hujan melahap dadaku.”

“Dadamu? Ada apa dengan dadamu?” tanyaku sambil melihat dadanya.

“Kau tidak lihat? Dadaku hilang. Mereka mengambilnya saat hujan tiba.”

Kuperhatikan dadanya itu. Ada untaian kalung dengan liontin giok menggantung dari lehernya yang jenjang.

“Lihat!” Kata perempuan itu sambil menunjuk perutnya.

“Dulu mereka sempat menyembunyikan seseorang di dalam perutku.”

“Menyembunyikan seseorang di dalam perutmu?”

“Ya! Lalu mereka memaksaku untuk mengeluarkan orang itu. Kau tahu bagaimana cara mengeluarkan orang itu dari dalam perutku?”

“Tidak.”

“Dengan menulis sesuatu di keningku ini. Mereka bilang itu mantra. Mantra untuk mengeluarkan orang yang mereka sembunyikan di dalam perutku.”

“Waw!” ungkapku terkejut sambil melihat kening perempuan itu.

“Mereka bilang karena tulisan di keningku ini membuat mereka harus masuk penjara.”

“Penjara?”

“Ya, penjara. Mereka akan mati membusuk di sana.”

“Apa yang mereka lakukan di penjara?”

“Hmm, tidak tahu. Mungkin mereka sedang memakan lidah.”

“Lidah? Lidah apa?”

“Lidah mereka sendiri. Mungkin juga mereka sedang menyikat kemaluannya sampai bersih.”

“Ada apa dengan kemaluan mereka?”

“Kau tidak tahu? Mereka  menggunakan kemaluannya untuk membuka pintu.”

“Membuka pintu?”

“Ya, pintu.”

“Bodoh!”

“Bukan. Mereka tidak bodoh. Mereka cuma bajingan.”

“Bajingan?” tanyaku sambil mengubah posisi duduk.

“Iya, bajingan. Mereka suka berkumpul lalu menggelar sebuah ritual sampai mabuk. Jika sudah mabuk mereka akan berpencar ke jalan-jalan di tengah malam dan memburu dada-dada untuk mereka curi.”

“Dada? Dada apa?”

“Perempuan.”

“Hey, bagaimana cara menghapusnya?” lagi-lagi kau menunjuk keningmu sendiri.

“…”

“Mengapa diam? Bagaimana cara menghapusnya?”

“Kau harus minum obat,” kataku sambil membuka sebotol obat.

“Tidak mau. Aku benci obat. Tiap kuminum, aku pusing. Buang saja. Atau kauminum sendiri saja.”

“Tidak bisa. Obat ini untukmu. Kalau kau tidak meminumnya, tulisan di keningmu tidak akan hilang.”

“Benarkah?”

“Apa kau mereka?”

“Tidak.”

“Lalu kau siapa? Dokter?”

“Bukan.”

“Ayah?”

“Aku dadamu.”

“Dadaku?”

“Ya. Dadamu yang hilang. Ayo minum obatmu!”

“Tunggu. Kau dadaku? Bagaimana bisa?”

“Setelah kau minum obat, tulisan di keningmu akan kuhapus.”

“Benarkah? Apa kau bisa?”

“Tentu bisa.”

“Bagaimana cara menghapusnya?”

“Kau harus minum obat dulu.”

“Baiklah,” katamu sambil mengambil beberapa tablet obat di telapak tanganku. Lalu meminumnya dengan meneguk segelas air yang sudah dari tadi kupegang.

“Sekarang tulisan di keningmu sudah kuhapus.”

“Sudah hilang?” tanyamu sambil mengusap keningmu.

“Sudah.”

“Wah, kau hebat!”

“Tentu.”

“Lalu apa benar kau dadaku?”

“Ya, benar.”

“Kau bohong!”

“Baiklah, biar aku mengaku. Ini sudah puluhan kali aku harus kembali menjelaskannya, Bu.”

“Bu?”

“Ya, aku seseorang yang keluar dari dalam perutmu itu.”

Perempuan itu langsung mengusap perutnya. seolah sedang mengingat-ingat.

“Hmm, benarkah?”

“Ya.”

“Ow… Aku tahu.”

“Baguslah. Ayo, sekarang kau harus ikut terapi. Dokter sudah lama menunggumu di ruangannya.”

“Tunggu.”

“Ada apalagi?”

“Aku baru ingat apa yang mereka tulis di keningku.”

“Mereka? Bukankah kau yang menuliskannya sendiri?”

“Tidak. Aku menulisnya karena mereka yang memaksa.”

“Oh. Jadi apa yang mereka tulis?”

“…”

*

Pekanbaru, 050710

*masuk dalam buku antologi puisi dan cerpen sekolah menulis paragraf 2012*

-versi revisi akhir-

masa depan, siapa yang tahu?

dalam hidup ini, segalanya mengikuti proses. barangkali memang kita harus jatuh berkali-kali, dan terluka berkali-kali agar kita bisa berjalan dengan lurus dan ke depan. barangkali memang harus ada perlawanan agar kita mengerti arti dari kebebasan. Tuhan tidak sedang bermain dadu, dan memang tak ada yang kebetulan di dunia ini. segalanya, ya…. segalanya sudah Ia atur dengan sangat detail dan rapi. setiap jalan punya tempat yang memang harusnya ke sanalah tujuan kita. apakah itu kita ingin berbelok untuk mengelabuinya, atau kita mundur dan menghilang di perempatan jalan, segalanya… sampai yang terkecil pun sudah Ia atur dengan detailnya.

tapi hidup ini juga seperti labirin, yang sering membuat kita tersesat dan diam. menemukan beberapa jalan buntu yang sebenarnya juga sudah Ia atur. yang pasti, setiap pilihan yang kita ingin kan, sudah memiliki takdirnya masing-masing. segalanya dapat hidup di dalam mata kita. segalanya dapat saja terjadi tanpa kita duga-duga dan memang kita tak pernah bisa menduga-duga kehendakNya.

masa depan, siapa yang tahu?

…tapi Pasar malam yang penuh hiruk piruk berbagai macam manusia.

Barangkali engkau selamanya tak akan pernah mengerti aku. Mungkin selamanya engkau tak akan pernah tahu siapa aku. Aku, orang yang bertahun-tahun di sekitarmu mungkin hanyalah debu. Yang menempel dan kotor. Mungkin hanyalah seekor kucing yang selalu minta makan dan berak di rumahmu. Barangkali aku, hanyalah dedaun yang berguguran di halaman rumahmu. Barangkali engkau hanya cukup menyapuku saja, membakarku sebagai penyubur tanahmu. Setelah itu, tiada.

Dik,

engkau harus belajar untuk bertanggungjawab terhadap kata-katamu. Suatu hari, engkau tak akan bisa menarik dan melahap kembali segala sesuatu yang telah engkau muntahkan mentah-mentah. Suatu hari engkau akan melihat segalanya tidak lebih baik dari apa yang telah engkau lakukan. Hiduplah dengan kesadaran yang tinggi. Hiduplah dengan kesadaran yang tinggi, Dik.

Karena dunia ini bukanlah taman kanak-kanak.

L U P A.

berada dalam jarak yang jauh dari kumpulanmu, kamu akan merasa buta dan tuli. mulutmu tak akan lagi berkata hal-hal yang engkau pahami, yang seperti biasa engkau bicarakan dengan kumpulanmu. segala yang kamu lihat menjadi bukan dirimu. kamu akan mudah kehilangan identitas. memiliki pilihan antara mengikuti aliran arus atau diam dan mundur. mereka yang tak pernah merasakan ini, akan menganggap sepele bebanmu. mereka hanya tahu, kamu berada dikejauhan. dan kamu akan terus hidup dan bernapas begitu saja. suatu saat mereka hanya akan bertanya, apa kabar.  suatu saat mereka hanya akan menjawab, aku baik-baik saja dan sehat di sini. lalu suatu saat mereka tidak akan menanyaimu lagi. tidak akan menjawab apa-apa darimu lagi. kamu pun hanya bisa menunggu, diam menunggu. lalu lupa. L U P A.

siapa yang bisa memilih teman? tidak ada. karena teman itu tidak bisa dipilih. tapi ia akan datang sendiri, menyambutmu dengan apa adanya. berani tertawa dan menangis bersamamu. mau membagi hal yang baik untukmu. dan melindungimu dari segala yang buruk.

kamu pun akan demikian kan? teman?

Sesuatu yang lebih hitam daripada malam…

barangkali kita bisa membicarakan malam atau sesuatu yang lebih hitam daripada ia? seperti kesunyian yang sering meraba-raba dinding hati. di tengah kuyup hujan ini, kita mengemas gigil sendiri sendiri. di diam ini.

senja tadi kita telah beku, dan malam ini kita semakin beku. di ruang ini rasanya hanya ada engkau yang sibuk memetakan sepi, mencari jalannya mencari rumahnya. dan sepi kian menjadi negara besar, yang merdeka di dalam diri.

ah!

barangkali kita bisa membicarakan subuh, atau sesuatu yang lebih putih daripada ia? seperti senyummu yang kian detik semakin tampak samar dan putih. seperti matamu yang cerlang dan perlahan hampa…

Kota yang seperti hatimu

kembali ke kota itu, hanya untuk menemui gerimis, jalanan sepi, dan rumah-rumah tua. selebihnya hanya kekosongan yang ramai. seperti hatimu.

kembali ke kota itu, hanya untuk menemui gerimis, jalanan sepi, dan rumah-rumah tua. selebihnya hanya kekosongan yang ramai. seperti hatimu.

Protected: kecewa

This post is password protected. To view it please enter your password below: