Oleh Jeni Fitriasha
“Bagaimana cara menghapusnya?”
Aku menoleh ke kanan. Seorang wanita setengah baya berdiri sambil menunjuk keningnya sendiri kemudian pelan-pelan ia duduk di sampingku.
“Orang-orang selalu menertawakanku setiap kali mereka membaca tulisan di keningku.”
Aku menengadahkan kepala. Mencoba membaca tulisan apa yang terukir di keningnya.
“Kau bisa membacanya?”
Keningku mengernyit. Tak ada tulisan apa pun di keningnya.
“Bagaimana cara menghapusnya?” kata wanita itu sekali lagi.
“Menghapus apa?”
“Tulisan ini?”
“…”
“Apa kau tidak lihat mereka menertawakanku karena membaca tulisan di keningku?” Wanita itu menunjuk orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Mengapa mereka harus tertawa setelah membaca tulisan di keningmu?” tanyaku sembari memperhatikan seorang bapak sedang berjalan mundur lewat di depan kami.
“Karena tulisan di keningku sangat konyol katanya.”
“Katanya? Kata siapa?”
“Kata mereka!”
“Oh…”
“Bagaimana cara menghapusnya?”
“Menghapusnya?”
“Ya! Menghapus tulisan ini!”
“Siapa yang menuliskannya?”
“Hmm, aku.”
“Kau? Tidak mungkin!” ungkapku tidak percaya.
“Ya, aku yang menulisnya sendiri. Kutulis saat hujan melahap dadaku.”
“Dadamu? Ada apa dengan dadamu?” tanyaku sambil melihat dadanya.
“Kau tidak lihat? Dadaku hilang. Mereka mengambilnya saat hujan tiba.”
Kuperhatikan dadanya itu. Ada untaian kalung dengan liontin giok menggantung dari lehernya yang jenjang.
“Lihat!” Kata perempuan itu sambil menunjuk perutnya.
“Dulu mereka sempat menyembunyikan seseorang di dalam perutku.”
“Menyembunyikan seseorang di dalam perutmu?”
“Ya! Lalu mereka memaksaku untuk mengeluarkan orang itu. Kau tahu bagaimana cara mengeluarkan orang itu dari dalam perutku?”
“Tidak.”
“Dengan menulis sesuatu di keningku ini. Mereka bilang itu mantra. Mantra untuk mengeluarkan orang yang mereka sembunyikan di dalam perutku.”
“Waw!” ungkapku terkejut sambil melihat kening perempuan itu.
“Mereka bilang karena tulisan di keningku ini membuat mereka harus masuk penjara.”
“Penjara?”
“Ya, penjara. Mereka akan mati membusuk di sana.”
“Apa yang mereka lakukan di penjara?”
“Hmm, tidak tahu. Mungkin mereka sedang memakan lidah.”
“Lidah? Lidah apa?”
“Lidah mereka sendiri. Mungkin juga mereka sedang menyikat kemaluannya sampai bersih.”
“Ada apa dengan kemaluan mereka?”
“Kau tidak tahu? Mereka menggunakan kemaluannya untuk membuka pintu.”
“Membuka pintu?”
“Ya, pintu.”
“Bodoh!”
“Bukan. Mereka tidak bodoh. Mereka cuma bajingan.”
“Bajingan?” tanyaku sambil mengubah posisi duduk.
“Iya, bajingan. Mereka suka berkumpul lalu menggelar sebuah ritual sampai mabuk. Jika sudah mabuk mereka akan berpencar ke jalan-jalan di tengah malam dan memburu dada-dada untuk mereka curi.”
“Dada? Dada apa?”
“Perempuan.”
“Hey, bagaimana cara menghapusnya?” lagi-lagi kau menunjuk keningmu sendiri.
“…”
“Mengapa diam? Bagaimana cara menghapusnya?”
“Kau harus minum obat,” kataku sambil membuka sebotol obat.
“Tidak mau. Aku benci obat. Tiap kuminum, aku pusing. Buang saja. Atau kauminum sendiri saja.”
“Tidak bisa. Obat ini untukmu. Kalau kau tidak meminumnya, tulisan di keningmu tidak akan hilang.”
“Benarkah?”
“Apa kau mereka?”
“Tidak.”
“Lalu kau siapa? Dokter?”
“Bukan.”
“Ayah?”
“Aku dadamu.”
“Dadaku?”
“Ya. Dadamu yang hilang. Ayo minum obatmu!”
“Tunggu. Kau dadaku? Bagaimana bisa?”
“Setelah kau minum obat, tulisan di keningmu akan kuhapus.”
“Benarkah? Apa kau bisa?”
“Tentu bisa.”
“Bagaimana cara menghapusnya?”
“Kau harus minum obat dulu.”
“Baiklah,” katamu sambil mengambil beberapa tablet obat di telapak tanganku. Lalu meminumnya dengan meneguk segelas air yang sudah dari tadi kupegang.
“Sekarang tulisan di keningmu sudah kuhapus.”
“Sudah hilang?” tanyamu sambil mengusap keningmu.
“Sudah.”
“Wah, kau hebat!”
“Tentu.”
“Lalu apa benar kau dadaku?”
“Ya, benar.”
“Kau bohong!”
“Baiklah, biar aku mengaku. Ini sudah puluhan kali aku harus kembali menjelaskannya, Bu.”
“Bu?”
“Ya, aku seseorang yang keluar dari dalam perutmu itu.”
Perempuan itu langsung mengusap perutnya. seolah sedang mengingat-ingat.
“Hmm, benarkah?”
“Ya.”
“Ow… Aku tahu.”
“Baguslah. Ayo, sekarang kau harus ikut terapi. Dokter sudah lama menunggumu di ruangannya.”
“Tunggu.”
“Ada apalagi?”
“Aku baru ingat apa yang mereka tulis di keningku.”
“Mereka? Bukankah kau yang menuliskannya sendiri?”
“Tidak. Aku menulisnya karena mereka yang memaksa.”
“Oh. Jadi apa yang mereka tulis?”
“…”
*
Pekanbaru, 050710
*masuk dalam buku antologi puisi dan cerpen sekolah menulis paragraf 2012*
-versi revisi akhir-
