Yang menikam adalah rindu setajam hujan

Engkau tak juga tiba, pikirku. Kita selesai. Kebun mawar yang belum kita siangi, sudah kerontang sama dengan dadaku. Rindu yang sempat menari-nari layaknya derai hujan di atas tanah, kini terasa tajam menelusup ke rongga-rongga jantungku.

Menikam. SAKIT!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s