Engkau tak juga tiba, pikirku. Kita selesai. Kebun mawar yang belum kita siangi, sudah kerontang sama dengan dadaku. Rindu yang sempat menari-nari layaknya derai hujan di atas tanah, kini terasa tajam menelusup ke rongga-rongga jantungku.
Menikam. SAKIT!