cerpen : cerita di atas rel kereta api
September 30, 2009

Sore itu cuaca mendung menyelimuti kota, khususnya di sekitar daerah perkampungan miskin yang berada di sepanjang lintasan rel kerata api. Aku, Salwa gadis belia berumur 17 tahun seperti biasa sedang asyik menikmati senja di atas rel kereta api bersama teman – temanku. Kami suka sekali berkumpul sambil duduk – duduk di atas bantalan rel kereta sembari bercerita mengenai kegiatan masing – masing setiap hari.
Temanku Ruminah yang berprofesi sebagai pengamen jalanan bercerita kalau dia mendapatkan banyak uang hari ini dari satu mobil mewah yang di dalamnya duduk seorang pejabat tinggi negara. Katanya ia sempat berjabatan tangan dengan bapak pejabat tersebut. Dia diberi uang seratus ribu rupiah.
Ruminah sumringah saat ia mengakhiri ceritanya. Karena teman – teman yang lain termasuk aku sulit mempercayai cerita Ruminah maka Ruminah langsung mengaruk uang seratus ribu yang masih mengkilap itu dari dalam saku celana bututnya. Mata kami langsung berbinar – binar melihat selembar uang seratus ribu yang masih sangat mengkilap dan bau duit itu.
Lain dengan Ruminah, Heru bocah berumur 12 tahun malah harus mendapat kerugian karena uang hasil semir sepatunya direbut oleh preman pasar dengan alasan uang keamanan. Wajah Heru terlihat lelah dan mulutnya cemberut karena kesal dengan ulah preman – preman pasar yang suka sekali mengganggunya. Heru mengaku hampir setiap hari preman – preman itu meminta uang padanya. Yang rtambah parahnya lagi, jika kebetulan Heru tidak mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya sebagai tukang semir sepatu, para preman itu kerap suka menyakiti dirinya. Aku sering sekali memergoki Heru pulang dengan babak belur sampai – sampai cara berjalanannya menjadi aneh. Heru bilang kalau bokongnya sakit karena para preman itu suka sekali menyakiti bokongnya. Kupikir Heru tidak tau bahwa preman – preman pasar itu telah melakukan pelecehan seksual padanya. Heru disodomi.
Matahari terus berangsur – angsur meredup tapi kami masih asyik berkumpul menikmati senja di atas bantalan rel kereta api. Fauziah gadis berumur 14 tahun yang sudah terlihat lebih dewasa dari umurnya itu menuturkan kalau tadi malam ia mendapatkan uang lima ratus ribu dari seorang om – om yang mengajaknya berjalan – jalan keliling kota berdua. Kata Fauziah, ia pergi jalan – jalan dengan menaiki mobil sedan mahal dan mewah yang di dalamnya sangat dingin. Fauziah sangat senang karena ia bisa duduk di atas bangku empuk mobil mewah itu. Ia juga bisa mendengarkan musik – musik kesukaannya dari banyak penyanyi pujaannya.
Kata Fauziah, setelah ia diajak jalan – jalan keliling kota dia diajak beristirahat di sebuah hotel bintang lima. Di sana ia dan si om itu tidur di atas satu ranjang. Tapi sayangnya Fauziah tidak ingin menceritakan kelanjutannya. Ya, itu memang kebiasaan Fauziah tiap kali ia bercerita. Jika ceritanya sudah sampai ke hal – hal mengenai hotel dan tidur bersama pasti Fauziah langsung mengalihkannya ke cerita yang lain. Ke cerita yang sama sekali tidak penting.
Ah, hari sudah mulai gelap. Banyak sekali burung – burung berkeliaran di langit. Kami langsung masuk ke dalam rumah masing – masing. Rumah kami ada yang terbuat dari kardus ada juga yang terbuat dari bekas atap seng. Kalau hujan rumah – rumah di sini sering bocor bahkan ada yang hancur karena tidak mampu menahan debit air yang menghujam dari langit.
Aku tinggal dengan ibu dan adikku yang masih bayi. Ayahku sudah tiga tahun meninggal dunia. Orang – orang sering bertanya padaku, bayi siapa yang ibu besarkan ? Aku hanya bisa menjawab tidak tahu karena setiap kali aku tanya bayi siapa itu, ibu selalu bilang tidak tau. Tapi aku yakin itu bayi yang dilahirkan ibu empat bulan yang lalu. Aku ingat sekali, demi kelahiran bayi itu ibu rela mencuri di pasar. Ibu juga memaksaku lebih giat mengamen dan menjual koran di jalanan. Semua itu ibu lakukan untuk menebus biaya persalinan di rumah sakit.
Orang – orang bilang bayi yang ibu kandung adalah anak haram. Mereka memberi pengertian padaku bahwa yang disebut anak haram itu adalah anak yang tidak sah. Hmm… tetap saja aku tak mengerti apa maksud mereka tapi yang jelas aku senang akhirnya aku punya seorang adik. Jadi aku tidak kesepian lagi. Ibu juga senang karena dengan begitu uang yang akan di dapat akan semakin banyak. Ibu suka sekali membawa adik sambil digendong ke lampu merah yang ada di bawah jembatan layang. Ibu menggendongnya sambil mendatangi satu persatu mobil. Ada yang dengan suka rela memberinya uang dan ada juga yang dengan kejam mengusirnya.
Malam ini kami tidak makan karena kami tidak mencari uang hari ini. Ibu bilang dia kurang sehat karena selalu memikirkanku. Jadi ia tidak sanggup mencari uang. Adik bayi ia biarkan merangkak kesana kemari sedang ibu duduk di sudut ruangan yang sangat kecil ini. Aku hanya diam menikmati kepiluan ini.
Malam pun menjemput pagi. Ibu dan adik bayi sudah pergi mencari uang. Aku pun tidak ingin tinggal diam dan bermalas – malasan. Tapi saat aku tiba di luar aku tak mendapati satu orang pun di wilayah ini. Daerah sepanjang rel sepi dan sunyi sampai – sampai aku bisa mendengar desau angin yang mengendus daun telingaku.
Gerimis mulai turun satu persatu. Dari kejauhan aku melihat orang – orang berjalan beriringan menuju tempatku. Sangat ramai. Mereka seperti mengarak sesuatu. Lambat laun suara berisik berjalan merayap mendekatiku. Aku mulai ketakutan. Mereka ada yang merintih. Mereka ada yang menangis. Mereka ada yang berteriak. Mereka ada yang bungkam.
Aku melihat ibu berjalan dengan tenang dan diam. Ia menggendong adik bayi. Tatapannya kosong. Wajahnya pucat. Apa yang mereka arak itu ? apa yang mereka bawa ?
Arak – arakan itu semakin mendekat hingga aku bisa melihat dengan jelas apa yang mereka bawa. Mereka membawa tubuh seorang gadis. Merah menyelimut wajahnya. Rambutnya lusuh dan kotor. Kulihat tubuh itu sama sekali tak bergerak. Mungkin dia sedang tidur.
Akhirnya arak – arakan itu berhenti di depan rumahku yang terbuat dari bekas atap seng. Gerimis mulai mengamuk. Ia hembuskan angin sekencang – kencangnya hingga daun – daun kering serta sampah – sampah plastik dan kertas berterbangan di mana – mana. Dari kejauhan aku melihat kereta listrik akan melaju lewat di depan rumahku. Bunyinya sangat bising. Sudah membuat gaduh juga membuat porak – poranda rumah – rumah karena getarannya yang cukup kuat. Aku sering melihat orang mati karena ditabrak oleh benda panjang yang terbuat dari besi dan baja itu. Teman – temanku jadi memiliki banyak cerita tentang hantu rel kereta api. Cukup menyeramkan.
Kurasa gadis yang dibawa orang – orang itu adalah korban tabrakan kereta api tadi malam atau tadi pagi. Sayang, aku melewatkan kejadian itu.
Letih berdiri aku pun duduk di atas rel kereta api. Walau angin cukup kencang menerpa dan gerimis terasa seperti menyayat – nyayat kulitku aku tidak peduli.
Kerumunan orang – orang itu mulai berkurang satu persatu hingga tinggal ibu dan para tetangga beserta teman – temanku. Aku berjalan menghampiri mereka. Namun tiba – tiba aku kaget karena ibu tiba – tiba jatuh terduduk sambil menangis meratapi tubuh gadis itu.
Dengan suara serak ibu seketika berteriak memanggil namaku.
“Salwaaaa…. !!!”
Lalu ibu menjerit histeris sambil memukul – mukul dada gadis yang sedang terkulai beku itu.
Aku tersentak sekaligus terhenyak dan heran. Ada apa dengan ibu ? Lalu pelan – pelan aku mencoba melihat wajah gadis yang ibu ratapi itu. Merah darah menutupi wajahnya hingga seperti bertopeng. Tapi pelan – pelan juga aku mulai merasakan kalau raut wajah gadis itu mirip sekali denganku. Hidungnya, mulutnya, lekuk matanya, bentuk mukanya serta panjang rambutnya sangat mirip denganku. Lalu, baju yang ia kenakan sama dengan baju yang sedang aku pakai.
“Salwaaaaa…. jangan tinggalkan ibu nak !!!” jerit ibu sekali lagi.
Aku bingung. Aku tidak mengerti dengan keadaanku. Apa yang terjadi dengan ibu ? apa yang sedang terjadi ? Terus terang, aku merasa baik – baik saja. Bahkan perasaanku lebih tenang dari sebelum – sebelumnya.
Gerimis yang mengamuk itu tiba – tiba menjadi tenang namun ia mengundang hujan turun dengan cepat menyergap dari ujung jalan sana hingga kemari. Teman – temanku yang sedang berdiri di depan rumahku tadi langsung berlari melewatiku.
Sambil berlari Fauziah berkata, “makanya, kalau jalan di atas rel itu harus hati – hati kalau nggak, bisa mati kayak Salwa itu.”
Hujan yang turun deras dengan cepat mulai menenggelamkan wilayah di sepanjang rel kereta api. Ibu berjalan dengan gontai meninggalkan gubuk tempat kami biasa berlindung dan tidur sambil menggendong adik bayi yang terus – terusan menangis. Sedang di belakangnya ada beberapa laki – laki yang membawa tandu dari bambu dan karung goni yang di atasnya ada gadis yang ibu tangisi tadi.
Aku tak tau mereka akan kemana tapi yang jelas, hujan hari ini terasa begitu ngilu.
***
sumber gambar : www.google.com
Kopi ini sudah dingin
September 3, 2009
Kau sudah meneguk belasan minuman keras cap kera di kedai bang Mi’un tadi malam. Kini kau duduk diam termenung di bibir ranjang sambil merobek – robek kertas yang kau terima tadi siang. Jika kudekati dirimu, kau malah berteriak – teriak tidak jelas. Jadilah kuperhatikan saja polamu. Tingkah lakumu yang semakin hari semakin aneh.
Tetangga sebelah yang bernama Rohimin bilang, kalau kau sedang depresi. Katanya semua tanda – tanda depresi itu ada padamu. Dia bilang kalau kau terus berlarut – larut seperti itu nanti kau bisa menjadi gila.
Aku terus memperhatikanmu dari balik pintu sampai kakiku terasa mati rasa. Aku duduk di depan televisi yang tidak pernah menyala itu. Kugenggam secangkir kopi yang sudah dingin. Kuteguk perlahan – lahan. Kopi yang kubuat tadi pagi sudah terasa asam karena kubiarkan penuh terisi sampai berjam – jam lamanya.
Malam ini kau tak pergi keluar duduk – duduk di kedai bang Mi’un. Terasa aneh bagiku karena duduk – duduk di kedai bang Mi’un sudah menjadi rutinitasmu setiap hari. Adalah jadwal yang wajib kau lakukan. Seperti jadwal minum obat, tiga kali sehari. Tapi malam ini kau tak datang ke kedai bang Mi’un, kau malah asyik duduk – duduk di bibir ranjang, diam termenung sambil merobek – robek kertas yang kau terima tadi siang dari seorang yang berpakaian rapi.
Huf… kopi ini terlalu asam dan kecut di mulutku.
***
Pagi – pagi sekali kau sudah hilang dari pandanganku. Kau tak ada di bibir ranjang. Kau pun tak nampak di kedai bang Mi’un. Para tetangga bilang, pukul 5 subuh kau sudah keluar dari rumah dengan pakaian rapi sambil membawa sebuah map berwarna merah muda.
Keningku langsung mengerut mendengar cerita mereka. Ada yang bilang, kau akan mencari kerja ke kota. Ada juga yang bilang, aku mau jual rumah ini. Oh…. ya ampun…. aku hanya berharap semoga kau baik – baik saja dan pulang dengan selamat.
Kubuka pintu kamar. Kulihat serpihan – serpihan kertas yang kau robek – robek kemaren. Kuambil satu serpihannya. Ada potongan beberapa huruf berjejer di dalam satu serpihan bertuliskan P H K. Aku menyerngit. PHK. Bapak diPHK ? Oh… Ya ampun…
***
Dulu kami punya tiga orang anak. Ketiga – tiganya laki – laki. Tapi empat tahun yang lalu ketiga – tiganya meninggal dalam kecelakaan kapal laut saat mereka hendak mengunjungi kami berdua. Saat mereka memang hendak pulang ke rumah. Rumah selama – lamanya.
Sejak hari itu suamiku jadi sering murung. Tidak bergairah. Semangat hidupnya seakan ikut mati dengan ketiga anak kesayangannya. Ketiga harapan hidupnya. Aku yang lebih parah. Orang – orang bilang aku ini tidak waras setelah ketiga kesatriaku mati. Tapi aku tidak percaya dengan apa yang mereka bilang. Aku yakin, aku masih waras. Aku tidak semudah itu menjadi gila karena kehilangan semua buah hatiku. Aku yakin aku tidak gila.
Tapi bapak sepertinya termakan omongan orang – orang yang bilang aku tidak waras. Sejak kematian ketiga putraku sikapnya terhadapku berubah. Tidak selembut dulu. Dia lebih tidak mau tau denganku. Seakan – akan aku hanya orang – orangan sawah saja.
Hmm…. selagi kau pergi, aku akan membuat kopi. Dan menunggumu pulang.
***
Kau pulang pada malam pukul delapan dengan baju lusuh yang sangat bau. Bau keringat. Para tetangga pasti berbohong lagi padaku saat mereka mengatakan kalau kau pergi dengan memakai baju yang rapi lalu membawa satu buah map berwarna merah jambu. Tapi aku tak melihat kau membawa map itu. Kemana kau buang map itu ?
Kulihat kau langsung berjalan tergopoh – gopoh dari pintu rumah menuju kamar tidur. Lalu aku dengan cepat mengintipmu dari balik celah pintu kamar. Kulihat kau duduk – duduk lagi di bibir ranjang. Diam termenung. Tapi kau tak lagi merobek – robek kertas. Yang kau lakukan hanyalah diam.
Satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam… aduh… kakiku mulai kaku terus – terusan berdiri membungkuk mengintipmu dari celah pintu kamar. Aku berdiri tegap lalu berjalan menuju meja makan. Lalu aku duduk di salah satu kursinya sambil memperhatikan televisi di depannya yang tak pernah menyala. Kemudian kugenggam secangkir kopi yang sudah dingin karena aku membuatnya tadi pagi. Lalu kuteguk perlahan – lahan.
Huf… kopi ini terlalu asam dan kecut di mulutku.
***
Pagi ini aku duduk di depan televisi yang tak pernah menyala itu. Di atas meja ada asap mengepul dari dalam cangkir berisi kopi. Ada dua buah cangkir kopi di atas meja. Satu untukku dan satunya lagi untukmu.
Kuteguk larutan kopi yang ada di dalam cangkirku. Kali ini terasa manis dan pahit sedikit karena baru beberapa menit kubuat. Sungguh hangatnya.
Beberapa menit kemudian aku mendengar suara gaduh dari dalam kamar anak keduaku. Kupikir kau sedang membereskan pakaian – pakaiannya untuk kau jual ke pasar loak. Pikiranku itu mengajakku untuk tetap diam memperhatikan televisi yang tak pernah menyala itu.
Kutatap cangkir kopimu yang masih mengepulkan asapnya. Kapan akan kau minum ?
Tiba – tiba televisi menyala. Anak bungsuku langsung duduk di karpet yang ada di depan televisi. Aku tersenyum memperhatikannya. Di dalam benda kotak bermuatan listrik itu keluar warna – warni ceria. Mengeluarkan suara – suara jenaka. Anak bungsuku sedang menonton film kartun kesayangannya.
Aku mengalihkan pandangan ke atas meja. Ke cangkirmu yang masih penuh berisi larutan kopi. Asap yang mengepul tadi perlahan – lahan semakin halus dan tipis. Perlahan – lahan semakin melenyap. Kapan akan kau minum ?
Prak !!!
Suara benda jatuh itu menarik perhatianku untuk melihatnya. Ternyata sebuah remote yang dapat menukar acara – acara yang ditayangkan oleh si kotak bermuatan listrik itu. Aku melihat anakku yang kedua duduk di samping anak bungsuku. Mereka berebut remote televisi. Mereka saling tidak mau kalah.
Lalu aku tersenyum menyaksikan tingkah kedua anakku itu. Mereka sangat akrab. Kemudian aku mengalihkan perhatian menuju atas meja makan. Menuju cangkir kopimu yang belum juga kau minum. Asap yang mengepul tadi sudah hilang dihisap oleh angin. Kopimu sudah dingin. Kapan akan kau minum ?
Tapi tiba – tiba perhatianku tertuju pada luar jendela rumah. Kulihat anakku yang pertama sedang asyik mencabuti rumput – rumput liar yang suka sekali tumbuh di halaman rumah. Aku berdiri dan berjalan menuju jendela. Kuperhatikan setiap gerak – gerik anak pertamaku. Aku tersenyum dibuatnya. Sungguh anugerah yang tak ternilai yang telah diberikan Tuhan untukku dan kau. Kita diberikan tiga orang anak laki – laki yang gagah dan santun. Kita berdua adalah pasangan suami istri yang paling beruntung di dunia.
Namun sekejap kemudian kulihat kau datang entah darimana berjalan tergesa – gesa masuk menuju pintu rumah. Aku langsung bergegas masuk ke dalam kamar. Lalu aku mengintipmu dari balik celah pintu masuk kamar. Kulihat kau duduk – duduk di bibir ranjang. Kau diam merenung. Tapi ada yang beda dengan pola sikapmu. Kali ini kau memiliki gaya baru. Kau diam sambil manggut – manggut seperti orang yang tiba – tiba paham dengan sesuatu. Seperti orang pintar menemukan sebuah jawaban.
Satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam… ah… kakiku sudah terasa ngilu. Aku berhenti mengintipimu. Lalu aku berjalan menuju meja makan dan duduk di kursinya yang tepat berada di depan televisi yang tak pernah menyala lagi. Kuperhatikan sebuah cangkir berisi larutan kopi yang sudah tidak mengepulkan asap lagi. Cangkir berisi kopi yang kubuatkan untukmu tadi pagi. Cangkir yang sudah terasa dingin.
Kugenggam telinga cangkir itu. Lalu kudekatkan bibir cangkir itu ke bibirku. Larutan kopi yang sudah dingin itu mengalir masuk ke dalam mulutku. Kulumat sampai habis bersama ampas – ampasnya.
Cihhhh !!! terasa kecut sekali. Terasa asam sekali.
***
Entah mengapa pagi ini aku ingin sekali menyalakan televisi yang sudah tidak pernah menyala lagi. Kuletakkan dua buah cangkir berisi larutan kopi panas di atas meja makan yang ada di depan televisi. Kuambil remote lalu kutekan tombol on. Kotak bermuatan listrik itu menyala dan mengeluarkan suara serta gambar.
Dunia dalam berita acara yang kutonton pagi ini. Aku duduk di kursi meja makan sambil pelan – pelan meneguk kopi yang baru saja kubuat. Isi berita pagi ini kebanyakan dipenuhi dengan deretan berita kriminal. Tapi diakhir berita tiba – tiba sipembaca berita baru saja mendapatkan sebuah informasi penting katanya. Dia bilang, kapal yang biasanya membawa penumpang untuk menyeberangi Selat Sunda terbakar di tengah di tengah laut. Lalu diakhir acara mereka menayangkan nama – nama korban meninggal dunia dalam kecelakaan itu.
Kubaca satu – persatu nama – nama malang itu. Cangkir kopi yang kugenggam terlepas ketika aku mengeja tiga nama yang sama persis dengan nama ketiga anak laki – lakiku tercinta. Bibirku langsung bergetar hebat. Telingaku langsung merah padam dan panas. Tapi aku masih mencoba mengeja kembali ketiga nama – nama itu. Mengejanya perlahan – lahan. Satu demi satu nama hingga televisi itu beralih acara.
Dari acara dunia dalam berita ke acara hiburan. Suara bising dari lagu – lagu dangdut mengalun. Di dalam kotak bermuatan listrik itu ada seorang perempuan yang sedang bergoyang riang gembira seakan – akan mengajakku untuk ikut bergoyang dengannya. Tapi tubuhku kaku. Air mataku mengalir tak dapat dibendung. Perlahan – lahan aku berusaha menggerakkan kedua tanganku yang kaku menuju wajahku.
B – a – m –b – a – n – g, A – n – d – i – k – a, R – a – m – l – i …
“Huaaaa………….. !!!” teriakku histeris.
***
Rumahku tiba – tiba ramai sekali. Aku melihat para tetangga berkumpul mengerumuni rumahku. Aduh…. apa – apaan ini ?
Kulihat kau sudah pulang. Pulang lebih awal dari biasanya. Tapi kali ini kau pulang membawa teman – temanmu. Mereka berpakaian putih – putih. Seperti pakaian seorang perawat pria di rumah sakit. Apakah kau sudah mendapatkan pekerjaan menjadi seorang dokter ?
Tapi tiba – tiba aku sadar, kedua tanganku diborgol. Aku diam terhenyak. Apa yang kalian lakukan padaku ? Dengan pelan kau berjalan mendekatiku. Lalu kau berbisik padaku.
“Aku akan cari istri yang lain. Semoga kau cepat sembuh,” katamu kemudian kau sempatkan menjilat daun telingaku. Menjijikkan !!!
Kulihat sorot matamu. Aduh…. mengapa aku tidak pernah sadar bahwa kau sekarang sudah berubah. Kau berubah sejak tiga bulan setelah kematian ketiga anak kita. Kau menjadi gila !!!
“Bawa dia !!!” perintahmu kepada tiga orang laki – laki yang memakai baju putih – putih.
Sialan !!! kau pikir aku gila ? Kau tidak sadar kalau sebenarnya kau juga gila !!! Jangan bawa aku ke rumah sakit jiwa. Aku tidak gila !!!
“Lekas bawa dia !!!”
Ouuuuughhh !!! Kau bukan suamiku !!! kau penjahat yang suka menipu orang – orang. Kau menipu para tetangga dan para perawat ini. Kau menipuku. Kau menculik suamiku. Dimana suamiku yang penyayang ? dimana suamiku tercinta ?
Mulutku… mulutku… tidak bisa bersuara. Tidak bisa mengeja kata – kata. Aku ini kenapa ??? Apa yang kau lakukan padaku selama ini ? Kau yang gila !!!
Aduh…. mereka menyeretku hingga aku masuk ke dalam sebuah mobil. Lalu mereka menutup pintunya rapat – rapat. Kulihat dari jendela yang berjeruji, para tetangga terpana. Senyap di luar sana tercipta. Lalu tiba – tiba kesenyapan itu dihempaskan oleh bunyi cempreng suara mobil yang kutumpangi. Lalu mobil ini bergerak pergi menjauhi rumah dan para tetangga. Lama kelamaan mereka mengecil dari pandanganku. Lama kelamaan mereka lenyap dari pandanganku. Lalu mereka hilang begitu saja…
***
Pagi ini aku bangun dalam keadaan linglung pengaruh obat – obatan yang mereka suntikkan ke dalam tubuhku. Aku tak melihat ada kotak hitam bermuatan listrik di hadapanku. Aku juga tak lagi melihat dua buah cangkir berisi larutan kopi dingin. Aku juga tak melihat kau duduk – duduk di bibir ranjang sambil terdiam merenung.
Hmm…. seharusnya kau ada di sini bersamaku. Menikmati hari – hari berdua dengan anak – anak kita. Kau pasti akan menyesal karena mencampakkanku. Kau pasti akan menyesal seumur hidupmu.
Bukankah kita berdua sama – sama gila setelah kematian ketiga anak kita ? tapi kau tak mau mengakui bahwa kau juga gila. Kau memang penipu. Jika kutau dari dulu sebenarnya kau penipu, mungkin aku tidak akan mau kau sunting.
Huh… tapi mungkin kau tidak tau kalau anak – anak kita sudah tiada. Aku membaca nama mereka tertera di acara televisi yang bernama dunia dalam berita. Aku terus mengeja nama mereka satu persatu.
B – a – m –b – a – n – g, A – n – d – i – k – a, R – a – m – l – i…
***
Padang, Juli 2009
cerpen : MENJADI GILA
April 7, 2009
Oh, ternyata malam kembali lagi. Aku harus menyiapkan api unggun dan beberapa makanan kecil untuk kita cicipi bersama. Sinar rembulan yang berpendar terang kita biarkan saja berusaha menembus pori kulit. Malam ini kita berpesta. Pesta sampai pagi.
Kusiapkan berbotol – botol tequila untuk kita teguk bersama dan tak lupa kupersembahkan lagu – lagu terbaik biar kita bisa menyanyi bersama dan menari bersama.
Ya, kunanti kalian pukul sepuluh malam ini. Datanglah dengan memakai pakaian terbaik kalian. Persembahkanlah senyuman termanis kalian untukku. Kutunggu disini. Di bui. Penjara. Atau tepatnya kamar isolasi. Heh… hehehheehehe.
Apa kau kaget ? Sebenarnya tak ada perayaan yang ingin aku rayakan. Yang jelas saja, aku kan sedang diisolasi. Dijauhi. Diasingkan. Coba tebak kalau aku mengadakan perayaan siapa yang mau datang ? Mbahmu saja ogah datang. Tak ada yang mau datang ke perayaan yang diadakan oleh orang gila seperti aku. Si gila dari kamar isolasi. Gilaku gila berbahaya. Kau mendekat akan kugigit.
Grrrrrr….
*
Apakah kau pernah memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang yang gila ? Apa yang kau pikirkan ketika kau melihat di pinggir jalan ada orang gila sedang berbicara pada tong sampah ? Apakah yang kau pikirkan pada saat kau melihat orang gila menari telanjang di dalam keramaian ? Apakah yang kau pikirkan pada saat kau melihat orang gila jatuh dari atap sebuah gedung ? Ya, apakah yang kau pikirkan saat melihat itu semua. Saat kau melihat orang – orang yang gila ?
Tunggu, jangan tanya apa yang kupikirkan saat aku melihat orang – orang yang gila. Kau tak lupa kan, kalau aku juga salah satu dari mereka. Orang – orang yang gila. Aku tak mau menyebutkan aku gila apa. Kenapa dan bagaimana. Hahahahahaahahahah. Kau tak boleh lupa aku ini gila !!! Wek !
Lalu apakah yang kau pikirkan saat kau melihat orang gila sedang beraksi dengan kegilaannya ? Coba kutebak ! Hehehehehehe. Kau pasti tertawa melihat tingkah mereka ? Iya kan ? Kau suka sekali menertawakan pakaian mereka. Kau suka sekali menunjuk – nunjuk mereka dan mengatakan kepada orang – orang yang belum melihat mereka bahwa ada orang gila di…. disanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Cukup !
Nah, jadi benarkan kau suka menertawakan orang gila yang sedang beraksi. Kau suka sekali sembunyi – sembunyi mengamati mereka. Kadang kau mendekat sekedar ingin tau, mereka gila apa.
Hmm, atau kau takut dengan orang gila ? Ya, pasti kau juga takut orang gila. Saat kau tiba – tiba akan berpapasan dengan mereka di trotoar sepi, kau akan memilih untuk menyembrang jalan dan menjauhi mereka. Menjauh sejauh – jauhnya. Lalu ketika kau sudah berada di suatu tempat yang kau pikir aman, kau melihat kembali ke arah trotoar yang dijejaki orang gila itu. Kau perhatikan dia beraksi. Tangannya menghitung sesuatu di udara. Gerakannya cepat. Mulutnya kocar – kacir mengeja apa yang ia tuliskan di udara. Kau pun berpikir, apakah yang ia tulis ? Kau tak akan menemukan jawabannya jika kau tak bertanya kepadanya. Kau berani bertanya padanya ?
Kurasa kau tak akan pernah berani untuk bertanya kepadanya tentang apa yang ia tulis. Bahkan untuk sekadar menyapanya saja kau ketakutan. Sudah. Aku tak akan menyuruhmu mencari orang gila dan bertanya apa yang sedang mereka pikirkan. Yang kutahu sekarang aku yang sedang bertanya, apakah yang kau pikirkan saat kau melihat orang gila beraksi ?
Fuihhh…. aku capek selalu bertanya – tanya. Jangan – jangan ini yang membuatku gila. Aku gila karena selalu bertanya – tanya. Dan pertanyaan itu tak pernah ada yang menjawabnya. Ah, yang benar saja aku gila karena kebanyakan bertanya. Ah, gila ! Eh ? Memang aku gila kaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii !!! Huahahhahahaaha… ops, maaf saudara – saudara.
Eh, eh, eh…. aku lupa hehehhehee… namaku. Ah, maksudku aku lupa menyebutkan namaku. Begitu loh. Hehehe. Namaku…. namaku…. ya namaku adalah namaku. Eh, bukan bukan ! Namaku bukan namaku. Hahaha. Namaku ya… namaku. Loh ? Arrrrrggghhhh !!! Namaku namaku namaku. Fuihhh… tunggu, namaku…. namaku…. namaku adalah… Ah ! Namaku namaku ! Loh ?!! Kok namaku namaku ? Begini, sebenarnya namaku adalah…. namaku. Hehehe iya namaku adalah namaku. Wek.
Namaku, Utami. Ya, Utami. Apa namamu juga Utami ? Oh, tidak ? Ya sudah tidak apa – apa, jangan kecewa. Hehehe. Tunggu, aku tak bermaksud menyudahi begitu saja pertanyaanku untukmu. Apakah yang kau pikirkan saat kau melihat orang gila sedang beraksi ? Aku tak akan melupakan pertanyaan wajib itu. Pertanyaan yang paling aku bisa buat. Pertanyaan yang selalu kutanyakan pada orang – orang yang mengaku tidak gila. Pada orang – orang yang mengaku waras.
Hmm, tadi aku berbicara pada dinding. Dia bilang dia bosan dengan pertanyaan – pertanyaanku. Maka ia menyuruhku mengganti topik. Kau tau, sekarang aku sedang memikirkan apa yang akan aku pikirkan. Hmm, ya…. aku sedang memikirkan apa yang sedang aku pikirkan. Loh ? Sejak kapan aku bisa mikir ? Wakakakakakakak. Sejak kapan ? Hahahaaha hebat !!! Hebat !!! Teman – teman, aku sudah bisa mikir. Ini berita terdahsyat. Harus aku beritahu orang sejurusan. Hehehehe aku harus beritahu orang yang sama – sama gila. Yang sama – sama lupa mikir. Yang tak pernah jenuh berkencan dengan kegilaannya. Aku harus beritahu mereka kalau aku sudah bisa mikir. Aku sudah bisa memikirkan apa yang akan aku pikirkan.
Haduh… dokter !!! Lepasin dong straight jacketku. Sesak tau ! Udah nggak bisa bergerak, cuma bisa guling – guling doang eh… pintunya pake ditutup segala. Dikasih gembok lima biji lagi. Hahahahaha mereka takut aku ngamuk hehehehhee asyik…. hehehhehehe…. wek ! Wek ! Wek !
Eh, si dokter benar – benar datang !!! Dia bawa dua orang suruhannya. Satu orang suruhannya membawa suntikan. Aha, aku tidak suka disuntik. Aku tidak mau disuntuk. Aku tak pernah tau apa yang terjadi setelah aku disuntik. Aku tak pernah tau itu.
”Diam ya….” ujar si dokter pelan – pelan melepaskan pakaian aneh ini.
Ah… leganya, tanganku bisa kembali kurentangkan. Aku bisa melompat – lompat bebas. Aku bisa kejar – kejaran bebas dengan mereka hehehehehe. Kejar daku kau kugigit ! Aku ingin mengejar suruhan si dokter yang membawa suntikan. Kukejar lalu kugigit sampai suntikannya lepas.
Aku ditangkap si dokter. Dihempaskannya badanku ke lantai. Suruhannya yang tidak memegang suntikan mengunci tubuhku hingga tak bisa bergerak. Pelan – pelan wajah – wajah mereka menjadi mengerikan di mataku. Aku berteriak sekuat – kuatnya ”Ouuuuuuuuuuuaaaaaaaaa….” si dokter membekap mulutku dengan tangan kirinya. Dengan cepat suruhannya yang membawa suntikan menancapkan benda itu ke lengan kiriku. Ahhh……..
Senyawa – senyawa yang berhamburan masuk ke dalam pembuluh darahku mengoyak – ngoyak saraf – sarafku. Halusinasi – halusinasi itu semakin ramai memadati otakku.
Kulihat aku menjadi presiden. Kulihat aku menjadi artis. Kulihat aku menjadi guru. Kulihat aku menjadi mahasiswa. Kulihat aku menjadi kerbau. Kulihat aku menjadi orang kaya. Kulihat aku menjadi ulama. Kulihat aku menjadi pegawai. Kulihat aku menjadi preman. Kulihat aku menjadi bayi. Kulihat aku menjadi…
Aku.
*
Oh, ternyata malam kembali lagi. Aku harus menyiapkan api unggun dan beberapa makanan kecil untuk kita cicipi bersama. Sinar rembulan yang berpendar terang kita biarkan saja berusaha menembus pori kulit. Malam ini kita berpesta. Pesta sampai pagi.
Kujamu kalian dengan kambing guling. Dan kopi luwak sudah kusiapkan dari kemaren untuk kalian. Datang lah dengan memakai pakaian terbaik kalian. Dan persembahkanlah senyuman termanis kalian untukku. Selamat datang.
Eh, tunggu. Siapa yang mengadakan pesta ? Siapa yang mengadakan perayaan ? Apa aku ? Ah, ngaco ! Aku kan orang yang gila. Hidup dalam bui. Penjara. Kamar isolasi. Tanganku tak pernah bisa menggaruk kepalaku yang gatal karena baju pengaman ini cukup kuat untuk menempelkan tubuhku di dalamnya. Sesak.
Hmm, apakah kau pernah melihat orang yang gila ? Apa yang kau pikirkan saat kau melihat orang yang gila ? Apakah kau tertawa ? Apakah kau ketakutan ? Dulu sebelum aku menjadi gila, aku pernah bertemu dengan orang yang gila. Dia memanjati tiang listrik. Padahal dia tidak akan pernah bisa sampai menuju puncaknya karena tiang listrik itu sangat licin, seperti panjat pinang saja. ”Dasar orang gila !” cetusku waktu itu. Lalu dia melihatku, menatapku panjang tanpa jeda. Aku tersentak kaget. Sepertinya orang yang gila itu marah padaku. Apa dia mengerti kata – kataku tadi ? Apa dia tau arti kata gila ? Atau….
Ah, setelah ia menatapku tanpa jeda dia tertawa terpingkal – pingkal sambil menujuk ke arahku. Menertawakan aku. Dia menertawakan aku sejadi – jadinya. Sampai ia rela melepas tiang listrik kesayangannya. Dan berguling – guling di jalanan dengan suara tawa yang berderai terlalu deras dan kuat. Ah, aku jadi malu. Orang yang gila itu menertawakanku. Aku yang dulu masih belum disebut orang yang gila.
Apa dia tau aku juga akan menjadi gila ? Makanya ia menertawakanku sejadi – jadinya. Sampai ia lupa bernafas dan nyaris mati ketawa. Ah, gila ! Memang dia orang yang gila. Heheheeheehehe.
Beberapa tahun setelah kejadian itu, aku masuk tempat ini. Bergabung dengan orang – orang yang gila. Tertawa dengan mereka. Melompat – lompat dengan mereka. Dan aku menemukan orang yang gila dulu. Yang suka memanjat tiang listrik. Aku berpapasan dengannya waktu aku baru masuk tempat ini. Dia memakai baju yang rapi. Wajahnya bersih tak seperti yang dulu pernah kutemui. Dia memakai sepatu baru, tak seperti dulu, dia tak memakai apa pun di kakinya. Rambutnya hitam mengkilap tak seperti dulu, yang gimbal dan penuh sampah serta kutu. Ah, dia sangat berbeda dari yang kulihat dulu.
”Dasar orang gila !” cetusnya padaku sewaktu kami berpapasan.
Aku melengong ke kanan, ke arah suaranya berasal. Dia hanya berjalan santai setelah mencetuskan kata – kata itu padaku. Kata – kata yang pernah aku lontarkan padanya. Oh, ya Tuhan apa ini karma ?
Kulihat dia bersalaman dengan dokter – dokter di gerbang tempat ini. Mereka saling berpelukan. Lalu orang yang gila itu melambaikan tangan kepada dokter – dokter itu dan pergi melewati pintu gerbang tempat ini.
Jangan – jangan dia sudah bukan menjadi orang yang gila lagi. Jangan – jangan dia sudah menjadi orang yang waras. Aduh, petaka. Ini karma ! Karma !
Eh, aku lupa namaku. Bukan, maksudku aku lupa memberitahu siapa namaku. Namaku adalah namaku. Aduh, bukan. Namaku bukan namaku. Tapi namaku namaku. Weleh, ah aku ingat ! Nama Sri Rejeki. Haaahaha iya iya. Loh ? Perasaan namaku Wahyu. Hmm, bukannya Beni ? Tadi ada yang manggil aku Gila. Berarti namaku Gila. Ah, itu bukan namaku. Aduh…. boleh kupinjam saja namamu ? Ah, kau pasti marah. Hmm, kalau begitu anggap saja namaku, Ridho. Hah, nama yang bagus. Hahahaha. Jadi namaku Bagus. Loh ? Kok jadi Bagus ? Ah, tak apa lah. Sekali – sekali namaku Bagus. Hehehehee ini baru Bagus. Tunggu bukannya namaku Utami ? Ah, sekali – sekali menjadi Bagus kan nggak apa – apa. Iya, bagus.
Oya, mengapa aku menjadi gila ? Aku tidak tau mengapa. Mungkin sudah takdir ? Tentu saja takdir. Memangnya ada yang lain selain kata takdir ? Hehehehehehe. Pokoknya waktu itu aku sering sekali menyebut, lama – lama aku bisa jadi gila. Mungkin karena keseringan menyebutkannya ya, jadilah gila. Hahahahaha begitu saja.
Kau pasti tau, kata bisa menjadi doa. Mungkin Tuhan mengira karena aku sering sekali menyebutkan kata – kata itu maka ia kabulkan. Tuhan mengira itu adalah doa. Mungkin terjadi salah paham antara aku dan Tuhan. Inginku menjelaskan maksud dari kata – kata yang aku ucapkan terus menerus itu kepada Tuhan, tapi telat. Aku sudah menjadi gila. Dalam duniaku tak ada apa – apa. Tak ada siapa – siapa. Tak ada yang menciptakan apa – apa. Karena Tuhan dalam duniaku adalah aku. Aku yang menguasai segala – galanya.
Tok… tok… tok…. kau pasti tau itu bunyi ketukan pintu. Dalam hitungan detik pintu yang diberi lima gembok itu terbuka. Kulihat ada seorang dokter dengan membawa dua orang suruhannya. Satu orang suruhannya membawa suntikan. Aku benci dengan suntikan. Karena setelah disuntik aku tak pernah tau apa yang akan terjadi denganku. Aku merasa disimpan. Disimpan dan tak hidup lagi.
Si dokter membuka straight jacketku. Aku langsung berlari sekencang – kencangnya. Aku berlari sambil berusaha menggigit suruhan si dokter yang membawa suntikan itu. Biar dia tidak bisa menyuntikku. Tapi sial, aku tertangkap. Si dokter membekap mulutku sampai jeritanku hanya menggetarkan dinding – dinding tubuhku. Suruhannya yang satu lagi mengunci tubuhku sampai aku tak bisa bergerak. Dan suruhannya yang membawa suntikan, sudah menancapkan benda itu ke lengan kiriku.
Senyawa – senyawa itu berebut masuk ke dalam pembuluh darahku. Menari – nari di dalam saraf – sarafku. Sampai aku melihat wajah si dokter dan dua orang suruhannya menjadi serigala yang sama – sama tersenyum.
Kulihat aku menjadi sopir. Kulihat aku menjadi penyanyi. Kulihat aku menjadi tukang togel. Kulihat aku menjadi anggota dewan perwakilan rakyat. Kulihat aku menjadi penyair. Kulihat aku menjadi koki. Kulihat aku menjadi pengemis. Kulihat aku menjadi pengunjung mall. Kulihat aku menjadi…
Aku.
*
Oh, ternyata malam kembali lagi. Aku harus menyiapkan api unggun dan beberapa makanan kecil untuk kita cicipi bersama. Sinar rembulan yang berpendar terang kita biarkan saja berusaha menembus pori kulit. Malam ini kita berpesta. Pesta sampai pagi.
Aku ingin menyajikan ayam bakar untuk kalian. Minumannya silahkan kalian pilih. Aku punya segala macam minuman. Datanglah dengan pakaian terbaik kalian. Dan persembahkanlah senyuman termanis kalian untukku. Mari kita berpesta. Berpesta sampai pagi. Berpesta sampai mati.
Tapi siapa yang mau datang ke pesta yang aku adakan ? Aku ini orang yang gila. Tinggal di bui. Penjara. Kamar isolasi. Aku suka memakai baju pengaman. Yang tangannya harus memeluk diriku sendiri tak bisa menggapai – gapai. Hanya diam terkunci pengikat tali.
Tapi apakah kau tau ? Orang gila itu dijanjikan masuk surga. Asyik kan ? Bisa langsung masuk surga. Hehehehehe. Siapa yang mau masuk surga tanpa usaha, maka jadilah gila. Mau ? Mau ? Mau ?
Hey, apakah yang kau pikirkan saat kau melihat orang yang gila ? Kagumkah pada kegilaan mereka ? Atau kau akan menjauh dan iba pada mereka ?
Tau tidak ? Dari hasil percakapanku dengan orang – orang yang gila aku menyimpulkan. Sesungguhnya mereka hanya pura – pura gila untuk menjadi gila. Mereka bilang mereka ingin langsung masuk surga tanpa usaha. Jadi mereka mencoba menjadi gila. Ya, mereka orang – orang yang waras yang berpura – pura menjadi gila.
Aduh, bagaimana denganku ? Apa aku orang yang juga berpura – pura gila ? Entahlah. Yang kutau setiap hari aku seperti lahir kembali. Lalu mati lagi. Lahir lagi. Lalu mati lagi. Lahir lagi. Lalu mati lagi. Lahir laaagi. Cukup. Fuihhh…
Wek ! Aku ini orang yang benar – benar gila. Gila asli bukan buatan. Asli loh. Hehehehehe.
Eh, stttttt….. aku mendengar ada yang berjalan mendekati kamarku. Tiga orang. Ah, itu mereka. Keluar dari balik pintu yang diberi gembok lima buah. Aku melihat satu orang dokter dan dua orang suruhannya. Satu orang suruhannya membawa suntikan. Aku benci suntikan. Aku tak suka disuntik. Karena aku tak pernah tau setelah disuntik apa yang terjadi denganku. Aku tak pernah tau episode selanjutnya. Tapi aku tau, setiap hari aku lahir, mati lagi. Lahir, mati lagi. Lahir, mati lagi. Dan seterusnya, lanjutkan saja. Hahahahaha.
Tapi kali ini aku ingin mati saja. Sudah kubilang, di duniaku akulah Tuhan. Kalau aku mau mati, maka matilah aku. Kalau aku mau hidup, maka lahirlah aku. Jadi sekarang aku ingin mati.
Arrrrgggggg….. suntikkan itu menancap di lengan kiriku. Senyawa – senyawanya menyeruak membaur dengan darah dalam pembuluh darahku. Menggoncang saraf – sarafku. Kali ini aku pasti mati.
Kulihat dokter dan dua pesuruhnya menjadi babi. Diawali dari perubahan pada hidung mereka. Lalu sampai ke ekor. Hahahahahaaha menjijikkan.
Hey, kenapa aku belum mati juga ? Ah, jangan – jangan bukan aku yang menjadi Tuhan di dalam duniaku. Aduh, celaka. Hahahahahahaha.
Waw… aku mulai melihat sesuatu. Aku melihat aku menjadi ratu sejagad. Aku melihat aku menjadi petinju. Aku melihat aku menjadi nenek – nenek. Aku melihat aku menjadi banci. Aku melihat aku menjadi badut. Aku melihat aku menjadi motivator. Aku melihat aku menjadi tukang becak. Aku melihat aku menjadi dosen. Aku melihat aku menjadi barista. Aku melihat aku menjadi penulis. Aku melihat aku menjadi peramal. Aku melihat aku menjadi guru ngaji. Aku melihat aku menjadi pemulung. Aku melihat aku menjadi kelinci. Aku melihat, ah cukup !!! Aku melihat aku menjadi, kubilang cukup !!! Aku melihat aku menjadi… CUKUP KATAKU !!! Tapi aku melihat aku menjadi aku ! Hahahahahahaha.
Aku melihat aku menjadi aku. Aku melihat aku menjadi gila. GILA. Dasar gila !
Memang, hehehehe !
*
Oh, ternyata malam kembali lagi. Aku harus menyiapkan api unggun dan beberapa makanan kecil untuk kita cicipi bersama. Sinar rembulan yang berpendar terang kita biarkan saja berusaha menembus pori kulit. Malam ini kita berpesta. Pesta sampai pagi.
Aku ingin menyiapkan berbagai makanan untuk kalian. Minumannya silahkan kalian pilih. Aku punya segala macam minuman. Datanglah dengan pakaian terbaik kalian. Dan persembahkanlah senyuman termanis kalian untukku. Mari kita berpesta. Berpesta sampai pagi. Berpesta sampai mati.
Siapa yang ingin masuk surga tanpa usaha ? Kalau begitu jadilah gila.
Mari kita berpesta. Berpesta sampai pagi. Berpesta sampai mati.
Wek !
*
cerita orang yang tidak bisa melihat
April 1, 2009
Hitam. Satu kata yang selalu setia menerawang di dalam mataku. Aku buta wahai teman. Aku tak mampu melihat satu titik warna selain hitam. Yang kubaca dan yang kutonton adalah hitam. Senyum dan air matamu terpancar selalu hitam. Saat kau berteriak padaku; ada pelangi di langit, aku menengadah ke atas dan kulihat hitam. Pun saat aku harus membuat KTP dan melengkapi syaratnya dengan satu pas foto berisi sebagian tubuhku, aku pegang pas foto itu lalu kutatap, hitam.
Tapi tidak pada hatiku. Aku bisa melihat dengan jelas temaram lampu taman di malam hari. Senyummu yang merekah dan tangismu yang membisu. Aku bisa melihat dengan jelas, pelangi yang kau tunjuk dan aku juga bisa melihat dengan jelas aku dalam diriku.
Jemarimu mengetuk benda yang terbuat dari kayu dan kurasa benda itu adalah meja. Kau menciptakan bunyi yang berulang – ulang dan membosankan. Apa kau sedang menunggu ?
“Sedang apa ?” tanyaku padamu.
“…….” Untuk beberapa saat kau tidak mau menjawab pertanyaanku.
“Sedang menunggu ? menunggu apa ?” tanyaku.
“Iya, aku menunggu acara selanjutnya di televisi,” jawabmu.
“Oya ? memangnya kau sedang menonton apa saat ini ?” tanyaku lagi.
“Tidak jelas, mungkin sebuah acara komedi. Tapi menurutku mereka tidak lucu,” jawabmu kemudian.
“Tidak lucu ? mengapa ?” sial mulut ceriwisku selalu mendesak untuk menciptakan pertanyaan – pertanyaan baru.
“Iya tidak lucu, mungkin karena mereka bukan badut. Hahaha…” kau menjawab pertanyaanku dengan dibumbui tawamu yang renyah.
“Kau lucu !” cetusku spontan.
“Yang benar ? kalau begitu mungkin suatu saat aku bisa menggeser kedudukan mereka di acara itu, hahaha…” katamu sambil tertawa lagi.
Ini memang cukup lucu teman dan aku suka sekali mendengar engkau tertawa. Mungkin karena aku tak bisa melihat acara komedi yang kau tonton itu.
Iya, mungkin saja.
*
Kau bilang pagi ini matahari tidak seterik biasanya. Mendung. Aku pun percaya karena aku merasakan hawa yang dingin merinding. Kau buatkan aku secangkir kopi. Panas.
“Hati – hati, jangan diminum sekaligus. Bisa – bisa tenggorokanmu terbakar,” katamu berulang – ulang.
“Iya, tapi sampai kapan aku menunggu cangkir kopi ini dingin ?” tanyaku tak sabaran.
“Sampai asapnya tidak lagi mengepul,” jawabmu singkat.
“Asap ? kau pikir aku bisa melihatnya ?” tanyaku sedikit emosi.
“Tidak, aku tidak bilang kau yang melihatnya,” jawabmu sabar.
“Lalu ?” tanyaku sekali lagi.
“Aku yang akan melihatnya. Aku akan memperhatikan cangkirmu sampai asapnya sudah tidak melayang ke atas lagi,” jelasmu.
“Benarkah ? terimakasih !” ucapku bahagia.
“Ya, aku selalu ingin melindungimu. Jadi tenang saja !” kata – katamu pun membuatku tenang.
Kau pasti tau, mataku tidak bisa melihat dirimu. Tapi apa kau tau, aku mencitrakan dirimu di pikiranku. Imajiku. Kau adalah sosok yang sempurna. Memiliki senyum setulus malaikat. Memiliki mata sebening embun. Jemarimu lentik dan berkuku lancip, aku tau saat setiap kali mendengar kau mengetuk meja itu berulang – ulang kali. Kau adalah wujud manusia yang dermawan. Aku menyukai setiap tutur katamu. Menenangkan.
Tapi aku juga tau kau menyimpan rahasia. Rahasia yang kau tutup – tutupi dariku. Entah apa dan bagaimana. Aku yakin suatu saat aku akan tau apa itu. Semoga kau bahagia dengan rahasiamu.
“Asapnya sudah hilang, kau boleh meminumnya sekarang juga !” katamu meyakinkanku.
“Baiklah, terimakasih !”
*
Kau bilang malam ini bulan bulat penuh. Terang benderang. Aku pun menengadahkan kepalaku ke langit. Aku melihat bulan itu. Melihatnya di dalam hatiku. Bulat penuh. Terang benderang. Oh, purnama.
Malam ini, aku dan kau duduk di teras rumah. Kau menceritakan sebuah cerita yang sangat menarik. Aku tak hentinya tersenyum mendengarkannya. Suaramu terdengar nyaring dan bersemangat. Apakah kau sedang bahagia ? Tentunya aku tak akan bertanya langsung seperti itu padamu. Karena aku tak mau pertanyaanku membuat pikiranmu berubah. Berubah menjadi muram.
Aku tau, diam – diam kau menata hatimu sedemikian rupa agar kau terlihat bahagia. Tapi jika itu kau lakukan untukku, percuma. Aku memang buta tetapi hatiku tidak. Tak perlu kujabarkan bagaimana aku bisa melihatnya. Kau dan aku berbeda. Jika kau ingin tau, kau harus mencoba menjadi aku. Manusia yang tidak bisa melihat.
Malam ini kau tutup ceritamu dengan tawamu. Aku tau kau sengaja tertawa untuk mengajakku tertawa juga. Benar kan ? Tapi aku merasa tidak adil. Karena kau tukang kibul !
*
Aku sedang melahap sepotong cokelat saat kau datang dari pintu dan menutupnya dengan kasar. Aku mendengar kau duduk dengan cepat di depanku sambil merapikan gerak nafasmu yang kacau. Mungkin juga kau sedang berselimut peluh. Apa kau sedang panik ? mengapa ?
“Dikejar apa ?” tanyaku tanpa basa basi.
“…” kau diam tak menjawab.
“Kau ketakutan ? Di kejar siapa ?” tanyaku lagi.
“Aku tidak dikejar,” jawabmu singkat.
“Lalu mengapa ?” tanyaku lagi.
“Kau tidak akan tau !” cetusmu tegas.
“Aku tau !” kataku tak mau kalah.
“Tau apa ? Kau tak pernah tau apa – apa. Lebih baik kau diam dan nikmati saja cokelat di tanganmu itu !” perintahmu marah.
“Apa kau marah padaku ?” tanyaku sekali lagi.
“Aku mohon jangan pernah bertanya lagi padaku. Aku lelah !” jelasmu memelas.
“Mengapa baru sekarang kau menyerah ? Setelah sekian lama, kau dari mana saja hey !” ungkapku jengah.
“Tau apa kau !”
“Aku tau segalanya. Kau tak perlu lagi menutup – nutupinya dariku. Aku memang buta tapi aku bisa melihatmu. Kau cukup menderita !” teriakku.
“Melihatku ? Melihatku dari mana ? Hahahaha…” kau pun tertawa seperti kesetanan.
“Melihat…” terimakasih, kau sudah menyadarkanku bahwa aku seorang yang tidak bisa melihat.
Untuk beberapa saat kau dan aku sama – sama terdiam. Cokelat di tanganku tak sanggup kumakan sehingga kubiarkan meleleh ditanganku. Kau, aku tidak tau sedang apa kau sekarang. Kau masih duduk membungkam di hadapanku. Apa kau lelah ?
“Hidupku… sudah hancur sejak… aku mengenal… orang itu…”ungkapmu sambil separuh berbisik. Juga meringis.
“…” aku diam menunggu kata – kata selanjutnya darimu.
“Dia… mengajakku ke tempat – tempat yang belum pernah aku jelajahi. Dia… memberitahuku bagaimana cara bertahan hidup. Mengajariku menikmati hidup. Dia selalu menghiburku bila sedang gundah dan kalut,” kau pun berhenti pada bait ini.
Aku masih diam menunggu kata – kata selanjutnya keluar dari mulutmu.
“Tapi dia… kini menjauh pada saat aku kesakitan karena… aku sangat membutuhkan… dia … untuk…. menambal rasa sakitku,” kau pun menghela nafas.
“Jadi, kau menjadi ketergantungan dengan dia ? Apa yang terjadi padanya ?” tanyaku penasaran.
“Entah lah, aku tidak mau tau lagi dengan apa yang terjadi padanya. Semuanya terlihat kacau di otakku. Pengap !” jawabmu sambil menghela nafas lagi kemudian menghembuskannya lagi.
Aku terdiam. Kau pun bangkit dari tempat dudukmu. Aku merasakan hembusan angin yang menuai bau keringatmu di hadapanku. Kau bergerak menuju kamarmu. Lalu menuntup pintunya dengan sangat pelan seolah semua tenagamu habis terkuras.
Kau lelah ?
*
Hari ini kau bangun pagi – pagi sekali. Kau menarik tanganku dan mengajakku berkeliling kota dengan motor bututmu. Aku tau motormu sudah tidak layak pakai setiap kali besi tua itu meraung – raung saat kau menghidupkannya serta pada saat ia berlari bersama kau dan aku, mengelilingi kota. Entah tempat apa. Bagiku semua sama saja. Sama – sama hitam.
Hanya kepada hembusan angin yang menderu dan mendesah setiap kali mengibas – ngibas helai rambutku. Hanya kepada mereka aku dapat merasakan ke mana arah perjalananmu. Kau akan membawaku ke tempat yang akan menampung beban dan lelahmu. Ke tempat di mana kau akan berhenti di sana selamanya.
Perlahan – lahan bunyi mesin motormu terdengar pelan. Motor itu pun berhenti.
“Sudah sampai,” cetusmu sambil turun dari motor.
“Sampai di mana ?” tanyaku.
“Turun lah, apa kau tidak bisa turun sendiri dari sana ?” kau menyentuh lenganku membantuku turun dari motor bututmu.
“Aku siap !” teriakku saat kau berhasil menurunkanku dari besi tua itu.
“Aku akan pergi menemui Tuhan. Kau tunggulah disini. Kutitipkan sepucuk surat ini untuk kau baca nanti. Ingat, aku tidak ingin kau meminta seseorang untuk membantumu membacanya. Jangan tanya bagaimana caranya kau membacanya. Setelah hari ini kau pasti segera bisa membacanya,” kau berkata sambil memegang pundakku dan pada kalimat akhirnya, kau tepuk pundakku itu berkali – kali.
“Kau hendak kemana ? Mau meninggalkanku di sini ? Tempat apa ini ?” tanyaku bertubi – tubi.
“Aku tau, bertanya adalah hobimu. Aku tak bisa menjelaskan banyak hal tentang ini kepadamu. Kau tak akan mengerti. Mungkin setelah kau membaca suratku nanti kau baru akan mengerti. Aku hanya ingin pindah tempat. Dan mencoba hidup di dunia yang kau selami selama hidupmu. Hitam.”
Tanganmu beranjak menjauh dari pundakku. Aku mendengar gerak langkahmu yang menginjak daun – daun kering mulai menjauh selangkah demi selangkah. Kini aku menggenggam suratmu dengan penuh rasa takut. Kau mau kemana ? Mengapa ?
Aku semakin bingung saat yang kudengar bukan lagi langkah – langkah kakimu tetapi langkah – langkah kaki orang lain. Berjalan bersamaan menuju berbagai arah. Bunyi klason mobil, roda – roda yang berputar cepat. Denting bel dan detak pada tugu jam. Aku pun mendengar sayap – sayap burung berpacu dari permukaan tanah menuju langit. Aku mendengar gelak tawa anak – anak dan obrolan sekumpulan perempuan. Aku mendengar percakapan seorang pria yang berbicara sendiri sambil berjalan. Aku mendengar letusan balon dan tangisan bayi. Aku mendengar orang – orang di sekitarku berteriak, “lihat ke atas gedung itu !!!”. Kemudian aku mendengar bunyi “BUM !!!” dengan sangat kuat jatuh di hadapanku.
Aku mencium bau amis sesudah bunyi itu jatuh menghantam tanah di hadapanku. Aku mencoba meraba tanah tempat bunyi itu jatuh. Basah tergenang air. Entah air apa. Bau air itu amis seperti darah. Ya, bau darah segar.
Gempar. Aku mendengar orang – orang berteriak histeris di sekitarku. Mereka bergerak kacau dan bahkan hampir menginjak – injak tubuhku. Banyak yang berteriak, “panggil ambulans ! panggil ambulans !”. Sepertinya mereka sedang panik.
Angin pun mengabariku kabar terbaru. Mereka membisikkan padaku pesan terakhir itu. Katanya kau sudah pergi dan menemukan dunia barumu. Kedua kakiku langsung melemah tak kuat menompang tubuhku. Aku terduduk di atas permukaan tanah. Wajahku memandang sumber bunyi di hadapanku. Hitam pekat.
Aku memang tak melihat apa – apa di sana. Tapi hatiku melihat kau sedang terbujur kaku bergelimang darah dengan luka – lukamu yang menganga, yang seolah – olah menyapaku.
Apakah aku harus memompa air di kepalaku agar keluar dari dua bola mataku ? Atau kah aku harus menjerit kencang memanggil namamu ? Yang benar saja, kau masih ada bersamaku kan ? Masih ada banyak buku yang belum kau ceritakan padaku isinya. Kau juga harus selalu memperhatikan asap yang mengepul di cangkir kopiku sampai asap itu kandas di langit – langit. Kau juga masih harus melanjutkan menghitung bintang – bintang untukku. Kau… tak mungkin tiada !
Lalu kepada siapa lagi aku harus bertanya ? kepada mayatmu yang tak berpenghuni lagi ? Mengapa kau bunuh diri ?! Apa sabu – sabu, ganja, ekstasi, opium, morfin dan heroin mengajakmu untuk pindah dari dunia ini ? Mengapa ? Mengapa kau harus berteman dengan mereka !!!
Aku minta kau kembali padaku setelah kau berhasil bertemu dengan Tuhan. Katakan padaku, apa yang Tuhan katakan padamu. Kau pasti dia beri hukuman karena sudah nakal ! Rasakan !
Lalu untuk apa kau menyuruhku membaca surat ini ? Kau pasti tau aku buta !
Aku pun termenung di samping jasadmu yang tertidur pulas. *Perihmu yang menganga tak hentinya bertanya . Kau memecatku dari jabatanku sebagai seorang yang suka bertanya. Karena kini aku tak tau lagi kepada siapa aku harus bertanya, kemana kau pergi ?
**Kulihat engkau terkulai, tubuhmu membiru tragis . Aku berharap gerimis segera datang untuk menyapu darahmu. Untuk menyapu deritamu. Tapi gerimis enggan turun menyentuh tubuhmu yang lebam. Kau sudah mati.
*
Pagi ini kau membuktikan padaku bahwa kau berhasil memindahkan duniamu ke duniaku. Dunia kita. Mulai di pagi ini, aku bisa melihat bunga – bunga mekar di taman depan jendela rumah sakit. Di depan kamar rawat inapku. Mulai pagi ini aku melihat diriku di cermin. Berdiri di hadapanku. Terbentuk sempurna. Aku melihat mataku, aku melihat hidungku, aku melihat telingaku dan aku juga melihat mulutku.
Aku menatap jemariku lama – lama. Aku memperhatikan kakiku setiap kali melangkah. Dan aku melihat aku tersenyum di cermin itu.
Inikah rasanya menjadi seperti dirimu ? Aku bahkan bisa melihat binatang kecil berwarna hitam berjalan beriringan di dinding. Inikah dunia yang selama ini kau lihat ? aku tak menyangka bisa seindah ini.
Mulai di pagi ini, untuk pertama kalinya aku belajar membaca huruf yang selama ini kau baca. Aku ingin segera bisa membaca isi suratmu dengan benar. Apa yang kau tulis di sana teman ?
Hari ini telah terlewatkan dengan nikmat. Aku bisa melihat dunia yang selama ini aku impikan. Aku tidak buta lagi teman !
Tapi pada saat aku sudah bisa membaca isi suratmu, kau mengajakku meneteskan air mata sambil tersenyum berhari – hari bahkan mungkin untuk seumur hidupku.
Kau menceritakan setiap langkah yang kau tata bersamaku. Kau juga menceritakan bagaimana dirimu di luar tanpa aku. Dan pada bait isi suratmu yang terakhir kau pun bercerita ; “kini aku lelah dan jengah. Aku sudah tidak bisa lagi menikmati dunia ini karena dunia ini sudah tidak menginginkanku lagi. Aku salah arah. Terpasung dengan segala neraka. Yang memintaku untuk pergi ke tempat mereka di sana. Kau memang tau segalanya. Tentang aku di balik senyumku. Maaf sudah menipumu. Aku memang tukang kibul. Tapi alasan dari semuanya, aku hanya ingin engkau bahagia saja. Namun ternyata kau tak bisa dikibuli. Ini lucu.
Sekarang aku sedang merasakan bagaimana rasanya melihat hitam. Hitam di segala penjuru arah. Apa aku berhasil memindahkan duniaku ke duniamu ? Tolong kabari aku tentang keadaanmu disana lewat doa. Semoga malaikat tidak enggan menyampaikan doa – doamu kepada Tuhan.
Jangan berhenti bertanya teman. Jika kau berhenti bertanya, kau bisa saja akan menjadi seperti aku. Bagaimana rasanya bisa melihat dunia yang kulihat ?”
Kau hadiahkan aku sepasang bola mata yang sudah lama kau miliki. Sepasang bola mata yang melihat hura – hara dunia. Sepasang bola mata yang melihat kandasnya kedamaian. Sepasang bola mata yang melihat dosa.
Apakah permintaan terakhirmu adalah menginginkan mantan matamu ini melihat segala hal yang jauh dari dosa ? Kalau itu permintaanmu, aku akan berusaha untuk mengabulkannya.
Teman, tunggu aku disana. Jikaku tiba, akan kubawakan segunung pahala untukmu.
Tenanglah !
***
*Perihmu yang menganga, tak hentinya bertanya (lirik tubuhmu membiru, tragis by efek rumah kaca)
**Kulihat engkau terkulai, tubuhmu membiru tragis (lirik tubuhmu membiru, tragis by efek rumah kaca)
senandung hujan
Maret 12, 2009
kau panggil aku Nilam.
setiap hari kau tebar kelopak – kelopak mawar. ke atas langit, ke bawah kaki, ke bahuku. lalu kau menari. memanggil hujan.
“Nilam, rentangkan tanganmu. lihat ke langit. pejamkan matamu,” katamu.
kemudian kita menari dengan mata terpejam. di tengah padang ilalang. tanpa nyanyian. hanya hatimu yang bergumam sendu. hanya hatiku yang tak mengerti pilu.
lalu setelah letih menari, kita terdiam. kau menatapku. aku menatapmu. tanda tanya mengerubungi kita. menggigit baju lusuhku. mencakar pipimu. meludahi kita.
“apakah kita menanti hujan ?”tanda tanya itu mengalir keluar dari mulutku.
kau diam menggenggam kelopak – kelopak mawar. satu jam lagi. satu jam lagi. satu jam lagi. katamu tak henti – hentinya.
kudengar tanda tanya menertawakan kita. lalu menampar wajahku. menghempaskan tubuhmu mencium tanah kerontang. kita tak berdaya lagi. hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap diharap. tiada daya.
kau jatuh tersungkur. ada sungai mengalir dari dua bola matamu bola mataku. tanda tanya melenggang pergi. mencampakkan kalimat yang tak pernah di akhiri titik atau koma.
hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap diharap. tiada daya.
“Nilam, hatiku kering. kupanggil hujan agar bunga – bunga yang kutanam di dalamnya subur. tapi Nilam, sudah berbulan – bulan hujan tak pernah datang lagi. bunga – bunga yang kutanam layu dan mati. aku rapuh Nilam,” tanda tanya itu mulai terdiam.
hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap diharap. tiada daya. tapi upaya usahakan. kupungut kelopak – kelopak mawar yang kau sebar. kumulai tarian itu lagi. ritual bangkit. gemuruh tertawa geli.
hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap tapi diharap. tiada daya tapi diupaya. gerimis jatuh di bahumu. jatuh di kelopak matamu. kau bangkit dan menari. kita cipta senandung berdua. bianglala menyapa.
hujan yang kau harap sudah tiba. ayo bersuka cita. kita kemasi rintiknya bersama. sebelum ia kembali kelana, kita ikat dia dalam hati. biar terasa teduh nurani.
kau dan aku menari dalam hujan. tanpa nyanyian. hanya senandung di hati kita. menyatu pada bau tanah kering dicumbu hujan. menyeruak tajam dalam otak. mengakhiri tarian dari senandung kita.
disini. kita.
aku dan ibuku
November 10, 2008
Namaku Wulandary. Ayah suka memanggilku dengan sebutan Wulan. Sedangkan ibuku lebih suka memanggilku Ulan. Tapi aku lebih menyukai semua orang memanggilku Wulandary. Umurku 17 tahun. Bulan depan aku genap 18 tahun.
Ibuku bilang, ia akan memberiku anting – anting emas yang cantik beserta gelang – gelang permata. Aku sangat menunggu hari itu tiba. Kalau ayahku, katanya dia akan menghadiahkanku sebuah tas merek ternama dan beberapa potong pakaian cantik yang mahal untukku. aku sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.
Setiap ibuku pulang dari pekerjaannya seharian, dia duduk di bibir tempat tidur dan memukul – mukul bahunya, pegal. aku selalu datang dan memijitnya sampai dia merasa baikan. aku sayang ibuku.
Dan kalau ayahku pulang dari pekerjaannya, dia langsung duduk di kursi ruang tamu sambil mengibas – ngibaskan lehernya dengan segulung kertas koran. Aku tau apa yang ia mau, langsung saja setiap kali dia pulang aku membuatkan secangkir kopi manis untuknya. Aku sangat menyayangi ayahku.
Sekarang adalah hari ulang tahunku. Di depanku tersaji kue tart besar dengan taburan cokelat, keju dan cerry serta stoberi. Di atasnya bertengger dua buah lilin. Satu lilin angka satu dan yang satu laginya lilin angka delapan. Ada api kecil yang sengaja menyala di setiap dua ujung sumbunya.
Ibu bilang “ayo tiup !!! tiup sambil berdoa !”. Lalu aku pun melirik ibuku yang berdiri di sebelah kiriku. Ayah bilang “ayo cepat tiup lilinmu nak ! tiup sambil berdoa !”. Lalu aku juga melirik ayah yang berdiri di sebelah kananku. Aku tersenyum sambil memejamkan mata dan berdoa.
“Ya Tuhan, angkat lah kami dari hidup yang serba berkekurangan. Kuatkan ayahku agar dia selalu sabar dan tabah menghadapi cobaan. Tegarkan ibuku agar dia bisa menerima semuanya dengan lapang dada. berilah ketabahan dan kesabaran pada keluargaku. Ya, Tuhan… semoga besok kami bisa makan lagi. Amien !”
“Ulan !!! Jangan main – main dengan api nak !” kata ibu menghampiriku.
“Aku ulang tahun bu !” ucapku separuh berteriak.
“Ulang tahun ? Ulang tahun kamu masih dua bulan lagi nak !” kata ibu sambil mengambil lilin – lilin putih batanganku.
“Ah, ibu ! Apa salahnya aku meniup lilin ulang tahunku ?” tanyaku lalu beranjak dari meja lusuh beralas goni busuk.
“Lilin ulang tahun apa ? Ini kan lilin buat penerangan mati lampu nanti. Ayahmu kan belum juga bisa menebus bayaran listrik rumah kita. Jadi kita harus hemat !” kata ibu sambil menepuk – nepuk pantatku yang penuh dengan jerami – jerami juga debu goni yang melengket pada celana rombengku.
“Jadi kapan ayah menebus uang bayar listrik bu ?” tanyaku sambil mengambil sebuah kotak dan menghitung beberapa lembar uang di dalamnya.
“Nggak tau, kalau nanti ayahmu pulang dan dapat ikan banyak, mungkin besok dia bisa bayar listrik. Berapa semua uang yang kamu hitung ?” kata ibu lalu bertanya padaku.
“Tiga puluh ribu, bu.”
“Lumayan buat makan malam nanti,” kata ibu sambil mengemas – ngemas barang – barangnya.
“Apa ikan kita tidak laku bu ?” tanyaku tidak terima dengan uang yang didapat hari ini.
“Ya, itu lah yang kamu dapat nak. Kita syukuri saja,” jawab ibu lalu bergegas mengangkat ember yang masih berisi ikan laut.
“Tiga puluh ribu ?” tanyaku tidak percaya.
“Memangnya sejak kapan kamu dapat uang lebih dari itu nak ?” ibu tertawa.
“Tapi bu…”
“Sudah lah, kamu jangan bikin ibu mati gara – gara tertawa. Kamu itu lucu nak. Sekarang tolong ibu angkat ember merah itu. Ikannya juga masih banyak,” kata ibu lalu berjalan pergi mendahuluiku.
“Kita apakan ikan – ikan yang tersisa ini bu ?” tanyaku sambil mengangkat seember ikan laut.
“Kamu kok kayak lupa ingatan gitu sih nak, kita jual ke restoran – restoran dengan harga murah. Kalau dibawa pulang akan busuk. Kita kan tidak punya lemari es,” jawab ibu sembari terus berjalan menyusup di sela – sela ramai pasar.
“Jadi kita harus mengunjungi satu persatu restoran bu ?” tanyaku sambil terengah – engah mengangkat seember ikan laut yang lumayan berat.
“Lalu mau kamu bagaimana nak ?” tanya ibu.
“Mauku kita hidup tenang bu. Tanpa pekerjaan busuk ini,” jawabku tertunduk.
“…” ibu tak merespon kata – kataku.
Aku pun ikut terdiam di sela – sela keributan pasar. Terdiam berdua bersama ibuku yang terus berjalan menyusup masuk ke dalam kerumunan manusia – manusia. Kadang – kadang aku melihat punggung ibu dan kadang – kadang aku kehilangan punggung ibu. Lalu setelah itu aku kembali melihat punggung ibu dan kembali kehilangan punggung ibu. Begitu seterusnya sampai pada sebuah ruang luas yang dipenuhi mobil – mobil mewah terbaru pada jaman kini.
Aku dan ibu berdiri di depan sebuah restoran mewah yang dibangun di samping pasar. Ibu memamerkan bawaannya kepada koki – koki restoran tersebut. Ada beberapa ikan laut yang masih segar dan udang – udang yang masih merah. Aku terdiam, menyaksikan si koki berkerut dahi melihat dan meneliti ikan – ikan juga udang – udang punya ibu.
Lalu si koki melirik isi ember yang sedang kupegang. Ada beberapa Kakap merah dan beberapa Cumi – cumi. Aku juga masih terdiam menunggu si koki berpikir dengan kerutan di keningnya dan jemarinya yang terpekur menyentuh bibir.
“Gimana mas ?” tanya ibuku yang sudah tak sabar lagi.
“Ah, kayaknya untuk hari ini sudah cukup. Jadi saya tidak membeli ikan mbok hari ini. Maaf,” jawab si koki dengan sopan dan hati – hati.
“Oh, ya nggak apa – apa. Kalau gitu kami pamit dulu ya,” kata ibuku lalu mengemas – ngemas lagi barang dagangannya.
“Baik lah. Lain kali mungkin saya akan membelinya,” seru si koki lalu kembali masuk ke dalam dapurnya.
“Nggak dibeli nak. Hehehe.”
“Loh, kok ibu ketawa ?” tanyaku heran.
“Lah, buat apa kita susah ? Mending kita ketawa. Ya toh ?” jawab ibu sambil menenteng lagi dua ember berisi ikan – ikannya.
“Iya ya. hehehe.”
“Hadiah ulang tahun kamu mau apa nak ? Biar ibu belikan !” kata ibu sembari menarik kuat ember di tangan kirinya yang merosot dari pegangannya.
“Mau apa ?” tanya ibu sekali lagi.
“Aku…”
“Ah, aku cuma mau ibu masakin bubur ikan buatku. Bubur ikan ibu paling enak sedunia,” kataku lalu sedikit berlari menghampiri ibu.
“Kenapa nggak bubur ayam aja ? Kamu kan suka !”
“Aku kurang suka bubur ayam bu. Enakan bubur ikan buatan ibu,” jawabku sambil dalam hati berkata “Aku suka sekali bubur ayam bu. Tapi aku tau ibu tak punya uang untuk membeli seekor ayam, bahkan beberapa potongnya”.
“Ya sudah. Nanti ibu buat kan bubur ikan spesial untuk kamu. Nggak pengen yang lain ?” tanya ibu.
“Pengen sekolah bu, hehehe” jawabku sumringah.
“Halah, kamu mengada – ngada aja. Dari awal udah nggak pernah sekolah sekarang malah pengen sekolah. Jangan bikin ibumu ini pusing ndok !” kata ibu sambil tersenyum dan terus berjalan lebih cepat dariku.
“Hehehe, cuma lelucon kok bu,” kataku cengengesan.
“Ayo pulang ! Ibu mau masak dulu buat bapakmu kalau pulang dari melaut nanti,” ucap ibu.
“Iya, tunggu aku bu !” seruku lalu berlari mengiringi jalannya yang secepat Cheetah.
Semangat ibu memang berlebihan dan itu yang membuat aku tidak berlarut – larut dalam mimpi. Mimpi untuk hidup enak dan serba berkecukupan.
Ayah, ibu besok aku akan jadi apa ?
pada pukul 1, 2 dan 3 pagi (ceritapendeksingkatsekali)
Oktober 25, 2008
Malam ini, aku seperti berjalan dengan bola besi terikat di sebelah kaki. Berat. Tak kuasa memejamkan mata. Tak kuasa mendiamkan pikiran. Semua guratan – guratan tentang masalalu dan tentang hari ini seperti film di bioskop, ditayangkan satu persatu tanpa henti hingga fajar tak bisa menunggu aku memejamkan mata barang sedetik pun. Entah mengapa perasaan itu datang lagi. Perasaan ingin mati tetapi takut mati.
Aku menggigil di sudut ranjang, menggeliat di dalam selimut panas. Mataku mungkin terlihat berbeda. Aku merasakan pupil mataku melebar. Seakan – akan, sedang menunggu malaikat pencabutnya nyawa datang padaku. Aku gemetar tak habis – habis. Hingga kupendam kepalaku dalam – dalam ke balik selimut panas. Ayah, ibu, aku akan mati.Tapi aku belum mau mati malam ini. Dosaku masih segunung, dan aku belum memberikan apa – apa kepada kalian. Pikiranku mulai bertambah kacau. Dan sunyi semakin menggembor – gemborkan ketakutanku. Ketakutanku akan kematian.
Sampai pagi, aku tak menemukan hujan turun di luar sana.
laki – laki itu… (3.selesai)
Oktober 7, 2008
*baca terlebih dahulu “laki – laki itu… 1 dan 2″ di “tulisan terakhir”
pertemuan ke 4
Kami saling pandang tanpa bicara
Sepertinya dia tau apa di hati ku tertera
Oh.. Dan waktu saat itu sungguh mengerti aku
Dan dia berlalu… Tanpa tau siapa aku
nyaris saja aku membanting sebuah mp4 yang baru dihadiahkan bunda pada hari ulang tahunku yang ke 19. pada hari dimana bunda dan ayah tau bagaimana sebenarnya sosok manusia yang telah mereka besarkan. yang telah mereka besarkan dengan susah payah.
aku mengakui dan mengatakan satu dosaku di depan bunda dan ayah. aku mengatakannya dengan sangat ringan. dengan sangat enteng. seakan – akan dosa itu beratnya seberat bulu angsa. padahal kenyataannya, dosa itu dosa yang sangat amat berat. dosa yang membuat ayah tak sudi lagi melihatku. menyapaku. apalagi berbicara padaku. dosa yang membuat bunda merasa gagal mendidikku. merasa terkutuk sudah melahirkanku. dan merasa baru tau ternyata ia telah membesarkan seekor anak iblis.
dan kerena dosa itulah yang membuatku enggan serta takut untuk memulai perkenalan dengan laki – laki itu. laki – laki yang sedang bersemayam dalam hitam hatiku. dan laki – laki yang menjadi hantu pada bayanganku. laki – laki yang kini berdiri di depan pintu rumahku. laki – laki yang akan menjadi calon suami kakakku.
aku merintih. mengepal kuat kedua telapak tanganku. sudah tiga tahun lamanya aku mengidam – idamkannya. membayangkan sosoknya dan mengunci rapat – rapat auranya ke dalam ingatanku. aku tercekat. menggigit keras bibir bawahku hingga nyaris mencuatkan darah. darah yang merah. darah marah.
dia akan menjadi kakak iparku. dia akan menjadi keluargaku. dia akan benar – benar ada di dalam kehidupanku. kehidupan kakakku.
bengis dan tangis sulit aku raba karena antara luka dan lupa memang pada dasarnya adalah kesalahan. kesalahan takdir. kesalahanku. ya, kesalahan mataku yang sudah melihatnya di bus way itu. kesalahanku yang sudah merampok bayangannya dan mengurung hantunya ke dalam hatiku.
laki – laki itu duduk bersanding di samping kakakku yang cantik. kakakku yang tak pernah mau tau dengan kehidupanku. kakakku yang tak pernah mau menyentuh tanganku. dan kakakku yang tak pernah mau mengakui bahwa aku adalah saudaranya. tapi kakakku yang pintar dan cantik sudah mengambil hantu itu dari tanganku. dari adiknya yang malang.
aku meringkuk disudut ruang. setelah aku melihat hantu itu berdiri di depan pintu rumahku dan duduk bersanding dengan kakakku yang manis. disana ada ayah dan bunda. ada juga ibu laki – laki itu dan ayah laki – laki itu. bibir hantu itu tersenyum. matanya tak lagi sayu. mungkin karena dia sudah mendapatkan salah satu tujuan hidupnya. karena pencapaiannya sempurna.
kakakku mengelus cincin permata pada jarinya. jarinya yang lentik dan halus. jarinya yang tak pernah mau menyentuh tanganku. kakakku kini sudah mencapai harinya yang sempurna. menjadi istri dari suaminya yang terbaik. akan menjadi ibu dari anak – anaknya yang lucu.
aku masih meringkuk gusar dan jengah di sudut ruangan. sudah tidak adalagi bayangan – bayangan atau imajinasi yang bisa aku putar dalam ingatanku. mungkin karena pita kasetnya sudah kusut, sudah putus dan sudah tak bisa lagi di putarkan.
hari itu aku baru menyadari, aku seorang pengecut. pengecut yang ceroboh. pengecut bodoh.
pertemuan abadi
Aku cukup tau dia dari sini saja
Aku cukup lihat dia dari sudut sini saja
Dan aku sudah bahagia seperti ini
Dan dia… Sudah sempurna
aku tak lagi membanting mp4 yang dihadiahkan bunda untukku pada hari ulang tahunku yang ke 19. pada tiga tahun yang lalu. pada saat aku mengatakan sebuah dosa yang tak pernah bisa dimaafkan oleh Tuhan, ayah dan bunda. oleh semua orang yang menganggap otakku sekotor muntah dan hatiku sehitam jelaga.
dosa itu membuat aku takut mendekatinya. mendekati hantu yang kini menyelinap kedalam keluargaku. yang setiap malam tidur seranjang dengan kakakku yang cantik. dengan kakakku yang manis. hantu yang sudah menjamah setiap jengkal tubuh kakakku. kakakku yang tak pernah mau tau dengan kehidupanku. kakakku yang tak pernah mau menyentuh tanganku. dan kakakku yang malu mengakui bahwa aku adalah saudaranya.
aku mendengar sampai habis semua lirik lagu itu dengan menahan pengap yang menusuk pada jantungku yang kejang – kejang. pada jantungku yang akan kuhentikan detaknya. yang akan kuikat kuat – kuat hingga darah mencuat. darah yang merah. darah marah.
namaku Bima. jangan kaget saat kau tau siapa namaku. tak ada kesalahan pada namaku. namaku memang Bima. Bima Kusuma Admaja. aku anak laki – laki dari keluarga yang terhormat. ayahku seorang hakim, ibuku seorang penceramah agama dan kakakku yang cantik seorang dosen agama di universitas ternama.
saat ulang tahunku yang ke 19. saat bunda memberiku hadiah berupa sebuah mp4. saat tiga tahun yang lalu. aku mengatakan sebuah dosaku di hadapan ayah, bunda dan kakakku yang manis. aku mengatakan sebuah dosa yang tak pernah bisa dimaafkan oleh Tuhan, ayah dan bunda. oleh semua orang yang menganggap otakku sekotor muntah dan hatiku sehitam jelaga.
aku katakan pada ayah, bunda dan kakakku yang cantik. aku seorang homo. aku adalah laki – laki yang menyukai laki – laki. aku tak bisa menyukai satu orang pun perempuan. ya, aku adalah laki – laki homo. laki – laki dari ras kaum sodom. kaum yang dikutuk Tuhan. yang dikutuk karena menyukai sesama jenis.
aku tak tau entah dari mana awal langkahku ini. aku tak tau mengapa aku menjadi homo. mengapa aku menyukai laki – laki. dan mengapa aku tidak bisa menyukai seorang perempuan.
dan karena aku adalah homo, aku tidak bisa mendekatinya. mengenalnya lebih jauh. atau hanya menyapanya. aku takut, dia tau bahwa aku seorang homo. aku takut dia takut padaku. aku takut dia malu karena memiliki adik ipar yang ternyata seorang homo. aku takut keluargaku semakin malu karena semua orang akan tau, aku seorang homo.
hari itu tiga tahun yang lalu. aku melihatnya di terminal bus way. di cafetaria kampus dan di bank. aku tak mau berbohong tentang perasaanku padanya. aku memiliki keinginan yang ingin untuk menginginkannya. menginginkannya menjadi bayangan yang nyata mengikutiku. menjadi hantu yang nyata duduk di sudut mataku. dan menjadi penawar racun pada hatiku yang beku.
tapi aku cukup tau diri. aku cukup tau diri karena dia tak mungkin memiliki perasaan yang sama denganku. perasaan yang saling menginginkan itu. karena dia bukan seperti aku. karena dia laki – laki normal. laki – laki normal yang mengawini kakakku yang cantik. kakakku yang manis. laki – laki normal yang menjamah setiap jengkal tubuh kakakku. kakakku yang cantik.
sekarang, aku hanya bisa berharap dapat bertemu dengan dia, laki – laki itu. bertemu dengan dia pada dunia yang lain. pada alam yang berbeda. pada musim yang menjadi satu. aku ingin bertemu dia dalam keabadian. dalam hitam yang tak akan habis. dalam kosong yang tak akan pernah terisi. dalam sebuah dunia yang tak pernah bisa menjadi fakta yang jelas. menjadi fakta yang samar – samar. dimana akhir dari perjalanan yang buntu. perjalanan yang melelahkan.
hari ini, aku tau. aku seorang pengecut. pengecut yang ceroboh. pengecut bodoh. aku tau, aku seorang anak yang malang. anak yang tercemar.
aku pegang dengan erat senjata api yang aku curi dari ayahku. senjata api yang tersimpan keramat di dalam lemari pakaiannya. yang tersimpan di dalam tumpukan seragam hakimnya.
aku membidik senjata api pada sasaran yang sangat tepat. pada salah satu dari bagian tubuhku. pada kepalaku. kutarik pelatuknya hingga waktu seperti bergerak lamban. kupejamkan kedua mataku kuat – kuat. hantu di dalam gendang telingaku berbisik pelan “tembak… tembak… tembak…”
semoga mereka bisa melihat otakku yang sekotor muntah. dan hatiku yang sehitam jelaga. semoga mereka bisa melihat tanpa merasa jijik padaku. semoga laki – laki itu menemuiku pada pertemuan berikutnya. pada pertemuan yang abadi. di dunia yang tak pernah bisa menjadi fakta yang jelas. menjadi fakta samar – samar.
dor !!!
*s e l e s a i*
Dia.. Seperti penerang malam ku
Dia.. Seperti penyejuk siang ku
Dia… Tak ku sangka dia, balas pandangan ku
Oh… Oh.. Oh… Oh…Dia.. Begitu jauh di mataku
Dia.. Begitu jauh di jangkau ku
Dia… Tak ku sangka dia, balas senyuman ku
Oh.. Oh.. Oh.. Oh..Kami saling pandang tanpa bicara
Sepertinya dia tau apa di hati ku tertera
Oh.. Dan waktu saat itu sungguh mengerti aku
Dan dia berlalu… Tanpa tau siapa akuAku cukup tau dia dari sini saja
Aku cukup lihat dia dari sudut sini saja
Dan aku sudah bahagia seperti ini
Dan dia… Sudah sempurnaDia…
Dia…
Dia..
Dia… Dia… Dia…Aku cukup disini…
Dan dia cukup disana
Dan dia berlalu tanpa tau siapa aku *( aku & dia by eVo )
*ada di box.net sebelah kiri SunBlog
laki – laki itu… (2)
Oktober 5, 2008
mata kami saling beradu. mulut kami saling bungkam. aku tak tau apa yang ia pikirkan ketika ia melihat ada seorang manusia yang kacau tiba – tiba datang dan langsung menghampirinya. menghampirinya dengan berdiri sangat dekat. sangat dekat dengan biji matanya. aku yakin, ia pasti mengira aku ini gila. manusia sarap. manusia abnormal. yang tak tau sopan santun dan seenak perutnya datang dan berdiri begitu saja di depan biji matanya.
waktu seperti masih tetap berhenti. mungkin poros bumi sedang macet. butuh pelumas untuk melicinkan putarannya. biar waktu bergerak cepat, berlari cepat, berputar secepat mungkin. biar aku tak akan sempat mendengar ocehan laki – laki itu. biar aku tak sempat melihat tawa cemooh dari laki – laki itu. biar waktu berjalan dan berputar lebih cepat dari biasanya.
tapi waktu tak pernah mau menunggu. dan waktu tak pernah mau mengabulkan keinginanku. dia bergerak reflek menjauhi wajahku. memandangku seakan melihat seekor gurita raksasa sedang menari hula (tarian hawaii). dan mengusap – usap wajahnya seakan – akan memastikan tak ada virus yang menyebar ke wajahnya dari wajahku.
kami kembali diam. semuanya terdiam. dan saat itu… di cafetaria kampusku. saat itu dimana ada berpuluhan pasang mata telanjang menancapkan fokusnya pada tingkahku. tingkahku yang kacau dan abnormal. saat itu di cafetaria kampusku, untuk pertama kalinya selama tiga tahun aku mengetahui bagaimana syahdunya suara yang keluar dari bibir tipis di terminal bus way itu.
“ada yang bisa aku bantu ?”
aku tercekat. nafasku tersendat – sendat. beku di hatiku lantang terpecah belah. terpecah menjadi kepingan – kepingan air mata. air mata rindu yang tertahan.
“……” aku gemetar. aku hanya bisa diam gemetar. mulutku tiba – tiba terkatup kuat dan keras. hingga aku nyaris mengunyah gigiku sendiri. tanganku berkeringat. keringat yang dingin. basah dan lembab. mataku tak bisa fokus menyimpan bayangan baru dari sosok hantu yang selalu mengikutiku selama tiga tahun. yang selalu menjadi bayangan tanda tanya. dia memang hantu itu. hantuku.
aku lari. lari dari dia. lari dari semua mata yang mengharapkan akan ada cerita seru dibalik peristiwa konyol itu. aku lari dari keinginanku. keinginan yang ingin untuk menginginkannya. menginginkannya menjadi bayangan yang nyata mengikutiku. menjadi hantu yang nyata duduk di sudut mataku. dan menjadi penawar racun pada hatiku yang beku.
hari itu aku baru menyadari, aku seorang pengecut. pengecut yang ceroboh. pengecut bodoh.
pertemuan ke 3
dia begitu jauh dimataku
dia begitu jauh dijangkauku
dia… tak kusangka dia, balas senyumanku
nyaris saja aku membanting sebuah mp4 yang baru dihadiahkan bunda pada hari ulang tahunku yang ke 19. lagu itu seperti membuka mantra yang sudah lama menjadi segel hatiku. hatiku yang hitam. hitam karena dosa. ya, aku memang manusia pemuja dosa. manusia yang selalu membuat dosa. dosa yang tak bisa di maafkan oleh Tuhan, ayah dan bunda. yang tak bisa di maafkan oleh semua orang. oleh semua orang yang menganggap aku memiliki otak sekotor muntah dan hati sehitam jelaga.
aku merebahkan tubuhku di sandaran kursi taksi. di sandaran kursi taksi yang baru saja membawaku pergi dari sebuah bank. sebuah bank yang membuat mataku terkuak dengan kuat. yang membuat jantungku kejang – kejang dan membuat otakku nyaris lumpuh. tanpa diduga, dia ada di bank itu. dia duduk di kursi tempat menunggu. dia duduk sambil membaca sebuah koran harian. dia duduk tanpa ditemani oleh siapapun.
hantu di gendang telingaku mulai ribut. sesekali aku mendengar ia berbisik, “datangi dia… datangi dia…”. tapi kakiku takut melangkah. takut melangkah dan merayap seperti waktu itu. seperti waktu dimana aku tiba – tiba berdiri dihadapannya. berdiri di depan biji matanya. lalu setelah itu berlari menjauhinya.
aku hanya dapat mengulum niatku untuk mendekatinya. untuk hanya sekedar mengetahui siapa namanya. niatku sebenarnya sangat sederhana. niatku hanya ingin mengenalnya. hanya ingin mengenal siapa sipemilik mata sayu dan bibir tipis itu. aku hanya ingin mengenal laki – laki yang telah meracuni otak dan hatiku selama tiga tahun terakhir ini.
ternyata aku memang pengecut. pengecut sejati. pengecut ceroboh. pengecut bodoh. tadinya aku hanya takut mendekatintya, tapi kini aku malah takut melihatnya. melihat mata sayunya. melihat bibir tipisnya. kini aku takut melihatnya. aku takut melihatnya karena aku tau dia melihatku. melihatku dengan tatapan serius. dengan tatapan yang seperti berkata “siapa itu ? manusia bodoh itu ?”
aku tertunduk saat ia melihatku dari tempat duduknya. saat ia menatapku tanpa jeda dari tempat duduknya. saat aku berdiri di antara orang – orang yang mengantri untuk membayar tagihan telepon. saat aku tak sempat memakan bayangannya. memakan bayangannya hingga kenyang.
“damn !“
aku melempar mp4 ke jok taksi. mp4 itu nyaris terhempas mengenai kaca jendela taksi. aku mengigigit bibirku. mengigitnya sekuat – kuatnya. mataku menatap nanar ke atas plafon taksi. aku tak menemukan hantunya tergantung disana. aku tak menemukan hantunya dimana – mana.
aku panik. aku cemas. dan aku takut. aku butuh dia. butuh dia. butuh dia untuk hanya sekedar ada di depan mataku. bisa kulihat dengan nyata. butuh dia untuk hanya sekedar mengatakan “ada yang bisa aku bantu ?”. butuh dia untuk hanya sekedar menginjak bayanganku pada setiap aku melangkah. butuh dia untuk menyingkirkan hantu yang ada didalam gendang telingaku.
sebut saja aku gila. iya, memang aku sudah gila. ayahku sendiri bilang begitu saat ia mengetahui siapa aku sebenarnya. orang – orang juga begitu. mereka bilang aku tidak normal. mereka bilang aku terkutuk. karena memang dosaku sudah banyak. sudah menggunung. tingginya melebihi gunung Kilimanjaro. ya, sebanyak itu lah dosaku.
dan dosaku bertambah berkali lipat sejak saat aku melihat mata sayu dan bibir tipis itu. saat aku melihat laki – laki itu. laki – laki yang membuat otak dan hatiku mengolah dosa. dosa yang terasa manis bagiku.
pertemuan ke 4
Kami saling pandang tanpa bicara
Sepertinya dia tau apa di hati ku tertera
Oh.. Dan waktu saat itu sungguh mengerti aku
Dan dia berlalu… Tanpa tau siapa aku
**b e r s a m b u n g**
laki – laki itu… (1)
Oktober 3, 2008
dia seperti penerang malamku…
dia seperti penyejuk siangku…
dia… tak kusangka dia balas pandanganku…
nyaris saja aku membanting sebuah mp4 yang baru dihadiahkan bunda pada hari ulang tahunku yang ke 19. lagu itu sudah cukup membuat beku kembali hatiku. beku dari ketandatanyaan yang tak jua aku temui apa jawabannya. hingga, aku mencoba untuk membekukan hatiku, membekukannya dari perasaan yang waktu itu seperti menjadi tali pengikat leherku. mencekekku hingga tercekat dan nyaris tak bernafas.
lantunan puisi romantis atau syair – syair cengeng ungkapan dari hati yang kasmaran membuat lebam telingaku. membuat murka hatiku. aku tak suka dan aku benci semua hal itu. tentang cinta. heh. apa yang didapat dari hal – hal mengenai cinta ? kepuasan membaca puisi cinta ? atau berbunga – bunganya saat mendengar alunan nan syahdu dari syair cinta ? bedebah ! semua itu taik. cinta itu cuman omong kosong. cuman akal – akalan pendongeng yang tak punya ide lain selain mengungkap cerita cintanya di masa lalu. cerita kuno. cerita kolot.
jangan pikir aku ngomong begini karena aku g bisa atau belum punya tambatan hati. gini – gini aku punya loh ! ya.. walaupun hanya sekedar punya. punya dalam artian belum tentu memiliki. aku hanya menemukan sepasang mata sayu di antara mata – mata lain yang nyalang menentang terang. aku hanya menemukan seguratan senyum kaku dari bibir tipis yang tak pernah kujamah. bahkan aku tak tau bagaimana bunyi yang keluar dari bibir itu. dari pita suara manusia sipemilik bibir itu.
aku katup bibirku di tempat aku berdiri menunggu bus way yang sedari tadi kutunggu. aku gigit lidahku menahan keingintahuan siapakah sipemilik bibir tipis serta mata sayu itu. aku memejamkan mata, menginginkan bayangan manusia itu hilang dan tak membekas di ingatanku. tapi pada saat aku membuka kembali kedua mataku, dia menghilang. dia hilang. tak ada lagi di tempat ia berdiri semula. akan tetapi, ia masih berdiri menatap entah kemana dengan bibirnya yang tipis didalam ingatanku. ia melekat dengan kuat dan sangat pekat di dalam ingatanku. sampai kini. sampai 3 tahun aku terus sendiri. tanpa bisa mencari penawar racun. racun yang membuatku gila membayangkan, bayangan si pemilik mata sayu dan bibir tipis. bayangan yang kini sudah menjadi hantu pada setiap langkahku. hantu yang selalu duduk di sudut mataku. hantu yang selalu menari – nari di dalam gendang telingaku. hantu yang membekukan hatiku.
pertemuan ke 2
hantu itu seakan menjadi nyata. aku melihat ada manusia yang mirip dengan hantu itu. matanya sayu dan bibirnya tipis. ia manusia yang aku lihat tiga tahun yang lalu. yang aku hirup bayangannya di bus way. yang aku ambil dan aku masukkan kedalam ingatanku. aku keracunan hingga hatiku beku, kan gara – gara dia.
aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. hantu itu lagi tertawa. tertawa dengan teman – temannya. mataku terbuka selebar – lebarnya hingga hantu yang lagi duduk disudut mataku jatuh berguling – guling. nafasku tercekat. hatiku yang beku membiru deru. dia, manusia yang telah meracuni hatiku. meracuniku sampai tiga tahun lamanya. apa dia nyata ?
aku mendekatinya. mendekati hantu yang lagi tertawa bersendagurau dengan teman – temannya. aku berjalan lebih pelan dan lebih mendekatinya. mungkin aku berjalan nyaris merayap. merayap dengan pelan dan jangan sampai ia tau aku sedang mengincarnya. bidikan mataku tepat. dengusan hidungku memanas. aku sudah seperti naga yang siap memuntahkan lahar panas. memuntahkan semuanya untuknya. untuk hantu itu. untuk hantuku.
aku rasa aku sudah gila. langkahku yang pelan itu sudah tidak bisa lagi di lanjutkan. aku sudah tiba di depan wajahnya. sangat dekat. hingga aku bisa merasakan dengusan nafas dari hidungnya. bau kopi dari mulutnya dan melihat matanya yang sayu itu nyalang terang mencekam seakan ingin membekukanku. dia memang bukan medusa yang bisa membuat orang menjadi patung dengan pandangan matanya. tapi dia hantu. hantu yang menjadi nyata saat ini. detik ini. untukku.
gelak tawa itu sontak berubah menjadi diam. teman – temannya terdiam. dia terdiam. aku pun terdiam. rasanya waktu berevolusi bumi terhenti detik itu juga. aku ada di depan matanya. dia ada di depan mataku. aku tak mengerti mengapa aku bisa begini. aku tak tau awal dari langkah – langkahku ini. hingga aku melihat sangat dekat biji matanya.
***b e r s a m b u n g***











