apalagi sih yang mereka cari-cari?

akhir-akhir ini banyak orang yang sinis. banyak orang yang curiga. banyak orang yang diam-diam. banyak orang yang berpindah-pindah… (saya, ya begini2 saja) kenapa ya mereka? apalagi sih yang mereka cari-cari?

mungkin inilah yang namanya kembali kemasa kanak-kanak. saya lihat mereka seperti balita yang tengah menangis dan ngambek karena dalam pesta ulang tahun, tak kebagian permen dan cokelat. apalagi yang ingin mereka dapatkan? apalagi yang ingin mereka cari? saya mengira mereka sebagai orang-orang yang dewasa baik secara umur maupun mental harusnya mengerti dengan hukum sebab akibat. segala sesuatu pastilah berubah menjadi bentuk-bentuk yang sesuai dengan akibatnya. jika heran melihat perubahan-perubahan tersebut maka carilah sebabnya. gampang. mereka tinggal mengoreksi diri. bagaimana baik dan buruknya. bukan malah mengasingkan diri seolah-olah mereka sudah tidak menjadi orang penting lagi.

apa gunanya menjadi orang penting jika sewaktu dibutuhkan malah hilang entah kemana. mungkin benar, mereka haruslah membawa cermin dalam setiap perjalanan mereka. mereka harus melihat diri mereka lebih dalam. mereka haruslah berperan benar-benar sebagai diri mereka agar mereka tahu, mereka bisa.

jadi mengapa mereka sinis? mengapa mereka curiga? mengapa mereka diam-diam? mengapa mereka berpindah-pindah? entahlah

 

nb:

kepada teman kost yang tak pernah pulang. kepada orang-orang yang hilang diam-diam. ini kekecewaan saya. saya tak ingin sendiri lagi. seperti masa-masa yang lalu. dan beginilah cara saya bersyukur. melakukan yang terbaik semampu saya.

menemukan kunci dan akan membuka pintu

“Ayu, masih ingat nggak? waktu dulu kita sering baca-baca di perpustakaan sekolah? kita tiba-tiba menemukan satu buku, kumpulan puisi. O… amuk kapak? kita sama-sama terheran-heran dengan isi bukunya, dengan puisi-puisinya. masih ingatkah?”

sms terkirim…

“Hmm, tentu aja masih ingat. tapi Ayu lupa namanya penulisnya siapa. kenapa Jee?”

sms terkirim…

“dulu kita nggak tahu kalo yang nulis buku itu presiden penyair. namanya Sutardji Calzoum Bachri. tadi pagi, Jee diundang buat hadir dalam pertemuan penulis Riau, anugerah Sagang. yang jadi pembicara salah satunya beliau. pas break, tiba2 dia bertanya ma kak uut, mentor sekolah menulis paragraf. “Mana jee asha itu?” lalu jee dikenalkan ma dia. kami salaman. huahahaahaha… :D seneeeeng!!! tapi sayang, nggak ada yang fotoin. soalnya yang jadi tukang dokumentasinya kan jee :(

sms terkirim…

“hah? yang benar Jee? wah, selamat ya ^^”

sms terkirim…

“Jee selalu ingat Ayu kalo lagi ngumpul sama teman-teman yang suka nulis. kalo lagi ngumpul kayak tadi pagi. Jee selalu ingat Ayu.”

sms terkirim…

hari ini saya baru merasakan,  beberapa hal sudah hampir tercapai. setelah saya melihat orang-orang berseliweran di depan mata saya, di dalam pikiran saya. dan saya sempat tak percaya bahwa hari ini saya bisa benar-benar tersenyum. senang. bahagia. walau kegalauan masih saja terus berputar-putar dalam dada. walau cemas masih bertengger di kepala. setidaknya saya merasa baru saja menemukan sebuah kunci dan baru saja membuka pintunya. saya masih harus menentukan arah, kemana akan melangkah. saya masih harus mempelajari rambu-rambu lalu lintasnya, agar saya dapat mencapai tujuan dengan selamat. saya masih harus menemui orang-orang untuk bertanya, dimana tempat yang akan saya tuju itu.

dan terkadang saya harus melupakan sementara waktu, kewajiban yang tidak terlalu saya sukai.

disini, pilihan adalah jawabannya.

duh!

aduh, aku merasa kepala tak terisi oleh ingatan-ingatan yang bisa menjadi cikal bakal cerita-cerita yang bisa kupaparkan. merasa mati dan beku. merasa sunyi dan hampa. idih, rasanya menakutkan. seperti ada vacum cleaner yang menghisap semua huruf  dari sebelah telingaku. aduh, aku takut aku bisa buta dan lupa jalan. menuju rumah yang selalu bercerita dan menyimpan kisah. terkadang absurd. surealis. atau aneh. walau tak kunjung bertemu dengan tempat yang dapat menampung hujan kisah yang sulit dicerna.

hmm, yang kuingat tanggal-tanggal tak pernah berhenti bergulir.

duh!

menjadi pemburu nilai terbaik (?)

kunci kebahagiaan adalah melupakan konsep kesempurnaan.

aku jadi menyukai kata2 dari orang terkenal yang aku lupa(kan) namanya. mengingat terakhir aku begitu patah hati melihat nilai2 akhir kuliahku yang pada rata semua. sama2 ditengah2, nilai C untuk hampir semua mata kuliah untungnya banyak yang pakai plus g ada yang pakai min. dan cuma 2 yang B. kata temanku, nilai C itu hebat. karena itu artinya kita mampu membuat garis tengah dari penilai2, alias cukup membuat dosen bingung untuk memberi nilai kita. apalagi nilai2ku yang mayoritasnya C, dia bilang kok bisa C semua? hebat katanya. aku cuma bisa bersungut2 tidak senang dengan kata2nya karena merasa usahanya bikin aku terhibur malah bikin aku hancur.

tapi aneh, pada satu mata kuliah yang cukup rumit dimana para pemburu nilai terbaik digentayangi nilai C dan D, aku malah dapat B. hahahaha, terus terang ketika bersama2  melihat nilai itu di papan pengumuman dengan para pemburu nilai terbaik  itu, aku tertawa keras di dalam hati. apalagi mendengar salah satu dari mereka bertanya padaku, “kok kamu bisa dapat B??” lalu aku jawab saja, “Lah, kok pas aku dapat C g ada yang bertanya hal serupa ya? hehehe”.

sejujurnya, aku g bego2 amat. tapi aku hanya belum mengeluarkan usaha yang total. aku yakin aku bisa. ya.. menjadi pemburu nilai terbaik seperti mereka. tapi aku hanya muak saja, memburu2 nilai terbaik. entahlah, aku hanya menjalani semua dengan apa adanya. dan aku terlalu mendengarkan kata hati. aku tak mau terlalu getol mengejar nilai2 itu. aku tak mau letih dan membuang2 waktu untuk menjadi yang terbaik. rasanya ada yang lebih penting daripada berambisi menjadi yang terbaik. dengan nilai yang A semua. C menurutku tak terlalu buruk. aku punya cukup alasan kenapa semester ini aku mendapat rekor C terbanyak.

pada semester ini aku didera penyakit2 kecil yang menjengkelkan. mulai dari hilangnya suara secara total, lalu disambut dengan pembengkakan amandel yang membuatku sulit bernapas, kemudian kaki yang terkilir hebat, mata kanan yang kena infeksi hebat sampai bengkak kayak orang kena KDRT. semua hal itu belum cukup menyokong nilai C yang beranakpinak itu setelah masalah2 bad moodku yang mengudara hebat di dalam kepala.

belum lagi aku tak membuat beberapa tugas mandiri yang menurutku sangat aneh. sehingga membuatku malas mencari2 bahan untuk membuat tugas aneh itu. dan menurutku, aku sudah cukup beruntung untuk mendapat nilai C tanpa usaha apapun dan tanpa mencontek siapapun ketika ujian. sedangkan orang yang sudah bersusah payah menuntaskan segala syarat untuk mendapatkan nilai terbaik, tetap mendapat nilai yang rendah dan bahkan tidak diluluskan.

kupikir2, semester depan. aku akan mengadakan eksperimen sendiri. aku mencoba untuk TOTAL. dengan melakukan apa yang aku bisa. dengan mengerjakan segala persyaratannya. tanpa menjadi ambisius dan tak menjadi pemburu nilai terbaik. aku cuma cukup menjadi diriku. dengan TOTAL. cuma itu saja. dan coba kita liat apa yang akan terjadi diwaktu mendatang ;)

mari semangat!

(ssst… saya sedang membela diri sendiri. dan mencoba untuk tidak merasa rendah. ah ini biasa2 saja.)

semester (tidak) pendek

Para alien itu menyanderaku di kota musim kemarau ini. Mereka menutup semua jalan untuk dapat keluar dari kota. Segala alat komunikasi mereka enyahkan. Setiap hari mereka mengoceh mengenai hal-hal diluar dari materi yang seharusnya. Setiap itu pula aku berpikir, bagaimana caranya aku pulang. Ternyata alien-alien itu suka sekali menjelma menjadi dosen-dosenku.

-catatan kelas kode etik-

april

bulan april saya di serang banyak penyakit ringan yang menyebalkan. suara yang hilang total akibat batuk alergi yang akut (hingga kini suara saya berubah), mata kanan yang kena infeksi dan beberapa malapetaka lainnya seperti kena sengat lebah, jatuh di kamar mandi dan berbagai hal sial lainnya. awal bulan mei, tensi darah naik sampai 149. saya nyaris jatuh pingsan di pustaka wilayah pekanbaru yang termegah se asia tenggara itu. sekarang pinggang saya sakit akibat kurang minum dan berbagai faktor lain. rasanya seperti lumpuh.
ibu bilang saya stres. terlalu banyak memikirkan. tapi saya merasa saya baik2 saja. saya hanya agak lelah. dan hanya merasa tidak berdaya dengan apa yang semestinya saya kerjakan.

hampir tiap saat saya berpikir, kematian semakin mendekati. saya takut. mungkin benar saya sedang stres.

saya suntuk!

ugh!

saya suntuk!

saya jadi malas ngomong!

habis, semua orang yang saya ajak ngomong suka nggak nyambung!

bikin sakit hati!

pada mens semua kali ya!

lama-lama saya jadi mules!

orang-orang mulai kelihatan seperti membuka topengnya!

saya kira mereka itu sama seperti saya!

sungguh saya tak mau banyak ngomong lagi!

sama siapa pun!

karena saya tidak mau di bilang NOL besar!

tapi orang-orang memang mulai kelihatan tak malu bertopeng!

MUAK aku!

soal mulut

saat ini saya melihat seseorang sedang dalam keadaan terburu-buru. ia ketakutan. dan sangat cemas. ia juga ingin “memakan” segala sesuatunya dalam sekali lahap. jadi ia memilih menjadikan dirinya senjata yang tajam. yang bisa “membolongi” hal-hal yang ia anggap tidak pantas. lalu ia hendak menjadi benang dan jarum agar dapat menjahitnya sendiri. walaupun dia belum mahir menjahit.

saya “agak” kasihan dan geleng-geleng kepala sendiri. menyaksikan orang itu hilir mudik sambil sedikit-dikit berkata sesuatu yang tidak jelas tapi terdengar “pongah”. kali ini saya sudah jengah dan memilih diam saja. sambil menyimak dia dan mengurut dada sendiri.

dan rasa2nya saya jadi ingin menjadi sentaja yang tajam juga untuk melubanginya juga menjahitnya. tapi malas. saya bukan seperti dia. saya tidak sedang terburu-buru atau cemas. saya lebih senang menikmati setiap tahap dengan tidak melahapnya sekaligus. saya juga sangat berhati2 jika berbicara. karena saya tahu pasti, mulutmu harimaumu. mulut bisa berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. bahkan lebih mengerikan daripada senjata. akan tiba masanya dimana kita jika tidak dapat mengendalikan mulut maka mulut itu akan menggigit bibirnya sendiri dan melahap mulut itu sendiri sampai habis dan sakit.

lalu apa?

andaikan kau adalah air. akan kemana kau mengalir?

andaikan kau adalah angin. akan kemana kau bertiup?

andaikan kau adalah petir. akan kemana kau menyambar?

andaikan kau adalah awan. akan kemana kau berarak?

akan kemana kah kau pergi?

akan kemana kau pergi?

apa yang kau mau?

apa yang kau cari-cari?

cari-cari?

cari-cari..

cari-cari..

sudahkah kau dapatkan?

lalu???

apa?

percakapan dengan Inge

“bolehku pinjam suaramu? untuk menelpon ayahku di balik gunung sana.” kataku pada Inge pada pesan singkat di handphone.

“suaramu kenapa?” Inge membalasnya.

“suaraku hilang.”

“hilang? kemana?”

“tidak tahu. sesuatu telah merampasnya dariku tadi malam.”

“hmm, sesuatu?”
“ya, sesuatu. aku lupa di mana kusimpan pita suaraku.”

“bodoh!”

“iya.”

“jadi bagaimana sekarang? suara siapa yang sedang kau pakai?”

“aku masih tidak punya suara Inge.”

“kau mau pinjam suaraku?”

“ya. sebentar. untuk berbicara dengan ayahku ditelpon.”

“kenapa tak kau kirimi saja dia pesan singkat seperti yang sedang kita lakukan?”

“sulit. pesan singkat membuat rinduku tidak bulat dan pecah. tidak cukup untukku jika dengan beliau.”

“pakailah suaraku.”

“terimakasih.”

“suaraku memang sama persis seperti suaramu.”

“ya.”

“kita memang teman.”

“benar.”

“terimakasih.”

“untuk apa?”

“untuk berteman denganku. Inge yang aneh ini.”

“ah, kau ini. pinjam suaramu 1 menit ya.”

“silahkan. bahkan aku mau memberikannya untukmu.”

“untukku? selamanya?”

“ya, siapa lagi yang mau berbicara denganku selain kamu. hahahaha.”

“hahahaha.”