perasaan ini seperti sebuah dejavu dimana masa itu ada belasan tahun yang lampau. masa dimana aku “rusak”. waktu dimana luka sedang melahirkan traumanya untuk saat ini. aku tahu aku tak bisa bangun, untuk sekedar membuka mata bahwa, ini adalah tentang masa depan. aku tidak sadar, aku sedang terperangkap dalam masa lalu belasan tahun yang lampau.
disanalah, dunia yang sudah melahap keberanianku. hingga aku menjadi pengecut besar yang memalukan. jika aku berani, sudah lama namaku tertera di batu nisan. sudah lama namaku hilang lebih cepat. dari dulu aku tertidur. bersembunyi dalam selimut hangat. aku melindungi diri dari dingin. aku melindungi diri dari serangga. tapi toh, aku tergigit juga. aku kedinginan juga.
kukatakan pada mereka sekeras-kerasnya, INILAH AKU HEY!!! tapi tetap saja, suaraku lri ke dalam. kukantongi dalam saku celanaku. kuikat ia erat-erat agar tak lepas begitu saja. AKU MENEKAN DIRIKU SENDIRI ENTAH ATAS DASAR APA!
kau tahu? aku menulis ini dalam kegelapan. listrik yang selalu padam hampir tiap 4 jam sekali. entah kota apa ini. saat ini aku hanya butuh satu buah lilin. tak mesti besar. kecil saja. aku butuh lilin kecil, untuk sekedar menerangiku saat menangis.