jee, buka pintu. aku mau masuk!

perasaan ini seperti sebuah dejavu dimana masa itu ada belasan tahun yang lampau. masa dimana aku “rusak”. waktu dimana luka sedang melahirkan traumanya untuk saat ini. aku tahu aku tak bisa bangun, untuk sekedar membuka mata bahwa, ini adalah tentang masa depan. aku tidak sadar, aku sedang terperangkap dalam masa lalu belasan tahun yang lampau.

disanalah, dunia yang sudah melahap keberanianku. hingga aku menjadi pengecut besar yang memalukan. jika aku berani, sudah lama namaku tertera di batu nisan. sudah lama namaku hilang lebih cepat. dari dulu aku tertidur. bersembunyi dalam selimut hangat. aku melindungi diri dari dingin. aku melindungi diri dari serangga. tapi toh, aku tergigit juga. aku kedinginan juga.

kukatakan pada mereka sekeras-kerasnya, INILAH AKU HEY!!! tapi tetap saja, suaraku lri ke dalam. kukantongi dalam saku celanaku. kuikat ia erat-erat agar tak lepas begitu saja. AKU MENEKAN DIRIKU SENDIRI ENTAH ATAS DASAR APA!

kau tahu? aku menulis ini dalam kegelapan. listrik yang selalu padam hampir tiap 4 jam sekali. entah kota apa ini. saat ini aku hanya butuh satu buah lilin. tak mesti besar. kecil saja. aku butuh lilin kecil, untuk sekedar menerangiku saat menangis.

yang terkurung sendiri entah dimana…

aku menempati diriku dalam sebuah ruangan yang dipenuhi kaca. hingga aku tak dapat meraba bagaimana kenyataan di luar sana. begitu membiasnya bayangan diri aku lupa akan sesuatu yang tak pernah ikut terbiaskan. sesuatu yang bersembunyi terlalu jauh. meringkuk sepi dan kedinginan. aku susah untuk menggapainya. mencoba menyelamatkannya. karena ia begitu jauh terpuruk dalam sebuah lubang yang dipenuhi cahaya putih dan tajam menusuk mata. suaranya selalu terdengar merintih jikala aku ingin beristirahat dari segala rutinitas yang melelahkan. terkadang kudengar ia mendobrak-dobrak dinding tempat ia bersembunyi untuk dapat keluar dengan segera dari lubang itu. tapi ketika aku mencoba mencarinya. dan  menelusuri dimana keberadaannya, aku mendengar suaranya semakin menjauh. seperti pelan-pelan diseret legam malam yang melahap cahayanya yang juga pelan-pelan menciut.

terkadang aku sangat lupa, siapa dia. siapa aku.

untuk inge

inge,
jangan benci padaku ya.
juga jangan menyayangi aku.
aku tidak layak untuk dua hal itu.

sungguh!