engkau tenggelam, melahap lara, menghirup luka
berkali-kali meronta
namun engkau terus saja berenang ke kedalaman matamu yang
lama-lama meluap duka lama-lama meneteskan sulur-sulur sembilu
…perih
ssst… ada yang tertawa di balik mendungmu wahai, wajah yang selalu murah
di sisi-sisi ruas jemarimu, ia memainkan nasib yang menakdir sedemialammu
hujan!
Badai!
kemarau!
adalah jiwa-jiwamu yang melarung, berenang untuk terus saja tenggelam, ow
sayang


