Inilah puisi yang tenggelam dalam lautmu, lara!

engkau tenggelam, melahap lara, menghirup luka

berkali-kali meronta

namun engkau terus saja berenang ke kedalaman matamu yang

lama-lama meluap duka lama-lama meneteskan sulur-sulur sembilu

…perih

ssst… ada yang tertawa di balik mendungmu wahai, wajah yang selalu murah

di sisi-sisi ruas jemarimu, ia memainkan nasib yang menakdir sedemialammu

hujan!

Badai!

kemarau!

adalah jiwa-jiwamu yang melarung, berenang untuk terus saja tenggelam, ow

sayang

Hei kau, Na…

:mbob

 

 

di antara keramaian yang kita punya, Na…
ada yang menenggelamkan mata kita
yang begitu khusyuk menapis cucuran hujan
dan mengalirkannya ke dadamu yang selalu kulihat
seperti lautan.

barangkali kau memang lupa, Na…
dosadosa yang tersesat di sela jari-jari kita
adalah luka yang kebas rasa
pedihnya telah terkubur kedalaman waktu.

di senja ini, Na
sunyi berdenyut di mana-mana
mencari jalan pulang menuju hatiku
dan kau, Na… yang kerap tersesat di antara keramaian
duduklah di sampingku sebentar,
izinkan aku bercerita
tentang hujan, buku dan secangkir kopi.
tentang perjalanan hati menjadi puisi.

di sekamar luka yang penuh curiga

Mereka yang datang dan bersemayam kuat di antara ruas tulangmu, adalah manusia-manusia sejenis yang bergelut di keributan angin yang menyelinap dalam tubuhmu. Mereka saling mencium, membagi lidah sama lidah, mengikat dan saling mengaduh. Duhai, kalian yang bersitatap di atas ranjang, di seberang tubuh yang gemetar____ketiadaan menanti.

 

 

-di badai, di gerimis, di sekamar luka-

dada kami telaga nelangsa

Beri kami duka, Tuhan

duka yang dalam

galilah luka kami sejadijadinya

sampai air mata mengering bersama menguapnya darah

kami berduka, nestapa yang entah kemana kami bawa

Engkau yang maha segala kuat, duka ini berairmata darah, ya Tuhan

yang tak mengalir di alir wajah

menjadikan dada kami telaga nelangsa

Matamu adalah jembatan menuju kedalaman mataku

jendela yang begitu banyak bercerita, jendela yang begitu banyak mengetahui rahasia

matamu adalah kedalaman semesta, menyimpan luka dan tawa dalam bersamaan. diam-diam penuh pukau, berkilau dalam kegelapan. matamu adalah pelabuhan tempat segala rupa singgah bertenang, tempat masa bergulir mengalir dengan riang.

Sesuatu yang lebih hitam daripada malam…

barangkali kita bisa membicarakan malam atau sesuatu yang lebih hitam daripada ia? seperti kesunyian yang sering meraba-raba dinding hati. di tengah kuyup hujan ini, kita mengemas gigil sendiri sendiri. di diam ini.

senja tadi kita telah beku, dan malam ini kita semakin beku. di ruang ini rasanya hanya ada engkau yang sibuk memetakan sepi, mencari jalannya mencari rumahnya. dan sepi kian menjadi negara besar, yang merdeka di dalam diri.

ah!

barangkali kita bisa membicarakan subuh, atau sesuatu yang lebih putih daripada ia? seperti senyummu yang kian detik semakin tampak samar dan putih. seperti matamu yang cerlang dan perlahan hampa…

Kota yang seperti hatimu

kembali ke kota itu, hanya untuk menemui gerimis, jalanan sepi, dan rumah-rumah tua. selebihnya hanya kekosongan yang ramai. seperti hatimu.

kembali ke kota itu, hanya untuk menemui gerimis, jalanan sepi, dan rumah-rumah tua. selebihnya hanya kekosongan yang ramai. seperti hatimu.

hujan mengukir senja (saat wajah kita kering air mata)

jingga larut dan hanyut dalam pelukan kelabu
di beranda
ada yang basah selain pekarangan dan dedaunan
wajahwajah dalam koran

sapu bersih saja mimpi mimpi yangg membusuk
yang serupa lumpur
memenuhi rongga mata dan telinga
mengubur kita hiduphidup dalam anganangan
sementara mereka bergelaktawa sambil memanggang daging diatas uang yang terbakar

ada yang mengering di beranda, bekas air mata bunuh diri. engkau dan aku saling menghanyutkan puisi dalam kolam yang bocor di samping beranda yang kotor. hujan tak lagi menjadi tukang bersihbersih luka. duka yang mengering di beranda kita. kolam kita bocor, puisi kita lepas, kita tak mendapatkan apa-apa. ada yang basah selain pekarangan dan dedaunan. air mata bunuh diri, di wajah kita.

 

 

bersama ekohm, di beranda maya 231211

Wewarna Sunyi

.

Ekohm,

kini yang kutahu, kesunyian itu lebih nyata ketimbang kematian. mencekam dan berjelaga. seolah sebuah titik yang menyendiri di akhir ending cerita kosong yang teramat panjang, teramat melelahkan sekaligus melenakan. kesunyian itu, sebenar-benar lebih nyata ketimbang kematian, tak ada malaikat yang akan datang meminta rohnya. hanya detak detik pada jam dinding, dan gigil yang melambangkan kepiluan seperti tak berkesudahan. tapi apakah kesunyian itu bagian dari kepiluan? yang kutahu, hari ini, bertambahlah kesunyian yang kau punyai. yang kupeliharai. yang kita raba bersama.