raut muka

Mei 7, 2009

seraut lemah kering rekah

dipoles keringat luluh berdebu

seraut muka bercerita letih

digerayangi jengah berselimut air mata

bibir kerut mencuat darah

bersembunyi lari, hilang

dipersembunyian hidup melaknat

tiada tanda baca dalam raut muka

mengalir dari hulu hati

seraut lemah, seraut muka, bibir kerut

terbakar merah bunga jantung

biar mengulum duri di pelupuk mata

tetap tak bisa terbaca siraut muka

-isengisengkarenasudahlamatidakpernahmenulissemacaminilagi-

adalah akhir

Maret 16, 2009

petir melintang di angkasa. teman hujan juga angin ribut bermain sambil rapikan bumi kerontang. masih terpajang sisa rusuh mengakar di bentang tanah retak. kotor berdebu bekas tulang – tulang sejarah. menjadi keras kerak bumi. lapisan berisi mayat – mayat terkapar bersama nisan – nisan tua. meliputi segala penjuru mata angin, dingin menyelinap pori – pori kemudian bersembunyi di balik tulang putih kemerahan. guncang mengguncang mengguncang cita. membolak balik tiada menjadi ada. pekik hening, merintih sesal, tenggelam dosa.

denyut dan detak menjadi doa. ketika langit mulai runtuh.

Lara

Maret 13, 2009

ada endapan lara di balik telingaku yang menjerit minta tolong tetapi terdengar begitu jauh bersebrangan.

lara itu mencair mengalir jatuh dari leher. kugenggam dia. hilang. lenyap. tapi jeritnya menyatu dengan angin.

tolong katanya.

senandung hujan

Maret 12, 2009

kau panggil aku Nilam.

setiap hari kau tebar kelopak – kelopak mawar. ke atas langit, ke bawah kaki, ke bahuku. lalu kau menari. memanggil hujan.

“Nilam, rentangkan tanganmu. lihat ke langit. pejamkan matamu,” katamu.

kemudian kita menari dengan mata terpejam. di tengah padang ilalang. tanpa nyanyian. hanya hatimu yang bergumam sendu. hanya hatiku yang tak mengerti pilu.

lalu setelah letih menari, kita terdiam. kau menatapku. aku menatapmu. tanda tanya mengerubungi kita. menggigit baju lusuhku. mencakar pipimu. meludahi kita.

“apakah kita menanti hujan ?”tanda tanya itu mengalir keluar dari mulutku.

kau diam menggenggam kelopak – kelopak mawar. satu jam lagi. satu jam lagi. satu jam lagi. katamu tak henti – hentinya.

kudengar tanda tanya menertawakan kita. lalu menampar wajahku. menghempaskan tubuhmu mencium tanah kerontang. kita tak berdaya lagi. hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap diharap. tiada daya.

kau jatuh tersungkur. ada sungai mengalir dari dua bola matamu bola mataku. tanda tanya melenggang pergi. mencampakkan kalimat yang tak pernah di akhiri titik atau koma.

hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap diharap. tiada daya.

“Nilam, hatiku kering. kupanggil hujan agar bunga – bunga yang kutanam di dalamnya subur. tapi Nilam, sudah berbulan – bulan hujan tak pernah datang lagi. bunga – bunga yang kutanam layu dan mati. aku rapuh Nilam,” tanda tanya itu mulai terdiam.

hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap diharap. tiada daya. tapi upaya usahakan. kupungut kelopak – kelopak mawar yang kau sebar. kumulai tarian itu lagi. ritual bangkit. gemuruh tertawa geli.

hujan tak bernyawa lagi. tiada ratap tapi diharap. tiada daya tapi diupaya. gerimis jatuh di bahumu. jatuh di kelopak matamu. kau bangkit dan menari. kita cipta senandung berdua. bianglala menyapa.

hujan yang kau harap sudah tiba. ayo bersuka cita. kita kemasi rintiknya bersama. sebelum ia kembali kelana, kita ikat dia dalam hati. biar terasa teduh nurani.

kau dan aku menari dalam hujan. tanpa nyanyian. hanya senandung di hati kita. menyatu pada bau tanah kering dicumbu hujan. menyeruak tajam dalam otak. mengakhiri tarian dari senandung kita.

disini. kita.

kau hisap letih yang pecah berderai jatuh hancur di bebatuan. pelan – pelan jamah daun – daun gugur retak menguning, sampah. diam tersenyum pada tanah. akar bisu.
aku menatapmu dari ujung kaki sampai ubun – ubun. meretas kepastian siapa gerangan yang lagi berkhayal menjadi dalang. air mata mata air mencuat di bawah kaki. kau tertawa terpingkal. seolah itu nyanyian dari hujan – hujan turun. batang menangis.
kau menyapaku. mengayunkan sebelah tangan mengajakku mendekat pada tubuh ringkihmu. kemana benak ? kemana hati ? kemana matamu ? daun malu malu.
batu penuhi isi dadamu. senyum seperti sembilu. tak kau hiraukan cahaya bintang menggilas wajahmu. tak pula pernah pandangi kerut di matabacaku. di mana kau ? tok tok tok, ada orang ?. putik tertawa.
kau tulis di atas tanah merah huruf berderet w – u – l – a – n – d – a – r – y. lalu tertawa – menangis – terdiam – tertawa. cintamu kah ? rentang waktu tayangkan jeda dulu. bunga lelah.
aku menatapmu dari ujung kaki sampai ubun – ubun. menerjemahkan bahasa tubuh. menelaah ruang di matamu. maaf, terlambat mengantarkan rasa ini untukmu. wulandary telah mencuri hatimu lalu ia simpan dalam ruang hampa. kini aku dan kamu bumi dan langit. buah cemberut.

rentang waktu menjawab setelah jeda tadi. wulandary tiba di langit ke tujuh. kau gila. aku kembali kelana. tanah lapar.

02.42

Maret 4, 2009

malam ini Kau bisikkan aku makna – makna sejati.

mataku enggan terpejam. mulutku urung niat menguap.

mungkin aku tak akan terbangun pagi ini. biar ketika subuh kudengar adzan menggema. ke seluruh pelataran jagad raya. keseluruh hati yang terjaga suci.

lalu kunikmati nikmatMu saat matahari berjaya di ufuk timur. pagi ini pun Kau tak pernah lupa padaku. pada kami.

Jalamu yang lapar

Maret 2, 2009

Pada jala yang kau tebar

Kau tarik dan kau tebar lagi

Sebongkah, hanya sebongkah batubatu jalamu jerat

Keningmu pun mengerut

Kau kecup air laut

Ke mana ikan – ikan berenang ?

Ke matahari terbenam kah ?


Jalamu yang lapar

Mencabik lambungmu

Kau tarik dan kau tebar lagi

Kau tarik dan kau tebar lagi

Kau dengar nyanyian para gipsi laut

Kau dengar desau angin mencemoohi


Jalamu menerkam karang

Bidukmu pun hampir karam

Kau cengkram lagi jalamu

Kau tarik dan kau tebar lagi

Kau tarik dan kau tebar lagi

Peluhmu pun bertanya

Sampai kapan hendak mendera ?

Denyut itu pun semakin pelan

Harusnya kau tau itu

Bidukmu akan karam !

Lembayung melambai – labai menyahut

Pasir pun mengatur barisan menyambut


Tapi kau tak hiraukan

Kau terus menyulam senja menjadi mimpi

Menjahitnya dengan benang harapan

Dengan jalamu

Kau tarik dan kau tebar lagi

Kau tarik dan kau tebar lagi

Matahari telah mati dibunuh malam

Citamu kemana ?


Kau tarik dan kau tebar lagi ?

secangkir kopi hari ini

Januari 31, 2009

hitam pekat. mengepulkan asap.

bergerak lekas, membabat segala senyawa di udara. kemudian berpacu menembus indra penciuman. harum.

dalam cangkir itu, cerita selalu berulang – ulang. tapi tetap saja manis.

walau pahit tak pernah lupa menyertai.

satu orang tewas dengan luka tusukan di bagian kepala.

badan memar, lebam dan membiru.

kain lusuh selimuti jasad.

darah bercampur lumpur.

orang – orang mengerumuni.

mengerubungi jasad bagai menonton acara kuda lumping.

garis polisi seperti garis finish dalam balap sepeda.

lalu apa kata si mayat ?

hey, saya tidur di sini bukan untuk pamer otot, saya ini lagi mati !!!

mati !

pesan untuk mereka

Januari 2, 2009

tak kubuka lagi sketsa yang kukumpulkan ttg kalian untuk mengenang jalan – jalan yang suka kita lalui, bersama. yang kukumpulkan di dalam hati dan pikiranku.

lalu kupindahkan sketsa – sketsa itu ke ruang terluar dari batinku. kucampakkan. kubuang. kulenyapkan.

biar, biar hilang terbakar dengan api yang membakar dedaunan kering. biar menjadi abu. biar terbang. biar melenyap menyatu dengan angin.

dan sampai detik ini, kalian membuatku jerih terus berusaha untuk menyatukan ikatan kita yang selalu tertindas oleh waktu dan terkekang oleh ruang. dan mengapa hanya aku ? aku lelah teman.

bila semua ikatan ini tak bisa lagi kutangguhkan, sudi kiranya kulepas.

dan suatu hari…

kita akan berjalan pada jalan – jalan yang tak pernah kita lalui dulu…

bersama, namun tanpa kita.

maaf.