erkkamargelap2
Category: Music
Genre: Indie Music
Artist: Efek Rumah Kaca
Mosi Tidak Percaya Diproklamirkan
oleh Ekky Imanjaya
Trio Efek Rumah Kaca (ERK) kembali dengan album kedua, Kamar Gelap. Terus mengumandangkan revolusi di tiga bidang. Makin subversif dan provokatif.

Cholil Mahmud (gitar,vocal),Adrian Yunan Faisal (bass,suara latar) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum,suara latar) hadir lagi. Kali ini, album kedua mereka, Kamar Gelap, dirilis oleh Aksara Record. ERK tetap dengan posisinya sebagai pemotret realitas yang merekam kegelisahan mereka. Tapi kali ini lebih terasa keras, cadas. Mereka menyatakan manifesto bertajuk Mosi Tidak Percaya yang mengkritik banyak hal: mulai dari kekerasan hingga pemerintahan. Dan untuk menyempurnakannya, ERK mengajak bersama Angki Purbandono (seorang seniman berbasis fotografi dari Ruang MES 56, Yogyakarta) untuk membuat foto-foto hasil tafsiran lagu-lagunya. Sempurnalah karya musik diracik fotografi memperkuat posisi oposisioanal mereka.

Konsistensi sikap mereka paling tidak terbaca dari tiga revolusi yang mereka gaungkan sejak album pertama tahun lalu. Pertama adalah revolusi tema yang tetap setia pada kritik sosial bahkan politik. Misalnya Jangan Bakar Buku, yang dibantu oleh Ade Firza Paloh (Sore, vocal) dan Iman Fattah (Zeke And The Popo, gitar). “Awalnya, kami tak mau dengan judul itu, karena terlalu keras,” ungkap Cholil, vokalis dan gitarisnya. “Tapi saat mendengar lagi ada kasus yang sama, kami yang orang perumahan geram dan sekalian saja dibuat judul yang keras,” imbuhnya.

Topik lainnya adalah lingkungan khususnya banjir (Hujan Jangan Marah), pemerataan ekonomi dan urbanisasi (Banyak Asap Disana), fenomena video seks pribadi (Kenakalan Remaja di Era Informatika), pencucian otak era Orde Baru (Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa) dan puncaknya adalah Mosi Tidak Percaya yang menyentil pemerintah, MPR, dan partai-partai politik. Bahkan, lagu yang bagi banyak orang dianggap romantis pun bisa ditafsirkan politis. Tengok saja Lagu Kesepian.

Ku tak melihat kau membawa tenang yang kau janjikan
Kau bawa debu bertebar di beranda
Berair mata

Dengan begitu, ERK adalah penyambung tradisi musisi Rock Indonesia yang mengangkat isu sosial dan politik–Harry Roesli, Iwan Fals, God Bless, hingga Slank–yang hingga kini makin langka. Bahkan, ia bisa dibilang salah satu pewaris dari seniman, mengutip Rendra saat diskusi film Kantata Takwa, gerakan budaya perlawanan.

Kedua, revolusi lirik. Membaca syair-syair mereka seperti membaca puisi model Sapardi Djoko Damono atau Emha Ainun Nadjib. Lagi-lagi hal ini sudah jarang ada pada band-band masa kini yang lebih memilih ringan . simak Kamar Gelap yang juga menjadi judul album ini

Yang kau jerat adalah riwayat
Tidak punah menjadi sejarah
Yang bicara adalah cahaya
Dikonstruksi dikomposisi

Atau Laki-Laki Pemalu:

Senja akan segera berlalu
Seorang lelaki melintas menyimpan malu
Menyusul langkah sang gadis yang mungil
Tapak kakinya yang lelah menyisakan perih

Lirik yang puitis ini meracik tema yang keras dan kadang frontal. Hasilnya adalah lagu-lagu yang punya kekuatan untuk menggerakkan dan mencerahkan. Ali Syariati pernah menyatakan bahwa kitab suci menjadi abadi karena metafora dan kalimat-kalimatnya yang puitis. Tentu saja kitab suci tak bisa dibandingkan dengan ERK, namun upaya serupa agaknya dilakukan juga oleh mereka.

Hasilnya, misalnya, Menjadi Indonesia (judulnya terinspirasi oleh buku karya Parakitri T. Simbolon) sebuah lagu tentang nasionalisme yang tidak terjebak cengeng, klise, atau sok patriotis, dan dalam helaian nafas yang sama juga mengkritik negeri ini. Senada dengan Bangunlah Putra Putri Ibu Pertiwi dari Iwan Fals, namun lebih mengiris hati.

ada yang runtuh, tamah ramahmu
beda teraniaya
ada yang tumbuh, iri dengimu
cinta pergi ke mana?

Dalam Balerina, mereka berhasil menangkap irama kehidupan dalam gerakan tari balet. Semangat pencapaian lirik ini tak aneh, mengingat ERK mengaku juga terpengaruh oleh Iwan Fals, Eros Djarot, dan Guruh Sukarno Putra.

Ketiga, revolusi musikalitas. Ini adalah upaya kongkret menjawab kritikannya sendiri terhadap industri musik yang semakin parah. Hasilnya adalah eksplorasi musik dari pop-progresif (Lagu Kesepian) hingga Waltz (Laki-Laki Pemalu). Banyak yang menyebutkan bahwa warna musik Efek Rumah Kaca tergolong dalam post-rock, bahkan shoegaze Tetapi, ERK dengan mantap menyebutkan bahwa warna musik mereka adalah pop, dan tidak begitu peduli dengan label. Karena bagi mereka, yang terpenting adalah tersampaikannya pesan-pesan, yang diistilahkan Cholil dengan doktrinasi. Mereka sangat sadar bahwa mereka sedang berjuang menyebarkan hasil jepretan mereka dalam memandang realitas ke dalam ruang yang lebih luas. Dan mereka dengan senang hati akan menyambut kelompok yang satu gelombang dengan mereka. Karena itu, mereka didapuk Kontras menjadi salah satu ikon Human Loves Human.

Selamat berjuang ERK!

Janjimu, pelan-pelan akan menelanmu
Ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
Ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya

sumber: http://www.indonesiantunes.com/reviews/detail/2009/01/05/kamar-gelap.html