Catatan untuk Senja 1

renyai hujan masih menginginkan dingin yang lebih setelah mereka tahu, ia menghitam legam. dalam perjalanan menuju ufuk barat, ia begitu banyak bercampur luka. menyemburat jingga dan kemerahan yang muncrat ke sekitar angkasa, mengenai awan yang seputih kapas, mengenai lautan yang sebiru langit, mengenai burung-burung camar yang senantiasa mengikutinya. adakah ia tahu rasanya menjadi malam? melegam dalam balutan bintang dan menenggelamkan cahaya-cahaya yang tak berarti. ketika pagi tiba, adakah ia menyiapkan diri untuk rela terbakar dan enyah menjadi apa saja yang menyertai pagi. adakah ia memiliki nama lain selain senja? Tentu hanya ia yang tahu.

Bukittinggi, september 2011

nona penguji

hai, nona penguji

hari ini aku tak terima pesan singkatmu lagi

kemana kau wahai nona penguji?

sudah lelahkah kau menguji-nguji?

atau kau sudah punya pekerjaan sendiri sebagai tukang uji?

 

ah, kupikir-pikir mungkin kau sudah jengah

menguji-nguji orang seperti aku

atau kau sudah tidak lagi

bekerja sebagai nona penguji

apa kau telah berjumpa

dengan seseorang yang bisa kau uji-uji

sampai kau lupa menguji-ujiku?

 

tapi setelah kupikir-pikir lagi

basi juga hariku tanpa diuji-uji

 

hai, nona penguji

bolehkah sehari menjadimu

 

ingin kuuji kau

si nona penguji

 

 

Panam, 311010

Paragraf tanpa jeda

Seseorang sedang melintasi jeda
jalan menuju negri sebrang
ia belah kembali
hingga benar, jeda itu sementara waktu
menjadi  rumah yang mengurung dia
yang mengurung kami

dan,
bagaimana hendak kami sampai pada
tanda titik dengan perlahan-lahan, karena koma
telah ia lahap mentah-mentah
apalagi ia bawa pergi

kini  lihat lah
kami tak  bisa berhenti
untuk sekedar menikmati jeda
yang ia bilang itu

kami berlari
mengejar titik

kami berlari
mungkin karena kami paragraf panjang
tanpa tanda koma

 

 

Panam, 311010

untuk teman

jadi bagaimana aku hendak menyatukan derai tawa  kepadamu. sementara kau  selalu saja datang dan menghilang. padahal ekor mataku tengah bersiap menyergap langkahmu. jadi bagaimana mungkin asin dari air-air matamu kini dapat kucecapi.  sementara matamu bukan lagi milikku.

Tuan penjaga bulan

:ekohm

…dan tuan selalu muncul seperti biasa, tengah malam.

mencoba merangkai deru yang patah

hei, tuan pemburu
di ujung sana aku tahu
kata kata berjalan terburu-buru
melihat tuan mulai bidik

satu persatu ingatan

awas!

Seribu ekor  kata  tuan minta karungkan
siap melahap pilu-pilu bertebaran

Dalam debu-debu berterbangan

tuan lenyap dalam senyap

o, melankolia…

-Juli, tengah malam-

telepon dari bulan

sedang menunggu telepon dari bulan. biasanya mereka selalu menyampaikan pesan gembira. bukan seperti orang-orang di sini yang selalu merasa berkubang  nestapa. aku mencoba belajar menjadi bagian dari mereka, yang selalu menyampaikan pesan gembira itu

menjelang tidur…

“karena rutinitas yang menjerat juga yang membuatku menjaga jarak dengan insomnia. mungkin insomnia sedang sibuk dengan rutinitasnya juga. jadi akhir2 ini tak sempat datang menghampiriku lagi. padahal sudah kupanggil2. sudah kubujuk2 pakai kopi kesukaannya. tapi dia malah sibuk bercanda dalam gelap entah dengan siapa. mungkin dengan seorang teman yang sedang ia rayu-rayu. terus terang aku jadi cemburu. karena aku tidak bisa melakukan apa-apa. menuliskan sesuatu untuk sekedar memujanya. atau cuma sekedar nyeletuk dan mengutuki hari-hari yang merampas waktu bersama insomnia. maka kutulis saja ini sebagai pelampiasan rasa kesalku, karena lelah menunggu insomnia yang tak kunjung datang. selamat malam. selamat tidur.”

130410
-menjelang jam 10 malam. terpenjara kantuk. dipeluk rasa lelah. kehilangan suara. lalu tidur dalam gamang-

waktu

bisa kah waktu berjalan perlahan dan nyaris mengendap saat aku mulai mencair bersama bunyi roda yang selalu digiring maju atau mulai melenyap bersama angin yang menghisap segala pepat dan sepat masalah masa lalu yang tak mungkin bergulir lagi seperti sedia kala ?

atau jika mampu, aku ingin memotong sebagian waktu lalu mengantonginya ke dalam saku bajuku. aku tak mau waktu yang kupotong itu hilang di telan zaman. sejarah, aku tak mau hanya jadi sejarah tua yang busuk ! waktu bagiku adalah cerita yang akan di baca berulang – ulang. aku tak mau waktu di buang begitu saja tanpa membaca dan menikmatinya lebih dulu. bagiku, waktu bisa saja menjadi apa aja bahkan menjadi suatu yang berbahaya sekali pun.

ah…

bagaimana kalau aku makan saja sepotong waktu itu ? agar tak ada yang bisa memiliki waktu yang telah aku potong. bisakah ?

Insomnia 3

Mungkin di sudut kota sana orang – orang pada malam ini tengah giat berdoa sambil menahan ketakutan “semoga hujan tak melahap rumah – rumah kami ya, Tuhan”. Dan aku masih sibuk berteman dengan insomnia. Merajut – rajutnya menjadi pakaian yang bisa membuatku nyaman. Namun guntur membuyarkan semua rencanaku. Setiap kali ia tiba melompat ke bumi jantungku menggigil. Oh, ya Tuhan… ijinkan aku memejamkan mata barang satu menit saja. Tidak lama – lama. Aku rindu rumah mungil yang selalu kukunjungi ketika tidur. Tapi insomnia telah sukses mengalahkan doaku.

Pagi hari, aku merasa seperti ada satu kepala lain yang menempel di kepalaku. Begitu berat terpancang.

insomnia 1

insomnia 2

dalam marah

seandainya kau tau perasaanku nyaris sepeka tajam indera pengecapmu. dan seandainya  kau tau aku juga betul2 membencimu. akulah musuh dalam selimut yang selalu kau peluk dalam tidur. akulah bayang – bayang yang selalu mengikutimu diam – diam. mataku matamu. mulutmu mulutku. duniamu duniaku.

kau pasti tau, aku kamu berbeda. dalam perbedaan aku mampu memahami kepalsuan. dalam kesamaan aku mampu memahami ketulusan. aku kamu langit dan laut. aku benci kepurapuraan. kau benci kebasabasian.

dan bilamana kau dan aku sudah tidak bisa saling menghirup nafas dalam satu ruang padu, biarlah aku menyingkir untuk membuatmu lega sendiri menghirup nafasmu sendiri dalam satu ruang berulang ulang. biarlah aku menikmati kesendirian yang sedaridulu memang sudah menjadi pasangan hidupku.

toh aku tak akan mati dalam pengap perasaanmu. aku akan mati jika telah termakan hati yang mengendap benci. aku mati disitu. dalam marah.