aku bertanya kepada ibu saat kami sedang duduk berdua menikmati cuaca Padang yang hangat.
“Mengapa mereka tidak bisa membiarkanku untuk mengurusi sendiri hidupku. mengapa mereka mencari-cari masalah mereka sendiri dihidupku? apakah mereka tidak bisa mengurusi hidup mereka saja sementara membiarkanku menikmati baik dan buruknya jalan hidupku? apakah mereka harus memberi perhatian seperti itu terhadap hidupku?” kataku sambil mengedarkan pandangan ke langit-langit rumah.
ibu meletakkan pisaunya dan memberikan sepotong buah pir kepadaku. “Mereka saudara kita. pamanmu, sudah sepatutnya mereka memberikan perhatian padamu, mereka hanya berusaha berguna untuk kehidupan keponakan satu-satunya. hanya kalian berempatlah keponakan yang mereka miliki. kamu tak perlu mencemaskan itu. jangan terlalu mendengar apa kata mereka. terkadang mereka tidak tahu dengan apa yang mereka katakan. mereka hanya melihat segala permasalahan dari kacamata mereka. mereka menganggap semua orang adalah sama seperti mereka. tak perlu hiraukan. anggap saja mereka begitu karena terlalu menyayangimu. mereka hanya ingin melindungimu. dan mungkin mereka berpikir, apabila kamu dapat masalah dalam hidupmu yang membuat kerugian pada keluarga dan dirimu sendiri, mereka cemas, kamu akan merugikan mereka dan keluarga besar. mereka hanya cemas kamu merugikan mereka. itu saja,” kata ibu sambil mencari binar mataku yang selalu berusaha aku sembunyikan jika sedang berbicara serius.
aku alihkan pandangan ke luar rumah, seekor burung gereja hinggap bertengger di atas ranting pohon cacao yang sengaja kutanam selagi biji di pagar samping. pohon itu mengundang banyak semut hitam berkerja menjilati hama di sekitar dahan-dahannya.
“Tapi justru perhatian yang mereka berikan membuatku tidak nyaman. aku merasa harus bertanggungjawab dan menunaikan segala harapan-harapan mereka. ya, harapan-harapan mereka. ibu tahu,,, aku merasa punya pola pikir yang berbeda saja dari mereka atau dari anak-anak seusiaku. tapi mungkin aku salah, mungkin aku tidak sadar aku bodoh. tapi… aku hanya ingin mengatur hidupku sepenuhnya. bukan orang lain yang dapat mengawasiku, mengatur dan menegaskan jalan hidupku semau mereka. bukan mereka, bu…” kugigit sepotong buah pir yang mulai kecokelatan di tanganku.
“Enyahkan saja apa kata mereka. kamu berhak atas hidupmu sendiri, Nak. pada dasarnya ibu tak pernah memaksamu untuk mengikuti semua yang mereka inginkan. ibu hanya ingin kamu nyaman dengan apa yang kamu kerjakan. ya, kita hanya butuh kenyamanan dalam hidup ini. hidup ini hanya sebentar buat apa kita memaksa diri untuk melakukan hal yang tidak bisa lagi kita upayakan. beberapa orang tidak bisa memaksakan diri mereka untuk melakukan suatu pekerjaan, dan beberapa orang punya kemampuan untuk memaksakan diri mereka melakukan pekerjaan yang mereka tidak sukai yang membuat mereka tidak nyaman. dan mereka bisa berhasil di sana karena memauan mereka keras. ya, beberapa orang lebih nyaman melakukan sesuatu yang mereka sukai dan itu membuat mereka nyaman, salah satunya kamu. lakukan saja sesuatu yang membuatmu nyaman.”
burung gereja yang hinggap di atas ranting pohon cacao itu terbang. angin berhembus lebih kencang. suhu jam dua siang di padang menjadi lebih hangat. di luar suara tangis anak tetangga terdengar nyaring. sudah sekitar sepuluh menit ia menangis meraung-raung di depan pintu rumahnya.
“Tapi tak ada ruginya kamu mendengar kata mereka. mungkin kamu bisa tetap di sana dan melakukan segala sesuatu seperti semestinya. tidak harus pergi dan melakukan hal baru lagi untuk mencari apa yang kamu inginkan. kamu bisa menemukan sesuatu yang bermanfaat dalam tahap itu nantinya. ibu yakin.” ibu kembali mengupas kulit pir dan memotongnya.
“mengapa mereka tidak membiarkan aku sendiri saja. aku kebingungan dengan segala aturan ini! tak bisakah aku benar-benar ambil kendali atas hidupku sendiri, Bu?” lagi-lagi aku berusaha menyembunyikan mukaku dari pandangan ibu. kualihkan wajahku ke televisi yang menyala dengan suara kecil itu. mataku telah mulai berembun.
“Ya, itulah hidup Nak. di atas dunia ini kita hidup dengan banyak orang. berbagai karakter. sebenarnya kita hidup mungkin saja untuk menaklukkan rasa ego di dalam diri sendiri. mereka ingin memperhatikanmu dengan cara dan pola pikir mereka, itu adalah ego mereka. kamu ingin hidup bebas dari segala perhatian itu dan melakukan apapun yang kamu suka, itu juga adalah egomu. ibu sendiri hanya ingin kamu hidup nyaman dan tenang saja seperti apa yang kamu mau. jika kamu bahagia, ibu pasti lebih sangat bahagia lagi. tidak ada yang mesti ibu tuntut kecuali kamu harus hidup di jalan yang Allah SWT berkahi. beribadahlah dengan tulus begitupun dengan hidupmu. lakukanlah dengan sungguh-sungguh, Nak.”
wajahku mulai panas, air mengalir di atas pipi. kubenamkan kepala ke siku yang mengapit ketiak.
“Satu potong lagi, mau?” ibu menyodorkan sepotong buah pir kepadaku. kuusap wajahku dengan lengan baju. lalu kuraih sepotong buah pirnya.
“Terima kasih banyak, Bu,” ujarku dengan kepala menunduk dan mata menatap ubin yang berwarna putih ke merah-jambuan.
“Telanlah dengan hati-hati,” kata ibu.
mendengar itu mataku langsung terbuka lebar. lalu bangkit menatapnya. ada senyum mekar di wajahnya yang mulai keriput tetapi masih sangat berseri.
“Ya, akan kutelan dengan hati-hati.”
aku mulai kembali tersenyum. lalu menggigit buah pir yang ia potongkan. kami tertawa bersama untuk sesuatu yang sangat ambigu di dalam hidup ini. mungkin aku benar-benar tidak bisa hidup baik tanpa perhatian ibu. siapa pun juga demikian. ya, hanya ibu yang paling mengerti aku. siapa pun pasti juga demikian memikirkannya. adalah ibu satu-satunya manusia yang akan mendukungmu di saat kamu benar-benar terpuruk dan tak ada yang sudi mendekatimu. hanya ibu. cuma ibu. satu-satunya manusia yang paling nyata menyayangimu bukan?